Obituari Ahmad Iskandar Bait

Innalilahi wainailaihi roji’un….

Jakarta, FNN – Saya kenal Iskandar sudah sejak tahun 1990-an, ketika kami sering bertemu di lapangan meliput kegiatan dan peristiwa di bidang keuangan, perbankan dan ekonomi. Saya dengan Iskandar sering bertemu saat liputan di Bank Indonesia atau Depkeu (sekarang Kemenkeu).

Waktu itu Iskandar masih bekerja di RCTI. Dalam berbagai kesempatan, Iskandar selalu mengingatkan saya tentang bahaya kapitalisme dan liberalisme ekonomi. Karena kita bekerja di media yang berbeda, pilihan nara sumber (ekonomi dan bisnis) juga kerap berlainan.

Intinya, Iskandar mengingatkan saya agar otak dan pemikiran saya jangan sampai terpengaruh para nara sumber ekonomi liberal sebagaimana yang sering dibaca Iskandar di media tempat saya bekerja.

Kemudian pada tahun 1990-an tepatnya di tengah krisis ekonomi tahun 1998, Iskandar juga yang memperkenalkan saya dengan salah satu pengamat ekonomi nyentrik almarhum Dr Hartojo Wignjowijoto. Saat terjadi krisis moneter pertengahan 1997 yang ditandai dengan gejolak mata uang rupiah, bahkan Hartojo dianggap sebagai ekonom gila.

Betapa tidak, ditengah situasi masyarakat dan pemerintah sedang panik, tetiba waktu itu Hartojo memprediksi Rupiah bisa menembus angka Rp 5.000 per dollar AS. Sebelum krisis moneter, mata uang rupiah memang dipatok di angka Rp 2.500 per dollar AS. Kebijakan moneter yang diterapkan BI waktu itu adalah managed floating rate. Ini sudah diterapkan selama puluhan tahun. Jadi kalau ada yang berpendapat aneh dan nyeleneh seperti Dr Hartojo waktu itu, kerap dianggap sebagai ekonom yg tidak argumentatif. Bahkan sebagian lagi… menyebut Hartojo, itu tadi sebagai ekonom gila.

Namun setelah ada serangan badai krisis moneter, akhirnya BI tidak tahan menahan tekanan terhadap rupiah dan merubah kebijakan moneternya menjadi free floating rata (mengambang bebas) dimana penentuan nilai rupiah ditentukan oleh market, suplai demand di pasar uang (money market).

Gubenur BI waktu itu Soedrajad Djiwandono dan juga Menkeu Mar’ie Muhammad, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tunduk dengan keinginan pasar. Dan aksi investor keuangan George Soros yang secara massif menyerang pasar keuangan di Asia melalui money market pun berhasil. Pasar-pasar keuangan di Asia berhasil dikuasainya dan dia menangguk keuntungan yang besar.

Malah krisis moneter yang dialami Indonesia merembet ke krisis ekonomi dan sosial politik. Bahkan krisis multidimensi di negara ini sampai melengserkan Soeharto dari jabatannya sebagai Presiden pada bulan Mei 1998.

Nah, interaksi serta diskusi saya dengan Iskandar banyak dilakukan ditengah situasi ekonomi politik Indonesia seperti diatas. Kemudian agar saya mendapat perspektif dari nara sumber ekonomi lainnya yang anti mainstream, Iskandar sengaja mengatur pertemuan saya di rumah Dr Hartojo Wignjowijoto di kawasan Kemang Jakarta. Ternyata tidak mudah menangkap isi pemikiran dari seorang ekonom nyentrik ini karena dia banyak guyon kalau sedang ngobrol serius.

“Justru kalau dia sedang guyon artinya dia sedang ngomong serius gun,” begitu kata Iskandar ketika saya mengeluhkan “hambatan” saya berkomunikasi dengan Dr Hartojo.

Itu sepintas interaksi saya dengan Iskandar di masa masa periode Indonesia in Crisis. Selanjutnya Iskandar bercerita kepada saya tentang konfliknya dengan bos besarnya di tempat dia bekerja. Sampai akhirnya dia resign.

Sebelum bekerja di RCTI, sahabat saya ini pernah bekerja pula di Majalah InfoBank. Setelah keluar dari RCTI dia kemudian pernah singgah berkarya di TVOne, kemudian pindah lagi ke media Investor Daily. Nah pada tahun 2000-an, saya jarang bertemu dengan Iskandar.

Baru setelah Iskandar bekerja di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saya dipertemukan kembali dengan beliau. Salah satu kisah yang dia ceritakan adalah pengalaman religiusnya yang mendapat pertolongan dan kesempatan untuk hidup yang kedua kali.

“Saya pernah mendapat serangan penyakit stroke berat Gun. Memory saya hilang, sama sekali gak ingat apa-apa. Alhamdulillah.. Allah SWT masih memberi kesempatan hidup kepada saya untuk beribadah, beramal dan berbuat kebaikan,” kata Iskandar. Dia mengisahkan, secara teknis medis dirinya sudah selesai hidupnya waktu itu. Tapi Allah taala punya kehendak lain.

Selanjutnya, kalau saya bertemu dengan Iskandar tidak semata ngobrol santai atau membicarakan situasi negara ini, tapi kita saling bertukar cerita dan pengalaman hikmah. Saya sering mendpatkan pencerahan soal agama dalam praktek kehidupan dari Iskandar.

Selain bertemu setiap mendapat undangan dari PT Astra Internasional (PT AI) saat acara buka puasa di bulan Ramadhan, kami juga kerap bertemu dan berdiskusi di Jalan Majapahit membicarakan semua hal dalam perspektif keagamaan dan kebangsaan.

Tidak hanya itu, Iskandar yang juga aktif menulis novel kerap mengajak saya untuk menjenguk sesama wartawan yang sakit atau meninggal dunia. Bahkan saya pernah diajak Iskandar utk Takziah pada salah satu bekas anak buahnya di Investor Daily yang meninggal beberapa waktu lalu. Walaupun secara pribadi saya tidak kenal, tapi Iskandar memberi info pada saya bahwa almarhum adalah orangnya baik, pekerja keras dan kepala rumah tangga yang sangat bertanggung jawab. Akhirnya, kita bertemu di rumah alamarhum bekas anak buahnya itu.

Sebelum Allah SWT mencabut roh dari jasad Iskandar pada hari Senin sore (2/3) beberpa hari sebelumnya saya sempat menjenguk dia di RS Premier Bintaro. Cuma waktu itu, Iskandar sudah dipindahkan dari ruang rawat inap ke ruang ICU dimana jam besuk dibatasi hanya satu jam.

Saya hanya bertemu dengan istrinya Iskandar di luar ruang ICU. Dari cerita istrinya, aktivitas Iskandar sebelum masuk rumah sakit seperti biasa berangkat kerja ke kantornya di OJK. Selain itu, setiap hari Sabtu dia mengajar di Universitas Ibnu Chaldun di Rawamangun Jakarta.

“Bahkan mas Iskandar ditunjuk pihak kampus utk menjadi Ketua Program Pendidikan Ekonomi Syariah. Dia juga aktif di komunitas Betawi. Dia pernah tidak tidur mas semalaman karena harus merampungkan buku Betawi,” cerita istrinya yang didampingi dua yunior Iskandar yang masih muda.

Umur saya dengan Iskandar hanya terpaut dua bulan. Iskandar lahir 1 Januari 1966 saya baru brojol dari rahim Ibu pada bulan Maretnya.

Ketika melayat Iskandar Senin malam, banyak teman2nya yang pernah sekantor di RCTI, InfoBank, InvestorDaily, TVOne dan OJK, yang datang menjenguk, mensholatkan dan mendo’akan Iskandar.

Melalui tulisan ini kami bersaksi sahabat tercintaku H. Ahmad Iskandar Bait adalah salah satu orang yang baik (min ahlil Khoir). Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya, menerima ibadah dan amal baiknya sehingga bisa dimasukkan Surga FirdausNya. Aamiin yaa robbal alamin. Alfatihah.

By Tjahja Gunawan.