Babi Naik Pohon Membawa Anaknya

by M Rizal Fadillah

Kini banyak para pemimpin yang tak peduli agamanya dirusak. Kedaulatan negaranya diinjak injak. Harta rakyatnya dirampok. Aset-aset bangsanya dikuasai dan dikuras habis. Maka pemimpin seperti ini adalah “dayus”  atau babi yang planga plongo dan masa bodo. Begitu juga pemimpin yang makan dari barang kotor-kotor, baik itu komisi atau rente. Keluar dan masuk got dan gorong-gorong. Berkubang di air yang kotor.

Jakarta FNN – Ahad (26/07). Merenung membaca share di beberapa WA grup. Gambar hewan babi yang menaiki pohon dengan menggendong anaknya. Komentar tulisan yang menyertai beragam. Lucu-lucu dan menarik. Ada yang berkomentar “dasar babi, disuruh turun malah bawa anak”. Ada juga yang mdenulis “dasaar goblook, disuruh turun malah bawa anak”. Persamaannya pada kalimat “suruh turun” dan “bawa anak”. Namanya meme atau karikatur. Tentu saja multi interpretasi.

Mengapa harus babi yang menjadi contoh? Padahal babi bukan hewan yang biasa memanjat pohon. Disinilah mungkin uniknya itu. Berbeda dengan monyet. Babi pun tak pernah bawa anak. Apalagi sampai  memanjat. Nampaknya ini sindiran tajam untuk “unright job”  dan ketidakmampuan anak, sehingga harus dibawa-bawa oleh ayahnya.

Karenanya seruan disana adalah untuk turun, agar tidak berada di ruang yang bukan habitatnya. Sebab babi itu hewan yang memakan kotorannya sendiri. Senang berkubang di lumpur yang kotor. Jules Winfield tokoh dalam film “Pulp Fiction” berkata ketika ditanya mengapa tidak makan babi?  Dijawab oleh Jules Winfield, “saya tidak makan mahluk yang tak mengerti kotoran mereka sendiri”.

Salah satu sifat babi adalah kepedulian rendah. Juga tak ada rasa cemburu. Babi jantan yang tak peduli dengan pasangan betinanya “dipakai” babi jantan yang lain. Satu babi betina biasa berhubungan sex dengan banyak babi jantan di satu ruang dan waktu yang sama.

Dalam kaitan manusia, watak untuk memakan barang haram. Keburukan yang menjadi makanan sehari hari. Tidak ada rasa peduli atau malu. Selain itu keserakahan untuk menguasai dapat dimisalkan sebagai watak babi. Tak peduli anak dan istri “bergaul bebas”. Tak ada rasa cemburu sama sekali. Ayam jantan akan berkelahi sampai mati “memperebutkan” dan “menjaga” ayam betinanya. Namun tabiat itu tidak berlaku untuk babi.

Dalam agama, watak masa bodoh babi itu disamakan dengan apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW sebagai “dayus”, seperti hadits dari Ammar bin Yasir, “tiga golongan yang tidak memasuki surga yaitu dayus, wanita yang menyerupai laki-laki, dan peminum arak”. Rosulullah menerangkan arti “dayus” yaitu “orang yang tidak peduli siapa yang masuk (bersama anak dan istrinya)”. HR Thabrani.

Kini banyak para pemimpin yang tak peduli agamanya dirusak. Kedaulatan negaranya diinjak injak. Harta rakyatnya dirampok. Aset-aset bangsanya dikuasai dan dikuras habis. Maka pemimpin seperti ini adalah “dayus”  atau babi yang planga plongo dan masa bodo. Begitu juga pemimpin yang makan dari barang kotor-kotor, baik itu komisi atau rente. Keluar dan masuk got dan gorong-gorong. Berkubang di air yang kotor.

Susahnya mereka itu selalu ingin naik terus. Padahal tak mampunyai kemampuan untuk itu. Angan-angan tinggi, namun penuh dengan kebohongan, dari satu kebohongan ke kebohongan yang lain. Cirinya, ketika ditegur tak mau mendengar. Pokoknya naik terus, sambil membawa, mendorong dan menggendong anak, istri dan kerabatnya. Nepotisme lagi.

Karenanya sindiran bagus bagi siapapun yang terkena “sindroma babi”. Yang naik ke atas pohon dengan menggendong anak babi. Msekipun diumpat dengan keras “dasar babi, disuruh turun malah membawa anak”.

Penulis adalah Pemerhati Politik dan Kebangsaan.