Kebiadaban Sesama Anak Bangsa Halal Demi Oligarki???

by Eneng Humaeroh MA

Jakarta FNN – Kamis (15/10). Suasana di Jalan Menterng Raya Nomor 58, pukul 21.30 sangat mencekam dan menakutkan. Darah berceceran di ruangan kantor Markas Besar Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) tersebut.  Entah kepala siapa yang terbelah, entah dihajar menggunakan senjata laras panjang atau ditimpuk batu sebesar Patung Tani.

Atribut Organisasi Kepemudaan berserakan dan tak beraturan dimana-mana. Beberapa peralatan kantor hancur. Pintu dan jendela rusak dan berserakan. Bau amis darah tercium begitu menyesakan dada. Nyata ruangan itu porak poranda disebabkan penyerangan dan pengrusakan. Tetapi itu saja belum cukup rupanya. Mereka oknum Brimob melakukan tindakan penyiksaan terhadap para pemuda kader-kader GPII dan Pelajar Islam Indonesia (PII).

Pasalnya kader-kader GPII dan PII turut menyuarakan aksi penolakan RUU Cipta Kerja (Cilaka). Akibatnya, gedung yang terletak tak jauh dari Tugu Tani tersebut menjadi tempat berlindung para demonstran yang terluka dihantam gas air mata dan juga korban pemukulan. Pada saat terjadi aksi pada  Selasa, 13 Oktober, banyak peserta aksi yang berlindung di gedung itu dari kejaran aparat.

Para demonstran itu berlarian masuk ke dalam gedung. Sementara aparat Brimob terus mengejar dan merusak gedung serta melakukan penyiksaan terhadap peserta aksi. Rupanya tindakan penganiayaan dan penyisaan saja tidak cukup. Para demonstran pun digelandang, dan dibawa paksa. Diantaranya kader-kader GPII dan PII.

Kejadaian ini bukan hanya menyesalkan. Tetapi ini jelas tindakan tindakan represif aparat terhadap hak warga negara untuk menyatakan pendapat. Seakan menyatakan pendapat itu barang haram di negara demokrasi in. Sungguh sudah sangat diluar keadaban. Sungguh aparat tersebut sangat tak beradab terhadap para Pelajar Islam Indonesia (PII) dan pemuda GPII.

Apakah tak ada cara yang lebih pantas lagi? Apakah cara- cara biadab itu bagi aparat menjadi hal biasa? Apa itu yang dipelajari selama pendidikan Kepolisian Negara Republik Indonesia? Harus membantai saudaranya sendiri. Bukankah sebelum jadi polisi kalian juga pelajar dulu? Pernah menjadi pemuda dulu? Kini setelah kalian berseragam, kalian musuhi saudara segenetika bangsa ini. Apakah kalain sudah tidak ada lagi prikemanusiaan?

Sedemikian bencinyakah kalian hanya karena markas kami tersebab menjadi tempat berlindung para demonstran yang terluka? Apa kalian fikir kami tega membiarkan saudara sendiri berdarah-darah dihantam selingsong gas airmata dan membiarkan mereka tergeletak dibawah Patung Tani atau diatas trotoar? Atau terinjak-injak sepatu kalian yang sibuk menangkap dan memukuli para demontrans itu?

Ah, kalian memang telah mati hati nurani, telah gelap hitam jiwa dan sanubarimu. Bukankah diantara kalian pun punya adik yang masih pelajar bahkan abang pemuda? Bagaimana rasanya jika adik kalian dihajar hingga babak belur, dan bercecer darah? Apakah kalian mau tertawa senang melihatnya? Atau memang tidak mau peduli?

Dimanapun negara yang menganut demokrasi, kebebasan berpendapat diatur oleh undang-undang. Dalam hukum hak asasi manusis, tidak boleh markas yang memberikan pertolongan diserang atau di rusak. Oh iya lupa, jangankan cuma gedung markas, mesjid saja kalian hancurkan, mobil ambulance kalian isi batu dan pecahkan kacanya, sopirnya di culik.

Tindakan kalian itu apakah bukan gaya Partai Komunis Indonesia (PKI) dulu? Sungguh kami sangat tak yakin, jika pendidikan yang diajarkan kepada kalian itu adalah untuk membantai saudara sendiri. Semestinya kalian mengayomi kami, melindungi kami, dan mengamankan kami. Sebab baju seragam dan uang makan kalian dibayarkan oleh karena pajak dari kami.

Jangan salah, perlakuan kalian adalah membakar perasaan jutaan mata yang melihat. Jutaan telinga yang mendengar, dan jutaan jantung rakyat yang kalian sayat. Darah-darah kami telah kalian tumpahkan lihatlah. Esok akan turun ratusan juta rakyat yang akan menuntut keadilan. Sumpah kami, malaikat akan mencabut nyawa kalian dengan sangat menyakitkan.

Kalian akan berteriak kesakitan disambut setan-setan durjana karena tindakan kalian yang durjana. Tetes darah itu akan menjadi cacatan seluruh rakyat. Akan menjadi kemarahan semua umat. Setiap tetes darah yang telah kalian tumpahkan akan meminta bayaran yang mahal.

Penulis adalah Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indenesia.