Meragukan Vaksin Sinovac

by Suhardi Suryadi

Jakarta, FNN – Harian Global Times yang terbit tanggal 13 Januari 2021 mengatakan bahwa vaksin yang dibuat Sinovac membuktikan tingkat keamanannya dan effektif di beberapa negara. Menurutnya vaksin ini 100 persen efektif dalam mencegah infeksi parah dan sedang, 77,96 persen efektif mencegah kasus ringan. Namun memiliki kemanjuran sekitar 50,4 persen dalam uji coba tahap akhir di Brasil.

Demikian pula dengan peluncuran vaksinasi massal untuk penggunaan darurat di Indonesia dan Turki yang menunjukkan bahwa dengan tingkat kemanjuran sebesar 50,4 persen tidak akan merusak kepercayaan pada suntikan dan tidak akan mengurangi komitmen pengguna potensial untuk membelinya. Bahkan vaksin sinovac ini telah resmi digunakan di Indonesia pada tanggal  13 Januari 2021.

Menolak Sinovac

Pada sisi lain, terdapat pula perusahaan yang memproduksi vaksin juga direncanakan akan dipakai di Indonesia. Di antaranya adalah Pfizer dan Moderna yang telah menunjukkan kemanjuran sekitar 95 persen.  Pfizer telah melakukan 150 uji klinis Fase III pada vaksin mRNA-nya, BNT162b2, di AS, Jerman, Turki, Afrika Selatan, Brasil, dan Argentina, yang melibatkan lebih dari 44.000 peserta berusia 16 tahun keatas

Vaksin produksi sinovac ini nampaknya kurang sepenuhnya mendapat respon positif dari masyarakat Indonesia. Sekalipun telah resmi digunakan sebagai vaksin dalam mencegah penyebaran covid-19.  Penolakan yang cukup mencuat dan salah satunya dilakukan oleh anggota DPR – RI dari Fraksi PDIP yaitu Ribka Tjiptaning. Beliau dalam forum resmi legislatif menyatakan menolak menerima vaksin corona buatan perusahaan farmasi asal China,

Menurut hasil survei yang dilakukan oleh kelompok penasehat teknis imunisasi (ITAGI), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan UNICEF dengan melibatkan 115 ribu orang di seluruh provinsi, menunjukkan bahwa sebagian kelompok yang menyatakan menolak vaksin sinovac karena faktor efek samping bagi kesehatan dan perihal kehalalannya. Aceh dan Sumatera Barat menunjukkan bahwa jumlah warga yang bersedia menerima vaksin Covid-19 di Aceh hanya 46% dan Sumatera Barat sebesar 47%.

Kecenderungan warga menolak vaksin pada dasarnya lebih karena faktor keraguan atas kualitas produk sinovac. Penolakan ini pada hakekatnya bukan pada vaksinnya, melainkan pada negara pembuatnya. Sikap menolak produk Tiongkok sesungguhnya sudah berlangsung lama, baik karena alasan politik maupun kualitas yang rendah.

Boikot produk Tiongkok telah menjadi sebuah slogan populer di berbagai media yang dibuat untuk kampanye sampai pemboikotan produk-produk Tiongkok di berbagai negara. Umumnya alasan yang dikutip untuk pemboikotan tersebut adalah kualitas yang dianggap rendah dari produk tersebut dan Tiongkok dipandang sebagai wilayah yang berpotensi memperluas pengaruhnya.

Sementara pada sisi lain, warga masyarakat yang bersedia divaksin pun tetap menuntut adanya jaminan dari pemerintah. Jaminan terkait dengan keamanan dan kualitas atas vaksin sinovac ini. Beberapa faktor yang dituntut oleh warga masyarakat terhadap penggunaan vaksin Covid-19 ini adalah adanya surat rekomendasi dari health care providers. Keamanan vaksin terjamin.

Vaksin tidak membahayakan kesehatan. Misalnya, terbukti tidak ada efek sampin, baik jangka pendek apalagi jangka panjang. Efektivitas vaksin telah teruji berdasarkan bukti klinis. Kecenderungan politik mendukung. Begitu kehalalan vaksin terjamin. Skses untuk memperoleh vaksin dengan biaya terjangkau tersedia,” menurut Dr. Endang Mariani, M.Psi.

Dengan demikian, keraguan warga dalam penerapan vaksin ini disebabkan oleh asal negara atau perusahaan bukan pada produk vaksin itu sendiri.  Warga nyaris tidak berkomentar menolak atas vaksin yang dibuat Pfizer dan Moderna, Oxford-AstraZeneca dan Johnson & Johnson, yang dipandang jauh lebih efektif daripada vaksin Tiongkok,. Bahkan menurut Juru Bicara Ikatan Dokter Indonesia, Dr. Erlina Burhan, kekebalan masyarakat terhadap Covid-19 atau herd community akan tercapai jika 70% penduduk Indonesia divaksin. Persentase itu setara dengan sekitar 189 juta orang.

Efektivitas atau kemanjuran yang lebih rendah dari vaksin dikuatirkan membutuhkan waktu lebih lama. Terutama untuk negara-negara yang menggunakan sinovac untuk mencapai kekebalan kelompok. Suatu titik di mana cukup banyak orang yang kebal terhadap virus (di atas 70 persen). Hal ini berbeda dengan vaksin yang dibuat oleh Moderna dan Pfizer-BioNTech yang telah di klaim memiliki tingkat kemanjuran sekitar 95 persen.

Kondisi inilah yang menjadi alasan bagi warga Amerika dan Eropa lebih memilih produk Pfizer-BioNTech sebagai vaksin ketimbang produk buatan sinovac. John Moore, pakar vaksin di Cornell University mengatakan  “Ford Model T yang terawat baik mungkin akan membawa Anda dari Wuhan ke Beijing, tapi secara pribadi saya lebih memilih Tesla” (Sui-Lee Wee dan Ernesto London, New York Times, 13 Januari 2021).

Penulis adalah Peneliti LP3ES

Tinggalkan Balasan

Terjemahkan »