Tidak Kenal Karakter Musuh, Gagal Fokus Perangi Virus Corona!

Oleh Mochamad Toha

Jakarta, FNN – Pemerintah China menilai penanganan wabah Virus Corona di Indonesia sudah dilakukan secara komprehensif. Atas dasar itu mereka meyakini Indonesia bisa secepat mungkin memenangkan pertarungan melawan epidemi.

“Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang kuat, pemerintah Indonesia telah menerapkan kebijakan secara komprehensif dan menanggapi wabah secara ampuh,” kata Dubes Xiao Qian, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Rabu (6/5/2020 07:18 WIB).

Menurut dia, masyarakat Indonesia menunjukkan tekad dan keyakinan kuat untuk mengatasi epidemi. Kata dia, hal itu juga memperkuat keyakinan China, Indonesia sesegera mungkin mengatasi epidemi dan memulihkan tatanan ekomomi dan sosial yang normal.

Pandemi corona memang membawa dampak luas di berbagai sektor. Demi bertahan dalam tekanan ekonomi imbas wabah Virus Corona Atau Covid-19, beberapa perusahaan terpaksa mengambil kebijakan yang tidak menguntungkan pekerja.

Sementara itu, hingga Rabu (6/5/2020) jumlah pasien positif Virus Corona atau Covid-19 di Indonesia mencapai 12.438 orang, pasien meninggal mencapai 895 orang, dan pasien sembuh sebanyak 2.317 orang.

Virus corona mulai merebak sejak akhir 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Virus itu kemudian menyebar ke penjuru negeri dan bahkan lintas negara. Melansir data dari laman Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 3.719.899 (3,7 juta) kasus hingga Rabu (6/5/2020) pagi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.235.817 (1,2 juta) pasien telah berhasil sembuh, dan 257.747 orang meninggal dunia. Kasus aktif hingga saat ini tercatat sebanyak 2.226.335 dengan rincian 2.177.007 pasien dengan kondisi ringan dan 49.328 dalam kondisi serius.

Perjalanan Corona yang menyerang Indonesia ini diungkap oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang berhasil menelusuri perjalanan dari tiga sampel Virus Corona atau Covid-19 yang menyerang Indonesia.

Melansir Viva.co.id, Selasa (5 Mei 2020 | 18:40 WIB), dari hasil penelusuran itu terungkap bahwa tiga sampel Virus Corona semuanya berasal dari China.

Dalam keterangan resminya melalui akun Facebook yang dikutip Viva.co.id, Selasa (5 Mei 2020), Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menceritakan secara detail kisah penelusuran para ahli mereka untuk menemukan asal muasal Virus Corona di Indonesia.

“Jadi 3 sampel virus di Indonesia berasal dari mana?” tulis Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengawali kisahnya.

“Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah men-submit 3 sekuens full genome dari virus SARS-COV-2 pada pasien Indonesia, dengan ID: EIJK2444; EIJK0141; dan EIJK0317, ke portal GISAID. Data sekarang sudah available dan bisa diakses siapa saja, asal sudah mendaftar di GISAID ya.

Lantas, mudah saja untuk diketahui 3 sampel tersebut berasal dari mana transmisinya, jika sekuens Indonesia sudah di tangan, dan belasan ribu sekuens pembanding lainnya juga tersedia. Tapi karena saya malas men-download semuanya itu, jadi saya memfilter analisis global dari Institusi/Organisasi lain untuk melihat asal-muasal sampel Indonesia.

Organisasi tersebut bernama Nextstrain yang sudah sangat baik mengkurasi data dari GISAID, menganalisis, dan memvisualisasikannya. Kudos to Nexstrain!

Jadi, dari 3 sampel tersebut, secara evolusi, semua transmisinya berasal dari China, sama kayak manusia modern, berasal dari Afrika tapi, bukan dari China.

Kemudian virus dari China bermigrasi, dan berevolusi sepanjang migrasinya, sepanjang lompatan dari satu host ke host lainnya. Sama kayak manusia. Terus berevolusi. Tapi bedanya, virus berevolusi jauh lebih cepat dibanding manusia.

Menariknya ada 2 grup (clade) besar, “grup” Asia dan Eropa, yang berevolusi secara paralel di kedua grup tersebut. Grup tersebut ditandai oleh diferensiasi mutasi asam amino pada protein ORF1B (open reading frame) pada posisi asam amino 314, juga pada protein S (spike) pada posisi asam amino 614.

Ketiga sampel Indonesia berada di “grup” Asia. Ini menarik, protein S terdiferensiasi secara regional. Pasti ada fungsi yang berpengaruh. Tapi saya lihat gen ACE2 di dunia kok enggak berbeda ya. Ini untuk diteliti lebih jauh oleh virolog Indonesia. Anyway, namun sekali lagi, semua berasal dari China ya.

Nah. Dari 3 sampel virus tersebut, mengalami kisah perjalanan yang berbeda:

Untuk sampel EIJK2444, virus berasal dari Jepang. Awalnya berjalan dari China, menuju Australia, dan Jepang. Dan akhirnya di Indonesia. Pada akhirnya, virus ID EIJK2444 memiliki mutasi asam amino pada protein S posisi 76, dari Threonine menjadi Isoleucine.

Untuk sampel EIJK0317, virus berasal dari United Arab Emirates. Awalnya berjalan dari China, menuju UK, kemudian US, United Arab Emirates, dan berakhir di Indonesia. Pada akhirnya, virus ID EIJK0317 memiliki mutasi asam amino pada protein ORF1a posisi 461 dari Isoleucine menjadi Valine.

Untuk sampel EIJK0141, virus berasal dari US. Awalnya berjalan dari China, menuju UK, kemudian US, dan berakhir di Indonesia. Pada akhirnya virus ID EIJK0141 memiliki mutasi asam amino pada protein ORF1a posisi 2103 dari Serine menjadi Phenilalanine. Begitulah kisahnya.

Menariknya, ketiga virus di Indonesia tersebut tidak (atau belum?) menjadi source bagi mutasi virus lainnya di negara lain. Setelahnya hanya terjadi pada transmisi lokal. Akan dilihat pada sekuens-sekuens baru dari sampel Indonesia.

Selain itu, semua mutasi kunci virus di Indonesia ini bersifat non-synonymous. Perlu dipelajari bagaimana mutasi ini berakibat pada struktur protein virus tersebut dan fungsinya. Apakah mengubah fungsi atau tidak. Dan ini serem siy. Mutasi fungsi jika lajunya cepat, bisa susah ditangani. Tapi, para virolog di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman bisa menganalisisnya”.

Kisah perjalanan Virus Corona dari China menuju Indonesia ini disebutkan dirangkum oleh Pradiptajati Kusuma salah satu peneliti postdoctoral LBM Eijkman di bidang evolusi dan genetika populasi.

Dia telah dengan baik merangkum cerita perjalanan virus SARS-CoV-2 dari analisis yang dilakukan di Nextstrain. Penjelasan yang diberikan, menunjukan salah satu manfaat kita telah melakukan perunutan genom dari tiga isolat tersebut.

Gagal Fokus

Menurut pendapat seorang pakar, hari ini, mayoritas manusia di seluruh dunia “gagal fokus sehingga menjadi paranoid”. Mengapa gagal fokus?

Pertama, mayoritas belum mengetahui siapa sebenarnya “musuhnya, dan bagaimana karakter musuhnya”. Semuanya masih meraba-raba, sehingga yang dilakukannya serba meraba-raba.

Kedua, mayoritas ahli berbagai disiplin ilmu itu fokus pada akibat dari keberadaan musuhnya itu, bukan pada musuhnya. Misalnya, mereka melakukan berbagai protokol, obat ini-itu sampai menyiapkan sekian banyak sarana dan prasarana untuk mengantisipasi akibat dari keberadaan musuh tersebut.

Karena gagal fokus itulah, sehingga menjadi paranoid. Mengapa menjadi paranoid, karena:

Pertama, karakter musuhnya berubah-ubah, yang semula diidentifikasi mampu menyebar lewat droplet Infectious disease, ternyata dapat menular melalui udara (airborne infectious disease) .

Kedua, belum diketahui protokol obat yang “pasti” untuk si musuh tersebut. Maka hal itu bisa dimaklumi kalau di beberapa instansi, membuat berbagai kebijakan sebagai bentuk-bentuk kewaspadaan, sampai ada yang menyatakan berlebihan.

Harap dimaklumi, karena semuanya juga ingin selamat dari serangan si musuh yang disebut Virus Corona tersebut, termasuk para nakes, sebagai prajurit infanteri dalam menghadapi si Covid-19 ini.

Kita mungkin bisa menghindari kontak langsung dengan orang-orang OTG, ODP, PDP, atau orang yang sakit lainnya. Tetapi karena “tugas mulia”-nya, mereka harus berdekatan dengan OTG, ODP, PDP, dan semua penderita lainnya.

Yang perlu kita lakukan, memahami perilaku-perilaku yang seolah-olah berlebihan ini, yang barangkali itu secara normatif hal yang tidak biasa. Jadilah kita manusia-manusia yang luar biasa. Yang mampu melakukan dan bersikap dewasa.

Padahal, sudah banyak pasien positif Covid-19 yang sembuh dengan konsep Probiotik Siklus (PS). Apa hubungannya dengan PS? Andai banyak pihak menerima konsep PS, yang dengan konsep ini, musuhnya jelas, perilakunya jelas, maka tidak akan ada kehebohan sehebat ini.

“Saya meyakini, bisa membantu menyelesaikan dalam waktu yang relatif lebih cepat, dan mampu meminimalisir kehebohan dan semua dampak negatifnya,” ujar pakar mikroba ini. Insya’ Allah, pada saatnya, kalau Allah SWT sudah mengijinkannya.

Penulis Wartawan Senior