Prof Subowo, “Vaksin Masuk Tidak Ada Gunanya Untuk Kita”

by Mochamad Toha

Surabaya FNN – Dalam Diskusi Grup Probiotik, Prof. dr. Subowo, MSc. PhD mengatakan, vaksinasi terhadap patogen apa saja, tujuannya bukan menaikkan antibodi, sebab jika yang diinginkan antibodi tujuannya terapi, artinya ingin segera mengatasi infeksi.Maka vaksinasi terhadap hepatitis (apapun jenis virusnya) bertujuan untuk profilaksis, artinya tidak segera dibutuhkan. Pada setiap kali vaksinasi maka tubuh ini akan merespons terhadap vaksin tersebut.

Respons imun dimulai dengan pengenalan oleh sel pengenal, yaitu limfosit B menghasilkan antibodi (humoral) atau limfosit T (selular). Proses responsnya sama yang dimulai dengan pengenalan melalui molekul reseptor yang diikuti proses proliferasi (reseptor tak diperlukan lagi) dalam proses proliferasi ini dilanjutkan dengan diferensiasi menjadi 2 jenis sel, yaitu:

Sel efektor (B menjadi plasma cell, T menjadi sel Tc (sitotoksik), plasma cell menghasilkan antibodi terhadap vaksin. Selain itu, menurut Prof Subowo, diferensiasi menjadi sel memor yang dilengkapi dengan reseptor. Mengapa disebut sel memori, karena di kemudian hari jika terpapar oleh vaksin yang sama atau virus patogen yang sama akan merespons mengganti fungsi limfosit yang pertama kali mengenal vaksin.

Dalam imunologi disebut “virgin cell”. Virgin cell diganti oleh memory Cell. Vaksinasi yang bertujuan profilaksis tidak memerlukan antibodi, tetapi yang diperlukan memory cell karena hidupnya lama. Jika yang bersangkutan di kemudian hari orang tersebut terpapar hepatitis virus, sel memori yang banyak inilah yang akan menghadapi virus tersebut seperti yang dilakukan oleh “virgin cell”, tetapi antibodinya merupakan antibodi terhadap virus bukan terhadap vaksin.

Yang penting sekarang, apa arti vaksinasi itu? Benar antibodi ketika vaksin masuk memang ada tetapi tidak ada gunanya untuk kita, karena tidak cukup jumlahnya untuk menghadapi virus yang proliferasinya cepat, lagipula vasinasi bukan untuk terapi tetapi profilaksis. Hal ini yang harus dipahami, vaksinasi tujuannya membuat sel memori sebanyak-banyaknya yang umurnya panjang. Jika pada uji klinik diukur antibodi terhadap vaksin, bertujuan untuk menguji apakah vaksin dapat merangsang respons imun.

Itu yang pertama. Kedua, kapan antibodi itu habis dalam serum? Untuk menentukan waktu yang menguntungkan vaksinasi kedua. Jika masih ada antibodi maka antibodi itu akan mengikat vaksin yang berdampak mengurangi dosis vaksin kedua. Sebenarnya 2 minggu itu terlalu pendek. Efektivitas vaksin tidak diukur oleh kemampuanya menghasilkan antibodi. Khasiat vaksin dan efektivitas vaksin mengukur penurunan proporsional dalam kasus diantara orang yang telah divaksinasi.

Khasiat vaksin digunakan saat ketika dilaksanakan dalam kondisi ideal, misalnya saat uji klinis. Efektivitas vaksin digunakan saat studi dilakukan di bawah lapangan khas (kondisi kurang dari sempurna). Khasiat atau efektivitas vaksin (VE) diukur dengan menghitung risiko penyakit diantara orang yang divaksinasi dan tidak divaksinasi serta menentukan persentase reduksi risiko penyakit antara orang yang divaksinasi relatif terhadap orang yang tidak divaksin. Semakin besar pengurangan persentase penyakit pada kelompok yang divaksinasi, semakin besar khasiat atau efektivitas vaksin.

Memantau efektivitas vaksin sangat penting untuk: Optimalkan penggunaan sumber daya terbatas; Menunjukkan dampak vaksin pada hasil kesehatan (membenarkan biaya); Optimalkan vaksin uptake; Merangsang pengembangan vaksin yang meningkat. Prof Subowo mengingatkan, vaksinasi itu bukan terapi, maka harus tetap prokes walaupun antobodi tinggi tetap tidak melindungi diri, karena virus cepat proliferasi.

Menjaga Mikrobioma

Dr Widya Murni MARS, Dipl of IHS, seorang dokter umum yang praktek dalam bidang ilmu integrative dan functional medicine, lebih khusus lagi di bidang anti-aging medicine berbasis hormon mengungkap pentingnya peningkatan Vitamin D. Dalam ilmu ini, dr. Murni senantiasa mencari root of cause (akar penyebab) untuk memberi pengobatan bukan sekedar penurun gejala. Setiap terapi yang diberikan harus berasal dari root of cause-nya, seperti halnya kekurangan vitamin D.

“Saya terpaksa membuat tulisan ini dengan niat baik untuk menyebarkan paradigma baru penggunaan dosis tinggi vitamin D untuk pencegahan dan pengobatan Covid-19,” tulis dr. Murni. Memang vitamin D bukan satu-satunya pendukung innate dan adaptive immune system, tapi jika kita memiliki kadar vitamin D yang rendah dan terkena Covid-19, maka akan terjadi sulit sembuh, dan bahkan sering terjadi gagal napas sehingga harus dirawat di ICU.

Ada juga terjadi kegagalan multiorgan dan kematian. No one should be die with corona virus. Kata seorang ahli, harusnya tidak ada seorangpun meninggal dengan Covid-19, jika tertangani dengan baik tentunya. Dr. Murni sempat menghadiri satu acara di Kuala Lumpur yang diselenggarakan MAAFIM, organisasi Malaysia Asociation of Functional & Interdisiplinary Medicine, yang juga dihadiri semua bintang ilmu Integrative & Functional Medicine dari Malaysia dan kelas dunia.

Salah satu topik penting yang ditampilkan adalah The Miracle Of Vitamin D yang dibawakan oleh Dr. Renu Mahtani dari India, murid langsung Dr. Cicero Coimbra dari Brazil. Keduanya adalah pakar dalam pengobatan autoimmune dengan menggunakan dosis tinggi vitamin D. Menurut Dr. Renu Mahtani, the real global pandemi saat ini adalah (karena) low vitamin D. Ini terjadi sebelum pandemi Covid-19 datang.

Tidak hanya di negara Barat semata orang jarang berjemur, tapi di sejumlah negara tropis pun di mana sinar matahari gratis, orang tidak pernah membiasakan diri berjemur untuk menjaga kadar vitamin D yang optimal. Walaupun range normal vitamin D yang dipakai oleh sebagian besar negara di dunia sekitar 30-100 ng/mL, jika kita ingin memiliki sistem imun optimal, jangan biarkan tingkat vitamin D hanya berkisar di 30 saja.

Kadar vitamin D yang kurang dari 30 ng/mL ini membuat kita dengan mudah kena influenza epidemik (dan pasti Covid-19). Karena sebenarnya batas bawah kadar 20 ng/mL itu hanya dimaksud untuk mencegah penyakit Rickets yang mungkin saat ini sudah sukar ditemukan. Dr Coimbra bahkan mengatakan, jika kita menginginkan sistem imun kita optimal, kita harus memiliki kadar vitamin D 100 ng/mL. Dan untuk mencapai kadar ini, tidak akan cukup jika kita hanya mengkonsumsi vitamin D dengan dosis 1000 iu per hari.

Setidaknya, kita harus mengkonsumsi vitamin D dosis 10.000 iu per hari. Penggunaan dosis 1000 iu tersebut tak ubahnya seperti UMR, sangat susah bertahan hidup. Apalagi jika kita sudah menderita Covid-19, jangan gunakan dosis 1000 iu ini, akan lebih lama sembuhnya.

Berbekal ilmu dari Dr Coimbra dan Dr Renu Mahtani tersebut, dengan penuh percaya diri, ia mencegah covid dengan dosis 10.000 iu, dan bahkan ada protokol Dr Brownstein membantu pengobatan banyak pasien covid hanya dengan vitamin D oral dosis tinggi 50.000 iu.

Bahkan, tidak jarang dr. Murni menginjeksikan vitamin D dosis 600.000 iu, cara yang dulu hanya digunakan untuk boosting kadar vitamin D pada pasien kanker semata. Prinsipnya jika tidak gunakan injeksi, akan sangat lama perbaikan kadar vitamin D mendekati nilai 100 ng/mL. Namun, pandemi saat ini membuat kita harus dihadapkan pada pilihan sekaligus mengejar waktu dalam dua minggu pasien harus sembuh atau meninggal.

Dengan ilmu dosis tinggi vitamin D dan vitamin C, kita bisa menyembuhkan pasien Covid dalam 3 hari hingga 1 minggu saja tanpa penyulit. Lebih dari itu, pasien cukup isoman di rumah, tidak usah berebutan masuk RS yang juga sudah habis kapasitasnya, serta tak perlu ketakutan yang selalu meliputi setiap pasien maupun keluarga.

Banyak dokter takut memberikan dosis tinggi karena vitamin D ini harus diaktivasi di hati dan ginjal, sehingga konon bisa memicu gagal ginjal. Ini info hoax yang dipercaya oleh sebagian dokter yang kurang memahami dan memiliki pengalaman dalam pengobatan dengan ilmu vitamin D.

Ketakutan penggunaan dosis tinggi vitamin D tersebut adalah terjadinya hiperkalsemia, atau kelebihan penyerapan kalsium yang mungkin dianggap bisa menyumbat pembuluh darah. Karenanya untuk atasi hal ini, pada mereka dengan resiko thrombosis atau pengentalan darah, itu bisa disertai vitamin K2, atau nattokinase dan serrapeptase sebagai anti kekentalan darah alami.

Beberapa individu yang sudah maintain gut microbiome (menjaga mikrobioma usus) dengan baik, mengonsumsi probiotik multistrain (komunitas, atau probiotik siklus) tentu saja tidak membutuhkan tambahan vitamin K2 atau pengencer darah alami ini. Jadi, benar kata Profesor Subowo bahwa vaksin masuk memang ada, tapi tidak ada gunanya untuk kita!

Klarifikasi Prof. Subowo

Judul yang dibuat itu bukan merupakan kesimpulan dari seluruh uraian, tetapi diambil dari penggal kalimat agar bernada negantif. Maksud kalimat yang menyatakan: vaksin masuk tidak ada gunanya, memang pada saat itu tidak ada gunanya, tetapi dikemudian hari baru ada perlidungan, maka vaksinasi bukan untuk terapi.

Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id

Tinggalkan Balasan

Terjemahkan »