Indonesia Bangkrut Akibat Menjual Martabat Bangsa

by Teuku Gandawan Xasir

Jakarta FNN – Rabu (29/10). Sejak zaman penjajahan Belanda kita sudah punya para raja dan para bangsawan yang lebih memilih hidup tetap mewah walau jadi kaki tangan penjajah. Sesungguhnya mereka tidak punya kehormatan, tidak punya keberanian, tidak pula punya simpati dan empati kepada rakyatnya. Mereka lebih memilih hidup yang demikian daripada harus mati karena berperang membela wilayah dan rakyatnya.

Kita juga punya rakyat biasa yang sejatinya adalah para petarung, tapi memutuskan tidak bertarung melawan penjajah. Mereka malah bergabung jadi tentara kelas dua Belanda untuk berperang, membunuh dan menangkap bangsanya sendiri. Mereka punya keberanian, tapi sayangnya keberanian itu malah digunakan untuk menghancurkan bangsa sendiri. Mereka bangga mendapat kompensasi uang receh Belanda atas kebusukan itu.

Selain itu, kita juga punya rakyat biasa yang memutuskan perang bukan urusan hidupnya. Urusan hidupnya adalah bertahan hidup walau harus jadi pekerja harian di lahan pertanian, perkebunan dan perdagangan yang dimiliki penjajah Belanda. Mereka tak perduli nasib sesamanya yang terus bermatian akibat kekuasaan dan kebiadaban penjajah Belanda yang mereka dukung. Yang penting bagi mereka bisa hidup makmur alakadarnya.

Tak cukup dengan itu, ada pula sebagian dari rakyat ini yang kerjanya mencari makan dari melaporkan segala tindak tanduk sesama rakyat lainnya yang menolak keberlangsungan Belanda sebagai penjajah. Mereka ini tidak perduli dengan laporannya cuma dihargai dengan uang sekepeng. Tidak perduli juga jika itu bisa menyebabkan kematian begitu banyak sesama anak bangsa.

Tabiat-tabiat buruk ini juga ada ketika Indonesia diduduki oleh Jepang. Sesuatu yang tentu saja sangat dinikmati oleh Belanda dan Jepang. Tabiat busuk tak bermartabat inilah yang bisa membuat Belanda negara kecil di belahan Eropa bisa berkuasa begitu lama di Indonesia. Artinya kita terus dijajah dalam waktu yang lama karena pengkhianatan sesama kita. Sesama kita yang rela dengan penuh tawa mengorbankan nyawa sesama anak bangsa asal dirinya hidup dalam kemewahan versi dirinya.

Setelah Indonesia Merdeka apa yang terjadi? Kaum Penjual Martabat ini tetap ada dan tetap jadi benalu. Jika dulu kita berperang melawan penjajah yang mereka dukung, kini kita mengisi pembangunan di era kemerdekaan sambil bertarung dengan mereka. Kerja mereka apa? Selalu menempel kepada kekuasaan atau pemerintah. Mengambil peran sebagaimana biasanya yakni menjadi benalu bagi pembangunan. Menghasut setiap penguasa untuk lebih perduli kekuasaan dan kekayaan.

Mereka masa bodoh dengan tujuan pembangunan, masa bodoh dengan martabat bangsa dan negara. Mereka sibuk mengejar fulus, masa bodoh dengan dinar dan dirhamnya melayang ke pihak asing atau konglomerasi. Mereka yang berjabatan sibuk memberikan kemudahan kepada konglomerat dan asing untuk menguasai sumber daya alam. Barternya dia mendapatkan puluhan hingga ratusan miliar kekayaan pribadi atau kelompok, sementara pihak yang didukungnya mengeruk kekayaan hingga triliunan.

Pada hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020, sudah waktunya kita sebagai anak bangsa kembali bersumpah ulang. Kita harus kembali kepada kesejatian tujuan keberadaan bangsa ini. Kita wajib bersumpah ulang tentang tumpah darah kita adalah satu, yaitu Indonesia. Jangan ada lagi yang siap menumpahkan darahnya bukan untuk kemajuan Indonesia. Kita wajib berbangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia. Yang saat ini masih merasa dirinya juga bangsa lain, silahkan angkat kaki atau silahkan berganti kewarganegaraan. Dan kalau untuk bahasa saja kita bisa bersepakat hanya ada satu bahasa yaitu bahasa Indonesia, maka tujuan kita juga harusnya hanya satu yaitu mewujudkan kejayaan Indonesia.

Jangan lagi ada yang mengambil peran sebagai kaki tangan kepentingan asing. Jangan juga menjadi benalu di negara sendiri, yang tak perduli konsekuensi perilaku diri yang bisa merugikan nasib sesama anak bangsa. Jangan lagi menginjak-injak kepentingan dan tujuan berbangsa dan bernegara di atas kepentingan diri atau kelompok.

Berhentilah berkedok dan bertopeng tentang ideologi lain selain Ideologi Pancasila. Berhentilah membuat kemudahan investasi di bidang apapun yang tidak untuk memakmurkan rakyat keseluruhan. Berhentilah jadi agen pembuat kebangkrutan bangsa dan negara.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Strategi Indonesia.