Fir’aun Menuduh Musa Alaihi Salam Penyebar Hoaks

by M Rizal Fadillah

Jakarta FNN – Sabtu (17/10). Musuh Fir’aun bukan Musa Alaihi Salam. Sebab Musa Alaihi Salam tidak sekuasa seperti Fir’aun yang serba punya kekuasaan. Dimulai dari tentara, dana, ahli infrasruktur, hingga paranormal yang hebast-hebat. Fir’aun bisa menghukum siapa saja yang dia mau. Menuduh hoaks terhadap lawan politik pun bisa saja setiap saat (QS. Al Mu’min 37).

Musa Alaihi Salam saja disebut dan dituduh Fir’aun sebagai pengganti agama dan pembuat kerusakan di muka bumi (QS. Al Mu’min 26). Tuduhan Fir’aun kepada Musa Alaihi Salam sebagai penyebar hoaks, karena pesan-pesan kebenaran ilahiyah yang disampaikan Musa Alaihi Salam mengancam kekuasaan Fir’an yang menggap dirinya memiliki kebenaran mutlak.

Pokoknya kalau yang dibilang penguasa Fir’aun hoaks, maka jadinya hoaks. Dengan semikian, bala Tentara dan Polisinya (penegak hukum) Fir’aun harus menangkap dan memenjarankan sertiap orang yang menyebarkan informasi yang dianggap pengeuasa Fir’aun sebagai hoaks tersebut. Semua informasi yang bertentangan dengan penguasa Fir’aun harus dianggap sebagai hoaks. Resikonya masuk penjara. Bahkan ada juga yang dibunuh.

Saking tak tertandinginya Fir’aun itu, sampai-sampai menyebut dirinya  sebagai “Tuhan Yang Maha Tinggi” (QS. An Nazi’at 24 ). Meskipun demikian Allah “Tuhan Yang Maha Tinggi” yang sebenarnya  tetap memerintahkan Musa Alaihi Salam untuk menghadapi dan berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan. Sebab Fir’aun telah melampaui batas (QS. Thaha 43).

Fir’aun dalam ketakutan yang tinggi. Ketakutan akan turun dan kehilangan tahta. Ketakutan runtuhnya singgasana kekuasaan di tangannya. Segala bentuk oposisi harus dibasmi. Dianggap sebagai penyebar hoaks. Musa Alaihi Salam dianggap sebagai pengganggu stabilitas negeri penguasa. Fir’aun tidak takut pada Musa Alaihi Salam. Tetapi hanya takut bahwa dirinya kelak tidak berkuasa lagi. Untuk itu, Fir’aun harus membuktikan dengan kemampuan untuk menghancurkan Musa penyebar hoaks dan pengikutnya.

Fatamorgana atas kehebatan Fir’aun untuk menguasai segala yang ada dihadapannya, termasuk “Jalan bebas hambatan” di samudera yang akhirnya menenggelamkannya. Nafsu berkuasa yang penuh dengan keserakahan, akan berhadapan dengan diri sendiri. Musa Alaihi Salam hanya bayangan untuk mewujudkan murkanya kepada cahaya kebanaran yang dianggapnya hoaks.

Sebenanya Allah Suhanahu Wata’ala,  “Tuhan Yang Maha Tinggi” sedang mempermainkan “penguasa dunia” yang bingung, bodoh dan dungu. Modelnya adalah anjing serakah yang sedang menggigit daging dan berada di atas jembatan. Merasa tertantang karena melihat ada anjing di bawah yang juga sedang menggigit daging, dan sama menyeringai. Diterkamnya anjing  yang dianggapnya “oposisi”. Hasilnya, byuurr masuk sungai. Tenggelam.

Sama dengan raja tikus yang melihat di sungai ada tikus besar sebagai saingannya. Raja Tikus lalu melompat untuk berkelahi melawan tikus besar yang tak lain adalah bayangan dirinya sendiri. Itulah musuh terbesar yang hakekatnya sering mengalahkan keserakahan dan kebodohan penguasa.

Rezim manapun termasuk Pemerintahan Jokowi bukan tandingan oposisi dengan segala unsur kekuatan dan genggaman kekuasaan. Semua bisa dikendalikan. Akan tetapi bayang-bayang selalu membuatnya cemas dan takut. Konkritisasi bisa HTI, FPI, juga KAMI bahkan MUI sebagai “lawan” yang sebenarnya hanya bayangan yang dibesar-besarkan saja.

Dahulu Fir’aun selalu dihantui oleh “nightmare” bahwa  kekuasaannya akan jatuh. Musa Alaihi Salam dicurigai dan dituduh sebagai biang perusak negara. Mimpi buruk menjadi kenyataan ,dengan bukti kekuasaan Allah. Fir’aun terlambat menyadari dan terlambat untuk kembali. Pintu taubat sudah tak ada lagi. Mati dengan penyesalan diri yang  tanpa arti.

Untuk itu, wahai penguasa negeri, Presiden dan para Menteri. Jangan mengulangi perilaku Fir’aun ini. Karena tak ada kekuasaan yang tidak berganti. Hari ini jadi pejabat besok menjadi rakyat. Hari ini dihormat besok bisa habis-habisan dihujat. Taubatlah sebelum terlambat.

Penulis adalah Pemerhati Politik dan Keagamaan.