Sukses “Drama Chen Wei” versi Dahlan Iskan!

by Mochamad Toha

Jakarta FNN – Kamis (30 Juli 2020). Nama Jenderal Chen Wei sangat dikagumi oleh Dahlan Iskan. Dalam tulisannya di Disway, Senin, 27 Juli 2020, Mas Dahlan, begitu saya biasa sapa beliau, menuliskan peran Jenderal Besar Wanita China terkait penemuan Vaksin Corona (Covid-19).

Menurutnya, pemenang putaran pertama balapan vaksin ini jelas: CanSino Biologics. Yakni penemu vaksin (corona) yang dari Wuhan itu. Yang dipimpin jenderal wanita Chen Wei itu. Di balapan putaran kedua terjadi saling salip. Boleh dikata imbang.

Tapi, di putaran ketiga terjadi pembalikan. Yang finis duluan adalah Sinovac. Yakni vaksin Covid-19 yang dari Beijing itu. Setidaknya Sinovac-lah yang lebih dulu mencapai garis finis di Kota Bandung.

“Di ibu kota Jawa Barat itu Sinovac akan dicoba terhadap 1.600 orang sukarelawan yang mendaftar secara gratis,” tulis Mas Dahlan tentang rencana uji coba Vaksin Sinovac yang akan dilakukan di Bandung itu.

Walhasil Indonesia telah memilih berpartner dengan Sinovac. Kalau uji coba tahap 3 nanti berhasil Indonesia akan diizinkan memproduksi sendiri vaksin itu. Biofarma, milik BUMN, mampu melakukannya.

Mas Dahlan mengibaratkan lomba balapan produsen vaksin Covid yang kini dilakukan oleh 4 perusahaan: Sinovac, CanSono Biologics, Moderna Inc, dan Oxford University. Dan, Sinovac telah memenangkannya: mencapai finish di Bandung.

Para pendiri CanSino itu adalah orang-orang China lulusan Kanada. Tokoh utama CanSino, Yu Xuefeng, kini 57 tahun, meraih gelar doktor di bidang mikrobiologi di McGill University Montreal, Kanada.

Setelah lulus dari McGill mereka tidak pulang. Mereka bekerja di perusahaan farmasi yang terkemuka di dunia: Sanofi Pasteur. Mereka sangat berprestasi di situ. Banyak yang sampai menduduki posisi level atas.

Mereka ingin mewujudkan idealisme di bidang farmasi bagi kemajuan China. Mereka pun berhenti dari Sanofi. Ada 4 orang yang segera memilih pulang. Mereka ini yang mendirikan perusahaan farmasi di kota Tianjin, sebelah timur Beijing.

Ketika terjadi wabah Ebola, CanSino aktif mengembangkan vaksin itu. Saat itulah mereka bertemu Jenderal Chen Wei, ahli mikrobiologi yang juga Kepala Pusat Riset Farmasi Militer China. Mereka pun bekerja sama.

Sebelum itu pun mereka sudah lama mengenal nama Chen Wei. Nama jenderal wanita ini amat harum. Juga heroik. Terutama saat terjangkit wabah SARS di Tiongkok. Kala itu Chen Wei melakukan riset sangat serius. Dia ingin menemukan vaksin anti-SARS. Dan berhasil.

Keberhasilan itu bukan tidak dramatik. Sangat-sangat dramatik. Chen Wei menjadikan anak lelaki satu-satunya sebagai objek uji coba vaksin yang dia temukan itu. Umur si anak masih 4 tahun.

“Itu bukan karena Chen Wei tidak sayang anak. Tapi dia begitu yakin akan penemuannya itu. Dia memastikan anaknya tidak akan bermasalah,” tulis Mas Dahlan dalam tulisan berjudul: Drama Chen Wei.

Kalau tahun lalu di China beredar film Wolf Warrior II yang sangat laris di bioskop-bioskop, inspirasinya dari perjalanan kepahlawanan Chen Wei itu. Kali ini, untuk vaksin anti-Covid-19 ini, Chen Wei merangkul CanSino.

Seperti dilansir Liputan6.com, Senin (23 Mar 2020, 12:02 WIB), sebagai ahli epidemiologi, Chen menempatkan diri di garda depan dengan melakukan penelitian di sebuah labolatorium di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Mengutip Ibtimes.sg, Senin (23/3/2020), Chen bahkan menyuntikkan vaksin Virus Corona yang masih dalam tahap uji coba pada diri sendiri dan enam anggota timnya. Saat berita ini tersebar, sebagian orang menganggap tindakan ini ceroboh.

Sisanya, memandang keputusan Chen itu sebagai loyalitas tanpa batas. Kendati, unggahan yang dimaksud disebut telah dihapus dari akun Weibo People’s Liberation Army (PLA), spekulasi disertai komentar pro-kontra akan tindakan tersebut terus bergulir.

South China Morning Post menulis, jenderal besar berusia 54 tahun tersebut dikenal sebagai ahli biokimia terbaik di Tiongkok. Chen Wei sendiri sudah tiba di Wuhan sejak pertengahan Januari bersama tim yang merupakan para peneliti militer terbaik Negeri Tirai Bambu.

Chen sudah dikenal lewat kontribusinya dalam memimpin tim peneliti menemukan vaksin demi mengendalikan wabah SARS dan Ebola di Afrika Barat pada 2014-2016. Juga, telah membantu penanganan gempa bumi di Sichuan pada 2008.

Dibandingkan kepala ahli epidemiologi seperti Zhong Nanshan yang berusia 84 tahun dan Li Lanjuan berusia 72, Chen jauh lebih muda. Ia mampu menjembatani tenaga medis militer dan tenaga medis lokal di Wuhan dalam penanganan pasien Corona Covid-19.

Pada 2013, Chen jadi delegasi mewakili PLA dalam National People’s Congress. Dua tahun kemudian, Chen dipromosikan jadi jenderal besar. Kemudian di 2018, Chen didapuk sebagai anggota Chinese People’s Political Consultative Conference.

Sukses Vaksin?

Kesan yang muncul dari tulisan soal Chen Wei, Mas Dahlan ingin mengunggulkan para ahli China, terutama Chen Wei, dan perusahaan yang memproduksi vaksin. Padahal, dalam kasus flu burung (H5N1) saja hingga kini belum berhasil hentikan.

Kasus flu burung di China telah memakan korban cukup banyak, hal tersebut terjadi karena China menolak produk probiotik dan lebih bangga dengan produk herbal mereka, sehingga penanggulangan flu burung menjadi kurang efektif.

Bahkan beberapa waktu terakhir ini, sering kita dengar adanya berbagai varian flu burung diantaranya H1N1, H5N1, H7N9 (di China), New Corona, yang konon dianggap lebih mematikan dibanding varian terdahulu.

Yang membedakan tiap varian virus flu burung sebenarnya adalah jumlah bulu getar pada virus tersebut. Bulu getar/flagel itu sebenarnya adalah semacam alat penghangat pada virus itu yang berfungsi untuk mempertahankan hidup mereka sendiri.

Maka apabila telah dijumpai terdapat jumlah bulu getar yang berbeda, oleh para ahli virologi dikatakan sebagai mutasi genetik dari virus flu burung. Tamiflu jelas tidak akan efektif untuk tiap kasus flu burung.

Setiap jenis obat hanya akan efektif pada daerahnya sendiri, dan obat itu pun “belum mampu mematikan” virus flu burung ini. Pengobatan yang paling efektif untuk flu burung ya dengan probiotik atau bioto karena jumlah laktat yang tinggi.

Formula ini sudah banyak membuktikan efektifitas probiotik/bioto terhadap kasus flu burung, sehingga bagi yang sudah tahu, sekarang flu burung bukanlah penyakit yang menakutkan dan mematikan.

Virus H5N1, atau dikenal sebagai virus flu burung, menyebabkan gangguan pernafasan pada burung atau unggas dan dapat menular ke manusia. Virus ini pertama dideteksi pada 1996 di China.

Menurut WHO, virus flu burung mungkin saja menular dari manusia ke manusia, meski sulit. Sejak 2003 hingga 2019, WHO melaporkan total 861 kasus penularan virus flu burung pada manusia di dunia, 455 di antaranya meninggal.

Di China, ada 53 kasus penularan ke manusia telah dilaporkan sepanjang 16 tahun terakhir, 31 diantaranya meninggal dunia.

Melalui riset yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penyakit flu burung adalah “murni buatan pihak tertentu” yang tidak menginginkan adanya keseimbangan dunia ini. Sifat virus flu burung, di tiap negara, bahkan tiap daerah bisa berbeda.

Tiap jenis obat hanya akan efektif pada daerahnya sendiri, dan obat itu pun ternyata “belum mampu mematikan” virus flu burung tersebut. Terbukti, saat di China belum selesai merebak Covid-19 di Wuhan, dikabarkan telah melaporkan adanya wabah H5N1.

Seperti dilansir Kompas.com, Minggu (02/02/2020, 09:11 WIB), temuan tersebut berlokasi di Provinsi Hunan, perbatasan selatan Hubei, yang merupakan provinsi pusat penyebaran virus Corona.

Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China pada hari Sabtu sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Minggu (2/2/2020) menyebutkan bahwa wabah terjadi di sebuah peternakan di distrik Shuangqing di Kota Shaoyang.

“Peternakan memiliki 7.850 ayam, dan 4.500 ayam telah mati karena penularan. Pemerintah setempat telah memusnahkan 17.828 unggas setelah wabah,” begitu pernyataan Kementeri Pertanian dan Urusan Pedesaan Cina seperti dilansir dari SCMP.

Meski demikian, sampai sejauh ini tak ada kasus virus H5N1 Hunan yang dilaporkan terjadi pada manusia. Jarak antara Shaoyang di Hunan dengan Wuhan di Hubei sekitar 556 km.

Ternyata, “Drama Chen Wei” versi Dahlan Iskan berlanjut saat awal Corona mewabah di China. Belum Sukses!

***

Penulis adalah wartawan senior.