Almarhum Pak Salikin Idolaku

by Awalil Rizky

Jakarta, FNN – Pak Solikin almarhum merupakan seorang tokoh pejuang dari dusun Piyaman, Wonosari. Meninggal pada tahun 2016, foto bersama mas Saat Suharto ini diambil 3 bulan sebelumnya.

Rumah almarhum dipakai untuk Kongres HMI (MPO) tahun 1988 selama seminggu, ketika pertanggungjawaban era Eggie dan terpilihnya Tamsil. Aku ketua panitia ketika itu dan Saat salah satu panitia inti.

Beberapa hari setelah Kongres usai, pihak aparat rezim marah besar karena kecolongan dan telah mengawasi dengan ketat aktivitas kader HMI cabang Jogja. Aparat kemudian menghukum penduduk dewasa, laki dan perempuan, satu dusun lokasi acara, untuk apel di lapangan seharian. Semua juga diinterogasi untuk memperoleh informasi.

Pak Solikin yang merupakan kepala dusun kemudian menjadi tahanan kota tidak resmi selama 3 bulan. Hampir tiap hari, almarhum wajib lapor ke Korem kala itu.

Apa kata beliau, lebih dari 27 tahun kemudian, ketika berjumpa Saat dan berfoto di atas. “Pada waktu kalian selesai acara dan pamitan. Aku katakan aku relakan kalian pulang, berpencaran menjadi peluru-peluru perjuangan. Ketahuilah hingga kini harapan itu masih tetap aku panjatkan.”

Farid dan keluarga besar HMI yang takziyah, diceritakan tentang berapa hal oleh bu Salikin. Perempuan yang juga luar biasa ini bercerita dengan bangga, “Bapak dipukuli sama tentara dan polisi, tapi tidak terasa, istighfar aja pokoknya.” Dilanjutkan lagi oleh beliau tentang kata-kata almarhum, “Saya bangga dengan anak2 HMI itu. Saya tak tahu apa yang mereka kerjakan selain memberi tempat. Saya hanya tahu mereka berjuang.”

Sebagai tambahan informasi, rumah almarhum ini memang sering dipakai LK I dan LK II sebelum kongres itu. Setelahnya tidak bisa lagi dipergunakan, selalu ada aparat yang rutin memeriksa. Bahkan sempat beberapa lama, ada aparat yang ditempatkan di dusun tersebut untuk mengawasi selama alamrhum menjadi “tahanan kota”.

Pejuang seperti beliau ini lah yang membuat harapan perbaikan negeri tidak pernah berakhir. Dari desa tanpa penerangan listrik waktu itu, secara sadar membantu anak-anak mahasiswa mengkader diri, dan itu penuh risiko karena “melawan” kebijakan rezim Soeharto.

Semoga harapan beliau pada kami yang berkongres kala itu tak sia-sia. HMI (MPO) berutang besar yang hanya bisa dibayar dengan memenuhi harapannya. Beliau ini pula yang menjadi salah satu alasanku untuk tetap berupaya istiqomah.

Penulis adalah Citizen Journalism.

Tinggalkan Balasan

Terjemahkan »