Rabi Daniel Asor: Vaksin Covid Berpotensi Bikin Orang Jadi Gay!

by Mochamad Toha

Surabaya, FNN – Seorang Ketua Agama Yahudi (Rabi) berpengaruh di Israel, Rabi Daniel Asor, yang paham juga ilmu kedokteran menyeru para penganut ajaran ultra-Orthodox untuk tidak menerima suntikan vaksin Corona alias Covid-19 apapun itu.

Menurutnya, vaksin yang disuntik akan menyebabkan seseorang bisa menjadi homoseksual. Media Israel, Jerusalem Post dan Israel Hayom melaporkan tuduhan Daniel Asor, fenomena Covid-19 itu adalah didalangi oleh pihak tertentu.

Pandemik tersebut sengaja direka oleh ‘kumpulan rahasia’ antara bangsa seperti Freemason, Illuminati, dan penggasas Microsoft, Bill Gates. “Penyakit dan vaksin dihasilkan adalah bagi membentuk order dunia baru (New World Order),” kata Daniel Asor.

“Ini pengakuan jujur dan terbuka dari seorang Rabi Yahudi anti Zionis dan premansory yang membuat pihak Israel sendiri gerah. Rabi Daniel sendiri adalah Yahudi Ortodok yang gethol membela Palestine,” ujar Von Edison Alouisci, relawan di Palestina.

Tuduhan Rabi Daniel terkait vaksin ini berbeda dengan 3 Rabi Ultra-Orthodox yang menyeru pengikut mereka untuk menerima suntikan vaksin. Video ucapan Daniel Asor yang banyak tersebar di media Timur Tengah menuai kontroversi di pihak zionis Israel sendiri.

Pernyataan kontras dengan para rabi orthodox terkemuka yang menyerukan kepada pengikut mereka untuk mengambil suntik vaksin virus corona. Menurut Israel Hayom, Daniel Asor memberikan khotbahnya yang mengklaim informasi yang salah.

“Setiap vaksin dibuat dari subsrat embrio, dan kita memiliki bukti tentang itu, menyebabkan orientasi berlawanan,” ujarnya yang tampak mengarah pada homoseksualitas, seperti dilansir Kompas.com, Selasa (19/01/2021, 05:39 WIB).

Kelompok hak asasi LGBT+, Havruta, menanggapi pernyataan Rabi Asor dengan guyonan bahwa mereka “saat ini bersiap menyambut anggota baru kami yang akan datang”.

Israel saat ini menargetkan untuk memvaksinasi 5 juta dari 9 juta penduduk dan membuka kembali aktivitas ekonomi pada pertengahan Maret mendatang. Israel menunjukkan upaya vaksinasi Covid-19 tercepat di dunia.

Lebih dari 2 juta penduduk Israel telah mendapatkan satu dosis suntikan vaksin Covid-19, ketika sekitar 225.000 warga telah mendapatkan suntikan kedua.

Seorang pejabat senior kesehatan mengatakan pada Jumat (15/1/2021) bahwa negaranya berada dalam “tahap akhir” pandemi Covid-19.

Penduduk yang berusia 45 tahun dan lebih mendapatkan tawaran vaksin Covid-19 mulai Minggu (17/1/2021), yang disebutnya sebagai tanda dari program vaksinasi Israel yang cepat. Satu dari 5 populasinya telah mendapatkan vaksin Covid-19.

“Israel, dengan skala upaya vaksinnya, menunjukkan kepada dunia bahwa ada strategi keluar dari masalah,” ungkap Ronni Gamzu, penasihat Pemerintah tentang Covid-19 dan Direktur sebuah rumah sakit di Tel Aviv, kepada Channel 12.

*Ditolak Gereja*

Sebelumnya, tiga orang uskup senior Australia, pada pekan lalu menyatakan bahwa vaksin Covid-19 buatan Universitas Oxford, Inggris dan perusahaan farmasi AstraZeneca yang telah dipesan oleh pemerintah Australia karena terbuat dari sel-sel janin yang sengaja digugurkan.

Melansir Suara.com, Rabu (26 Agustus 2020 | 07:15 WIB), Pemerintah Australia sendiri pada Senin (24/8/2020) mengatakan, komunitas keagamaan tak perlu risau, karena tak ada masalah etis terkait vaksin yang sudah dipesan sebanyak 25 juta dosis itu.

Memang vaksin Covid-19 AstraZeneca itu, yang saat ini merupakan kandidat paling siap untuk diproduksi dan jadi rebutan banyak negara, dikembangkan dengan menggunakan sel-sel ginjal janin yang sengaja digugurkan. Praktik ini sudah biasa dalam dunia medis.

Perdana Menteri Scott Morrison, pada Selasa (18/8/2020), telah secara resmi memesan 25 juta dosis vaksin Covid-19 ke AstraZeneca. Rencananya vaksin-vaksin itu akan diberikan secara gratis kepada rakyat Australia.

Uskup Agung Gereja Anglikan, Glenn Davies; Uskup Agung Sidney (Katolik), Anthony Fisher; dan pemimpin Gereja Ortodoks Yunani Australia, Uskup Makarios Griniezakis menyatakan keberatan mereka terkait vaksin Covid-19 dalam sebuah surat kepada Morrison.

Dalam surat yang dikirim pada Kamis (20/8/2020) itu, para uskup ini mengatakan, mereka mendukung adanya vaksin Covid-19, tetapi penggunaan “sel-sel janin sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat tidak bermoral”.

Meski tidak mengajak umat mereka masing-masing untuk memboikot vaksin AstraZeneca tersebut, para uskup itu mengatakan bahwa umat berhak untuk menolak menggunakan vaksin tersebut, bahkan jika mereka tak punya pilihan lain.

Uskup Fisher bahkan menulis di akun Facebook-nya soal masalah tersebut dan menyatakan bahwa vaksin Covid-19 dari Oxford itu menimbulkan apa yang disebutnya sebagai dilema etis.

Menanggapi protes tersebut, Deputi Kepala Kantor Kesehatan Australia, Nick Coatsworth, mengatakan bahwa kekhawatiran gereja itu tak bisa diabaikan. Tetapi di saat yang sama, ia menegaskan bahwa pengembangan vaksin memang membutuhkan kultur sel.

“Sel-sel manusia sangat penting dalam pengembangan vaksin,” tegas Coatsworth. “Regulasi etis di sekitar penggunaan sel-sel manusia sangat ketat, terutama terkait sel janin manusia,” lanjutnya.

“Yang mengembangkan vaksin ini adalah unit penelitian di Universitas Oxford yang sangat terkemuka. Jadi menurut saya, kita bisa percaya pada cara mereka mengembangkan vaksin tersebut,” ungkap Coatsworth.

Tetapi, menurut Robert Booy, pakar vaksin dari University of Sidney, penggunaan sel-sel janin yang digugurkan sudah biasa dalam pengembangan vaksin selama 50 tahun terakhir.

Sebelumnya, kata Booy, gereja tak pernah mempermasalahkan ini karena ada jarak yang sangat jauh antara penggunaan sel-sel janin dengan vaksin yang sudah rampung.

Booy juga mengatakan bahwa vaksin rubella, hepatitis A, dan cacar air juga menggunakan metode yang sama dalam pengembangannya.

“Sel-sel janin bisa melakukan 50 replikasi, sementara sel-sel yang lebih tua lebih sedikit replikasinya. Jadi, untuk memproduksi vaksin, virus harus dibiakkan di dalam sel janin berkali-kali dan kemudian dipanen,” jelas dia.

Kelak, imbuh Booy, elemen-elemen manusianya akan dibersihkan dan yang digunakan hanya elemen virusnya saja. Artinya tidak ada DNA manusia lagi dalam vaksin yang sudah jadi.

Peraih Nobel dan imunolog Peter Doherty bahkan mengeluarkan komentar lebih pedas. Menurutnya proses pengembangan vaksin Covid-19 di Oxford sudah sesuai standar etis dan sudah lazim digunakan.

“Jika Uskup Fisher menolak vaksin ini, maka itu adalah haknya dan juga adalah hak kita untuk tidak ambil pusing dengan dia,” tegas Doherty.

Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id.

Tinggalkan Balasan

Terjemahkan »