Virus Corona: Jangan Sampai Imun Terhadap Beritanya

By Asyari Usman

Jakarta, FNN – Lama-lama, orang bisa kebal (imun) dengan berita penyebaran virus Corona. Karena saking panjangnya rentang waktu wabah ini. Semoga kita semua tidak abai atau lengah. Sebab, virus itu sangat berbahaya. Belum ada obatnya meskipun para ahli kedokteran berlomba cepat untuk keluar sebagai penemu pertama. Kemudian menjadi duit besar.

Jangan sampai Anda imun (kebal) terhadap berita Corona. Jangan apatis dan tak peduli lagi. Kemudian mengendurkan semangat Anda untuk mendesak para penguasa negeri agar serius menghadapi virus ganas itu.

Ingat. Per sore kemarin (09/02/2020), sudah 908 orang yang meninggal dunia di seluruh dunia. Sebagian besar memang di China daratan, khususnya di Wuhan. Tetapi, korban meninggal sudah ada di luar Tiongkok. Jumlah korban jiwa Corona sudah melampaui korban jiwa virus SAR 2003 yang jumlahnya 774 orang.

Tujuh hari lalu (03/02/2020), update korban meninggal Corona hanya 362 orang. Sekarang bertambah 546, dalam seminggu saja. Angka 362 itu adalah kematian yang berlangsung dalam rentang 34 hari sejak virus Corona terdeteksi pertama kali di Wuhan pada 31 Desember 2019.

Dan, yang lebih mencemaskan, jumlah yang tertular mencapai 40,171 orang. Tujuh hari lalu, yang tertular masih 17,387. Bertambah 22,784. Artinya, multiplikasi peyebaran menjadi berlipat-lipat. Dan sangat valid kalau Anda menduga jumlah yang tertular bisa jadi lebih besar dari rilis resmi penguasa.

Sudahkan bisa dikatakan wabah Corona mencapai puncaknya? Wallahu a’lam. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus saja mengeluarkan peringatan agar semua orang, semua negara, meningkatkan kewaspadaan dan langkah-langkah pencegahan.

Yang bisa berbahaya adalah perubahan persepsi dan sikap. Kalau berita penyebaran Corona mulai dinggap “biasa” saja, antara lain karena bosan atau tidak menarik lagi, maka persepsi orang tentang bahaya virus ganas tsb bisa berubah. Jika persepsi berubah, sikap pun bisa ikut berubah. Kewaspadaan menjadi luntur.

Bagaimana dengan kewaspadaan Indonesia?

Otoritas kesehatan Indonesia seharusnya menjadi ‘leader’ (panutan) dalam hal pembentukan persepsi, sikap, dan tindakan terkait penyebaran virus Corona yang disebut juga 2019-nCoV. Rakyat selayaknya mempercayai Kementerian Kesehatan dan para pejabat kuncinya.

Tetapi, koneksi langsung antara masyarakat dengan berita-berita atau analisis tentang Corona bisa menghasilkan dualisme panutan itu. Ini sudah terbukti pada hari-hari pertama penyebaran Corona. Rakyat, khususnya warga pengguna internet (netizen), sempat mengkritik keras tindakan pemerintah. Para netizen mendapatkan informasi di Internet tentang penularan dan mutasi cepat virus Corona. Mereka lebih percaya pada sumber non-pemerintah. Tentu ini sangat tidak baik.

Jadi, ada dua panutan dalam hal Corona. Pertama, pemerintah (kemenkes dan semua otoritas kesehatan). Kedua, berita-berita tentang Corona yang didapat dari sumber yang valid di Internet.

Berita tentang reaksi gencar dan tak main-main di negara-negara lain boleh jadi akan menumbuhkan anggapan bahwa pemerintah Indonesia cenderung lambat atau terlalu santai. Pemerintah bisa dianggap tidak kredibel.

Sangat bersyukur masih belum ada orang yang positif terkena Corona di sini. Ada ahli biologi UI yang mengatakan bahwa suhu panas di Indonesia kemungkinan menjadi penyebab virus Corona tidak mudah menyebar.

Kalau memang iya, beruntunglah para penguasa. Temperatur panas cukup membantu. Tetapi, teori suhu panas ini tentu tidak wajar untuk diandalkan sebagai benteng.[]

10 Februari 2020

Penulis wartawan senior.

Tinggalkan Balasan