Islam Tidak Boleh Dikalahkan, Ayo Lawan

By M. Rizal Fadillah

Jakarta FNN – Selasa (26/05). Setelah berpuasa sebulan penuh, kini umat Islam menunaikan misi lanjutan. Misi tersebut sebagai bukti suksesnya melasanakan ibadah selama Ramadhan. Sebagai Mu’min, ia mengemban dua amanah, yaitu amanah ibadah dan amanah khilafah.

Amanah ibadah telah dijalankan melalui ketaatan ‘maghdhah’ nya. Amanah khilafah adalah bekerja mengelola dan memakmurkan bumi dengan sebaik-baiknya. Menyatakan tidak kepada korupsi, suap, zalim, licik, tamak, curang dan maling. Semua itu harus dilawan. Apapun resikonya.

“Qum Fa anzir”–Bangun dan beri peringatan.

Tugas mulia adalah bangun dan membangunkan manusia. Agar selalu sadar bahwa manusia itu berada dalam kelalaian dan terjebak di kehidupan remang-remang ataupun hitam. Dalam kegiatan budaya, ekonomi, politik maupun agama. Peringatan adalah cahaya.

“Wa Robbaka fakabbir”–Besarkan asma Allah.

Hanya Allah SWT yang besar. Yang selain Allah, kecil semua. Tidak ada persoalan besar dan berat dalam pandangan Allah. Kita hanya diuji untuk menghadapinya. Solusi ada pada-Nya. Agama harus dibesarkan. Syari’at-Nya mesti dimuliakan. Menghina atau meminggirkan agama akan berakibat pada kemurkaan Allah. Kehidupan yang sulit dan sangat pahit.

“Wa tsiyaabaka fathohhir”–Pakaian bersihkan.

Pakaian itu performance. Dalam bahasa agama adalah akhlak. Akhlak yang mulia. Pakaian sendiri dan pakaian orang lain yang harus dibersihkan. Membangun peradaban yang bersih dan mulia. Buang kultur korupsi, suap, zalim, licik, tamak dan lainnya. Pada masyarakat yang berbudaya, curang maling, korupsi, suap, zallim, tamak dan licik adalah masyarakat yang berpakaian kotor, jorok, dan compang-camping.

“Wa rujza fahjur”— Hapuskan dosa

Hati suci menjadi modal akhlak yang bagus. Dzikrullah dan istighfar untuk jalan penyucian diri. Dengan hati yang suci, terbina tatanan yang beradab. Beda hati dan amal menyebabkan diri dan pemimpin berwatak tukang bohong, munafik, dan riya. Citra yang palsu dengan blusukan.

“Wala tamnun tastaktsir”— Jangan pragmatis.

Dalam perjuangan memang perlu kalkulasi. Tetapi hitungan matematika tidak menjamin kemenangan. Dalam sejarah, jumlah yang kecil bisa menghancurkan yang banyak. Ada keberanian, tawakkal, serta pertolongan Allah. Pragmatisme dan hedonisme sering menjadi musuh agama. Akarnya materialisme. Hidup adalah keyakinan bukan semata hitungan.

“Walirobbika fashbir”— Hanya kepada Allah bersabar.

Pelajaran shaum itu shabar. Kesabaran adalah kekuatan. Menghadapi tantangan terhadap agama, baik yang mengganggu, merusak, maupun yang hendak menghancurkan, umat Islam harus menggalang kekuatan dan shabar melakukan perlawanan. Insya Allah kemenangan akan didapat. Semangat juang adalah untuk merebut kemenangan tersebut “hayya ‘alal falaah”.

Tindak lanjut shaum ramadhan tentu saja langkah konkrit. Bukan menunggu datangnya ramadhan lagi. Karena kita tidak tahu akan usia yang sampai atau tidak ramadhan mendatang. “Faidza faraghta fanshob”. Jika sudah lewat satu tahap, maka masukilah tahap berikutnya. Setelah lewat ajang pembinaan dan perkaderan selama ramadhan, kini saatnya kita berada di lapang perjuangan yang sebenarnya.

Misi agama adalah memenangkan pertarungan, “liyudzhirohu ‘alad dieni kullihi”. Memenangkan budaya, dan memenangkan peradaban. Satu catatan, agama Islam ini tidak boleh dikalahkan, dipinggirkan, atau dinistakan oleh budaya dan peradaban korupsi, suap, zalim, licik, tamak, curang dan maling. Ayo bela, muliakan dan menangkan!

Penulis adalah Pemerhati Politik dan Keagamaan

Terjemahkan »