Farhat Abbas: Pengacara atau Pedagang Bangkai?

KETIKA mulut lebih liar daripada etika, dan panggung lebih penting daripada martabat, maka masih manusiakah ia?

Ada jenis manusia yang hidup bukan dari kualitas, melainkan dari kebisingan. Bukan dari kehormatan, melainkan dari keributan. Bukan dari integritas, melainkan dari kemampuan menempel pada bangkai isu yang sedang ramai lalu mengunyahnya di depan kamera.

Di republik yang terlalu murah memberi panggung kepada badut politik, nama Farhat Abbas adalah contoh telanjang dari spesies itu: advokat rasa infotainment, moral rasa debu, dan etika rasa got.

Ketika ajakan restorative justice kepada dr. Tifa ditolak, yang waras seharusnya paham satu hal sederhana: tidak semua orang mau berdamai dengan kebisingan. Ada orang yang masih punya tulang belakang. Ada orang yang tidak mau menukar prinsip dengan sandiwara. Dan tampaknya, penolakan itu membuat Farhat Abbas tidak sedang kecewa—tetapi kalap.

Karena begitu panggung negosiasi gagal, yang muncul bukan kecerdasan hukum, melainkan naluri pemulung: bongkar yang privat, seret yang sensitif, dan mainkan apa pun yang bisa dipakai untuk merendahkan lawan.

Itu bukan strategi hukum. Itu kelakuan manusia gagal yang panik kehilangan kendali.

Mari bicara terang-terangan:
rekam medis bukan bahan ocehan warung kopi, bukan alat gertak, dan bukan peluru untuk membunuh martabat seseorang.

Kerahasiaan medis di Indonesia jelas dilindungi oleh aturan kesehatan dan etika profesi. Rekam medis adalah dokumen sensitif yang tidak boleh dipermainkan seenaknya untuk konsumsi publik. 

Jadi kalau ada orang yang merasa dirinya “pengacara” lalu bermain-main dengan isu medis atau wilayah privat lawan, maka dia bukan sedang menunjukkan kecerdasan. Dia sedang menunjukkan betapa busuk wataknya.

Karena hanya ada dua kemungkinan kalau seseorang sampai menyeret urusan medis lawan ke ruang gaduh:
Argumennya habis, atau adabnya memang dari awal tidak pernah ada.

Dan pada Farhat Abbas, publik rasanya tak perlu terlalu lama memilih jawaban.

Masalah terbesar Farhat Abbas bukan semata-mata pada apa yang dia katakan. Masalahnya adalah ia terlalu lama mengira kebisingan adalah kapasitas.

Padahal rekam jejak publiknya selama ini lebih banyak dipenuhi kontroversi, sensasi, perseteruan, dan kegagalan-kegagalan politik yang dipoles seolah perjuangan besar. Ia dikenal luas lewat perkara figur publik dan pernyataan-pernyataan gaduh, sementara kiprah politiknya berulang kali kandas di jalan. Ia pernah mencoba berbagai kendaraan politik dan tetap gagal menancapkan pengaruh yang benar-benar substantif. 

Farhat ini bukan figur yang membesar karena mutu. Dia membesar karena Indonesia terlalu sering memelihara orang ribut. Ia adalah produk sempurna dari zaman yang salah kaprah:
asal galak dianggap pintar, asal nyolot dianggap tegas, asal viral dianggap penting.

Padahal kalau dikuliti habis-habisan, yang tersisa dari figur seperti ini biasanya cuma tiga hal: haus validasi, lapar kamera, dan miskin bobot.

Mari jujur saja. Sebagian besar penampilan Farhat Abbas di ruang publik bukan terasa seperti advokasi, tetapi seperti audisi tak berujung untuk tetap relevan.

Ia bukan sedang membela hukum.
Ia sedang menjual dirinya sendiri.
Setiap isu panas baginya seperti warung tenda tengah malam: asal ramai, mampir, asal ada kamera, bicara, asal bisa bikin judul heboh, gas.

Maka jangan heran bila dari tahun ke tahun, nama Farhat lebih akrab dengan drama, bukan doktrin hukum; lebih dekat dengan konten, bukan kelas; lebih lekat dengan keributan, bukan kehormatan profesi. Bahkan pada 2024 ia sempat dilaporkan ke Dewan Kehormatan Peradi oleh sesama advokat karena dinilai merusak citra profesi dan tidak menjaga etika di ruang publik.

Itu sebabnya publik makin sulit melihat Farhat Abbas sebagai “advokat senior”. Yang terlihat justru seorang pria dewasa yang terlalu lama hidup dari insting seleb kampungan: kalau tak punya nilai jual, bikin saja keributan.

Farhat Abbas ini tipikal figur yang terlalu sering gagal naik kelas, lalu akhirnya nyaman menjadi gangguan nasional.

Gagal jadi tokoh besar? Bikin gaduh.
Gagal jadi magnet gagasan? Serang pribadi. Gagal menang dengan mutu? Tumpahkan lumpur.

Dan yang paling menyedihkan, pola seperti ini terus dipelihara oleh ekosistem media dan politik kita yang memang terlalu malas membedakan antara orang penting dan orang berisik.

Padahal ada perbedaan yang sangat jelas: Orang penting menambah kualitas percakapan publik. Orang berisik cuma menambah polusi.

Farhat Abbas sudah terlalu lama berada di kategori kedua. Serangan ke Dr. Tifa menunjukkan satu hal: Farhat tidak sedang kuat, dia sedang putus asa.

Kalau benar setelah penolakan RJ yang keluar justru serangan personal, maka itu artinya sederhana: Farhat Abbas sedang kalah arah. Karena orang yang benar-benar yakin pada posisi hukumnya tidak perlu membongkar sisi paling privat lawan. Orang yang merasa pegang kartu as tidak akan lari ke lorong got. Hanya orang yang mulai kehabisan peluru intelektual yang tergoda memakai peluru kotor.

Itu sebabnya serangan model begini justru tidak menunjukkan kekuatan. Ia menunjukkan frustrasi, ketidakdewasaan,
dan kemiskinan karakter.

Dengan kata lain
semakin liar dia menyerang, semakin jelas terlihat betapa rapuh posisi moralnya.

Sudah waktunya bangsa ini berhenti memperlakukan figur-figur seperti Farhat Abbas sebagai sekadar “tokoh kontroversial” yang lucu-lucu saja. Tidak. Orang seperti ini berbahaya karena mereka membantu menormalisasi satu hal paling busuk dalam ruang publik Indonesia: bahwa membongkar aib pribadi lawan dianggap sah selama bisa bikin tepuk tangan.

Ini penyakit peradaban. Ini kebusukan yang dipoles menjadi keberanian. Ini kebiadaban yang dibungkus jargon “hak bicara”.

Padahal tidak semua yang bisa diucapkan pantas diucapkan.
Dan tidak semua yang bisa diviralkan layak dibiarkan.

Kalau benar ada unsur pembukaan data medis, penyeretan ranah privat, atau eksploitasi informasi sensitif, maka aparat dan organisasi profesi seharusnya tidak boleh pura-pura rabun. Karena bila hal semacam ini dibiarkan, pesan yang dikirim ke publik sangat menjijikkan:
siapa pun boleh mengobrak-abrik privasi orang lain asal cukup terkenal dan cukup beringas.

Kalau itu yang dibiarkan, maka yang rusak bukan hanya satu nama.
Yang rusak adalah sisa martabat hukum kita.

Pada akhirnya, Farhat Abbas bukan sekadar individu. Ia adalah simbol.
Simbol bahwa di negeri ini, terlalu banyak orang medioker bisa tampil seolah raksasa hanya karena suaranya keras.

Simbol bahwa profesi mulia bisa jatuh serendah-rendahnya ketika dipakai oleh orang yang miskin malu.

Simbol bahwa sebagian panggung hukum kita kini lebih mirip sirkus keliling ketimbang forum akal sehat.

Dan jika benar ia sampai menyentuh wilayah medis atau privat demi menyerang dr. Tifa, maka publik tak sedang menyaksikan keberanian seorang advokat.

Publik sedang menyaksikan seorang pria dewasa yang terlalu putus asa untuk tetap terlihat penting.

Farhat Abbas boleh terus bicara sekeras apa pun. Tetapi semakin ia membuka mulut, semakin tampak bahwa yang sedang ia pertontonkan bukan kekuatan— melainkan kehancuran kualitas dirinya sendiri. (*)

Dan jujur saja untuk ukuran pengacara,
terlalu banyak bunyi, terlalu sedikit isi. (*)

31

Related Post