Jangan Ajari Saya Toleransi dan Pancasila (9): Toleran Sepanjang Tidak Diusik

Saya sempat menegur keras Ketua RW tempat kami tinggal. Saya anggap tidak toleran karena mengedarkan surat yang mengajak warga mengadakan kerja bakti saat libur Natal. Kalau hari Ahad/Minggu, tidak masalah karena sudah rutin merah.

Oleh Mangarahon Dongoran

Jakarta, FNN – EFFY menganggap saya seperti saudara. Demikian juga saya. Istri saya dan dia cukup akrab, meski baru bertemu yang ketiga kali.

Saya merasakan Effy benar-benar menyambut kami seperti saudara. Kami di bawa ke kantor suaminya, Eko yang membuka praktik sebagai pengacara di Kota Kediri. Satu malam pertama kami harus menginap di rumahnya. Padahal, kami sudah biasa menginap di pondok bersama orangtua santri.

Harap maklum, penginapan di pondok itu bukan hotel, tetapi ruang kelas yang dikhususkan bagi orangtua yang berkunjung untuk menginap. Ya, seperti maktab saat saya naik haji tahun 1999, satu ruang bisa 15 sampai 20 orang. Bedanya, di Tanah Suci ada kasur cukup bagus dan menggunakan AC. Sedangkan di pesantren, kami biasa menggunakan kasur bekas santri yang sudah lulus dan penyegar udara alami.

Banyak orangtua yang memilih menginap di pesantren, ketimbang di hotel, walaupun orangtua santri orang-orang mampu. Mereka memilih menginap di pondok agar lebih dekat dengan anak karena jarang ketemu. Tentu juga agar saling kenal satu sama lain, terutama orangtua santri dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Papua dan daerah lain di Indonesia. Bahkan, orangtua santri yang datang dari Malaysia pun ada yang memilih menginap di wisro (wisma rohani) – sebutan kami terhadap penginapan di pesantren.

Effy yang menjemput kami pun ikut ke pesantren. Selesai mengantarkan anak ke pesantren (karena datang juga ke Stasiun Kereta Api Kediri bersama temannya dari Malaysia), kami kembali ke ke rumah Effy (rumah khusus menginap tamu-tamunya).

Effy mengantarkan kami sampai ke lantai dua. Dia juga menjelaskan arah kiblat kalau mau shalat. Ya, begitulah indahnya persaudaraan, meski berbeda agama dan berbeda ras.

Selama di mobil yang saya setir ke pesantren dan balik ke pusat Kota Kediri, saya bertanya banyak hal, termasuk kalau mau ke Jombang naik bis dari mana. Maklum, selain mengunjungi anak, saya yang menjadi Pemimpin Redaksi Harian Umum Kabar Banten, di Serang (anak usaha Pikiran Rakyat Bandung) mengemban tugas meliput Muktamar NU ke-33 di Jombang.

Effy sudah menjelaskan kalau mau menggunakan bis bisa naik dari simpang tiga menuju pondok atau dari terminal. Dan saya sudah siap naik bis keesokan harinya, setelah mengantarkan istri ke pesantren.

Akan tetapi, pagi-pagi Effy mengabari mau mengantarkan saya dan istri ke pondok. Benar, pagi selesai sarapan kami sudah siap berangkat bersama suaminya.

Selesai mengantarkan istri , saya ikut mobil Effy yang dikemusikan suaminya. Maksud saya menumpang sampai ke simpang tiga, tempat mengentikan bis jurusan Jombang.

Sesampai simpang tiga mobil belok ke kanan dan tidak berhenti. Ketika saya bilang berhenti di mana, dijawab mau mengantarkan saya ke tempat memberhentikan bus yang menuju ke Jombang di depan. Jadi tidak perlu ke terminal atau loket busnya.

Beberapa kali saya tanya tempat menunggu bis, selalu dijawab Effy dan suaminya, Eko, nanti ada yang lebih dekat. Setelah cukup lama dalam perjalanan, mobil tidak berhenti juga. Akhirnya Effy baru mengatakan mau mengantarkan saya sampai Jombang. Katanya, sekalian ada urusan suaminya.

Saya diantarkan sampai ke Alun-Alun Kota Jombang, tempat Muktamar NU ke-33. Sebenarnya, ada rasa kurang enak, karena saya baru pertama kali bertemu dengan suami Effy. Dalam pikiran saya, kalau saya tidak toleran dan selama ini tetap menjalin perdahabatan dengan Effy, mana mungkin suaminya seperti itu (sampai mengantarkan ke Jombang).

Masih selama di Kediri. Effy juga mengajak saya berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo. Bagi saya, hal itu merupakan kesempatan emas bisa berkunjung ke sebuah pesantren yang didirikan dan diasuh Kiai Langitan. Saya sudah lama berkeinginan mengunjungi pesantren yang diasuh Kiai Langitan.

Selain mengunjungi Pesantren Lirboyo, Effy juga menawarkan memgunjungi
tempat wisata Katolik. Bagi saya tidak masalah. Toh waktu ke Roma, Italia juga saya berwisata ke Vatikan (saat meliput pertemuan Organisasi Pangan Dunia/FAO), dan masuk ke area Varikan saat kunjungan kenegaraan Presiden Abdurrahman Wahid (Gu Dur). Pun juga saya berwisata ke pagoda terbesar di Yangon, Ibukota Myanmar sebelum pindah, saat saya dan rombongan melakukan studi banding tentang kehutanan (terutaka kayu jati) dan gajah.

Saya katakan Effy menawarkan, karena ia khawatir saya tidak mau. Akan tetapi, saya langsung mengiyakannya. Maka jadilah kami berkunjung ke tempa itu.

Kami meluncur ke obyek wisata umat Katolik yang ditempuh sekitar 15 menit dari pusat kota. Sesampai di sana, kami turun. Setelah melihat-lihat, dan mendengarkan sedikit penjelasan, kami pun berfoto, layaknya berfoto di tempat wisata lainnya sebagai kenang-kenangan.

Setelah menyelesaikan kunjungan di Kediri, kami lanjut berwisata ke sebuah candi dilanjut ziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Kemudian dilanjutkan ke arena Muktamar NU di Jombang dan ziarah ke makam pendiri NU, KH Hasyim Asy’.ari.

Effy tetap ikut walau berada di acara agama Islam. Saat di arena muktamar, tentu ia menyesuaikan pakaian. Saya yang harus melakukan liputan penutupan muktamar meninggalkan istri saya dan Effy berkeliling melihat-lihat arena muktamar, termasuk stand pameran yang masih buka.

Itulah indahnya toleransi, lekatnya persahabatan. Andaikan saya dan umat Islam apalagi FPI tidak toleran, sudah dipastikan negara ini akan kacau. Andaikan umat Islam yang mayoritas tidak toleran, saya tidak bisa membayangkan nasib saudara-saudaraku yang minoritas yang hidup bersampingan di tengah pemukiman mayoritas.

Umat minoritas aman-aman saja. Tak ada yang mengusik, sepanjang umat Islam yang mayoritas tidak diusik. Seperti perumpamaan lebah di tulisan saya sebelumnya.

Saya juga mencoba toleran di lingkungan saya tinggal.
Beduk keliling yang ditabuh anak-anak untuk membangunkan sahur saat bulan Ramadhan kami hentikan melalui rapat pengurus sewaktu saya menjadi Ketuan Dewan Kemakmuran Masjid Masjid Al Muhajirin, Perumahan Buana Permai, Kota Tangerang. Alasan dihentikan ada tiga. Pertama, tidak semua penduduk perumahan beragama Islam. Saya tahu jumlahnya sangat sedikit, mungkin tidak sampai 10 persen dari 300 kepala keluarga yang ada. Tapi, saya harus bersikap toleran kepada mereka, karena kalau beduk yang dibawa anak-anak lewat di depan rumahnya, bisa mengganggu yang lagi istirahat tidur. Mereka (nonmuslim) tidak akan berani protes.

Kedua, sudah banyak alarm, baik si HP, di jam tangan maupun jam dinding. Ketiga, ada orang yang sedang sakit dan kurang enak badan. Keputusan rapat DKM itu ditentang segelintir orang, dan sampai ada yang membawa-bawa Wali Songo.

“Wali Songo juga pake bedug keliling,” demikian kalimat yang sampai ke saya.

Saya jelaskan, Wali Songo tidak meminta jemaahnya membawa beduk keliling untuk membangunkan sahur. Sebab, semua bedug di tempat Wali Songo itu besar-besar. Bagaimana mau dibawa keliling? Alagi bedug yang ada di masjid/makam Sunan Gunung Muria yang ada di gunung. Mau ziarah ke sana saja kita hanya bisa sampai dengan menggunakan ojek, selain tangga semen yang panjang bagi yang kuat.

Oh ya, saya juga sempat bersuara keras kepada seorang Ketua RW suatu waktu. Ceritanya, karena Ketua RW itu mengedarkan surat agar warga kerja bakti tanggal 25 Desember. Saya katakan, hargai agama Kristen yang merayakan Hari Natal. Sebab, Natal bagi agama Kristen merupakan perayaan agama, dan berbeda dengan hari Ahad/Minggu.

BPIP tidak Pancasilais

Dalam ajaran Islam ada hari Jum’at dan tidak masalah jika kebetulan tanggal merah diadakan kerja bakti.

Jangan coba-coba mengajak kerjabakti saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Atau saat tanggal merah Maulid Nabi dan Isyra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad. Pasti ada yang protes. Contoh sudah ada.

Ketika konser digelar pada peringatan malam Nuzulul Qur’an yang baru lewat, banyak yang protes atas konser yang digelar Badan
Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu. Apakah seperti itu yang dikatakan Pancasilais? Kok BPIP menjadi Badan Pengacau Ideologi Pancasila?
Hasil protes umat Islam, pemenang lelang sepeda motor Joko Widodo, ternyata bukan pengusaha, tetapi seorang buruh tani di Jambi.

Juga rencana konser Iwan Fals yang mau digelar pada malam takbiran. Umat Islam protes, dan Iwal Fals akhirnya menggeser konser itu ke hari lain, menjadi Selasa (26 Mei 2020/3 Syawal 1441 Hijiriyah) malam.

Iwan Fals mendengar suara umat Islam. Ia memahami betapa malam takbir itu adalah sebuah peristiwa sakral yang mestinya diisi dengan takbir, tasbih, tahlil dan tahmid serta puja dan puji kepada Allah Ta’ala dan solawat kepada Nabi Muhammad.

Ya, semua harus seperti itu. Sebab, melakukan sesuatu yang kurang berkenan di hati dan mata umat, akan membawa mudharat. Apalagi, umat berdoa dan dipimpin ulama, terutama ulama waro, bisa berdampak jauh. Sekali lagi, “Mulut ulama itu bisa menjadi madu dan bisa menjadi racun.” (Habis)**

Penulis, Wartawan Senior.