Sawunggalih Artfest 2019, Membumikan Jati Diri  Purworejo

Purworejo, FNN– Sawunggalih Art Festival (Safest) kembali digelar tahun ini, tepatnya 5-6 Oktober 2019. Gelaran seni dan budaya masyarakat Purworejo kali ini mengangkat tema Heaven & Earth, tujuanya untuk mengelaborasi para seniman baik yang ada di dalam maupun di luar Purworejo. Festival kedua ini juga akan melibatkan pelajar dan mahasiswa di Kota Pejuang ini. “Kita juga akan mengedukasi seni bagi pelajar dan mahasiswa Purworejo dalam bentuk workshop kreativitas tari, musik, dan seni rupa yang akan dibimbing oleh para instruktur, seniman yang dipilih oleh panitia Safest,” kata Ketua Panitia Safest, Nungki Nur Cahyani di Purworejo (10/09).

Nungki menegaskan bahwa Safest selalu mengangkat tema yang agak unik, yang mampu menjadi sarana renungan dan kontemplasi bersama agar bisa memberi pemahaman kepada kita untuk lebih bisa mencintai tanah leluhur, lebih membumi dalam bersikap dan berpikir, dan semua segala kebaikan yang dilakukan dengan tulus tanpa pamrih. Jika kita berbuat baik, maka kebaikan pula yang akan kita dapat. Bumi leluhur adalah surga kita.

Bumi leluhur di sini, kata Nungki bisa bermakna mencintai tanah leluhur kita, asal usul kita atau paham nasionalisme kita, kemudian membumi dalam bersikap dan bertindak.

Ini adalah rumus “genuine” yang ada di setiap daerah di Nusantara, misalnya di Bali dengan Tri Hitta Karana, dalam Islam ada Al-Dhifa an Al Wathan. Esensinya adalah  sama, yakni menciptakan kebahagiaan, kedamaian berasal dari harmonisasi diri kita, alam semesta dan pencipta.

Para peserta yang tampil, seniman baik musisi maupun penari yang akan mempersembahkan sajian pada Safest 2019 ini tidak akan bergeser dari rel besar tema ini. Mereka akan total mengeksplorasi, memadukan latar panggung yang apik dalam balutan bangunan heritage tahun 1800 awal, di Stasiun Purworejo Lama.

Sama seperti tahun lalu, Safest tahun ini mendapat dukungan dari Diaspora Purworejo, Komunitas Lima Gunung Magelang, Rumah Banjarsari Surakarta, Dewan Kesenian Purworejo, dan Pemkab Purworejo.

Sawunggalih Art Festival pertama kali digelar pada 7 Desember 2018 sekaligus sebagai penanda berdirinya Festival Budaya dan Seni masyarakat Purworejo terbaik di Jawa Tengah. Festival ini akan menjadi acara rutin tahunan masyakat Purworejo pecinta seni dan budaya.

Mengapa memilih tempat di Stasiun Kereta Api lama? Sebab ornamen stasiun ini menginspirasi ruang seni pertunjukan, mengandung nilai sejarah yang sarat kearifan dan sebagai salah satu bangunan heritage kebanggaan Purworejo yang perlu dijaga, dirawat dan diviralkan. Kelak, diharapkan masyarakat luas akan semakin mencintai Purworejo karena kota ini memiliki banyak kenangan, perjuangan, dan nilai spiritual yang mampu membentuk karakter Wong Purworejo yang berbeda dengan daerah lain. (SWS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.