BERITA TERBARU
POLITIK
JAKARTA, FNN – Di tengah suasana khidmat bulan suci Ramadhan, Mubarok Institute menggelar diskusi interaktif dan simposium (14/3) bertajuk \"Menyikapi Dinamika Politik Global dalam Perspektif Geostrategi dan Geopolitik Indonesia.\" Forum ini tidak sekadar menjadi ajang bedah kebijakan, namun juga refleksi mendalam mengenai hakikat pengabdian manusia sebagai insan di tengah pusaran kekuasaan dunia. Sinergi Geopolitik dan Moralitas, Mubarok Institute Bedah Posisi Strategis Indonesia di Kancah Global Rangkaian simposium Ramadhan, Mubarok Institute membawa diskusi interaktif ke level yang lebih strategis dalam membedah tema tersebut. Simposium ini menegaskan bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan militer, tetapi dari ketahanan integritas dan etika para pemimpinnya. Dalam sesi geostrategi, diskusi menyoroti posisi Indonesia yang berada di titik silang kepentingan kekuatan besar dunia. Mubarok Institute memandang bahwa di tengah ketegangan geopolitik global, Indonesia harus memerankan politik Bebas Aktif yang transformatif. \"Indonesia memiliki potensi untuk menjadi kekuatan alternatif di panggung dunia, prasyarat utamanya adalah bangsa kita ini harus \'sehat\' secara mental dan bersih dari penyakit korupsi sistemik,\" ujar Herry Purnomo Sekretaris Jenderal Mubarok Institute dalam simposium Sabtu siang ini. Lebih lanjut, Fadhil As. Mubarok Chairman Mubarok Institute mengatakan, “Penegakan hukum yang kuat tanpa pandang bulu disebut sebagai manifestasi nyata dari bangsa yang berdaulat secara hakiki”. Filosofi Pulang Lebaran dan Integritas Pemimpin Simposium ini ditekankan menjadi sebuah refleksi filosofis mengenai \"Hakikat Pulang\". Ramadhan menjadi momentum untuk menyadari bahwa setiap individu, termasuk para pemangku kebijakan pada akhirnya akan pulang menghadap Sang Pencipta (Rahmatullah). Dalam narasi yang disampaikan, ditekankan bahwa ketakutan akan kematian seringkali bersumber dari keterikatan duniawi (Hubbud Dunya) yang berlebihan dan minimnya bekal amal. \"Jika dunia hanya dianggap sebagai terminal, maka kepulangan menuju Allah akan terasa ringan. Namun, bagi mereka yang rakus dan menumpuk harta melalui jalan yang tidak benar, kepulangan menjadi hal yang menakutkan,\" ungkap Gus Fadhil panggilan akrab Chairman Mubarok Institute ini dalam sambutan pembuka diskusi tersebut. Antara Lebah dan Lalat sebagai Manifestasi Etika Bernegara Simposium ini menyoroti perbedaan tajam antara perilaku \'Lebah\' yang membangun peradaban dengan kemanfaatan, dibandingkan perilaku \'Lalat\' yang melambangkan pribadi gemar mencari kesalahan dan menyebarkan penyakit sistemik bernama korupsi. Fadhil mengatakan, “Mubarok Institute secara tegas menggarisbawahi bahwa korupsi dan praktik mafia adalah bentuk nyata Akhlaq Madzmumah atau budi pekerti tercela”. Belajar dari ketegasan Rasulullah SAW terhadap kasus wanita cantik dari Bani Makhzum yang mencuri. Bani Makhzum yaitu suku Arab yang dihormati karena mayoritas mereka saudagar sukses, forum ini menyerukan bahwa hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas. “Integritas bangsa dipertaruhkan pada kemampuan negara menegakkan hukum tanpa pandang bulu, demi menghindari kehancuran peradaban”, demikian kata Gus Fadhil panggilan akrab Fadhil As. Mubarok dengan lantang. Strategi Ya Robbi dan Ya Lobby Sebagai solusi praktis-strategis, Mubarok Institute memperkenalkan formula Ya Robbi dan Ya Lobby, bahwa Ya Robbi (Dimensi Vertikal) yang jelas menempatkan niat tulus dan spiritualitas sebagai fondasi perjuangan. Sedangkan Ya Lobby (Dimensi Horizontal) melakukan diplomasi cerdas dan penguatan jejaring bersih untuk melawan dominasi oligarki serta oknum politisi kotor. Sinergi inilah yang diharapkan mampu mengawal aspirasi luhur bangsa Indonesia yang bersih dari praktik-praktik menyimpang yang berujung pada jeruji besi, sebagaimana kasus OTT yang menimpa sejumlah kepala daerah akhir-akhir ini. Indonesia di Panggung Dunia Dalam perspektif geostrategis, simposium ini membedah bagaimana Indonesia harus memposisikan diri di tengah dinamika global yang kian kompleks. Dengan memadukan ikhtiar profesional (Lobby) dan kepasrahan spiritual (Robbi), Indonesia diharapkan mampu menjadi kekuatan alternatif yang berdaulat, beradab dan disegani di panggung internasional. \"Kesuksesan bernegara tidak boleh dipisahkan dari kesadaran bahwa kita semua akan pulang. Kepemimpinan yang autentik adalah kepemimpinan yang menyadari tanggung jawabnya di hadapan sejarah dan di hadapan Tuhan,\" pungkas Gus Fadhil dalam simposium tersebut. Melawan Oligarki Mubarok Institute menawarkan solusi \"Sinergi Jaringan\" Salah satu poin krusial yang dibahas adalah bagaimana menghadapi tantangan domestik yang menghambat gerak geopolitik Indonesia, seperti dominasi pengusaha hitam dan politik uang. Membangun jejaring profesional yang bersih untuk mengomunikasikan aspirasi luhur bangsa dan mengimbangi pengaruh oligarki yang destruktif. Memastikan bahwa setiap langkah diplomasi dan kebijakan negara memiliki landasan moral yang kuat, dengan kesadaran bahwa kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan saat pulang “meninggal dunia” nanti. Pesan Tegas Hukum Bukan Komoditas Mengingat kembali kisah Bani Makhzum, simposium ini memberikan peringatan keras kepada para pemangku kebijakan. Diskusi ini mengingatkan bahwa kehancuran sebuah peradaban dimulai ketika hukum menjadi tumpul ke atas. Pesan ini menjadi sangat relevan di tengah dinamika politik nasional, di mana Mubarok Institute mendorong agar Indonesia meneladani prinsip keadilan absolut. \"Jangan sampai kita mengejar keinginan sesaat yang berujung pada kehinaan seperti kasus-kasus OTT yang memalukan. Kita mencari keberkahan dalam bernegara, bukan sekadar kemenangan politik,\" tegas Fadhil dalam diskusi tersebut. Sementara Prof. Sulkhan Chakim, Wakil Rektor UIN SAIZU Purwokerto menegaskan bahwa Mubarok Institute berkewajiban memberikan masukan positif kepada pemerintah atas perkembangan politik global yang terjadi saat ini. Momen Buka Puasa Bersama seperti ini sangat baik untuk merenungkan kembali peran bangsa Indonesia bagi stabilitas politik Indonesia di dunia internasional. Ramadhan sebagai Kompas Kebijakan Simposium diakhiri dengan kesimpulan bahwa perspektif geopolitik Indonesia tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai spiritualitas Al-Qur\'an. Menjadi manusia (Insan) yang beradab dan berintegritas adalah modal utama bagi Indonesia untuk mengaung di Asia dan dunia.Dengan memadukan ikhtiar profesional dan kepasrahan spiritual, Mubarok Institute mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengawal visi Indonesia yang bersih, jujur dan pro-rakyat demi mewujudkan harapan baru Indonesia yang sejahtera. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan segar yang tidak hanya tajam secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral dalam menyongsong masa depan Indonesia yang lebih terang benderang.(*)
READ MOREHUKUM
Samarinda, FNN - Sengketa Tanah seluas 2 ha di tepi Jl HM Ardans Samarinda Kalimantan Timur terus bergulir. Pihak perusahaan, yakni PT Sumber Mas Timber ingkar memenuhi janjinya. Hasil mediasi di PN Samarinda antara PT Sumber Mas Timber dengan ahli waris La Singga berakhir buntu. Pihak PT Sumber Mas hanya akan memberikan uang kerokhiman sebesar Rp 300 juta. \"Kami tolak uang itu karena syaratnya berat sekali, yaitu semua dokumen asli, diminta oleh perusahaan,\" kata Wandora kepada wartawan, Kamis.12 Maret 2026 di PN Samarinda. Pengakuan Wandora dibenarkan oleh penasihat hukumnya, Rustani, SH.,MH. \"Jelas kami tolak, sebabpersyaratan terlalu berat. Klien kami disuruh menyerahkan surat segel asli, surat hibah asli, dan surat INPN. Tak hanya itu, klien kami disuruh membuat pernyataan tertulis bahwa lahan tersebut bukan milik La Singga,\" kata Rustani. Semua surat itu kata Rustani, harus diserahkan kepada PT Sumber Mas Timber. Setelah itu baru uang kerohiman 300 juta diberikan. Menurut Rustani, tawaran itu tidak adil dan tidak masuk akal. Lahan seluas 2 Ha milik keluarga La Singga, (orang tua Wandora), kok cuma mau diganti Rp 300 juta. Sementara dalam perjanjian awal kata Rustani uang kerokhiman itu untuk mengganti tanam tumbuh dan rumah yang sudah dihancurkan oleh PT Sumber Mas. \" Ini jelas menyalahi komitmen dan kami menolaknya,\" paparnya. Namun demikian, perdamaian masih terbuka, mana kala pihak perusahaan menjaga komitmen dengan baik. Wandora menyatakan kalau perusahaan bersedia membayar ganti rugi yang disepakati, pihaknya siap keluar dari lokasi dan PT Sumber Mas bisa menguasainya. \"Dokumen yang diminta juga akan kami serahkan kepada PT Sumber Mas. Keluarga meminta uang ganti rugi total keseluruhan sebesar Rp 5 miliar. Jika ini disepakati, keluarga La Singga tidak akan mengungkit lagi persoalan lahan di jalan Ring Road Samarinda tersebut,\" kata Wandora. Bagi Wandora, angka tersebut tidak sebanding dengan apa yang telah hilang: rumah, tanah warisan, mata pencaharian, dan rasa aman. “Klien kami kehilangan segalanya. Nilai itu sangat tidak layak,” tegas kuasa hukum Wandora, Rustani. Pihak keluarga tetap menuntut ganti rugi yang setidaknya bisa untuk berteduh, modal jualan, dan bayar utang. Di atas lahan yang kini disengketakan, Wandora masih bertahan. Bukan di rumah, melainkan di bedeng sederhana di tepi Jalan H.M. Ardans, Samarinda, Kalimantan Timur. Di situlah ia menjalani hari-harinya bersama puluhan anak cucunya sejak penggusuran meratakan tempat tinggalnya. Tanah seluas 2 hektare itu diyakini sebagai milik keluarga besarnya berdasarkan surat surat yang dimilikinya. Ia mengaku sudah puluhan tahun tinggal di lokasi itu dan tidak pernah menjualnya. Namun, putusan pengadilan berujung eksekusi yang membuatnya kehilangan segalanya. “Saya hanya ingin hak saya kembali,” ujarnya lirih. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain bertahan di lokasi sengketa. Upaya hukum telah ditempuh. Wandora menggugat PT Sumber Mas Timber melalui perkara Nomor 254/Pdt.G/2025/PN.SMR, dengan dasar kepemilikan surat hibah tertanggal 30 September 2022. Di sisi lain, perusahaan menyatakan telah memenangkan perkara hingga berkekuatan hukum tetap dan mengklaim sebagai pemilik sah lahan tersebut. Akhirnya terjadilah upaya perdamaian di meja mediasi. Sayang mediasi gagal mencapai kesepakatan. Langkah berikutnya kata Rustani adalah pengajuan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung.(*)
READ MOREEKONOMI
JAKARTA, FNN [13 Maret 2026] – Dalam semangat berbagi di bulan suci Ramadan, Akulaku kembali bersinergi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS RI) menghadirkan berbagai program sosial bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk pelatihan keterampilan bagi anak-anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Jakarta. Kolaborasi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan CSR Ramadan 2026 yang diinisiasi bersama oleh Akulaku Group dan BAZNAS RI. Salah satu inisiatif yang diselenggarakan pada Ramadan kali ini adalah dengan memberikan pelatihan keterampilan sablon bagi anak-anak binaan, yang bertujuan memberikan bekal keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan sebagai modal kemandirian di masa depan. Direktur Teknologi Informasi PT Akulaku Finance Indonesia, Edy Salim, mengatakan program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus berkontribusi positif kepada masyarakat, khususnya melalui kegiatan sosial yang dapat memberikan dampak nyata. “Ramadan adalah momentum untuk memperkuat kepedulian dan berbagi dengan sesama. Melalui kolaborasi bersama BAZNAS RI, bantuan yang disalurkan diharapkan tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, M.A, mengatakan bahwa kegiatan ini bagian dari upaya BAZNAS menghadirkan program Ramadan yang tidak hanya bersifat bantuan konsumtif, tetapi juga berorientasi pada pemberdayaan. “Melalui program ini kami ingin menghadirkan kebahagiaan Ramadan sekaligus memberikan keterampilan yang bermanfaat bagi masa depan mereka”. Sementara itu, Kepala Divisi Pendayagunaan, Layanan UPZ dan CSR BAZNAS RI, Ajat Sudrajat, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi BAZNAS dan Akulaku dalam menyalurkan berbagai program sosial selama Ramadan. “Hari ini kita melaksanakan program Hidangan Berkah Ramadan berupa pembagian hidangan berbuka puasa, mulai dari takjil hingga makanan utama bagi anak-anak binaan”. Kepala Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Jakarta, Syaikoni, turut menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan kepada anak-anak binaan di lembaganya. “Kami sangat berterima kasih kepada BAZNAS RI dan Akulaku Group atas dukungan serta perhatian yang diberikan kepada anak-anak binaan di LPKA Jakarta”. Salah satu anak binaan berinisial RAPO (16) mengaku senang dapat mengikutikegiatan tersebut. “Saya senang sekali mengikuti acara ini karena kami bisa belajar menyablon dan mengetahui perbedaan sablon digital dan manual. Terima kasih kepada BAZNAS dan Akulaku Group yang sudah datang dan berbagi dengan kami”. Akulaku Group berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai inisiatif sosial yang tidak hanya bersifat bantuan jangka pendek, tetapi juga memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya dalam aspek kesejahteraan dan pemberdayaan. (*)
READ MORENASIONAL
Jakarta, Liranews.com l Mubarok Institute menggelar diskusi interaktif dan simposium Ramadhan bertajuk “Menyikapi Dinamika Politik Global dalam Perspektif Geostrategi dan Geopolitik Indonesia, ” pada Sabtu, 14 Maret 2026 di Resto Batik Kuring SCBD, Jakarta. Hadir puluhan tokoh nasional seperti Dewan Pengarah BRIN, Marsudi Wahyu Kisworo, Komisaris PT MRT Jakarta Leles Sudarmanto, para pebisnis dan pelaku usaha di Jakarta. Forum ini membahas posisi strategis Indonesia di tengah dinamika geopolitik global sekaligus menekankan pentingnya integritas moral dalam kepemimpinan nasional. Vice President Mubarok Institute, Sulkhan Chakim, menegaskan lembaganya berkomitmen menjadi mitra strategis perguruan tinggi di Indonesia serta memfasilitasi sinergi antara kampus, pemerintah, dan sektor swasta. Ia juga menilai forum Ramadhan menjadi momentum refleksi bagi peran Indonesia dalam menjaga stabilitas politik global. Lebih jauh Sulkhan menyatakan bahwa Indonesia berada pada fase penting diplomasi global sehingga paradigma politik luar negeri Bebas Aktif perlu diimplementasikan secara lebih substantif untuk melindungi kepentingan nasional. Simposium tersebut juga menekankan tiga agenda strategis, yakni redefinisi geopolitik nasional, penguatan integrasi infrastruktur dan ekonomi, serta kemandirian pangan dan energi untuk menghadapi krisis global. Menurut Sulkhan, saat ini Indonesia berpotensi menjadi kekuatan alternatif di panggung internasional, dengan syarat memperkuat integritas kepemimpinan dan penegakan hukum tanpa pandang bulu. Melalui forum ini, Mubarok Institute berharap lahir rekomendasi strategis bagi pemerintah guna menjaga stabilitas nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah global. Kepada kampus kampus di seluruh Indonesia, Sulkhan berharap secara proaktif memberikan masukan kepada Presiden Prabowo dalam merespons situasi terkini keadaan bangsa kita (*)
READ MOREINTERNASIONAL
JAKARTA, FNN — Forum Jurnalis Merdeka punya cara sendiri dalam mengisi waktu ngabuburit. Sekelompok wartawan senior itu menggelar diskusi politik ekonomi menyikapi kondisi terkini tanah air merespons gejolak perang di Timur Tengah. Pemerhati intelijen Kolonel Infanteri (Purn) Sri Radjasa menilai langkah Presiden Prabowo Subianto menawarkan diri sebagai mediator konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi menjadi kesalahan strategis. Sikap tersebut dinilai tidak membaca perubahan peta geopolitik global sekaligus membuka risiko politik di dalam negeri. “Menjadi mediator adalah kebijakan yang kebablasan. Apakah Presiden tidak tahu bahwa ada prasyarat khusus dari kedua negara yang bersengketa? Misalnya harus ada pengakuan dari pihak yang berkonflik. Faktanya Iran juga tidak mungkin menerima Indonesia,” kata Sri Radjasa dalam diskusi publik yang digelar Forum Jurnalis Merdeka di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026). Diskusi bertajuk “BoP, Perang Timur Tengah, dan Guncangan di Istana” itu membahas dampak geopolitik konflik Iran–Israel–Amerika Serikat serta implikasinya bagi Indonesia. Forum tersebut juga menyoroti kemungkinan adanya operasi politik domestik di balik manuver diplomasi Indonesia. Menurut Sri Radjasa, pemerintah Indonesia dinilai keliru membaca perubahan arah politik Amerika Serikat yang semakin menonjolkan kepentingan nasional. Ia menilai penurunan kekuatan ekonomi AS memicu nasionalisme yang lebih agresif. “Sekarang terlihat kecenderungan baru di Amerika. Mereka tidak lagi berperan sebagai pemimpin dunia, tetapi bertindak sebagai penguasa dunia. Kita bisa melihatnya dari kasus Venezuela sampai isu Greenland,” ujarnya. Ia menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan utama sebelum Indonesia mengambil posisi geopolitik tertentu, termasuk ketika bergabung dengan blok ekonomi BRICS maupun ketika masuk dalam gagasan Board of Peace (BoP). “Di sini letak blundernya. Ketika Indonesia bergabung dengan BRICS, Donald Trump mengambil sikap kontras terhadap blok itu. Artinya langkah ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sensitif,” kata dia. Sri Radjasa juga menilai Amerika Serikat saat ini lebih memprioritaskan kepentingan ekonomi dibanding isu lain, termasuk hak asasi manusia. Hal itu, menurutnya, membuat konfigurasi politik global semakin keras dan transaksional. Ia mengingatkan bahwa keputusan Indonesia untuk mengambil peran mediator dapat berbalik menjadi tekanan politik bagi pemerintah jika tidak dihitung secara matang. “Menabur angin bisa menuai badai. Risiko politiknya besar jika langkah seperti ini tidak dihitung dengan cermat,” ujarnya. Diskusi yang dimoderatori wartawan senior Sri Widodo Soetarjowiyono ini juga dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya pemerhati politik Imam Bogie Yuda Swara serta pemerhati sejarah dan budaya Joko Sumpeno. Selain persoalan politik luar negeri, diskusi tersebut juga menyinggung dampak ekonomi jika konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berkembang menjadi perang terbuka. Sejumlah peserta forum menilai eskalasi perang berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia, menekan nilai tukar rupiah, serta memperlebar beban subsidi energi dalam APBN. (DH).
READ MOREDAERAH
Samarinda, FNN - Sengketa Tanah seluas 2 ha di tepi Jl HM Ardans Samarinda Kalimantan Timur terus bergulir. Pihak perusahaan, yakni PT Sumber Mas Timber ingkar memenuhi janjinya. Hasil mediasi di PN Samarinda antara PT Sumber Mas Timber dengan ahli waris La Singga berakhir buntu. Pihak PT Sumber Mas hanya akan memberikan uang kerokhiman sebesar Rp 300 juta. \"Kami tolak uang itu karena syaratnya berat sekali, yaitu semua dokumen asli, diminta oleh perusahaan,\" kata Wandora kepada wartawan, Kamis.12 Maret 2026 di PN Samarinda. Pengakuan Wandora dibenarkan oleh penasihat hukumnya, Rustani, SH.,MH. \"Jelas kami tolak, sebabpersyaratan terlalu berat. Klien kami disuruh menyerahkan surat segel asli, surat hibah asli, dan surat INPN. Tak hanya itu, klien kami disuruh membuat pernyataan tertulis bahwa lahan tersebut bukan milik La Singga,\" kata Rustani. Semua surat itu kata Rustani, harus diserahkan kepada PT Sumber Mas Timber. Setelah itu baru uang kerohiman 300 juta diberikan. Menurut Rustani, tawaran itu tidak adil dan tidak masuk akal. Lahan seluas 2 Ha milik keluarga La Singga, (orang tua Wandora), kok cuma mau diganti Rp 300 juta. Sementara dalam perjanjian awal kata Rustani uang kerokhiman itu untuk mengganti tanam tumbuh dan rumah yang sudah dihancurkan oleh PT Sumber Mas. \" Ini jelas menyalahi komitmen dan kami menolaknya,\" paparnya. Namun demikian, perdamaian masih terbuka, mana kala pihak perusahaan menjaga komitmen dengan baik. Wandora menyatakan kalau perusahaan bersedia membayar ganti rugi yang disepakati, pihaknya siap keluar dari lokasi dan PT Sumber Mas bisa menguasainya. \"Dokumen yang diminta juga akan kami serahkan kepada PT Sumber Mas. Keluarga meminta uang ganti rugi total keseluruhan sebesar Rp 5 miliar. Jika ini disepakati, keluarga La Singga tidak akan mengungkit lagi persoalan lahan di jalan Ring Road Samarinda tersebut,\" kata Wandora. Bagi Wandora, angka tersebut tidak sebanding dengan apa yang telah hilang: rumah, tanah warisan, mata pencaharian, dan rasa aman. “Klien kami kehilangan segalanya. Nilai itu sangat tidak layak,” tegas kuasa hukum Wandora, Rustani. Pihak keluarga tetap menuntut ganti rugi yang setidaknya bisa untuk berteduh, modal jualan, dan bayar utang. Di atas lahan yang kini disengketakan, Wandora masih bertahan. Bukan di rumah, melainkan di bedeng sederhana di tepi Jalan H.M. Ardans, Samarinda, Kalimantan Timur. Di situlah ia menjalani hari-harinya bersama puluhan anak cucunya sejak penggusuran meratakan tempat tinggalnya. Tanah seluas 2 hektare itu diyakini sebagai milik keluarga besarnya berdasarkan surat surat yang dimilikinya. Ia mengaku sudah puluhan tahun tinggal di lokasi itu dan tidak pernah menjualnya. Namun, putusan pengadilan berujung eksekusi yang membuatnya kehilangan segalanya. “Saya hanya ingin hak saya kembali,” ujarnya lirih. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain bertahan di lokasi sengketa. Upaya hukum telah ditempuh. Wandora menggugat PT Sumber Mas Timber melalui perkara Nomor 254/Pdt.G/2025/PN.SMR, dengan dasar kepemilikan surat hibah tertanggal 30 September 2022. Di sisi lain, perusahaan menyatakan telah memenangkan perkara hingga berkekuatan hukum tetap dan mengklaim sebagai pemilik sah lahan tersebut. Akhirnya terjadilah upaya perdamaian di meja mediasi. Sayang mediasi gagal mencapai kesepakatan. Langkah berikutnya kata Rustani adalah pengajuan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung.(*)
READ MORELINGKUNGAN
OPINI
Kritik terhadap Momentum Pertemuan Bilateral Jepang–Amerika Serikat
Oleh Meidia Pratama | Pengamat Politik dan Keamanan Internasional PERTEMUAN bilateral antara Sanae Takaichi, Perdana Menteri Jepang, dan Donald Trump telah dilaksanakan pada 19 Maret 2026 di Washington, Amerika Serikat. Dalam pertemuan tersebut, Jepang mempertimbangkan untuk menjadi bagian dari sistem pertahanan rudal berlapis milik Amerika Serikat (Golden Dome Defense Missile System). Konsep Golden Dome merupakan cerminan peningkatan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat sebagai perlindungan dari negara-negara yang dianggap sebagai ancaman. Pada prinsipnya, sistem ini dirancang untuk menangkis serangan berskala besar dari negara-negara setara dengan menggunakan ribuan satelit yang dilengkapi sensor dan sistem pencegat. Sistem ini juga melibatkan pengerahan rudal hipersonik berkecepatan tinggi (hypersonic glide vehicle) yang mampu mencapai lebih dari lima kali kecepatan suara. Selain itu, sistem ini diperkuat dengan perlindungan yang menggunakan drone (unmanned aerial vehicle) serta dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Pengembangan rancangan sistem pertahanan ini dimulai melalui perintah eksekutif Donald Trump pada 27 Januari 2025. Namun, gagasan tersebut memiliki kemiripan dengan Inisiatif Pertahanan Strategis yang pernah diusulkan oleh Ronald Reagan pada tahun 1983.Rencana keterlibatan Jepang dalam sistem pertahanan ini tidak dapat dilepaskan dari dua hal utama. Pertama, hubungan kedua negara berkembang melalui kerja sama strategis yang disebut Quadrilateral Security Dialogue, yaitu kerja sama antara empat negara di kawasan Indo-Pasifik. Keempat negara tersebut adalah Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan India yang bertujuan memperkuat stabilitas keamanan, kerja sama ekonomi, serta keseimbangan kekuatan di kawasan. Kerja sama tersebut dimulai pada tahun 2007 dan digagas oleh Shinzo Abe, mantan Perdana Menteri Jepang. Kedua, adanya ancaman regional dari Cina yang berkaitan dengan posisi geografis pulau-pulau Jepang, seperti Okinawa dan Ryukyu. Posisi Okinawa dianggap sangat strategis sekaligus berisiko dalam skenario perang karena lokasinya berdekatan dengan Taiwan. Sebagaimana diketahui, Cina memiliki kepentingan untuk mSelain itu, Okinawa menjadi lokasi Kadena Air Base dan Marine Corps Air Station Futenma yang dimiliki oleh Amerika Serikat di Asia Timur, serta berfungsi sebagai basis logistik untuk membantu Taiwan. Oleh karena itu, Okinawa disebut sebagai “frontline of the Indo-Pacific security architecture” karena hanya berjarak sekitar 600–700 kilometer dari Taiwan. Reinkarnasi Konservatisme JepangSetelah keterlibatannya dalam Perang Dunia II, Jepang menetapkan diri sebagai negara pasifis yang menolak perang. Prinsip tersebut dituangkan dalam Konstitusi Jepang yang disahkan dan mulai berlaku pada tahun 1947, terutama dalam Pasal 9 yang secara umum memiliki dua ayat utama. Pada ayat (1) dinyatakan bahwa Jepang menolak perang sebagai hak kedaulatan negara dan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk menyelesaikan sengketa internasional. Sementara itu, pada ayat (2) disebutkan bahwa untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Jepang menyatakan tidak akan mempertahankan angkatan darat, laut, dan udara, serta tidak mengakui hak berperang negara. Dengan demikian, Jepang memosisikan negaranya berdasarkan prinsip larangan perang agresif, tetapi tidak sepenuhnya melarang pertahanan diri. Kendati konstitusi melarang pembentukan angkatan bersenjata konvensional, Jepang tetap memiliki Japan Self-Defense Forces. Pada masa pemerintahan Shinzo Abe sebagai Perdana Menteri Jepang, dilakukan penafsiran ulang terhadap Pasal 9 pada tahun 2015. Dari yang semula hanya berorientasi pada pertahanan diri, kemudian berkembang menjadi konsep collective self-defense. Perubahan tersebut memungkinkan Jepang membantu sekutunya apabila diserang atau apabila terdapat ancaman terhadap keamanan dan kedaulatan Jepang sebagai negara. Pergeseran pemaknaan tersebut diwujudkan melalui kerja sama yang semakin erat dengan Amerika Serikat. Langkah tersebut dipandang memiliki dasar rasional karena adanya ancaman regional, seperti program nuklir Korea Utara, sengketa wilayah Kepulauan Senkaku serta aktivitas militer Cina, dan ketegangan antara Cina dan Taiwan yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan Jepang. Pandangan konservatif Shinzo Abe terhadap ancaman regional tersebut kembali dihidupkan oleh Sanae Takaichi. Kesamaan latar belakang politik dalam faksi Partai Liberal Demokrat (Liberal Democratic Party/LDP) antara Shinzo Abe dan Sanae Takaichi menempatkan Takaichi sebagai salah satu politisi konservatif dalam politik Jepang. Ia juga dipandang sebagai salah satu penerus pandangan politik konservatif Shinzo Abe. Oleh karena itu, langkah kebijakan keamanan yang ditempuh Sanae Takaichi dengan dukungan Amerika Serikat dapat dipandang sebagai kelanjutan dari kebijakan yang pernah dijalankan oleh Shinzo Abe sebelumnya. Diplomasi Keamanan Jepang Kurang Sensitif Para analis geopolitik dan keamanan bersepakat bahwa terdapat empat kawasan yang menjadi titik paling panas di dunia karena memiliki potensi konflik yang sangat besar, yaitu Timur Tengah, Selat Taiwan, Laut Cina Selatan, dan Ukraina. Saat ini, masyarakat dunia sedang menyaksikan validitas analisis para pakar geopolitik tersebut. Timur Tengah kembali menjadi kawasan peperangan sengit antara Iran dan Israel, yang juga melibatkan dukungan dari Amerika Serikat. Akibatnya, tekanan terhadap perdagangan global serta jalur distribusi energi menjadi perhatian banyak pihak. Ketegangan perang juga belum menunjukkan tanda-tanda penurunan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.Di tengah kecemasan global akibat konflik di Timur Tengah, Jepang justru melakukan diplomasi dengan Amerika Serikat terkait sistem pertahanan rudal berlapis. Diplomasi internasional yang menyangkut kerja sama perdagangan dan keamanan semestinya mempertimbangkan konteks keamanan internasional secara lebih luas. Pada prinsipnya, diplomasi keamanan akan lebih tepat dilakukan dalam kondisi damai untuk membangun daya tangkal (deterrence). Argumentasi ini didasarkan pada fakta bahwa Jepang bukan merupakan aktor utama yang secara langsung terlibat dalam konflik di Timur Tengah. Jepang lebih tepat diposisikan sebagai aktor pinggiran (periphery) yang terdampak secara tidak langsung, misalnya melalui gangguan pasokan minyak akibat konflik tersebut. Langkah diplomasi yang dilakukan oleh Sanae Takaichi dalam pertemuannya dengan Donald Trump dapat dipandang sebagai tindakan yang tergesa-gesa karena kurang mempertimbangkan momentum waktu. Tindakan tersebut memicu kritik dan polemik di dalam negeri Jepang, terutama dari kelompok oposisi yang menyoroti kedekatan Takaichi dengan Donald Trump, kemungkinan dukungan militer Jepang, serta arah militerisasi Jepang di masa depan. 0Akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa langkah diplomasi yang dilakukan Sanae Takaichi dengan bertemu Donald Trump dapat menarik Jepang lebih jauh ke dalam konflik berskala global. (*)
Rismon Sianipar Terkapar Melawan Orang Besar
Oleh: Laksma TNI (Purn.) Ir. Fitri Hadi S., M.A.P. | Analis Kebijakan Publik AHLI digital forensik Rismon Sianipar, yang sebelumnya sempat menyatakan keyakinannya hingga “11.000 persen” bahwa ijazah Presiden Joko Widodo palsu, kini telah mencabut pernyataan tersebut dan mengakui bahwa ijazah Jokowi adalah asli. Dalam sebuah klarifikasi dan permintaan maaf yang diunggah di kanal YouTube Balige Academy pada 11 Maret 2026, Rismon Sianipar mengakui adanya kesalahan dalam penelitian awalnya. Lalu, ke mana pernyataan “11.000 persen” itu? Awalnya, banyak orang menganggap kelompok yang menamakan dirinya RRT—singkatan dari Roy, Rismon, dan Tifa—sebagai para pejuang yang berani. Kelompok ini merupakan gabungan nama Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma (Tifa). Pernyataan mereka yang menyebut 99,99 persen atau bahkan 11.000 persen bahwa ijazah Jokowi palsu benar-benar menggetarkan “dinding-dinding Istana” Jokowi di Solo—yang kini oleh sebagian pihak disebut sebagai “tembok ratapan”. Jokowi kemudian melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian, sehingga beberapa orang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Belum cukup dengan laporan Jokowi, barisan orang yang mereka sebut “Termul” pun bergerak. Mereka berusaha melawan dan melaporkan pula tokoh utama yang menyatakan bahwa 99 persen atau 11.000 persen ijazah Jokowi palsu. Perdebatan sengit di media sosial, terutama di televisi, menjadi semakin panas. Serangan terhadap kelompok RRT semakin besar, tetapi mereka justru semakin berani. Keberanian tersebut diwujudkan dengan terbitnya sebuah buku berjudul Jokowi’s White Paper. Buku ini merupakan kajian yang dibuat oleh trio Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma. Isinya memuat kajian digital forensik, telematika, dan neuropolitika terkait keabsahan dokumen serta perilaku kekuasaan, termasuk membahas isu dugaan ijazah palsu Presiden Jokowi. Perlahan tetapi pasti, kepercayaan publik terhadap pernyataan mereka—yang didasarkan pada hasil penelitian—mulai mendapat dukungan yang semakin luas. Rismon semakin bersemangat. Tidak mau setengah-setengah, ia kembali menggebrak dengan mendahului sejawatnya. Kali ini ia menulis buku berjudul Gibran End Game: Wapres Tak Lulus SMA, sebuah buku yang ditulis oleh Rismon Hasiholan Sianipar. Sementara itu, Roy dan Tifa baru menyampaikan rencana akan meluncurkan buku mereka pula. Inilah sebuah pertempuran—pertempuran antara kekuatan kecil yang mungkin hanya bermodalkan keberanian dan ide melawan kekuatan besar yang berusaha tetap eksis mempertahankan hegemoni kekuasaannya. Inilah asymmetric warfare (perang asimetris) dalam bentuk lain, yakni peperangan yang ditandai oleh ketidakseimbangan kekuatan atau ketahanan logistik yang signifikan antara pihak-pihak yang bertikai. Konfrontasi kedua belah pihak pun berlangsung. Mereka belum sampai ke pengadilan; mereka baru beradu opini, meskipun sudah saling menjatuhkan. Kekuatan RRT mulai berjatuhan. Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis memilih berdamai; mereka pun sowan ke Istana Jokowi. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi keduanya akhirnya berdamai. Damai dan Egi pun lepas dari status tersangka dan memperoleh RJ (restorative justice). Giliran RRT diserang di jantungnya. Orang yang paling vokal dengan klaim “11.000 persen” menjadi sasaran. Andi Azwan, yang dikenal sebagai Ketua Umum Jokowi Mania (Joman), mengeluarkan jurus barunya—jurus yang dianggap jitu dan membuat Rismon Hasiholan Sianipar terkapar. Tuduhan ijazah palsu dibalas dengan tuduhan serupa: Rismon dilaporkan bahwa ijazah S-2 dan S-3-nya palsu, bahkan disebut-sebut membuat surat kematian palsu pula. Langkah Andi Azwan ini benar-benar membuat Rismon Hasiholan Sianipar goyah. Pijakannya terasa runtuh sehingga ia mengajukan RJ ke Polda dan sowan, menyampaikan tabik, serta memohon maaf kepada Jokowi di Solo. Konon kabarnya, tabik Rismon yang sudah terkapar itu tidak diterima. Jika informasi bahwa permintaan maafnya ditolak benar adanya, maka pepatah lama tampaknya tepat: untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak—mengharapkan burung punai yang terbang, pungguk di tangan dilepaskan; sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sesungguhnya, bila Rismon merasa 11.000 persen bahwa ijazah Jokowi palsu dan meyakini bahwa ijazah SMA Gibran Rakabuming Raka atau yang setara tidak ada, mengapa harus takut ketika ijazah S-2 dan S-3-nya digugat? Rocky Gerung kerap disebut profesor. Namun ketika sebutan itu diserang, ia mengakui bahwa dirinya hanya memiliki gelar S-1. Publik hingga saat ini masih mengakui kepakarannya. Ia pun masih menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi ternama, meskipun sebutan profesor baginya berhasil dirontokkan oleh para lawannya. Ada satu hal yang harus diingat oleh para penulis Jokowi’s White Paper, terutama Rismon: tulisan kalian telah tersebar luas, dan ahli digital forensik bukan hanya Anda. Masih banyak peneliti lain yang dapat menilai apakah tulisan tersebut akurat atau justru penuh rekayasa. Sebagai peneliti, setidaknya kalian harus memasukkan data-data standar sehingga, ketika penelitian terus berkembang (ongoing), informasi atau data baru tidak serta-merta menegasikan temuan sebelumnya. Biasanya, data baru justru memperkuat temuan lama atau melahirkan variabel baru. Kepada Roy dan Tifa, kalian harus benar-benar sadar siapa lawan kalian. Siapa saja yang telah masuk penjara karena mempersoalkan ijazah tersebut? Ingatlah sejarah perang ketika Raden Wijaya melawan bala tentara Mongol yang datang pada tahun 1293. Kekuatan besar itu berhasil dihancurkan dan diusir dari bumi pertiwi. Atau jauh sebelumnya, pada zaman Muhammad, ketika beliau menghadapi kekuatan besar suku Quraisy. Keyakinan akan kebenaran perjuangan itulah yang pada akhirnya memenangkan mereka, karena kebenaran diyakini berada di pihak Tuhan, Allah Swt. Sesungguhnya kebenaran itulah kekuatan terbesar. Jokowi pernah mengatakan ada kekuatan besar di belakang RRT. Pernyataan Jokowi itu bisa saja benar apabila penelitian yang dilakukan RRT dilandasi keinginan menegakkan kebenaran, kejujuran, dan keadilan di negeri ini. Teruslah berjuang jika kalian merasa berada di jalan yang benar, karena Tuhan menyertai kalian. (*)
Pengaruh Penutupan Selat Hormuz terhadap Keamanan Energi Global
Oleh: Meidia Pratama | Pengamat Politik dan Keamanan Internasional PERANG antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat telah berlangsung lebih dari satu minggu. Kedua belah pihak masih saling melancarkan serangan. Iran memiliki posisi geografis yang relatif menguntungkan dalam konflik ini, bukan hanya karena menyulitkan lawan melakukan invasi darat, tetapi juga karena kemampuannya memengaruhi kondisi suplai energi global. Selat Hormuz merupakan celah sempit (chokepoint) di Teluk Persia yang menjadi jalur utama transportasi minyak dan gas bagi pasokan energi global. Diperkirakan sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia melewati selat tersebut. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran tentu akan sangat memengaruhi pasokan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak dunia saat ini melonjak hingga mencapai sekitar US$100 per barel, dari sebelumnya yang berkisar US$60 per barel. Peningkatan harga minyak ini direspons oleh sejumlah negara dengan tingkat kekhawatiran yang tinggi serta menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian global. Diperkirakan Selat Hormuz dilintasi sekitar 100–144 kapal setiap hari. Dengan demikian, dalam satu tahun terdapat sekitar 30.000–33.000 kapal yang melintasi celah sempit ini. Kapal-kapal tersebut terdiri atas kapal tanker minyak yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak per hari, kapal kontainer, serta kapal kargo curah (bulk carrier). Perang yang saat ini dihadapi Iran melawan Israel dengan dukungan Amerika Serikat memosisikan Selat Hormuz dalam kerangka geostrategi. Penguasaan Iran atas wilayah tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengganggu lalu lintas minyak dunia. Ancaman Iran untuk menutup selat itu telah memicu gejolak harga minyak dunia sekaligus menimbulkan ancaman terhadap keamanan energi global. Keamanan global dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai kondisi stabil dan damai dari berbagai ancaman yang berpotensi mengganggu stabilitas politik, ekonomi, serta kelangsungan hidup masyarakat internasional. Ketidakstabilan pasar energi, potensi krisis energi, dan gangguan jalur perdagangan akibat penutupan Selat Hormuz memicu respons dari hampir seluruh negara di dunia, terutama di Amerika Utara, Asia, dan Eropa.Tiongkok merupakan negara terbesar yang mengandalkan impor minyak dari Iran, disusul oleh India, Jepang, dan Korea Selatan. Selain itu, Rusia juga meningkatkan harga gas sebagai dampak dari ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah. Sejumlah fasilitas energi di kawasan tersebut turut terdampak konflik. Kilang-kilang minyak di Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain tidak luput dari serangan Iran. Perusahaan minyak Saudi Aramco sempat menghentikan sementara produksi setelah serangan drone Iran yang merusak kilang Tanura. Demikian pula QatarEnergy yang menghentikan produksi liquefied natural gas (LNG) setelah serangan drone terhadap fasilitas energi di Ras Laffan dan Mesaieed. Bahkan ExxonMobil, perusahaan energi besar asal Amerika Serikat, memutuskan mengurangi operasinya serta mengevakuasi pegawai di Timur Tengah dengan alasan keamanan dan gangguan di Selat Hormuz. Chevron juga menghentikan produksi di ladang gas Leviathan di Israel. Perusahaan lain yang turut menghentikan produksi sebagai langkah pencegahan antara lain DNO, Gulf Keystone Petroleum, dan Dana Gas. Sejumlah fasilitas energi strategis juga ditutup akibat gangguan serangan rudal dan drone selama konflik berlangsung. Terminal LNG Ras Laffan di Qatar, terminal ekspor minyak Al-Basra di Irak, terminal minyak Fujairah di Uni Emirat Arab, serta kilang Sitra di Bahrain dilaporkan telah menghentikan operasinya. Dalam menghadapi kondisi yang tidak menentu seperti ini, salah satu faktor utama yang memicu gangguan stabilitas energi global adalah serangan Israel yang didukung Amerika Serikat terhadap Iran. Serangan tersebut memicu tindakan balasan Iran terhadap pangkalan militer dan aset-aset Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk fasilitas energi dan kilang minyak di berbagai wilayah. Oleh karena itu, konflik yang berlangsung antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga memicu reaksi internasional yang luas. Banyak negara menilai eskalasi konflik tersebut sebagai salah satu sumber utama ketegangan yang berpotensi menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Saat ini Amerika Serikat dan Israel tidak hanya mendapatkan perhatian dari masyarakat internasional, tetapi juga menghadapi tekanan dari berbagai pihak, termasuk para pemimpin negara di dunia serta dinamika politik domestik di kedua negara tersebut. (*)
Politik Bebas Aktif yang Lincah dalam Ruang Board of Peace
Oleh Fadhil As. Mubarok | Chairman of Mubarok Institute DIPLOMASI Jaipongan merupakan bentuk geostrategi smart power. Indonesia menyadari bahwa secara militer kita mungkin tidak sekuat para pemain utama. Namun, secara geopolitik posisi Indonesia sangat penting. Dengan “menari” di antara kepentingan kekuatan besar, Indonesia berusaha memastikan bahwa kepentingan nasional—terutama stabilitas ekonomi dan prinsip internasional berupa kemerdekaan Palestina—tetap terjaga tanpa harus menjadi martir dalam konflik pihak lain. Diplomasi Jaipongan sebagai Strategi Indonesia dalam Board of Peace Istilah Diplomasi Jaipongan yang disampaikan oleh KH Marsudi Syuhud, Wakil Ketua Umum MUI, merupakan perumpamaan untuk menggambarkan strategi politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, tetapi tetap lincah serta taktis dalam menghadapi kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat. Saya melihat bahwa maksud dari diplomasi tersebut, berdasarkan narasi yang disampaikan, adalah kelincahan dalam menjaga jarak—seperti gerakan tari jaipong yang dinamis. Indonesia harus pintar menarik langkah agar tidak terinjak ketika berada dekat dengan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, tetapi juga harus berani menangkis atau bersikap tegas jika ditekan atau diserang dari jauh. Diplomasi Jaipongan memanfaatkan celah diplomasi. Marsudi Syuhud menekankan bahwa Indonesia tidak bisa hanya diam atau sekadar mengutuk keadaan. Diplomasi Jaipongan berarti berani masuk ke dalam forum-forum strategis seperti Board of Peace untuk mencari peluang sekecil apa pun demi kemerdekaan Palestina dan perdamaian dunia, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi penonton. Dalam realitas geopolitik, istilah ini juga merujuk pada kesadaran akan keterbatasan kekuatan militer dan ekonomi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara besar. Oleh karena itu, Indonesia perlu menggunakan seni diplomasi yang lentur agar tetap mampu memperjuangkan kepentingan nasional dan kemanusiaan tanpa harus terjepit dalam konflik antarnegara besar.Cara berpikir positif terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo adalah dengan memahami bahwa bangsa Indonesia perlu berprasangka baik kepada presiden yang sedang memainkan “tarian diplomasi” ini—yakni masuk ke dalam sistem untuk mencoba mengubah atau memengaruhi keadaan dari dalam. Selama masih ada harapan bagi perdamaian, Indonesia harus berani memberikan nilai tawar. Secara substantif, Diplomasi Jaipongan dapat dipahami sebagai analogi diplomasi yang cerdik, taktis, dan fleksibel agar Indonesia tidak mudah didikte oleh pihak mana pun dalam dinamika geopolitik global yang kompleks. Diplomasi sebagai Instrumen Geopolitik dan Geostrategi yang Lincah Secara geopolitik, posisi Indonesia berada di persilangan kepentingan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara-negara di Timur Tengah. Oleh karena itu, Diplomasi Jaipongan bermakna bahwa Indonesia tidak boleh kaku atau statis. Jika dikaitkan dengan geopolitik dan geostrategi, konsep diplomasi ini menggambarkan strategi adaptif Indonesia dalam menghadapi pergeseran kekuatan dunia. Ketika Indonesia memutuskan untuk masuk ke forum yang didominasi Amerika Serikat, yaitu Board of Peace, hal itu merupakan langkah geopolitik untuk berada di dalam lingkaran pengambilan keputusan. Tujuannya agar suara Indonesia—terutama mengenai kemerdekaan Palestina—dapat didengar langsung oleh para pemain kunci, bukan sekadar menjadi penonton di luar sistem yang tidak memiliki pengaruh. Dengan demikian, ketahanan nasional di tengah konflik global sangat berkaitan dengan geostrategi. Geostrategi merupakan cara suatu negara menggunakan posisi geografisnya untuk mencapai tujuan nasional. Perlu dipahami bahwa konflik di wilayah yang jauh, seperti di Selat Hormuz (Iran), dapat berdampak langsung pada Indonesia, misalnya melalui krisis energi atau kenaikan harga yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi nasional. Dalam konteks ini, Diplomasi Jaipongan berfungsi sebagai perisai geostrategis. Indonesia harus lincah bergerak mendekat untuk bernegosiasi agar kepentingan ekonomi dan energi tetap aman, tetapi juga harus siap menarik diri atau bersikap tegas apabila kedaulatan serta prinsip kemanusiaan mulai ditekan oleh kekuatan besar tersebut. Implementasi Politik Bebas Aktif yang Pragmatis Dalam implementasi politik bebas aktif yang pragmatis, konsep ini menegaskan kembali doktrin politik luar negeri Indonesia di hadapan dunia internasional. Bebas berarti Indonesia tidak terikat pada blok mana pun sehingga memiliki fleksibilitas untuk bergerak di antara pihak-pihak yang bertikai.Aktif berarti Indonesia turut serta mencari solusi bagi perdamaian dunia. Analogi Jaipongan menekankan bahwa dalam geostrategi modern, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan militer yang terbatas—seperti yang sering disinggung dalam perbandingan alutsista—melainkan harus mengandalkan kecerdikan dalam bernegosiasi untuk menjaga stabilitas kawasan dan kepentingan nasional. Manajemen Risiko dalam Hubungan Internasional Dalam konteks manajemen risiko hubungan internasional, Diplomasi Jaipongan mengakui adanya kemungkinan “terinjak” atau “ditimpuk” oleh negara adidaya. Oleh karena itu, geostrategi Indonesia harus memiliki strategi keluar (exit strategy). Jika dalam jangka waktu tertentu—misalnya tiga tahun—keterlibatan Indonesia dalam suatu forum tidak memberikan hasil nyata bagi perdamaian atau justru merugikan kepentingan nasional, maka Indonesia harus lincah menarik diri dan mencari jalur diplomasi lain. Hal ini penting agar Indonesia tidak ikut terdampak konflik di Selat Hormuz yang berpotensi mengancam ketahanan energi nasional, sebagaimana sering disinggung dalam diskusi para pengamat politik, hukum, dan sosial. Selat Hormuz sebagai Nadi Energi Dunia Dampak konflik di Selat Hormuz terhadap Indonesia merupakan contoh nyata bagaimana geopolitik global dapat langsung memengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, terutama dalam hal ketahanan energi dan stabilitas ekonomi. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling vital di dunia untuk pengiriman minyak. Sekitar 20–30 persen pasokan minyak mentah dunia melewati selat sempit yang memisahkan Iran dan Oman ini. Jika terjadi eskalasi militer, jalur tersebut dapat terganggu atau bahkan ditutup. Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi ancaman langsung karena sebagian besar impor minyak mentah dan bahan bakar minyak berasal dari kawasan Timur Tengah atau melalui jalur perdagangan yang dipengaruhi stabilitas wilayah tersebut. Gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak dunia secara drastis sehingga membebani APBN melalui peningkatan subsidi energi. Jika pasokan bahan bakar bagi pembangkit listrik terganggu atau harganya melonjak tajam, risiko pemadaman listrik bergilir maupun kenaikan tarif listrik menjadi sangat nyata. Situasi tersebut dapat memicu inflasi berantai karena energi merupakan motor penggerak ekonomi. Kenaikan harga BBM akan diikuti oleh kenaikan harga bahan pokok dan biaya transportasi, yang pada akhirnya dapat memicu ketidakstabilan sosial dan ekonomi. Di sinilah relevansi Diplomasi Jaipongan. Indonesia tidak bisa hanya diam ketika terjadi konflik antara Iran, Israel, atau Amerika Serikat karena dampaknya sangat lokal bagi perekonomian nasional. Indonesia harus menggunakan posisinya untuk menyerukan deeskalasi atau penurunan ketegangan di forum-forum internasional. Secara geostrategis, Indonesia juga perlu mencari sumber energi alternatif atau mitra dagang baru agar tidak sepenuhnya bergantung pada stabilitas satu jalur perdagangan di Selat Hormuz. Menjaga Keseimbangan Hubungan Internasional Dalam konteks hubungan Amerika Serikat dan Iran, Indonesia mencoba menyeimbangkan kepentingan melalui keterlibatan dalam Board of Peace sekaligus menjaga hubungan baik dengan Iran. Indonesia memahami bahwa jika kedua negara tersebut terlibat dalam konflik terbuka, dampaknya terhadap ekonomi domestik bisa sangat besar. Oleh karena itu, diplomasi Indonesia diarahkan untuk menjaga stabilitas global agar sistem ekonomi dunia tetap berjalan. Pada akhirnya, untuk memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak di Timur Tengah—terutama konflik di Selat Hormuz—Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis sebagai wujud nyata Diplomasi Jaipongan dan geostrategi nasional. Melalui langkah-langkah tersebut, Indonesia tidak hanya “menari” secara diplomatis untuk mendorong perdamaian, tetapi juga membangun benteng ketahanan di dalam negeri. Jika geostrategi ini berjalan dengan baik, maka lampu di Indonesia akan tetap menyala, meskipun dinamika geopolitik di Selat Hormuz sedang memanas. (*)
EDITORIAL
NAMA Rismon Sianipar pernah melesat ke ruang publik seperti meteor: tiba-tiba muncul, terang benderang, lalu membuat banyak orang menengadah dengan rasa heran. Ia bukan pejabat, bukan tokoh besar, hanya seorang yang datang dengan keberanian retorika yang meluap-luap. Dengan modal suara lantang dan keyakinan yang tampak tak tergoyahkan, ia menantang siapa saja—dari Kapolri hingga Presiden Joko Widodo. Publik pun terbelah antara takjub dan geli. Ada yang melihatnya sebagai simbol keberanian, ada pula yang menilainya sekadar fenomena “mulut lebih cepat daripada akal”. Namun satu hal yang tak terbantahkan: keberanian verbal itu sempat menciptakan sensasi. Ia tampak seperti sosok yang, meminjam istilah orang kampung, sudah kehilangan rasa takut. Urat takutnya sudah putus. Sayangnya, panggung keberanian itu rupanya tidak bertahan lama. Belum genap satu tahun, arah cerita berubah drastis. Sosok yang dahulu memuntahkan sumpah serapah kepada kekuasaan mendadak melunak. Ludah yang pernah disemprotkan dengan penuh emosi kini seperti diseruput kembali—perlahan, hati-hati, bahkan tampak dinikmati. Di sinilah drama klasik manusia kembali dipentaskan. Dalam teori perjuangan, penderitaan sering disebut sebagai bahan bakar perlawanan. Namun dalam praktik kehidupan nyata, penderitaan sering berubah menjadi alat seleksi: siapa yang benar-benar teguh, dan siapa yang sekadar singgah di panggung keberanian. Negara selalu menjadi arena paradoks. Ia membutuhkan pahlawan untuk menjaga idealisme, tetapi juga menyediakan karpet merah bagi pragmatisme. Banyak orang memulai perjalanan dengan teriakan moral, tetapi mengakhiri langkahnya dengan kompromi yang sangat rasional. Sejarah menunjukkan bahwa kepahlawanan bukan soal seberapa keras seseorang berteriak di awal perlombaan, melainkan seberapa lama ia mampu bertahan di lintasan. Sebab dalam maraton moralitas, godaan terbesar bukanlah kekalahan, melainkan tawaran untuk berhenti dengan imbalan kenyamanan. Maka kisah ini sebenarnya bukan hanya tentang satu orang. Ia adalah cermin kecil dari penyakit besar dalam kehidupan publik: keberanian yang mudah diproduksi, tetapi sulit dipertahankan. Banyak orang bersedia menantang dunia ketika risiko masih terasa jauh. Namun ketika konsekuensi mulai mendekat—entah kehilangan uang, kebebasan, atau kenyamanan—keberanian sering mendadak lumpuh. Dan di tengah semua itu, publik hanya bisa menyaksikan satu pertanyaan lama yang terus berulang dalam sejarah manusia: ketika kebenaran menuntut harga yang mahal, apakah seseorang tetap berdiri tegak—atau justru duduk tenang di atas parcel kenyamanan? (*)
READ MOREPOPULER
BERITA TERKINI