Seriuskah Kita Mengundang Murka Allah?

Oleh Iramawati Oemar

Jakarta, FNN – Anda mungkin menilai saya terlalu baper, lebay, atau apalah, silakan. Tapi yang jelas saya merasa “NGERI”, sebuah kengerian yang baru kali ini saya rasakan.

Bukan kengerian yang sama ketika naik roller coaster super tinggi dan super cepat di Tokyo Dome, bukan pula kengerian yang sama ketika saya harus menjalani permainan “Tarzan X” dimana kita memanjat sampai ketinggian di atas 20 m lalu disuruh berayun-ayun dengan tali sementara di bawahnya hanyalah pepohonan yang menutupi jurang. Sebab kengerian itu masih bisa dihindari, ketika saya bisa memilih untuk tidak ikut.

Tapi, ini kengerian bentuk lain. Kengerian akan adzab Allah yang akan menimpa, karena KEMUSYRIKAN sedemikian telanjang dipertontonkan, bahkan diundang, dipusat negeri, di rumah rakyat, dimana perhelatan pengambilan sumpah pemimpin negeri ini akam digelar.
Sampai saat ini, belum terdengar ada yang keberatan – apalagi melarang – semisal dari unsur pimpinan DPR kah, atau unsur pimpinan DPD kah, atau unsur pimpinan MPR kah, atau pimpinan Sekretariat DPR/MPR kah.
Dari 600an politisi Senayan, tidak adakah yang keberatan gedung tempat mereka sehari-hari bertugas didatangi dukun/paranormal atau apalah sebutannya, lalu mengadakan ritual disana, memohon pada sosok-sosok makhluk ghaib dari dunia mistis?!

Saya makin miris lagi ketika melihat di galery WA dan linimasa FB bertebaran foto-foto aparat keamanan yang ditugaskan menjaga gedung wakil rakyat itu tampak asyik, gembira ria, berjoget bersama penyanyi yang bajunya ketat membalut tubuh, memperlihatkan lekuk liku bodynya. Tak sekedar berjoget, mereka “nyawer”, menyelipkan uang. Rasa-rasanya jauh lebih terhormat jika si artis membawa kaleng bekas biskuit atau kardus bekas kemasan air mineral, lalu letakkan didepan tempatnya beraksi, seperti artis yang “ngamen” di luar negeri.
Betapa tidak, si artis selain berpakaian ketat dan kurang bahan pada bagian belahan dada, dia juga sengaja meliuk-liuk sedemikian rupa, lalu lelaki-lelaki di sekitarnya memasukkan uang ke lekukan dadanya dan pant*tnya. Astaghfirullah hal ‘adzhiim…

Inikah cara bangsa kita menghadapi pelantikan presidennya?! Inikah buah dari REVOLUSI MENTAL yang digaungkan sejak 5 tahun lalu?!
Hanya melestarikan kepercayaan mistisisme yang dahoeloe kala, ribuan tahun lalu, tumbuh ketika manusia masih menganut animisme dan dinamisme.
Juga mempertontonkan tingkah laku aparat yang secara etika tidak pantas dijadikan teladan bagi masyarakat.

Sedang menuju kemana peradaban bangsa kita?! Berjalan mundur kah?!
Na’udzubillahi min dzaalik!

Tepat ketika adzan Maghrib berkumandang, saya segera beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu. Entah kenapa, hati saya melow banget, miris rasanya membayangkan keseluruhan proses rutin 5 tahunan “pesta demokrasi” yang menelan dana 24 trilyun, mengorbankan hampir 700an petugas penyelenggara pemilu dan para saksi di berbagai daerah, belum lagi ekses-ekses yang terjadi sesudahnya dimana ada banyak darah tertumpah, bahkan nyawa anak-anak muda, remaja, yang harus melayang terkena popor senjata atau tertembus peluru.
Ngiluuu…hati saya.

Alhasil, sejak takbiratul ihram, Allaahu Akbar, air mata saya sudah mengalir.
Makin deras menganak sungai ketika saya baca doa Iftitah, terutama ketika sampai lafadz “inna sholati, wa nusuki, wa mahyaaya wa mamaati liLlahi Robbil ‘aalamiin…”
Berkelebat selintas rekam jejak perjuangan betapa kami, sebagian anak bangsa, sejak 1,5 tahun lalu meng-azam-kan niat ingin mengganti pemimpin nasional. Namun sayang, endingnya ya seperti sekarang ini.
Apakah kemarin kita – terutama saya – salah dalam meniatkan perjuangan?! Adakah kita salah dalam menempuh caranya?! Ya Robb kami, hamba mohon ampun jika ikhtiar kami keliru. Dan atas ijinMU, atas kehendakMU, apa yang kami upayakan belum berhasil.

Tangisan saya kian menjadi ketika membaca surah al Fatihah sambil memahami maknanya ayat demi ayat. Sampai kalimat “iyya ka na’ budu, wa iyya ka nasta’iin…” saya semakin merasa kecil.

Begitu pula saat rukuk dan sujud, juga saat duduk antara 2 sujud. Apalagi saat sujud, rasanya terbayang neraka yang apinya menyala-nyala, hiii… allahumma ajirna minannaar… Ampuni kami yang lemah ini, yang tak mampu melarang, mencegah kemusyrikan itu, Ya Allah.
Jadinya, 3 rakaat sholat saya dipenuhi dengan cucuran air mata.

Seusai sholat, setelah istighfar, dzikir dan membaca doa (pagi) petang, saya buka surah Al Mulk. Tadi pagi di acara Khazanah saya mendengar katanya Rasulullah Muhammad SAW tidak tidur di malam hari sebelum beliau membaca surah AL MULK.
Ternyata ini surah Makkiyah, artinya diturunkan di Mekkah, hanya 30 ayat, Al Mulk artinya “Kerajaan”. Saya baca artinya sampai habis, tampaknya memang surat ini cocok dibaca kaum Muslimin Indonesia saat ini.
Agar tidak tergelincir aqidahnya. Agar tidak takut rejekinya tertahan, sebab yang bisa menahan rizki itu hanya Allah. Dan apabila Allah menahan rizki kita, maka tidak ada makhluk apapun yang mampu memberi rizki, tidak juga penguasa.

Yuk, mari, kita kencangkan doa-doa.
Setidaknya, meski kemungkaran merajalela, orang bangga bermaksiat, at least masih ada, bahkan banyak, hamba Allah di negeri ini yang TAKUT akan adzabNYA yang sangat pedih!
Kita berharap, semoga dengan doa-doa kita, mampu menahan datangnya murka Allah.
Insyaa Allah, aamiin…

19 Okt 2019
(Iramawati Oemar)

Tinggalkan Balasan