Kiai Muchith: Ikhtiar Usir Corona, Muslim-Non Muslim Indonesia Ayo Puasa Ramadhan!

Oleh Mochamad Toha

Jakarta, FNN – Sejak pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020, hingga update terakhir Jumat (17/4/2020) pukul 12.00 WIB dilaporkan telah ada 5.923 kasus virus corona Covid-19 di Indonesia.

Dari jumlah 5.923 kasus positif virus corona di Indonesia tersebut, Indonesia menjadi yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Selain itu, dengan jumlah itu juga menjadi yang terbanyak ke-11 di Asia, melihat data Worldometers.

Menurut juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto, ada penambahan 407 kasus positif baru virus corona pada Jumat. Terjadi juga penambahan 59 pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh, sehingga total pasien sembuh 607 orang.

Sedangkan jumlah total pasien meninggal karena virus corona berjumlah 520 orang setelah ada tambahan 24 pasien meninggal. Kasus terbanyak di ASEAN. Jumlah kasus virus corona di Indonesia melonjak dengan adanya tambahan 407 kasus baru.

Sebelumnya, Filipina memiliki kasus virus corona tertinggi di ASEAN melaporkan 218 kasus positif baru pada Jumat. Selain memiliki kasus positif terbanyak, korban meninggal pasien virus corona di Indonesia juga yang tertinggi di ASEAN.

Sementara itu, selain memiliki kasus virus corona terbanyak di ASEAN, dengan total 5.923 kasus, Indonesia juga menjadi yang terbanyak ke-11 di Asia, menurut rekap Worldometers. Jadi kasus virus corona di Indonesia masih cukup tinggi.

Meningkatnya angka kematian akibat virus corona di Indonesia ini membuat prihatin seorang ulama yang juga Guru Tariqat Mursyid, KH Abdulloh Muchith, 82 tahun. Sabtu (18/4/2020) pagi, tiba-tiba pendiri IPIM Indonesia ini menelpon saya.

Apa yang disampaikan dalam pembicaraan kepada saya menarik untuk disampaikan. Berikut petikan wawancara dengan Kiai Muchith:

“Assalamu’alaikum. Mas Toha, apa kabar? Gimana perkembangan virus corona yang terjadi di Indonesia? Koq semakin besar jumlah korbannya,” begitu Kiai Muchith mengawali bicara dengan saya. “Alhamdulillah, sehat Yai. Wonten dawuh?”

Menurut Kiai Muchith sendiri bagaimana?

Ini sungguh sangat memprihatinkan. Apalagi, jika dilihat angka kematiannya semakin tinggi. Kita tidak bisa tinggal diam melihat kenyataan ini. Harus ada gerakan puasa bersama dalam bulan Ramadhan 1441 Hijriah mendatang.

Maksudnya puasa bersama itu apa ya Kiai?

Puasa Ramadhan itu kewajiban umat Islam. Tapi, dalam menghadapi pandemi virus corona ini kita tidak bisa kita hadapi sendirian. Umat non-Islam juga harus membantu melakukan puasa Ramadhan. Tujuannya untuk membantu agar corona keluar dari Indonesia.

Dasarnya apa Kiai menghimbau seperti itu?

Begini. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Puasa itu bisa menghilangkan dan menjauhkan dari berbagai penyakit”. Intinya begitu. Puasa itu menyehatkan. Orang yang semula sakit itu bisa sembuh karena puasa. Itulah dasarnya.

Mengapa harus mengajak umat non-Muslim?

Perlu diketahui, umat non-Muslim itu sebenarnya juga mengenal puasa. Sehingga, tidak ada salahnya jika mereka juga membantu ikut puasa di bulan Ramadhan mendatang. Sehingga ini bisa menjauhkan virus corona dari Bumi Pertiwi.

Menurut Kiai Muchith, apa yang diketahui soal virus corona?

Virus atau bakteri itu sebenarnya juga salah satu makhluk Allah SWT yang ada di Langit dan Bumi. Mereka itu juga hidup berpasangan seperti halnya manusia. Mereka juga ikut bertasbih kepada Allah. Mereka ini ada sebelum manusia hadir di muka bumi.

Mungkin saja mereka ini merasa sudah disakiti oleh manusia. Mereka merasa kehidupannya terancam, karena diburu dan dibunuh, sehingga mereka berusaha bertahan hidup. Yang lolos dari semprotan Desinfektan (alkohol) akan semakin kuat dan berkembang.

Makanya, jangan heran kalau di China sana tempat awalnya virus corona, pemerintah China mulai khawatir dengan adanya peningkatan jumlah kasus virus corona dalam enam minggu terakhir ini, pada Minggu (12/4/2020) lalu.

Mungkin bisa dijelaskan maksudnya?

Di China, dalam enam minggu terakhir ini membuat para ahli di China sana khawatir akan datangnya gelombang kedua dari penyakit infeksi ini lagi. Pemerintah China mengklaim lonjakan kasus ini terjadi karena banyaknya orang-orang yang pindah dari negara lain.

Di China, total kasusnya mencapai 82.160 orang dan jumlah kematian menjadi 3.341 orang. Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan, Senin (13/4/2020), ada 98 kasus baru impor yang terjadi berkaitan dengan orang-orang dari negara lain yang masuk ke China.

Kembali ke Indonesia, bagaimana dengan himbauan untuk tidak berjamaah di Masjid?

Itu pula yang membuat saya prihatin. Kemarin saya pas ke Surabaya dan mendatangi Masjid Ampel yang tertutup, saya langsung meminta supaya segera dibuka. Aparat yang menjaga di sana pun tidak keberatan. Ini hanya soal komunikasi saja. Tidak masalah, koq!

Jadi, sebenarnya tidak masalah jika umat Islam shalat berjamaah di masjid saat ini?

Silakan saja datang dan berjamaah di masjid. Perlu diingat, masjid itu adalah rumah Allah yang selalu dijaga kesuciannya. Sebagai tamu, tentu saja Allah sebagai pemilik rumah itu akan menjaga sehingga tamu-Nya merasa aman dan nyaman.

Jadi, kita tak perlu khawatir jika harus berjamaah di dalam masjid. Jangan dalam menghadapi virus corona ini, kita justru menjauhi masjid. Bagi Allah itu sangat mudah untuk memerintah atau menahan virus corona agar tidak masuk Rumah Allah.

Jika dengan pendekatan tauhid dan keimanan, mustahil Allah akan membiarkan hamba yang menyembah-Nya di Rumah Allah celaka terkena virus corona. Jika kita menggunakan logika iman, pasti meyakini hal itu, tidak mungkin hal itu terjadi.

Mungkin Kiai Muchith bisa memberi contohnya?

Itu 144 jamaah yang dikarantina di Masjid Kebon Jeruk, Tamansari, Jakarta Barat, semuanya negatif corona. Hasil tesnya, mereka dinyatakan negatif terpapar Covid-19. Padahal, diantara mereka sebelumnya ada yang terpapar virus corona.

Anggota tubuh yang sudah dalam kondisi suci (berwudhu) itulah yang menyebabkan mereka dijauhkan dari virus corona. Jika ada virus yang menempel pada anggota badan, niscaya virus sudah hanyut terbawa limbah air wudhu.

Dalam surah Ath Thalaq 2-3 Allah berjanji: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bila datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah para setan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (dibukalah pintu-pintu surga) yang membuka Dia-lah Allah Ta’ala. Hanyalah dibuka pintu-pintu surga dikarenakan Allah menginginkan orang-orang memasukinya, terutama pintu yang khusus untuk orang yang berpuasa. Yaitu pintu yang dinamakan Babur Rayyan.

Semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk orang yang memasukinya. Ditutup pintu-pintu neraka sampai tidak seorang pun ingin memasukinya. Sehingga, diketahui bahwa yang dimaksud dengan sabda Beliau ini adalah sebab-sebab masuknya surga dan sebab-sebab masuknya neraka.

Seakan-akan Nabi SAW menginginkan dengan berita yang mulia ini, agar kita bersemangat melakukan ketaatan yang merupakan sebab masuknya surga dan menjauhi kemaksiatan yang merupakan sebab masuknya neraka.

Mengapa Masjidil Haram di Mekkah juga harus ditutup?

Itulah yang saya tidak mengerti. Padahal, justru dari dalam Ka’bah itu memancar sinar Illahi yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk virus corona. Kalau ada jamaah yang terpapar corona, insya’ Allah akan sembuh. Itu saya yakini sesuai janji Allah.

Dengan adanya wabah virus corona ini justru dimanfaatkan pihak lain yang selama ini tidak suka kalau Islam berkembang, untuk menjauhkan umat Islam dari masjid. Mereka sekarang ini sedang bertepuk tangan gembira karena umat Islam sudah menjauhi masjid.

***

Penulis Wartawan Senior.