Adil Buat Tuan, Tidak Buat Kami

Oleh Von Edison Alouisci

Dua tahun saya sama sekali tidak lagi aktif di facebook bahkan banyak yang lupa teman-teman FB dan ratusan ribu fans like di halaman pribadi saya.

Ada yang tanya kenapa baru beberapa hari ini muncul lagi di fb?

Saya cuma tergerak untuk aktif sejenak ketika melihat fenomena Pilpres 2019 Indonesia yang menurut saya sudah tidak lagi fair bahkan bagai api dalam sekam yang bisa bisa meledak seperti negara-negara konplik di Timur Tengah.

Menurut saya rezim Jokowi dan pendukungnya bukan saja tidak adil, tetapi seakan memandang oposisi seperti musuh besar.

Jika memang mau negara ini pecah, sebaiknya jangan tanggung mendiskriminasi,mengintimidasi dan mengkriminalisisi oposisi, sekalian saja unjuk kekuatan real, kontak senjata atau apapun itu kalau tidak bisa menghargai perbedaan.

Jokowi jangan bicara keadilan jika hukum saja tidak adil.

Jokowi jangan bicara sesuai hukum yang berlaku kalau pendukungnya yang salah dibiarkan, sementara kalau oposisi salah langsung
ditindak.

Polisi yang katanya netral dalam hukum malah timpang dan justru tidak sesuai dalam penegakan hukum. Hakimpun demikian, berat sebelah.

Lantas keadilan yang dijanjikan Jokowi di mana?

Oposisi bicara sedikit keras dianggap hujaran kebencian dan perlu diproses hukum dan dilaporkan ke polisi.

Tetapi di saat yang sama pihak petahana yang jelas banyak melakukan hal yg serupa pada kubu oposisi, dianggap biasa saja dan bahkan tidak mendapat respon positif dari kepolisian.

Sekali lagi di mana letak keadilan Presiden Jokowi?,

Bagi saya debat pertama Pilpres 2019 tentang keadilan, Hukum, ham, teroris cuma omong kosong membangun pencitraan sebab semua orang tahu jika fakta lapangan banyak tidak sesuai kenyataan.

Habib bahar bicara keras pada presiden langsung direspon dan dianggap kriminal.

Ahmad Dani bicara keras pada presiden dianggap ujaran kebencian dan langsung diproses hukum.

Kepala desa cuma salaman dengan Sandi Uno, langsung diproses hukum.

Anies Baswedan cuma unjuk simbol dua jari langsung diadukan dan proses hukum.

tetapi…

Bupati Boyolali teriak ANJING tidak cepat direspons karena mendukung Jokowi.

Abu Janda bangsat menghina HRS tidak cepat direspon hanya karena mendukung Jokowi.
Jokowi sendiri bisa kena pasal ujaran kebencian kalau teriak sontoloyo dan gendoruwo tetapi tentu tidak akan diproses apa-apa.

Bahkan dalam debat menyindir Prabowo soal caleg koruptor, Jokowi bisa diproses hukum kalau memang hukum itu adil tanpa pandang bulu. Masih banyak contoh lain yang intinya membuktikan bahwa perkataan Jokowi MESTI SESUAI HUKUM YG BERLAKU hanya berlalu pada oposisi tidak berlaku di pihaknya.

Jadi, di mana letaknya Jokowi hebat,jujur dan adil seperti yang dibanggakan kecebong?

Barangkali suatu saat ada kecebong ecek-ecek terlibat kasus hukum baru matanya melek kalau rezim jokowi tidak adil.

Siapapun anda yang punya pemikiran cerdas, teliti, dan bukan buta keadaan seharusnya bisa menilai dgn akal sehat bagaimana tingkah rezim jokowi terlepas apakah anda di kubu Jokowi atau di kubu Prabowo.

Kita bicara dengan nalar,hati yang jernih dan berlandaskan syariat agama yang baik jika muslim.
sebab muslim yang baik tentu yang salah tetap dianggap salah walaupun dihadapan Tuhan.

Bagi saya, siapapun yang mendukung, membela kejahatan dan ketidakadilan maka ia tergolong orang yang tidak baik pula sekalipun ia rajin ibadah.

Percuma sholat, beramal sholeh, ngaku takut Tuhan tetapi begitu melihat kejahatan di pihaknya, ia biarkan bahkan ia dukung pula demi urusan duniawi.

Saya yakin banyak ustadz, ulama, santri, orang-orang yang cerdas sesungguhnya memahami ketidakadilan rezim Jokowi.

tetapi karena mengedepankan kekuasaan,urusan duniawi,fanatik golongan, ras maka banyak yang sampai lupa kalau dirinya lupa syariat agama sehingga yang salah tetap ia benarkan dan yang benar malah disalahkan.

Satu hal buat siapapun yang katanya muslim
Jika anda mengabaikan syariat agamamu untuk berbuat kebaikan dalam amar ma’ruf nahi mungkar, sebaiknya buang kopiahmu jauh jauh atau buang ke tong sampah kalau kamu buta tuli terhadap kesalahan karena mendukung kekuasaan pemimpin yang keliru adab.

Saya tidak pernah takut siapapun di dunia ini kecuali Tuhan.
Jadi tidak pula saya takut mati jika benar. Paling orang yang tidak siap mati, kalau duel adu tembak.

Tanggung kalau cuma urusan penjara mending adu bunuh saja kalau dengan saya dan biarkan munkar nakir yang menilai amal ibadah masing masing.

Demi Kebenaran Hidup?

Tinggalkan Balasan