Masjid: Tempat Ibadah yang Minim Resiko Terjangkit Corona

Oleh Mochamad Toha

Jakarta, FNN – Fakta jejak digital. Okezone.com, Kamis (02 April 2020 13:05 WIB) membuat judul berita, “144 Jamaah yang Dikarantina di Masjid Kebon Jeruk Negatif Corona”. Saya tegaskan, itu bukan hoax! Catat! Itu fakta yang diberitakan dari sumber resmi!

Tim kesehatan dari Pemkot Jakarta Barat sudah melakukan pemeriksaan pendeteksi virus atau rapid test kedua terhadap 144 jamaah yang dikarantina di Masjid Jami Kebon Jeruk, Tamansari. Hasilnya, mereka dinyatakan negatif virus Covid-19.

Wali Kota Jakarta Barat Rustam Effendi mengatakan, karena hasilnya negatif terpapar virus corona, maka status ke 144 jamaah masih sebagai orang dalam pemantauan (ODP). “Masih ODP. Hari ini di-rapid test yang kedua,” kata Rustam kepada wartawan, Kamis (2/4/2020).

Para jamaah itu dikarantina di Masjid Jami Kebon Jeruk, karena sebelumnya ada beberapa di antaranya diketahui terkena corona dan sudah dirawat di rumah sakit.

Rustam mengatakan, setiap harinya petugas dari Puskesmas dari Kelurahan Tamansari selalu mengecek kesehatan terhadap para jamaah yang masih dikarantina dalam masjid tersebut. Sejauh ini kondisi mereka sehat.

“Semua sudah ditangani, sehat-sehat,” lanjut Rustam. Pemkot Jakbar juga terus memasok kebutuhan makanan kepada para jamaah pada pagi, siang dan malam. Bantuan juga datang dari beberapa lembaga.

Melihat faktanya, masih akan terus “melarang” umat Islam datang ke masjid dengan dalih untuk mencegah penyebaran Virus Corona? Masih mau ngikut seruan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (SAS) agar “menjauhi” masjid dan shalat di rumah terus?

Seperti ditulis Duta.co, Senin (6 April 2020), warga nahdliyin tengah “berdebat” soal ajakan Ketua Umum PBNU, sekaligus Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) SAS agar umat Islam melakukan shalat Jum’at, Tarawih, dan Idul Fitri 1441 H, di rumah.

Ajakan itu, sampai Senin (6/4/2020), masih beredar viral melalui potongan video pendek TvOne dan 164 channel milik LTN PBNU. Isinya dianggap bertentangan dengan keputusan Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU).

“Menghimbau kepada umat muslim, agar melaksanakan ibadah shalat Jumat, shalat Tarawih, Idul Fitri tahun 1441 Hijriyah di rumah masing-masing, serta tidak melaksanakan kegiatan takbir keliling, buka bersama, silaturrahim,” ujarnya.

“Demikian pula kepada umat non-muslim untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing, agar dapat mengurangi potensi penyebaran virus covid-19,” demikian kata SAS melalui channel 164 milik LTN NU yang terekam Duta.co.

Keterangan pers SAS itu telah menantik keraguan warga nahdliyin. Di sejumlah media sosial, warga NU terus membahasnya, apalagi sebagian dari mereka sedang sibuk mensosialisasikan keputusan LBM PBNU.

“Memang berlawanan. Bagaimana mungkin puasa saja belum, tiba-tiba shalat Idul Fitri ditiadakan. Sementara, hasil bahtsul masail kiai-kiai di PBNU, tidak seperti itu. Lebih pada kondisi atau kondisional,” ujar Sekjen Komite Khitthah NU 1926, KH Agus Solachul Aam Wahib kepada Duta.co.

Menurut Gus Aam, kebingungan warga NU itu wajar, karena keputusan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) jelas bahwa bagi umat Islam yang berada di zona kuning virus Corona, dan penularan corona masih dalam batas potensial-antisipatif, maka virus Corona tidak menjadi larangan, melainkan hanya menjadi uzur shalat berjamaah dan shalat Jum’at.

“Jadi melihat kondisi yang ada. Tidak bisa digebyah-uyah. Nah, menjadi tugas pemerintah untuk menjelaskan mana zona merah, mana zona kuning, dan mana yang masih hijau?” ujar Gus Aam.

“Sebab, logika umat itu sederhana, kalau jamaah ke masjid dilarang, mengapa orang ke pasar dibiarkan? Bukankah Masjid itu lebih tertib ketimbang pasar?” tanya Gus Aam.

Steril Corona

Ada tulisan Hamka Suyana, Motivator Ilmu Manajemen Sasyuik (sabar-syukur-ikhlas), soal penutupan masjid gara-gara wabah corona masih viral dan jadi bahan pembicaraan. Masing-masing beradu dalil sebagai dasar argumentasi.

Pihak yang pro penutupan masjid beralasan untuk berjaga-jaga dan waspada, tak ingin masjid menjadi pusat penyebaran virus corona. Sebaliknya, bagi yang kontra menentang penutupan masjid karena alasan ibadah.

Hamka Suyana cuma ingin mengungkapkan pemikiran yg saat ini jarang sekali dibahas yaitu: “Benarkah masjid menjadi tempat Rawan untuk penularan Covid-19? Atau justru sebaliknya? Masjid menjadi tempat Paling Aman untuk penularan Covid-19?”

“Saya yakin seyakin-seyakinnya bahwa masjid menjadi Tempat Paling Aman bagi penularan. Keyakinan saya ada dasarnya dan sangat mendasar,” tulisnya.

Masjid disebut Rumah Allah. Orang yang ke masjid untuk beribadah itu disebut tamu Allah. Logikanya, sang tamu akan dijaga, diawasi, dilindungi oleh Sang Pemilik Rumah. Mustahil seorang tamu yang sedang bertamu ke rumah Allah dibiarkan celaka akibat serangan corona.

Sang Pemilik Rumah Maha Tahu dan Maha Mengatur makhlukNya yang super nano bernama corona. Bagi Sang Pemilik Rumah tentu sangat mudah untuk memerintah atau menahan virus corona agar tidak masuk Rumah Allah. Hal itu tentu sangat mudah bagi Allah.

Lagi pula, mustahil Allah membiarkan para hamba yang menyembah kepadaNya di Rumah Allah celaka terpapar corona. Apabila bernalar menggunakan logika iman, pasti meyakini hal itu, tidak mungkin hal itu terjadi.

Lalu mengapa harus khawatir akan terpapar corona? Itu sama artinya, sadar atau tidak, telah mencurigai Sang Pemilik Rumah tidak mampu melindungi dan memberi rasa aman kepada para tamunya.

Tata tertib masuk Rumah Allah menjadikan virus corona sulit masuk masjid. Tata tertibnya demikian: Sebelum masuk masjid, para tamu Allah pasti sudah dalam kondisi berwudhu.

Itu artinya, andaikata ada virus yang menempel pada anggota badan yang harus diwudhui, niscaya si virus sudah hanyut terbawa limbah air wudhu. Misal ada yang bertanya demikian.

Bagamaina jika ada tamu Allah yang sudah terpapar corona ikut shalat berjamaah?

Janji Allah sesuai dalam surah Ath.Thalaq 2-3 pasti ditepati: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

Janji Allah ini pasti ditepati untuk memberi jalan keluar dan memberi rezeki yang tidak disangka-sangkanya berupa Kesehatan bagi hambaNya yang barangkali sudah terpapar corona.

Ada rahasia meluruskan dan merapatkan barisan saat shalat jamaah. Setiap perintah ibadah selain mengandung pahala, pasti ada rahasia kemanfaatan dalam kehidupan.

Shaf yang lurus dan rapat serta khusyuk pada masing-masing jamaah akan terjadi interaksi gelombang elektromagnetik ilahiyah yang panjang gelombangnya sangat pendek dan saling mengait kemudian saling menguatkan untuk memberi penguatan pada hati para jamaah.

Dampaknya, para jamaah akan merasakan ketenteraman dan tidak menutup kemungkinan akan muncul energi biolistrik yang akan menjadi obat penyembuh.

Rumah Allah yang senantiasa dimakmurkan dengan shalat berjamaah, dalam perlindungan Allah dari amukan bencana.

Menurut teori fisika kuantum ada yang disebut Hukum Tarik-Menarik (LOA) menyatakan, “Sesuatu akan menarik pada dirinya segala hal yang satu sifat dengannya.”

Penjelasannya, bila ada yang takut terjangkit virus corona dan ketakutan itu sudah memasuki alam bawah sadarnya, maka meski dia sudah menggunakan SOP pencegahan virus corona, pada suatu saat ketika tiba limit waktu detik lengah si dia pasti akan terpapar juga.

Sebaliknya, bila Anda datang ke masjid merasa berada di tempat paling aman dan haqul yakin, Allah pasti melindungi, maka hukum LOA akan berlaku. Andaikata Anda berada di episentrum corona, yakinlah Covid-19 tak akan mencelakai Anda.

Sebab, pada saat keyakinan hati mencapai kadar maksimal, hormon, endorfeen, dan serotonin diproduksi lebih banyak dari otak yang bermanfaat untuk memperbanyak dan memperkuat antibodi makrofag dan mikrofag.

Antibodi inilah yang akan memakan virus yang masuk ke tubuh, termasuk virus Corona! Ini buktinya: Sebanyak 144 Jamaah yang Dikarantina di Masjid Kebon Jeruk Negatif Corona.

***

Penulis Wartawan Senior.