Pemerintah Piara Buzzer

by Zeng Wei Jian

Jakarta FNN – Ahad (05/09). Tempo panen caci-maki. Dua kontroversi. Nggak mutu. Soal buzzer pemerintah dan kartun garuda Pancasila. Ade Armando berulang kali menyebut reportase Tempo nggak jelas. Report soal buzzer banyak kata “diduga” dan sumber anonim. Jurnalisme katro.

Punggawa PRD masa lalu, Mr Web “Kingkong” Warouw mensinyalir Tempo punya dua kemungkinan motif. Pertama, mau gabung dengan moduz ngencet dulu. Kedua, Tempo memang proxy yang anti-pemerintah. “When one says ‘terrorism’ in a democratic society, one also says ‘media’,” kata Paul Wilkinson dalam makalah “The media and terrorism: a reassessment”.

Kemungkinan ketiga, Tempo sebagai traditional-media berusaha survive dari digital revolution wave. Turunkan mutu. Tulis sesuatu yang disukai targeted group. Tulisan yang membuat “glorified chimps” bersorak. Konsolidasi digital crowds sebagai basis advertisement iklan.

Tempo mengap-mengap. Hidup susah. Mati segan. Old fashion. Zadul. Readers males baca. Revolusi digital nggak bisa distop. “Dulu penting belajar dari masa lalu. Tapi saat ini, penting bisa belajar dari masa depan,” kata Alm. Aristides Katoppo.

Viral, buzz, memes, stickiness, dan form factor menjadi “lingua franca” today’s e-political branding. Reportase “Kakak Pembina di Tengku Umar” menyerupai click-bait headlines. Moduz mengeksploitasi “curiosity gap” pembaca.

The fourth Probability, Tempo mengorbankan diri menjadi “influencer” yang memback-up buzzer malu-malu macam Rocky Gerung dan Direktur YLBHI Asfinawati.

Asfinawati klenger kena online harassment, virtual social flogging dan stoning. Nggak tahan serangan trolls dan keyboard warriors pro pemerintah. Nangis-nangis. Lalu tuding pemerintah pelihara buzzer. No hard-evidence. Nggak ada bukti. Validitas tudingan masuk kategori hoax.

Tudingan adanya buzzer-peliharaan adalah defence mechanism dari defeated groupings. Strategi orang kalah. Mereka ciptakan “The Common Enemy” for the audiences.

Tempo sebagai old media membantu mereka dengan berusaha membentuk social realities adanya “buzzer peliharaan pemerintah”. Moduz ini disebut Gamson dan Modigliani dengan istilah “social constructivism”.

Divided society masuk cyber space. Pro-kontra pemerintah. E-politics marak di social media. Netizens dua kubu. Ketika mendengung, mereka adalah buzzer. Di zaman lekra ada adagium “Semua orang adalah seniman”. Sekarang kenyataannya “semua orang adalah jurnalist”. Serangan buzzer anti-pemerintah trigger netizens bersuara di ruang open democracy.

Dua kubu sama-sama punya trolls dan keyboard warriors. Fungsinya adalah down-grade orang dan denigrasi sebuah issue menjadi kekacauan anarkistik. Mereka suka membuat marah, pull your strings until you are pist.

Beberapa trolls melihat aktivitas mereka sebagai “an art form”. Para trolls dua kubu aktif di arena “Swinging Dick Contest”. Nggak pake nalar. No intent of proving reasoning or logic to any debate. Code of conduct para trolls tingkat tinggi atau “witty troll” adalah never angry, never swear, be vulgar dan never overly obnoxious.

Troll Pro Pemerintah seringkali menang. Yang kalah jangan cengeng dan tuding-tuding Pemerintah Piara Buzzer. Mereka itu netizens. Dasar Pecundang. What a nasty loosers…

Penulis adalah Pemerhati Politik dan Sosial Budaya.