KESEHATAN

Pengalaman Deddy Corbuzier dan Pelajaran COVID-19 Tak Bisa Diremehkan

Jakarta, FNN - Pengalaman presenter Deddy Corbuzier terkena COVID-19 bergejala berat beberapa waktu lalu bisa menjadi pelajaran untuk masyarakat agar tak meremehkan penyakit akibat virus SARS-CoV-2 itu, menurut Dr. Vito Anggarino Damay, Sp.JP(K)., M.Kes., FIHA., FICA, FAsCC dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). "Saya salut sama Deddy Corbuzier tidak menutupi dia kena COVID-19 dan memakai ini sebagai edukasi bahwa orang sehat pun masih bisa kena COVID-19 yang berat, dan pola hidup sehat memang sangat membantu menyelamatkan seseorang kalaupun terkena penyakit," kata dia kepada ANTARA, Senin. Badai sitokin seperti pada kasus Deddy terjadi saat kekebalan tubuh yang awalnya menyerang dan menghabisi virus, masih bereaksi bahkan mungkin berlebihan, sehingga walau virus sudah tak ada lagi tetapi tubuh masih menanggung akibatnya. Vito mengatakan, ketika badai sitokin terjadi, maka bisa terjadi kegagalan fungsi organ, syok, tekanan darah turun, peradangan jantung, gagal ginjal dan kesadaran turun. Dia menyebut kondisi ini sebagai sesuatu yang menyeramkan. Mereka yang bahkan sudah dinyatakan negatif berdasarkan hasil tes swab juga bisa mengalaminya, seperti hal yang dialami Deddy. Dalam hal ini, tubuh yang bugar dan sehat akan membuat mereka dengan COVID-19 lebih kuat menghadapi serangan virus. Tetapi, ini tak berarti Anda bisa menganggap enteng virus corona. "Tubuh yang kuat, bugar, hidup yang sehat akan membuat kita lebih kuat menghadapi serangan virus. Tubuh yang sehat membuat pertahanan lebih kuat. Tapi intinya jangan anggap enteng virus ini, mau tua mau muda atau yang merasa sehat, jangan sampai kena, karena itu protokol kesehatan pertahankan, termasuk pakai masker," demikian pesan Vito. Hal senada terkait badai sitokin juga diungkapkan dokter yang juga tergabung dalam tim COVID-19 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Tanjung Priok, Siti Rosidah, MD. Dia mengatakan, badai sitokin bisa menginduksi ke infeksi yang lebih berat, mengakibatkan kegagalan multiorgan dan menyebabkan kematian. Sebelumnya, Deddy melalui podcast-nya menyatakan sempat terkena COVID-19 tanpa gejala. Setelah beberapa hari dia melakukan tes swab dan hasilnya negatif. Tetapi, tak lama setelahnya dia mengalami badai sitokin dengan keadaan paru paru rusak 60 persen dalam dua hari. "Hebat-nya oksigen darah saya tidak turun bahkan diam di 97-99 karena pola hidup sehat saya selama ini hingga saya bisa selamat walau dengan kerusakan paru yang parah," tulis Deddy melalui laman Instagramnya. (mth)

MPR Desak Pemerintah Perbaiki Penanganan Covid-19

Jakarta, FNN - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat meminta pemerintah segera memperbaiki penanganan sektor hulu pengendalian COVID-19 untuk menekan jumlah kasus kematian akibat virus yang menyerang saluran pernapasan tersebut. "Sejumlah indikator pengendalian COVID-19 membaik cukup signifikan. Namun, angka kematian akibat penyakit ini secara nasional belum juga bisa ditekan hingga di bawah 1.000 kasus," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu. Oleh sebab itu, lanjut politisi NasDem tersebut perbaikan penanganan COVID-19 di sektor hulu secara masif perlu terus dilakukan dan ditingkatkan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kasus harian COVID-19 di Indonesia pada Sabtu (21/8) terjadi penambahan 16.744 kasus. Kendati demikian, kasus positif mengalami penurunan cukup signifikan dibanding Jumat (20/8) yakni 20.004 kasus. Untuk jumlah tes yang dilakukan pada Sabtu (21/8) yakni 116.306 orang dengan positivity rate harian mencapai 14,40 persen. Kemudian, untuk kasus kematian pada Sabtu (21/8) mengalami kenaikan sebanyak 1.361 orang. Padahal, sehari sebelumnya kasus kematian akibat COVID-19 tercatat 1.348 orang. Lestari berharap para pemangku kepentingan segera melakukan perbaikan dan upaya-upaya pengendalian di sektor hulu secara masif dan terukur. Rerie, sapaan akrabnya, menduga masih banyak masyarakat di berbagai daerah belum memahami bahaya dari COVID-19. Hal itu berdasarkan upaya edukasi bagi masyarakat yang kurang maksimal. Faktanya, ujar dia, banyak pasien yang datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi sudah parah akibat terlambat terdeteksi COVID-19 sehingga menambah jumlah kasus kematian. Bila masyarakat paham tentang COVID-19, dua upaya pencegahan yaitu pemeriksaan dini jika mengalami gejala ringan dan vaksinasi yang telah dilakukan tentunya terealisasi dengan maksimal. Terkait distribusi vaksin, Rerie juga menegaskan agar penyaluran dari pemerintah pusat ke sejumlah daerah lebih ditingkatkan sesuai kebutuhan setiap. Tujuannya agar kekebalan komunitas segera tercapai sebagai bagian dari strategi pencegahan COVID-19. Melalui kombinasi masyarakat lewat upaya pencegahan di hulu dan penanganan COVID-19 di hilir oleh para pemangku kepentingan yang baik, Rerie percaya COVID-19 di Tanah Air segera bisa diatasi sesuai rencana. (sws)

Waspadai Komplikasi Akibat Seringnya Swab Hidung dan Nasopharing

Tanjung Pinang, FNN - Meski secara umum dianggap aman, tes usap hidung dan nasopharing (test swap) bukannya tanpa risiko. Individu yang melakukan tes swab dengan pelatihan minimal, memiliki risiko cedera yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang dilakukan oleh nakes yang terlatih. “Beberapa kasus menunjukkan kemungkinan cedera intrakranial ketika tes tidak dilakukan dengan tehnik dan prosedur yang benar,” ungkap Dr. dr. Hisnindarsyah, dokter di sebuah rumah sakit di Tanjung Pinang. Komplikasi yang timbul antara lain, kebocoran CSF, ensefalokel, dan meningitis. Di sisi lain, lanjutnya, meningkatnya permintaan untuk swab ini berpotensi mengakibatkan kurangnya pasokan praktisi yang berpengalaman dalam melakukan tes ini. Tingginya test swap hidung dan nasopharing yang dilakukan saat ini, membuat komplikasi yang jarang terjadi, menjadi lebih besar resiko angka kejadiannya, sebanding dengan tingkat populasi terperiksa. Semakin sering swap hidung dan nasopharing dilakukan, semakin besar potensi terjadinya jejas atau trauma berupa iritasi mukosa, meningkatnya resiko terjadi injury atau luka, resiko inflamasi. Dan, kerusakan jaringan. “Terutama di basis cranii atau cibriformis. Apalagi jika dikerjakan pada kurun waktu yang berdekatan,” kata Dokter alumni Universiti Sains Malaysia, Kubang Kerian. Karena resiko ini, tindakan untuk melakukan tes antigen dan PCR sebagai syarat perjalanan yang bertujuan untuk melakukan pembatasan mobilisasi kegiatan masyarakat, merupakan hal yang perlu dipertimbangkan matang. Baik oleh pembuat policy maupun penumpang. “Saya cuma bisa bilang: Waspada dan hati hati,” ujar Dokter Hisnindarsyah mengingatkan. (mth)

Astra Serahkan Bantuan Oksigen untuk Indonesia

JAKARTA, FNN - Astra melalui Nurani Astra telah menyerahkan bantuan berupa 375 tabung oksigen dan mendukung pendirian Rumah Oksigen Gotong Royong untuk membantu pemenuhan lonjakan kebutuhan oksigen di berbagai rumah sakit dan pasien COVID-19. Bantuan berupa 375 tabung oksigen telah diserahkan kepada Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan berbagai rumah sakit di Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Bandung untuk membantu perawatan pasien COVID-19, sedangkan Rumah Oksigen Gotong Royong merupakan fasilitas kesehatan semi permanen yang dilengkapi peralatan suplai oksigen dan tempat tidur perawatan, melalui Yayasan Anak Bangsa Bisa, sebuah yayasan di bawah naungan Grup GoTo bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia, dan Samator Group. Pada hari ini (20/8), Astra juga menyerahkan 500 unit konsentrator oksigen kepada Kementerian Perindustrian Republik Indonesia yang selanjutnya diserahkan kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk didistribusikan melalui Pusat Krisis Kementerian Kesehatan dan sejumlah pemerintah daerah seperti Lampung, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Kota Solo dan menyusul daerah lainnya di Indonesia. Bantuan ini diserahkan secara simbolis oleh Direktur Astra Gita Tiffani Boer didampingi Presiden Direktur PT Tjahja Sakti Motor Anton Kumonty dan Chief of Corporate Affairs Astra Riza Deliansyah kepada Menteri Perindustrian Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Serah Terima Hibah Bantuan Penanganan COVID-19 dari Perusahaan Industri yang diadakan secara virtual pada hari ini (20/8). “Di tengah lonjakan kebutuhan akan oksigen dari berbagai rumah sakit dan masyarakat di Indonesia belakangan ini, Grup Astra senantiasa hadir dan berperan aktif untuk saling bantu dalam memberikan dukungan kepada pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat agar masa sulit ini dapat dihadapi dan kita lalui bersama-sama,” ujar Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro. Seluruh rangkaian bantuan oksigen ini merupakan bantuan tahap kesembilan. Sebelumnya, pada bulan Maret 2020 hingga bulan Agustus 2021, Grup Astra telah menyerahkan berbagai bantuan terkait penanganan COVID-19. Mulai dari tahap pertama hingga kedelapan, Astra bekerja sama dengan berbagai institusi seperti Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Palang Merah Indonesia, rumah sakit umum pusat dan daerah serta berbagai pihak lainnya, termasuk bantuan langsung ke masyarakat sekitar. Bantuan-bantuan tersebut berupa unit kendaraan, mobil ambulans, berbagai perlengkapan medis ruang intensive care unit dan high care unit seperti ventilator dan multi-slice computed tomography scan, serta alat uji tes, alat pelindung diri, masker, ventilator, dan paket berupa makanan atau bahan makanan pokok. Semangat Grup Astra dalam berkontribusi membantu pemerintah, masyarakat, dan tenaga kesehatan dalam mengatasi pandemi COVID-19 adalah sejalan dengan Sustainable Development Goals dan cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa. (mth)

Organisasi Kesehatan Dunia Tegaskan tidak Perlu Vaksin Ketiga

Jenewa, FNN - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan, saat ini suntikan ketiga vaksin Covid-19 tidak diperlukan. Justru kelompok orang-orang paling rentan di seluruh dunia harus sudah terlebih dulu mendapatkan vaksin lengkap sebelum negara-negara berpenghasilan tinggi memberikan suntikan penguat Covid-19. Pernyataan itu muncul tepat sebelum pemerintah AS mengatakan berencana menyediakan lebih banyak suntikan vaksin ketiga bagi seluruh warga Amerika mulai 20 September 2021 saat infeksi akibat varian Delta melonjak. Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan, yang ditanya soal perlunya suntikan penguat untuk meningkatkan perlindungan terhadap virus corona, saat konferensi pers di Jenewa mengatakan, "Secara gamblang kami meyakini bahwa data saat ini tidak mengindikasikan perlunya (suntikan) penguat." "Perlu penelitian lebih lanjut," ucapnya, sebagaimana dikutip dari Antara. Penasihat senior WHO, Bruce Aylward, merujuk suntikan penguat yang kini diberikan di negara-negara berpenghasilan tinggi. Kepada wartawan ia mengatakan, "Ada cukup vaksin di seluruh dunia, namun (vaksin) itu tidak didistribusikan ke lokasi yang tepat dalam urutan yang benar." "Dua dosis harus diberikan kepada kelompok yang paling rentan di seluruh dunia sebelum suntikan vaksin ketiga diberikan kepada penerima vaksin lengkap. Kita masih jauh, sangat jauh dari itu." katanya (MD).

BPOM: EUA Vaksin Unair Ditargetkan Semester Pertama 2022

Jakarta, FNN - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito mengemukakan izin penggunaan darurat (EUA) bagi Vaksin Merah Putih karya peneliti Universitas Airlangga (Unair) ditargetkan terpenuhi pada semester pertama 2022. "Harapannya, EUA Vaksin Merah Putih produksi PT Biotis Pharmaceutical Indonesia bersama Universitas Airlangga ini sekitar semeter pertama tahun 2022," kata Penny K Lukito dalam konferensi pers penyerahan sertifikasi pemenuhan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) kepada PT Biotis Pharmaceutical Indonesia yang dipantau secara virtual dari Jakarta, Rabu. Penny mengatakan vaksin COVID-19 tersebut saat ini telah merampungkan uji praklinik tahap pertama transgenik dan sedang memasuki tahap kedua uji praklinik pada hewan makaka. Sebelum memperoleh EUA, kata Penny, vaksin tersebut akan diuji coba kepada manusia dalam waktu dekat. Penny mengatakan BPOM bersama industri farmasi, peneliti dan sponsor terus melakukan pendampingan pengembangan uji praklinik vaksin tersebut. "BPOM terus mendiskusikan konsep pengembangan rasional dari penelitian, desain setiap perencanaan prakilinik dan uji klinik juga aspek pengembangan mutu formula serta mutu obat," katanya. Penny mengatakan seluruh vaksin harus diproduksi dalam skala laboratorium yang mengikuti kaidah cara pelaksanaan uji klinik yang baik. "Uji prakilinik dan klinik ini akan menjadi data saintifik yang menjadi dasar dalam proses registrasi selanjutnya," katanya. Penny menambahkan sertifikat CPOB yang diberikan kepada PT Biotis Pharmaceutical Indonesia didasari atas sejumlah aspek penilaian di antaranya desain fasilitas produksi, pelaksanaan inspeksi, asistensi, konsultasi hingga penyelesaian perbaikan. "Ini bukan sesuatu yang mudah untuk mencapai tahapan CPOB. Ke depan kami akan tetap mendampingi," katanya. (mth)

Lemak Berlebihan Bisa Perparah Gejala COVID-19

Jakarta, FNN - Asupan lemak terutama yang sifatnya jenuh berlebihan bisa memperparah gejala COVID-19 yang dialami pasien, ungkap dokter spesialis gizi klinik dari PPSI Ilmu Gizi Klinik Universitas Indonesia, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK. "Konsumsi banyak lemak terutama lemak jenuh akan bisa menyebabkan kondisi peradangan lebih berat akhirnya yang mungkin keluhannya ringan tetapi karena konsumsi yang salah, akhirnya menjadi lebih berat gejalanya," ujar dia dalam webinar bertajuk "Bahaya Salah Asupan Saat Pandemi dan Isoman", Rabu. Juwalita mengatakan, asupan tinggi lemak mempengaruhi reseptor tempat melekatnya virus SARS-CoV-2 atau ACE-2 sehingga membuatnya lebih mudah dimasuki virus. Lebih lanjut, salah satu jenis lemak, yakni yang sifatnya jenuh bisa meningkatkan pengeluaran mediator yang sifatnya inflamasi dari sel imun. Akhirnya bila, inflamasi terjadi semakin berat maka ini akan memperparah gejala COVID-19 pasien. Di sisi lain, diet tinggi lemak juga mempengaruhi kondisi bakteri baik dalam usus, menyebabkan terjadinya peradangan menyeluruh yang akhirnya menurunkan sistem imun tubuh. "Mikrobiota di dalam tubuh ini punya manfaat luar biasa, tidak hanya menjaga kesehatan saluran cerna juga berdampak pada sistem imunitas tubuh karena membantu mengaktivitasi sel-sel imun tubuh, meskipun kelihatannya hanya di usus," tutur Juwalita. Lemak sendiri termasuk salah satu komponen yang perlu seseorang batasi bila ingin mendapatkan kondisi tubuh sehat termasuk respon imun yang baik. Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi lemak 20-25 persen dari total energi (702 kkal) atau setara dengan 5 sendok makan per orang per hari (67 gram). Lalu, pola makana seperti apa yang dianjurkan untuk para pasien COVID-19 termasuk yang sedang menjalani isolasi mandiri? Juwalita menyerankan diet bergizi seimbang, seperti anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni konsumsi makanan segar dan minim olahan supaya untuk mendapatkan berbagai nutrisi yang dibutuhkan mencakup vitamin mineral, serat makanan, protein dan antioksidan demi pemulihan lebih baik dan cepat. "Karbohidrat misalnya dari beras merah, beras cokelat, umbi-umbian. Protein bisa dari makanan segar seperti seafood (ikan, udang), ayam tanpa kulit, daging sapi, kacang-kacangan seperti kedelai, almond. Ingat kita butuh magnesium, selenium, mikronutrien untuk bisa menyempurnakan diet sehat kita," demikian kata Juwalita. (mth)

Dokter: Kurangi Risiko Terinfeksi COVID-19 dengan Protokol VDJ

Purwokerto, FNN - Dokter spesialis paru dari RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dr. Wisuda Moniqa Silviyana, Sp.P mengingatkan bahwa protokol VDJ yaitu ventilasi, durasi dan jarak merupakan strategi tambahan untuk mengurangi risiko terinfeksi COVID-19. "VDJ merupakan strategi tambahan bagi kondisi saat ini, sebagai upaya mengurangi risiko terinfeksi COVID-19," katanya melalui wawancara virtual dengan ANTARA di Purwokerto, Minggu. Dia menjelaskan, bahwa pada saat ini masyarakat sudah sangat mengenal dengan protokol kesehatan 5M yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, membatasi mobilitas dan menjauhi kerumunan. "Kendati demikian karena pada saat ini virus SARS CoV-2 sudah bermutasi menjadi varian baru yang lebih mudah menular bagi masyarakat maka VDJ diperlukan sebagai strategi tambahan untuk mencegah paparan virus," katanya. Dia menjelaskan bahwa virus SARS CoV-2 dapat menular dari orang yang terinfeksi melalui partikel yang keluar dari saluran napas orang tersebut saat bernapas, bicara, batuk, bersin atau tertawa. "Partikel tersebut disebut droplets yang bisa terpercik jatuh ke permukaan dan bisa juga oleh sebab penguapan berubah lagi menjadi partikel yang lebih kecil yang disebut aerosol," katanya. Dengan demikian, kata dia, saat bertemu seseorang yang terinfeksi maka memiliki risiko untuk tertular. "Karena itu, selain selalu menggunakan masker pastikan kita berada dalam ruangan yang memiliki ventilasi baik jika bertemu orang lain. Selain itu, jika perlu bertemu orang atur durasi pertemuan jangan terlalu lama dan jaga jarak fisik," katanya. Dia menambahkan bahwa jarak fisik yang perlu diperhatikan, paling dekat adalah satu meter. "Selain itu, diperlukan juga etika saat batuk yakni dengan menutup menggunakan lengan saat batuk," katanya. Selain hal tersebut, dia juga mengingatkan masyarakat untuk segera mendapatkan vaksinasi COVID-19 begitu ada kesempatan. "Berdasarkan penelitian, vaksinasi sangat efektif melindungi. Walaupun seseorang tetap memiliki kemungkinan terkena COVID-19 setelah divaksin, namun vaksinasi efektif dalam mencegah seseorang terkena COVID-19 bergejala berat yang memerlukan perawatan," katanya. Pemberian Vaksinasi COVID-19, kata dia, merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif. Sehingga apabila tetap terpapar, seseorang telah mempunyai kekebalan dan diharapkan mengalami kondisi yang ringan. Untuk itu, dia mengajak masyarakat untuk segera divaksin mengingat Indonesia menjadikan pelaksanaan vaksinasi sebagai bagian dari strategi penanggulangan pandemi COVID-19.

HTS 2021 Momentum Perkuat Teknologi Kesehatan Nasional

Jakarta, FNN - Asosiasi Healthtech Indonesia yang diketuai dr. Gregorius Bimantoro pada 25-26 Agustus ini menggelar Health Technology Solution (HTS) 2021 secara daring yang diharapkan bisa menjadi momentum untuk memperkuat sektor teknologi kesehatan Indonesia. HTS merupakan sebuah ajang tahunan bagi para stakeholder industri kesehatan di antaranya pembuat kebijakan/regulator (pemangku kepentingan), produsen, operator dan tenaga professional sektor kesehatan. "Kementerian Kesehatan berharap kegiatan yang diadakan secara virtual ini dapat berjalan dengan baik dan dapat menjadi momentum untuk memperkuat sektor teknologi kesehatan di Indonesia," ujar Analis Kebijakan Ahli Utama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, drg. Oscar Primadi, MPH, selaku pembicara kunci, dalam siaran pers dikutip Sabtu. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, yang juga menjadi salah satu pembicara HTS 2021, menambahkan bahwa kegiatan ini akan semakin menguatkan respons bersama terhadap berbagai masalah kesehatan yang ada. Diharapkan sektor kesehatan di Indonesia memiliki posisi yang lebih baik untuk mencegah, mempersiapkan, merespons, dan memulihkan kembali dari pandemi COVID-19 serta berkontribusi dalam keamanan kesehatan secara nasional. HTS 2021 akan dibuka secara resmi oleh jajaran dan para petinggi Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Komunikasi dan Infomatika RI, perwakilan DPR RI dari Komisi IX, asosiasi-asosiasi terkait, akademisi serta para pelaku industri Kesehatan. Acara ini akan menghadirkan beragam topik menarik di antaranya transformasi digital di masa pandemi COVID-19, monitoring kemajuan integrasi data di industri kesehatan, digitalisasi dan efisiensi rumah sakit yang lebih berkelanjutan, tantangan industri alat kesehatan (IOMT) di masa depan, privasi data kesehatan, dan beragam topik menarik lainnya. dr. Edi Alpino Siregar selaku Ketua Dewan Pengarah HTS 2021 mengatakan bahwa acara ini tidak hanya akan membahas solusi, tetapi juga memberikan beragam masukan dan pengetahuan seputar perkembangan teknologi kesehatan dan penerapannya di masa mendatang. Seluruh stakeholder sektor kesehatan di Indonesia termasuk perusahaan ternama penyedia teknologi dan solusi kesehatan bersama dengan 30 lebih pembicara nasional akan berdiskusi tentang topik terkini, mengeksplorasi pemikiran dan membahas teknologi serta solusi percepatan dalam penyediaan dan peningkatan layanan Kesehatan di Indonesia. (mth)

Anies: Jakarta Butuh 4 Juta Orang Tervaksin untuk Capai Herd Immunity

Jakarta, FNN - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan bahwa Ibu Kota kurang sekitar empat juta orang tervaksin untuk bisa mencapai kekebalan komunal atau herd immunity. "Jadi kita masih ada (kekurangan) sekitar hampir empat juta (orang tervaksin) untuk mencapai herd immunity," kata Anies dalam siaran langsung instagramnya @aniesbaswedan, Jumat malam. Lebih lanjut, Anies mengatakan hingga saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan vaksinasi terhadap 8,8 juta orang untuk dosis pertama dan 3,8 juta orang dosis kedua. Anies juga mengakui bahwa persentase penerima vaksin di Jakarta memang tinggi. Meski demikian, menurutnya, dari jumlah itu sebanyak 40 persen penerima vaksin di antaranya bukan warga Jakarta. "Secara persentase memang tinggi, tetapi sekitar 40 persen yang kita vaksin bukan penduduk ber-KTP Jakarta," tutur Anies. Menurut Anies, Pemprov DKI memberikan vaksin terhadap empat golongan masyarakat yang beraktivitas di Jakarta, yakni masyarakat yang memiliki KTP DKI Jakarta dan orang yang tinggal di Ibu Kota namun tidak ber-KTP Jakarta. Kemudian, orang yang tinggal di luar daerah namun bekerja di Jakarta, serta pelajar yang tinggal di luar daerah, namun sekolah atau berkuliah di Jakarta. "Nah, kami vaksin semuanya karena kita ingin semua warga yang berada di Jakarta tervaksin," ujar Anies. Menurut dia, meskipun sudah vaksinasi terhadap orang-orang yang tinggal di Jakarta sudah mencapai 98 persen (minimal dosis pertama), Pemprov DKI Jakarta masih memiliki pekerjaan rumah untuk memberi vaksin pada seluruh warga. "Ini yang kita sekarang mau tuntaskan," ucap Anies. Adapun, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti mengatakan sekitar tiga juta warga Jakarta masih enggan mengikuti vaksinasi COVID-19. Dari sekitar delapan juta capaian vaksinasi COVID-19 dosis pertama di Jakarta, hanya lima juta warga berdomisili atau memiliki KTP DKI. Sementara itu, epidemiolog asal Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan capaian vaksinasi tidak bisa dijadikan sebagai dasar tunggal untuk menilai tercapainya kekebalan kelompok atau herd immunity terhadap COVID-19. (sws)