Tak Pantas Untuk Pak Presiden Marah-Marah

by M Rizal Fadillah

Jakarta FNN – Selasa (30/06). Rapat tertutup Kabinet tanggal 18 Juni 2020 disebarkan seminggu kemudian. Yang menyebarkan ke publik itu pihak Istana Negara sendiri. Mungkin menganggap arahan Presiden itu hebat dan dapat membangun dan menaikkan citra diri Presiden.

Dengan menyebarkan rapat tertutup tersebut, harapannya publik menjadi berbaik hati dalam menilai Presiden. Bahwa Presiden yang peduli kepada rakyat. Presiden yang tegas dan sangat disiplin, atau entah apalagi namanya. Dengan begitu, Presiden dapat banjir pujian dari masyarakat.

Sayangnya, tingkat kepercayaan kepada Presiden sekarang semakin merosot di masyarakat. Kenyataan ini menyebabkan muncul beragam reaksi dan penilaian atas pidato pengarahan Presiden di rapat kabinet yang semula tertutup tersebut.

Alih alih mendapat pujian. Banyak tanggapan miring bermunculan. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai “dagelan istana”. Memang adegan tersebut, nyata-nyata memperlihatkan kelemahan kepemimpinan Jokowi. Ada sejumlah alsan dan peetimbangan dari kelemahan tersebut.

Pertama, nampak telah terjadi kepanikan. Nada putus asa atas kondisi yang ada sekarang ini sangat jelas dan terang. Terkesan pemerintah sudah gagal. Sebabnya adalah menteri-menteri yang bersikap “biasa-biasa saja”. Tidak juga tampak adanya kepanikan di kalangan para menteri. Karena mereka menganggap kondisi ini “biasa-biasa saja”. Tidak ada yang hebat atau istimewa.

Kedua, Presiden sangat tidak bijak. Karena sikap Presiden yang mempertontonkan kemarahan kepada pembantunya di depan rakyat. Ini model dan contoh dari bentuk kepemimpinan marah-marah, seperti kebiasaan Ahok dan Risma. Bukan contoh yang layak dan pantas untuk diperlihatkan kepada rakyat.

Ketiga, sangat mempermalukan. Menkes adalah korban terberat dari adegan yang tidak layak dan pantas ini. Dana yang disediakan kata Presiden, tak sebanding dengan tingkat penyerapan. Penyataan Presiden yang asal ngomong. Sebab tanpa adanya analisis penyebab, dan solusi perbaikan yang diperintahkan Presiden.

Keempat, mudah menggampangkan masalah. Aturan yang tersedia, dari Perpres hingga Perppu dianggap enteng-enteng saja. Perppu itu diadakan hanya untuk keadaan yang sangat “genting dan memaksa”. Bila terjadi kekosongan. Bukan hanya sekedar untuk “mengeluarkan duit” dengan cara yang dipaksa-paksa.

Kelima, mengancam dan sok kuasa. Tak ada empati dan mendalami persoalan dengan baik. Yang ada hanya ancaman untuk melakukan reshuffle kabinet. Bila ini bukan sandiwara, maka menteri harusnya tersinggung. Menteri harus segera mengundurkan diri semua. Itu baru “nyaho”.

Keenam, Presiden tampak otoriter. Bukan bukan lagi sebagai koordinator. Arahan yang seperti ini mungkin saja akan dijalankan. Namun secara terpaksa atau tidak bertanggungjawab. Menteri akan semakin berkerja dengan asal asalan saja. Yang penting duit keluar, karena ada perintah. Inin sangat berbahaya.

Ketujuh, terlihat aneh. Karena rapat kabinet tidak seperti layaknya sebuah rapat. Akan tetapi seperti agenda ceramah. Menteri hadir hanya untuk mendengarkan ceramah dari Presiden. Bukan meja rapat yang digunakan. Yang terlihat adalah meja indoktrinasi kepada para menteri.

Kedelapan, pandemi covid dimanfaatkan sebagai tameng untuk berbuat apa saja. Termasuk untuk menghambur-hamburkan uang negara. Terkesan Presiden seperti marah, karena menterinya tak mahir memainkan dana covid-19.

Ujung dari semua episode ini adalah Presiden Jokowi sebagai penanggungjawab pemerintahan, sebenarnya telah malu. Karena memiliki korps menteri yang kelasnya hanya bisa diam dan termenung. Juga hanya bisanya mencatat apa yang disemburkan itu. Padahal di hadapan Presiden itu ada guru besar, pengusaha, atau jenderal tentara dan polisi.

Namun demikian, sebagai dagelan, ya mungkin itu bisa-bisa saja. Orang curiga dan ragu karena Pak Presiden sering ketahuan “actingnya”. Peristiwa rapat inipun membuat orang berfikir juga. Benarkah adegan tersebut adalah marah-marah sebenarnya. Kalau pun benar iya, adakah dampak politiknya ?

Akibatnya, ada juga kawan “nyeletuk” sebenarnya mana yang lebih mendesak sih? Resuffle Menteri atau Presiden ? Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak lagi percaya. Begitulah akibatnya.

Penulis adalah Pemerhati Politik dan Kebangsaan.