Saya adalah Menjilat (Ironi Hari Pers Nasional)

Oleh Sri Widodo Soetardjowijono, Wapemred fnn.co.id

Sejak Jokowi jadi presiden, pamor bangsa Indonesia memang langsung meroket. Semua objek wisata terkenal di dunia, dari Paris, New York, London, Moskow, Rio De Janerio, Buenos Aires, Seoul, Tokyo, Abu Dhabi, Tel Aviv, Casablanca, sampai Cape Town, semuanya disesaki oleh wisatawan Indonesia.

Para TKI yang bekerja di Arab Saudi, Uni Emirat, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, setiap weekend memenuhi semua mal. Apa saja diborong oleh para TKI berkat adanya gelontoran subsidi dollar bagi semua warga negara yang bekerja di luar negeri.

Menurut World Bank, perekonomian global tumbuh 10% per tahun karena terkatrol pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai angka rata-rata di atas 20% setiap tahun. Sebab itulah Menteri Keuangan Sri Mulyani, dianugerahi sebagai Menteri Keuangan Terbaik di Dunia oleh IMF dan World Bank. Padahal, Sri Mulyani sesungguhnya cuma melaksanakan arahan-arahan Jokowi saja.

Praktis, hari ini sudah tidak ada lagi orang miskin di Indonesia. Pendapatan per kapita rakyat Indonesia sudah di atas 200 ribu dollar AS atau setara dengan 2,8 miliar rupiah/tahun atau sekitar 233 juta rupiah/bulan. Ini sudah jauh melampaui pendapatan rakyat di negeri-negeri termakmur seperti Luxemburg, Swiss, Norwegia dan Qatar. Rakyat Singapura yang dulu paling kaya di kawasan Asia Tenggara, kini sudah minder melihat rakyat Indonesia.

Semua pesepakbola papan atas dunia, sebutlah Ronaldo, Eden Hazard, Neymar, Paul Pogba, ngebet bermain di Liga Indonesia, karena nilai transfer dan upahnya yang gila-gilaan. Artis-artis dan band papan atas dunia, hampir setiap hari manggung di semua kota-kota di Indonesia.

Tingkat kebahagian rakyat Indonesia tiada tandingannya di dunia. BPJS Kesehatan setiap hari _door to door_ memeriksa kesehatan semua warga. Bulog tiap hari memeriksa dapur warga agar jangan sampai berasnya kosong. Begitu juga Pertamina yang setiap saat mengisi tabung gas kosong di rumah warga. Semuanya gratis.

Kecintaan rakyat Rusia terhadap Putin dan kecintaan rakyat Turki terhadap Erdogan, belum apa-apa dibanding kecintaan rakyat Indonesia kepada Jokowi. Hari ini, kalau
MPR mau mengangkat Jokowi jadi presiden seumur hidup pun, mayoritas rakyat Indonesia pasti setuju. Persetan itu pilpres. Rakyat Indonesia hanya butuh pemimpin besar yang genius dan punya visi jelas menjadikan Indonesia adidaya dunia! Begitu menurut hasil survei LSI Denny JA yang dirilis baru-baru ini.

Orang-orang paling kritis di Indonesia, seperti Rocky Gerung, Rizal Ramli, Sudjiwo Tedjo, Emha Ainun Nadjib, Fahri Hamzah, hampir setiap hari memuji kinerja Jokowi. Apalagi orang awam. Pemimpin oposisi Prabowo pun sekarang terdiam. “Apa gunanya lagi saya menjadi oposisi sendirian, kalau semua rakyat sudah memuji Pak Jokowi?” Begitu katanya di hadapan para pendukungnya yang cuma terhitung dengan jari.

Bagaimana bisa Jokowi menciptakan keajaiban ekonomi di Indonesia? Dunia harus tahu dan bisa menjadi blue-print Bank Dunia untuk mendorong pembangunan di negara-
negara terbelakang. Kuncinya ada di otak Jokowi yang IQ-nya di atas 200.

Loncatan besar yang dilakukan Jokowi, dan tidak pernah dilakukan oleh 6 presiden Indonesia sebelumnya adalah meresmikan pembangunan pabrik mobil Esemka di Solo. Ini adalah gebrakan awal Jokowi sehari setelah dilantik jadi Presiden pada Oktober 2014 dan sudah terbukti memiliki dampak bergulir yang sangat luar biasa.

Pabrik Esemka memang bukan pabrik biasa. Luasnya saja 10 kali dari pabrik pesawat Boeing, di Seattle, Amerika Serikat. Konsep pabrik Esemka ini mirip dengan Mitsubishi Heavy Industries di Jepang. Nah “Esemka Super Heavy Industries” ini sejak awal memang dirancang bisa membuat apa saja. Tidak hanya mobil, tapi juga kapal, pesawat, kereta api, pembangkit listrik, alat berat, traktor, smelter, hingga peralatan rumah tangga dan persenjataan berat.

Setelah meresmikan pabrik Esemka, keesokan harinya, masih di Solo, Jokowi mencanangkan pembangunan jalan umum bebas hambatan (tol gratis) yang bisa menjangkau seluruh pelosok Indonesia,
yang disebut program “Tolisasi Nusantara”.

Jokowi ingin semua hasil produk Esemka bisa didistribusikan dengan cepat ke pelosok Indonesia dengan ongkos distribusi serendah-rendahnya. Ini sebenarnya mirip dengan konsep mega infrastruktur Cina, OBOR (one belt one road). Cuma konsep Jokowi jauh lebih masif. Bayangkan semua hutan belantara dan pegunungan di Indonesia sudah berhasil ditembus oleh jaringan jalan raya yang terintegrasi dengan jalan desa.

Semua pulau yang tadinya terpisah oleh selat-selat kini sudah tersambung dengan jembatan-jembatan raksasa. Semuanya digratiskan. Semua pembiayaan pembangunan dan perawatannya bersumber dari anggaran negara.

Alhasil, dalam setahun saja kedua mega proyek tersebut selesai. Sejak awal tahun 2016, rakyat Indonesia sudah menikmati hasilnya. Miliaran dollar AS mengalir ke Indonesia berkat terjadi surplus neraca perdagangan terbesar sepanjang sejarah. Seluruh utang luar negeri dari jaman Presiden Soeharto hingga SBY sudah dilunasi oleh Jokowi.

Cadangan devisa negara dan dana pihak ketiga di perbankan nasional membengkak sampai-sampai pemerintah pusing mau diinvestasikan ke negara mana. Pemimpin Cina, Amerika, Jepang, dan negara-negara industri Eropa antri minta ketemu Jokowi, untuk mendapat pinjaman lunak.

Semua jalanan di Indonesia dipenuhi mobil Esemka. Mobil Jepang dan Eropa yang dulu merajai pasar Indonesia sekarang menjadi rongsokan di setiap garasi rumah. Setiap rumah di Indonesia rata-rata punya dua mobil Esemka, dari jenis SUV sampai double cabin.

Lihatlah sekarang, semua orang dewasa di Indonesia bangun pagi dengan wajah ceria. Sambil mengantar anak-anaknya ke sekolah, mereka lalu menuju kantor dan pabrik yang menjamur di sepanjang jalur “Tol Jokowi”. Ini adalah jaringan tol gratis paling kompleks di dunia. Bayangkan semua perkampungan dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud hingga Rote yang dulu terisolasi oleh hutan dan lautan, kita terhubung dengan jalan tol.

Semua tanah kosong di pinggir tol disertifikatkan atas nama petani lokal. Lalu mereka dikasih traktor dan bibit gratis pula. Nelayan juga mendapat kapal motor dan minyak gratis agar bisa mencari ikan sepuas-puasnya. Stok beras dan ikan kini melimpah. Semua hasil pertanian dan perikanan dijual begitu saja di pinggir jalan tol, lalu diangkut para saudagar untuk ke pasar lokal dan dunia. Harga sandang, pangan, bensin dan listrik yang dulu begitu mencekik, sudah dianggap terlalu murah bagi rakyat Indonesia.

Di era Jokowi, angka pengangguran berhasil ditekan sampai titik di bawah nol. Sampai-sampai, manajemen pabrik, perkebunan dan pertambangan menjerit karena kekurangan tenaga kerja. Tapi syukurlah, hal tersebut sudah berhasil diatasi pemerintah dengan mendatangkan buruh-buruh dari Cina.

Dua bulan lagi akan
diselenggarakan pemilihan presiden di Indonesia. Semua media massa dipenuhi kabar puja-puji kepada Jokowi. Salam dua periode membahana di seantero
Indonesia. Semua lembaga survei independen menyatakan elektabilitas Jokowi sudah 99,99% dengan margin error 0%.

Tinggallah Prabowo, Habib Rizieq dan mungkin Mbah Moen dan barangkali saya yang tersisa sebagai kaum oposisi yang bergerilya di media sosial.

Selamat malam minggu untuk seluruh rakyat Indonesia. Selamat mikir keras.

Jakarta, Sabtu 9 Februari 2019

Tinggalkan Balasan