Jangan Ada ‘Boneka’ di PBSI

by Rahmi Aries Nova

Jakarta FNN – Jumat (30/10). SETELAH Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko gagal diendorse Djarum lewat atlet-atlet legendanya, kabarnya Djarum memindahkan dukungannya kepada Ketua Pengrov PBSI Banten Ari Wibowo. Ari mengklaim sudah bertemu (secara virtual) dengan Victor Hartono, putra mahkota Djarum, yang selama ini terjun langsung mengurus bulutangkis.
Artinya Ari siap head to head dengan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna.

Sayangnya dukungan Djarum tak menggoyahkan keputusan 29 Pengda pemilik hak suara yang sudah komit memberikan dukungannya pada Agung. Sebaliknya Ari mengaku langkahnya ke Munas PBSI 2020 pada 5-6 November di JHL Hotel, Serpong, mulai diganjal karena dari dukungan 10 pengda (syarat minimal dukungan) yang ia serahkan ke panitia penjaringan, ada yang terindikasi ganda.

Dengan begitu, suara ganda tersebut bakal dibatalkan dan Ari sudah dipastikan gugur karena tidak memenuhi persyaratan. Artinya peluang Ari untuk lolos dari tim penjaringan sudah sangat tipis.

Kekhawatiran ini memang sudah dirasakan Ari sejak memutuskan untuk siap maju sebagai caketum PP PBSI. Sementara di kubu pendukung Agung justru khawatir jika Ari hanya akan jadi ‘boneka’ Djarum jika ia terpilih. Padahal saat ini PBSI membutuhkan kepemimpinan yang lebih mandiri tidak bergantung pada individu atau satu klub tertentu.

PBSI milik bersama bukan cuma pengda atau klub di Jawa saja. Ketua Umum terpilih harus mampu merangkul semua stake holder bulutangkis termasuk Djarum dan Victor, yang loyalitas dan kontribusinya pada bulutangkis tidak diragukan lagi. Dan jika Agung melaju ke Munas tanpa lawan artinya tradisi pemilihan Ketua Umum PBSI secara aklamasi kembali berlanjut.

Di era Presiden Soeharto PBSI dan PSSI termasuk cabang olahraga yang ketua umumnya harus ‘didroping‘ dari Istana. Mengingat keduanya adalah cabang terpenting di tanah air. Bulutangkis sebagai cabang yang paling berprestasi dan sepakbola cabang yang paling banyak penggemarnya alias cabang favorit.

Keengganan Moeldoko bisa jadi isyarat restu dari istana pada Agung yang merupakan pimpinan tertinggi lembaga negara. Jadi, daripada Ari dan pendukungnya melempar isu tentang penjegalan, lebih baik melempar ide dan usulan bagaimana mempertahankan tradisi juara di PBSI.

Ketua selalu berganti, tapi tradisi juara tak boleh mati. Karena bulutangkis adalah ‘takdir’ negeri ini.

Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id.