BERITA TERBARU
POLITIK
PURWOKERTO, FNN – Tragedi gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon memicu reaksi keras dari kalangan akademisi. Vice President of Mubarok Institute Prof. Dr. Sulkhan Chakim, MM, mendesak pemerintah untuk meninjau ulang posisi diplomatik Indonesia di kancah internasional. Dalam pernyataan persnya, Rabu (1/4), Prof. Sulkhan menegaskan bahwa serangan proyektil artileri yang menghantam pos Kontingen Garuda dan konvoi logistik di Lebanon merupakan pelanggaran besar terhadap hukum internasional. \"Peristiwa ini bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan tamparan bagi kedaulatan internasional. PBB telah diserang, dan ini merupakan pelanggaran besar secara global. Di titik ini, peran politik bebas aktif kita dipertanyakan, terutama terkait jaminan keamanan pasukan TNI yang bertugas di luar negeri,\" ujar Prof. Sulkhan. Menurutnya, insiden yang merenggut nyawa Praka Farizal Rhomadhon dan dua rekan lainnya menunjukkan rapuhnya koordinasi keamanan di wilayah konflik, meskipun Indonesia terlibat dalam berbagai forum perdamaian. Lebih lanjut, Prof. Sulkhan menyoroti keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP), sebuah lembaga bentukan Donald Trump yang mempertemukan Indonesia dan Israel di satu meja. Ia menilai forum tersebut tidak memberikan perlindungan nyata bagi prajurit Indonesia di lapangan.\"Ini menjadi alasan penting bagi Indonesia untuk segera keluar dari Board of Peace. Forum tersebut tidak memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang jelas terhadap peran Dewan Keamanan PBB. Kita melihat adanya standar ganda yang nyata dari Donald Trump dalam mengelola perdamaian ini,\" tegasnya. Ia mengingatkan agar pemerintah tetap memegang teguh prinsip kedaulatan dalam menentukan arah kebijakan luar negeri tanpa harus terikat pada organisasi yang justru merugikan kepentingan nasional.\"Indonesia harus berdaulat penuh secara geopolitik dan geostrategi. Kita tidak boleh terjebak dalam diplomasi yang justru menempatkan prajurit kita dalam risiko tinggi tanpa adanya kepastian hukum dan perlindungan internasional yang kuat,\" tutup Prof. Sulkhan. Gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon ini memang tengah menjadi sorotan nasional, memicu desakan dari berbagai pihak agar pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomatik yang lebih tegas terhadap Israel serta meninjau ulang keterlibatan dalam aliansi internasional yang dianggap paradoks.(*)
READ MOREHUKUM
JAKARTA, FNN - Penggunaan anggaran untuk pengadaan CCTV di lingkungan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta menjadi sorotan tajam. Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai belanja tersebut perlu diaudit dan diselidiki aparat penegak hukum. Menurut Uchok, Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, M. Fajar Sauri, bahkan dijuluki sebagai “Bapak CCTV” karena dinilai rutin mengalokasikan anggaran besar untuk pembelian perangkat tersebut setiap tahun. “Seolah-olah setiap tahun selalu memborong CCTV. Bahkan mungkin satu hari sebelum kiamat pun tetap membeli CCTV,” ujar Uchok dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026). Ia memaparkan, pada tahun 2026 anggaran yang digelontorkan untuk pengadaan CCTV mencapai sekitar Rp2,4 miliar. Sementara pada 2025, anggaran yang terserap sebesar Rp2,2 miliar, dan pada 2024 mencapai Rp846 juta lebih. Jika ditotal selama tiga tahun terakhir, kata Uchok, anggaran yang digunakan untuk pengadaan CCTV oleh dinas tersebut mencapai sekitar Rp5,5 miliar. “Anggaran sebesar itu perlu diaudit secara menyeluruh dan diselidiki,” tegasnya. CBA pun meminta aparat penegak hukum, khususnya Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, untuk segera mengambil langkah. Uchok mendesak agar M. Fajar Sauri dipanggil guna memberikan penjelasan terkait penggunaan anggaran tersebut. Selain itu, Uchok juga membuka kemungkinan pemanggilan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, jika dianggap diperlukan dalam proses penyelidikan. “Kalau perlu, Gubernur juga bisa dimintai keterangan,” pungkasnya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta terkait tudingan tersebut.
READ MOREEKONOMI
JAKARTA, FNN [13 Maret 2026] – Dalam semangat berbagi di bulan suci Ramadan, Akulaku kembali bersinergi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS RI) menghadirkan berbagai program sosial bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk pelatihan keterampilan bagi anak-anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Jakarta. Kolaborasi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan CSR Ramadan 2026 yang diinisiasi bersama oleh Akulaku Group dan BAZNAS RI. Salah satu inisiatif yang diselenggarakan pada Ramadan kali ini adalah dengan memberikan pelatihan keterampilan sablon bagi anak-anak binaan, yang bertujuan memberikan bekal keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan sebagai modal kemandirian di masa depan. Direktur Teknologi Informasi PT Akulaku Finance Indonesia, Edy Salim, mengatakan program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus berkontribusi positif kepada masyarakat, khususnya melalui kegiatan sosial yang dapat memberikan dampak nyata. “Ramadan adalah momentum untuk memperkuat kepedulian dan berbagi dengan sesama. Melalui kolaborasi bersama BAZNAS RI, bantuan yang disalurkan diharapkan tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, M.A, mengatakan bahwa kegiatan ini bagian dari upaya BAZNAS menghadirkan program Ramadan yang tidak hanya bersifat bantuan konsumtif, tetapi juga berorientasi pada pemberdayaan. “Melalui program ini kami ingin menghadirkan kebahagiaan Ramadan sekaligus memberikan keterampilan yang bermanfaat bagi masa depan mereka”. Sementara itu, Kepala Divisi Pendayagunaan, Layanan UPZ dan CSR BAZNAS RI, Ajat Sudrajat, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi BAZNAS dan Akulaku dalam menyalurkan berbagai program sosial selama Ramadan. “Hari ini kita melaksanakan program Hidangan Berkah Ramadan berupa pembagian hidangan berbuka puasa, mulai dari takjil hingga makanan utama bagi anak-anak binaan”. Kepala Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Jakarta, Syaikoni, turut menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan kepada anak-anak binaan di lembaganya. “Kami sangat berterima kasih kepada BAZNAS RI dan Akulaku Group atas dukungan serta perhatian yang diberikan kepada anak-anak binaan di LPKA Jakarta”. Salah satu anak binaan berinisial RAPO (16) mengaku senang dapat mengikutikegiatan tersebut. “Saya senang sekali mengikuti acara ini karena kami bisa belajar menyablon dan mengetahui perbedaan sablon digital dan manual. Terima kasih kepada BAZNAS dan Akulaku Group yang sudah datang dan berbagi dengan kami”. Akulaku Group berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai inisiatif sosial yang tidak hanya bersifat bantuan jangka pendek, tetapi juga memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya dalam aspek kesejahteraan dan pemberdayaan. (*)
READ MORENASIONAL
Jakarta, Liranews.com l Mubarok Institute menggelar diskusi interaktif dan simposium Ramadhan bertajuk “Menyikapi Dinamika Politik Global dalam Perspektif Geostrategi dan Geopolitik Indonesia, ” pada Sabtu, 14 Maret 2026 di Resto Batik Kuring SCBD, Jakarta. Hadir puluhan tokoh nasional seperti Dewan Pengarah BRIN, Marsudi Wahyu Kisworo, Komisaris PT MRT Jakarta Leles Sudarmanto, para pebisnis dan pelaku usaha di Jakarta. Forum ini membahas posisi strategis Indonesia di tengah dinamika geopolitik global sekaligus menekankan pentingnya integritas moral dalam kepemimpinan nasional. Vice President Mubarok Institute, Sulkhan Chakim, menegaskan lembaganya berkomitmen menjadi mitra strategis perguruan tinggi di Indonesia serta memfasilitasi sinergi antara kampus, pemerintah, dan sektor swasta. Ia juga menilai forum Ramadhan menjadi momentum refleksi bagi peran Indonesia dalam menjaga stabilitas politik global. Lebih jauh Sulkhan menyatakan bahwa Indonesia berada pada fase penting diplomasi global sehingga paradigma politik luar negeri Bebas Aktif perlu diimplementasikan secara lebih substantif untuk melindungi kepentingan nasional. Simposium tersebut juga menekankan tiga agenda strategis, yakni redefinisi geopolitik nasional, penguatan integrasi infrastruktur dan ekonomi, serta kemandirian pangan dan energi untuk menghadapi krisis global. Menurut Sulkhan, saat ini Indonesia berpotensi menjadi kekuatan alternatif di panggung internasional, dengan syarat memperkuat integritas kepemimpinan dan penegakan hukum tanpa pandang bulu. Melalui forum ini, Mubarok Institute berharap lahir rekomendasi strategis bagi pemerintah guna menjaga stabilitas nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah global. Kepada kampus kampus di seluruh Indonesia, Sulkhan berharap secara proaktif memberikan masukan kepada Presiden Prabowo dalam merespons situasi terkini keadaan bangsa kita (*)
READ MOREINTERNASIONAL
PURWOKERTO, FNN – Tragedi gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon memicu reaksi keras dari kalangan akademisi. Vice President of Mubarok Institute Prof. Dr. Sulkhan Chakim, MM, mendesak pemerintah untuk meninjau ulang posisi diplomatik Indonesia di kancah internasional. Dalam pernyataan persnya, Rabu (1/4), Prof. Sulkhan menegaskan bahwa serangan proyektil artileri yang menghantam pos Kontingen Garuda dan konvoi logistik di Lebanon merupakan pelanggaran besar terhadap hukum internasional. \"Peristiwa ini bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan tamparan bagi kedaulatan internasional. PBB telah diserang, dan ini merupakan pelanggaran besar secara global. Di titik ini, peran politik bebas aktif kita dipertanyakan, terutama terkait jaminan keamanan pasukan TNI yang bertugas di luar negeri,\" ujar Prof. Sulkhan. Menurutnya, insiden yang merenggut nyawa Praka Farizal Rhomadhon dan dua rekan lainnya menunjukkan rapuhnya koordinasi keamanan di wilayah konflik, meskipun Indonesia terlibat dalam berbagai forum perdamaian. Lebih lanjut, Prof. Sulkhan menyoroti keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP), sebuah lembaga bentukan Donald Trump yang mempertemukan Indonesia dan Israel di satu meja. Ia menilai forum tersebut tidak memberikan perlindungan nyata bagi prajurit Indonesia di lapangan.\"Ini menjadi alasan penting bagi Indonesia untuk segera keluar dari Board of Peace. Forum tersebut tidak memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang jelas terhadap peran Dewan Keamanan PBB. Kita melihat adanya standar ganda yang nyata dari Donald Trump dalam mengelola perdamaian ini,\" tegasnya. Ia mengingatkan agar pemerintah tetap memegang teguh prinsip kedaulatan dalam menentukan arah kebijakan luar negeri tanpa harus terikat pada organisasi yang justru merugikan kepentingan nasional.\"Indonesia harus berdaulat penuh secara geopolitik dan geostrategi. Kita tidak boleh terjebak dalam diplomasi yang justru menempatkan prajurit kita dalam risiko tinggi tanpa adanya kepastian hukum dan perlindungan internasional yang kuat,\" tutup Prof. Sulkhan. Gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon ini memang tengah menjadi sorotan nasional, memicu desakan dari berbagai pihak agar pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomatik yang lebih tegas terhadap Israel serta meninjau ulang keterlibatan dalam aliansi internasional yang dianggap paradoks.(*)
READ MOREDAERAH
Samarinda, FNN - Sengketa Tanah seluas 2 ha di tepi Jl HM Ardans Samarinda Kalimantan Timur terus bergulir. Pihak perusahaan, yakni PT Sumber Mas Timber ingkar memenuhi janjinya. Hasil mediasi di PN Samarinda antara PT Sumber Mas Timber dengan ahli waris La Singga berakhir buntu. Pihak PT Sumber Mas hanya akan memberikan uang kerokhiman sebesar Rp 300 juta. \"Kami tolak uang itu karena syaratnya berat sekali, yaitu semua dokumen asli, diminta oleh perusahaan,\" kata Wandora kepada wartawan, Kamis.12 Maret 2026 di PN Samarinda. Pengakuan Wandora dibenarkan oleh penasihat hukumnya, Rustani, SH.,MH. \"Jelas kami tolak, sebabpersyaratan terlalu berat. Klien kami disuruh menyerahkan surat segel asli, surat hibah asli, dan surat INPN. Tak hanya itu, klien kami disuruh membuat pernyataan tertulis bahwa lahan tersebut bukan milik La Singga,\" kata Rustani. Semua surat itu kata Rustani, harus diserahkan kepada PT Sumber Mas Timber. Setelah itu baru uang kerohiman 300 juta diberikan. Menurut Rustani, tawaran itu tidak adil dan tidak masuk akal. Lahan seluas 2 Ha milik keluarga La Singga, (orang tua Wandora), kok cuma mau diganti Rp 300 juta. Sementara dalam perjanjian awal kata Rustani uang kerokhiman itu untuk mengganti tanam tumbuh dan rumah yang sudah dihancurkan oleh PT Sumber Mas. \" Ini jelas menyalahi komitmen dan kami menolaknya,\" paparnya. Namun demikian, perdamaian masih terbuka, mana kala pihak perusahaan menjaga komitmen dengan baik. Wandora menyatakan kalau perusahaan bersedia membayar ganti rugi yang disepakati, pihaknya siap keluar dari lokasi dan PT Sumber Mas bisa menguasainya. \"Dokumen yang diminta juga akan kami serahkan kepada PT Sumber Mas. Keluarga meminta uang ganti rugi total keseluruhan sebesar Rp 5 miliar. Jika ini disepakati, keluarga La Singga tidak akan mengungkit lagi persoalan lahan di jalan Ring Road Samarinda tersebut,\" kata Wandora. Bagi Wandora, angka tersebut tidak sebanding dengan apa yang telah hilang: rumah, tanah warisan, mata pencaharian, dan rasa aman. “Klien kami kehilangan segalanya. Nilai itu sangat tidak layak,” tegas kuasa hukum Wandora, Rustani. Pihak keluarga tetap menuntut ganti rugi yang setidaknya bisa untuk berteduh, modal jualan, dan bayar utang. Di atas lahan yang kini disengketakan, Wandora masih bertahan. Bukan di rumah, melainkan di bedeng sederhana di tepi Jalan H.M. Ardans, Samarinda, Kalimantan Timur. Di situlah ia menjalani hari-harinya bersama puluhan anak cucunya sejak penggusuran meratakan tempat tinggalnya. Tanah seluas 2 hektare itu diyakini sebagai milik keluarga besarnya berdasarkan surat surat yang dimilikinya. Ia mengaku sudah puluhan tahun tinggal di lokasi itu dan tidak pernah menjualnya. Namun, putusan pengadilan berujung eksekusi yang membuatnya kehilangan segalanya. “Saya hanya ingin hak saya kembali,” ujarnya lirih. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain bertahan di lokasi sengketa. Upaya hukum telah ditempuh. Wandora menggugat PT Sumber Mas Timber melalui perkara Nomor 254/Pdt.G/2025/PN.SMR, dengan dasar kepemilikan surat hibah tertanggal 30 September 2022. Di sisi lain, perusahaan menyatakan telah memenangkan perkara hingga berkekuatan hukum tetap dan mengklaim sebagai pemilik sah lahan tersebut. Akhirnya terjadilah upaya perdamaian di meja mediasi. Sayang mediasi gagal mencapai kesepakatan. Langkah berikutnya kata Rustani adalah pengajuan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung.(*)
READ MORELINGKUNGAN
OPINI
Logika Tajam dan Realistis untuk Membaca Board of Peace (BoP)
Oleh Fadhil As. Mubarok | Chairman of MUBAROK INSTITUTE MEMBAYANGKAN sebuah organisasi internasional di mana Donald Trump menunjuk dirinya sendiri sebagai ketua seumur hidup lengkap dengan hak veto atas keputusan anggota, memang terdengar lebih seperti klub eksklusif daripada lembaga multilateral tradisional. Apalagi dengan kehadiran Israel di dalamnya, skeptisisme bahwa anggota lain hanya akan menjadi penonton atau pengikut adalah kekhawatiran yang sangat beralasan. Namun, jika kita membedah langkah diplomasi yang sedang diambil Indonesia dalam konteks Board of Peace (BoP) ini, ada permainan catur yang lebih kompleks daripada sekadar tunduk pada keinginan Trump dan Israel. Program Reciprocal Trade sebagai Timbal Balik Ada dimensi ekonomi yang sangat pragmatis di sini. Program ini bukan sekadar soal Palestina, tapi juga soal memperkuat ekonomi domestik melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat. Hal ini merupakan metode transaksional yang disukai Trump. Indonesia memberikan dukungan pada inisiatif perdamaiannya dan imbalannya adalah akses pasar yang lebih luas untuk komoditas Indonesia serta pengurangan tarif. Demikian ini menjadi cara mengunci kepentingan Trump lewat keuntungan ekonomi yang dia dambakan. Kemudian untuk membentuk blok penyeimbang di dalam, meskipun Trump adalah ketua BoP tetapi organisasi ini juga diisi oleh negara-negara seperti Arab Saudi, Turki, Qatar dan Yordania. Program diplomasi Indonesia adalah membangun koalisi dengan negara-negara Muslim ini untuk menciptakan suara kolektif. Apabila Indonesia berjuang sendirian, tentu akan sulit. Namun, jika blok ini bersatu menuntut solusi dua negara (Two-State Solution), Trump dan Israel tidak bisa mengabaikan mereka tanpa merusak legitimasi BoP itu sendiri di mata dunia internasional. 1. Exit Strategy sebagai Senjata Terakhir Presiden Prabowo secara terbuka menyatakan bahwa keterlibatan ini bukan tanpa syarat, jika BoP hanya menjadi alat hegemoni yang mengkhianati prinsip kemerdekaan Palestina, Indonesia memiliki program untuk Walk Out atau keluar. Ancaman penarikan pasukan secara masal akan menciptakan lubang keamanan yang fatal bagi proyek Trump tersebut. Inilah kartu AS Remi yang dipegang untuk memastikan suara Indonesia tetap didengar. 2. Strategi Boots on the Ground sebagai Leverage Trump mungkin punya kendali administratif, tetapi Indonesia menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara lain yaitu pasukan penjaga perdamaian (ISF). Dengan komitmen sekitar 8.000 hingga 10.000 personel TNI ke Gaza, Indonesia memegang kendali atas operasional di lapangan. Logikanya, tanpa keamanan di lapangan, rencana rekonstruksi Trump hanya akan menjadi tumpukan kertas. Indonesia menggunakan kehadiran fisik pasukannya sebagai alat tawar untuk memastikan bantuan kemanusiaan sampai kepada hak-hak warga Palestina yang tidak bisa diabaikan begitu saja. 3. Strategi Infiltrasi daripada Isolasi Metodenya adalah diplomasi inklusif dengan berada di dalam lingkaran setan tersebut, Indonesia bisa mendengar langsung rencana mereka dan melakukan intervensi secara dini. Menolak bergabung berarti kehilangan suara sama sekali. Dengan bergabung, Indonesia bisa menjadi \"rem\" atau setidaknya saksi mata yang bisa membocorkan jika ada agenda tersembunyi yang merugikan kedaulatan Palestina. Mengunci Trump dengan Bahasa Deal Ekonomi Donald Trump tidak bergerak berdasarkan nilai-nilai hak asasi manusia, melainkan berdasarkan keuntungan ekonomi dan citra politik sebagai The Deal Maker. Indonesia mengaitkan partisipasi di BoP dengan Agreement on Reciprocal Trade (ART). Indonesia memposisikan diri sebagai mitra dagang strategis yang bisa membantu Trump menekan defisit perdagangan AS. Trump tidak akan berani mendikte Indonesia secara semena-mena jika itu mengancam kesepakatan dagang yang menguntungkan konstituennya di Amerika. Indonesia menggunakan uang sebagai perisai politik. Monopoli keamanan di lapangan ISF sebagai rem, Israel mungkin punya teknologi militer, tetapi mereka memiliki krisis legitimasi dan keletihan pasukan di lapangan. Di sinilah International Security Forces (ISF) yang dipimpin Indonesia menjadi sangat krusial. Dengan menempatkan ribuan personel TNI di zona penyangga, Indonesia memegang kendali fisik atas akses bantuan kemanusiaan dan perlindungan sipil. Israel tidak bisa melakukan tindakan militer sepihak di area yang dijaga pasukan Indonesia tanpa memicu krisis internasional besar. Jadi, meskipun mereka \"mengarahkan\" kebijakan di atas meja, Indonesia yang \"memegang kunci pintu\" di lapangan. Ini adalah veto fisik yang jauh lebih efektif daripada veto di atas kertas. Aliansi gajah muslim sebagai blok penyeimbang, Indonesia tidak masuk sendirian. Strateginya adalah merangkul Arab Saudi, Qatar dan Turki untuk membentuk satu suara di dalam BoP. Trump dan Israel sangat membutuhkan dana dari negara-negara Teluk untuk membiayai rekonstruksi pasca-perang yang nilainya miliaran dolar. Indonesia berperan sebagai pemimpin moral dan intelektual dari blok ini. Jika Trump bertindak terlalu jauh, blok ini bisa mengancam untuk menarik pendanaan dan dukungan politik. Tanpa uang dari Arab dan legitimasi dari Indonesia, rencana \"perdamaian\" Trump akan runtuh dan ia akan terlihat gagal di mata dunia. Benteng Alternatif Dalam Diplomasi Infiltratif Dalam sosiologi politik ada istilah “Jika Saya Tidak Berada di Meja, Saya Berada di Menu”, dengan berada di dalam struktur BoP maka Indonesia memiliki akses langsung ke rancangan kebijakan sebelum diputuskan. Indonesia bisa melakukan sabotase diplomasi terhadap poin-poin yang merugikan Palestina sejak tahap draf awal. Jauh lebih mudah menggagalkan rencana licik dari dalam ruangan daripada berteriak protes dari luar pagar saat keputusan sudah diketok palu. Program kepastian hukum abolisi dan amnesti untuk memastikan proses ini tidak dipolitisasi di dalam negeri maupun internasional, Indonesia mendorong aspek kepastian hukum melalui mekanisme pemberian abolisi dan amnesti bagi pihak-pihak yang terlibat dalam rekonsiliasi. Hal ini adalah cara Indonesia memastikan bahwa perdamaian yang dihasilkan bukan sekadar kesepakatan politik sesaat, melainkan memiliki dasar hukum yang kuat dan diakui secara global. Kita tidak sedang bermimpi bisa mengubah watak Trump atau Israel, kita sedang mengikat kaki mereka dengan rantai kepentingan ekonomi dan kebutuhan keamanan lapangan. Dengan demikian ini merupakan permainan yang sangat pragmatis, Indonesia memberikan apa yang mereka butuhkan stabilitas dan \"win\" politik untuk mendapatkan apa yang kita inginkan kemerdekaan Palestina dan kedaulatan ekonomi. Tentu saja ini merupakan perjudian diplomatik tingkat tinggi dan bagaikan menari jaipongan. Risikonya nyata, terutama menghadapi tokoh yang licik seperti yang aaya sebutkan. Akan tetapi, pilihannya saat ini adalah mencoba mengarahkan badai dari dalam kapal atau hanya menonton dari pinggir pantai sementara badai itu menghantam semuanya. Menghadapi dua aktor kawakan yang sangat transaksional dan ideologis seperti Donald Trump dan Israel memang tidak bisa menggunakan retorika diplomasi normatif. Jika Indonesia masuk ke dalam Board of Peace (BoP) hanya bermodalkan doa dan harapan, tentu kita akan habis dimakan. Strategi yang sedang dimainkan ini sebenarnya adalah asymmetric leverage atau daya tawar asimetris.(*)
Kritik terhadap Momentum Pertemuan Bilateral Jepang–Amerika Serikat
Oleh Meidia Pratama | Pengamat Politik dan Keamanan Internasional PERTEMUAN bilateral antara Sanae Takaichi, Perdana Menteri Jepang, dan Donald Trump telah dilaksanakan pada 19 Maret 2026 di Washington, Amerika Serikat. Dalam pertemuan tersebut, Jepang mempertimbangkan untuk menjadi bagian dari sistem pertahanan rudal berlapis milik Amerika Serikat (Golden Dome Defense Missile System). Konsep Golden Dome merupakan cerminan peningkatan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat sebagai perlindungan dari negara-negara yang dianggap sebagai ancaman. Pada prinsipnya, sistem ini dirancang untuk menangkis serangan berskala besar dari negara-negara setara dengan menggunakan ribuan satelit yang dilengkapi sensor dan sistem pencegat. Sistem ini juga melibatkan pengerahan rudal hipersonik berkecepatan tinggi (hypersonic glide vehicle) yang mampu mencapai lebih dari lima kali kecepatan suara. Selain itu, sistem ini diperkuat dengan perlindungan yang menggunakan drone (unmanned aerial vehicle) serta dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Pengembangan rancangan sistem pertahanan ini dimulai melalui perintah eksekutif Donald Trump pada 27 Januari 2025. Namun, gagasan tersebut memiliki kemiripan dengan Inisiatif Pertahanan Strategis yang pernah diusulkan oleh Ronald Reagan pada tahun 1983.Rencana keterlibatan Jepang dalam sistem pertahanan ini tidak dapat dilepaskan dari dua hal utama. Pertama, hubungan kedua negara berkembang melalui kerja sama strategis yang disebut Quadrilateral Security Dialogue, yaitu kerja sama antara empat negara di kawasan Indo-Pasifik. Keempat negara tersebut adalah Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan India yang bertujuan memperkuat stabilitas keamanan, kerja sama ekonomi, serta keseimbangan kekuatan di kawasan. Kerja sama tersebut dimulai pada tahun 2007 dan digagas oleh Shinzo Abe, mantan Perdana Menteri Jepang. Kedua, adanya ancaman regional dari Cina yang berkaitan dengan posisi geografis pulau-pulau Jepang, seperti Okinawa dan Ryukyu. Posisi Okinawa dianggap sangat strategis sekaligus berisiko dalam skenario perang karena lokasinya berdekatan dengan Taiwan. Sebagaimana diketahui, Cina memiliki kepentingan untuk mSelain itu, Okinawa menjadi lokasi Kadena Air Base dan Marine Corps Air Station Futenma yang dimiliki oleh Amerika Serikat di Asia Timur, serta berfungsi sebagai basis logistik untuk membantu Taiwan. Oleh karena itu, Okinawa disebut sebagai “frontline of the Indo-Pacific security architecture” karena hanya berjarak sekitar 600–700 kilometer dari Taiwan. Reinkarnasi Konservatisme JepangSetelah keterlibatannya dalam Perang Dunia II, Jepang menetapkan diri sebagai negara pasifis yang menolak perang. Prinsip tersebut dituangkan dalam Konstitusi Jepang yang disahkan dan mulai berlaku pada tahun 1947, terutama dalam Pasal 9 yang secara umum memiliki dua ayat utama. Pada ayat (1) dinyatakan bahwa Jepang menolak perang sebagai hak kedaulatan negara dan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk menyelesaikan sengketa internasional. Sementara itu, pada ayat (2) disebutkan bahwa untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Jepang menyatakan tidak akan mempertahankan angkatan darat, laut, dan udara, serta tidak mengakui hak berperang negara. Dengan demikian, Jepang memosisikan negaranya berdasarkan prinsip larangan perang agresif, tetapi tidak sepenuhnya melarang pertahanan diri. Kendati konstitusi melarang pembentukan angkatan bersenjata konvensional, Jepang tetap memiliki Japan Self-Defense Forces. Pada masa pemerintahan Shinzo Abe sebagai Perdana Menteri Jepang, dilakukan penafsiran ulang terhadap Pasal 9 pada tahun 2015. Dari yang semula hanya berorientasi pada pertahanan diri, kemudian berkembang menjadi konsep collective self-defense. Perubahan tersebut memungkinkan Jepang membantu sekutunya apabila diserang atau apabila terdapat ancaman terhadap keamanan dan kedaulatan Jepang sebagai negara. Pergeseran pemaknaan tersebut diwujudkan melalui kerja sama yang semakin erat dengan Amerika Serikat. Langkah tersebut dipandang memiliki dasar rasional karena adanya ancaman regional, seperti program nuklir Korea Utara, sengketa wilayah Kepulauan Senkaku serta aktivitas militer Cina, dan ketegangan antara Cina dan Taiwan yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan Jepang. Pandangan konservatif Shinzo Abe terhadap ancaman regional tersebut kembali dihidupkan oleh Sanae Takaichi. Kesamaan latar belakang politik dalam faksi Partai Liberal Demokrat (Liberal Democratic Party/LDP) antara Shinzo Abe dan Sanae Takaichi menempatkan Takaichi sebagai salah satu politisi konservatif dalam politik Jepang. Ia juga dipandang sebagai salah satu penerus pandangan politik konservatif Shinzo Abe. Oleh karena itu, langkah kebijakan keamanan yang ditempuh Sanae Takaichi dengan dukungan Amerika Serikat dapat dipandang sebagai kelanjutan dari kebijakan yang pernah dijalankan oleh Shinzo Abe sebelumnya. Diplomasi Keamanan Jepang Kurang Sensitif Para analis geopolitik dan keamanan bersepakat bahwa terdapat empat kawasan yang menjadi titik paling panas di dunia karena memiliki potensi konflik yang sangat besar, yaitu Timur Tengah, Selat Taiwan, Laut Cina Selatan, dan Ukraina. Saat ini, masyarakat dunia sedang menyaksikan validitas analisis para pakar geopolitik tersebut. Timur Tengah kembali menjadi kawasan peperangan sengit antara Iran dan Israel, yang juga melibatkan dukungan dari Amerika Serikat. Akibatnya, tekanan terhadap perdagangan global serta jalur distribusi energi menjadi perhatian banyak pihak. Ketegangan perang juga belum menunjukkan tanda-tanda penurunan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.Di tengah kecemasan global akibat konflik di Timur Tengah, Jepang justru melakukan diplomasi dengan Amerika Serikat terkait sistem pertahanan rudal berlapis. Diplomasi internasional yang menyangkut kerja sama perdagangan dan keamanan semestinya mempertimbangkan konteks keamanan internasional secara lebih luas. Pada prinsipnya, diplomasi keamanan akan lebih tepat dilakukan dalam kondisi damai untuk membangun daya tangkal (deterrence). Argumentasi ini didasarkan pada fakta bahwa Jepang bukan merupakan aktor utama yang secara langsung terlibat dalam konflik di Timur Tengah. Jepang lebih tepat diposisikan sebagai aktor pinggiran (periphery) yang terdampak secara tidak langsung, misalnya melalui gangguan pasokan minyak akibat konflik tersebut. Langkah diplomasi yang dilakukan oleh Sanae Takaichi dalam pertemuannya dengan Donald Trump dapat dipandang sebagai tindakan yang tergesa-gesa karena kurang mempertimbangkan momentum waktu. Tindakan tersebut memicu kritik dan polemik di dalam negeri Jepang, terutama dari kelompok oposisi yang menyoroti kedekatan Takaichi dengan Donald Trump, kemungkinan dukungan militer Jepang, serta arah militerisasi Jepang di masa depan. 0Akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa langkah diplomasi yang dilakukan Sanae Takaichi dengan bertemu Donald Trump dapat menarik Jepang lebih jauh ke dalam konflik berskala global. (*)
Rismon Sianipar Terkapar Melawan Orang Besar
Oleh: Laksma TNI (Purn.) Ir. Fitri Hadi S., M.A.P. | Analis Kebijakan Publik AHLI digital forensik Rismon Sianipar, yang sebelumnya sempat menyatakan keyakinannya hingga “11.000 persen” bahwa ijazah Presiden Joko Widodo palsu, kini telah mencabut pernyataan tersebut dan mengakui bahwa ijazah Jokowi adalah asli. Dalam sebuah klarifikasi dan permintaan maaf yang diunggah di kanal YouTube Balige Academy pada 11 Maret 2026, Rismon Sianipar mengakui adanya kesalahan dalam penelitian awalnya. Lalu, ke mana pernyataan “11.000 persen” itu? Awalnya, banyak orang menganggap kelompok yang menamakan dirinya RRT—singkatan dari Roy, Rismon, dan Tifa—sebagai para pejuang yang berani. Kelompok ini merupakan gabungan nama Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma (Tifa). Pernyataan mereka yang menyebut 99,99 persen atau bahkan 11.000 persen bahwa ijazah Jokowi palsu benar-benar menggetarkan “dinding-dinding Istana” Jokowi di Solo—yang kini oleh sebagian pihak disebut sebagai “tembok ratapan”. Jokowi kemudian melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian, sehingga beberapa orang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Belum cukup dengan laporan Jokowi, barisan orang yang mereka sebut “Termul” pun bergerak. Mereka berusaha melawan dan melaporkan pula tokoh utama yang menyatakan bahwa 99 persen atau 11.000 persen ijazah Jokowi palsu. Perdebatan sengit di media sosial, terutama di televisi, menjadi semakin panas. Serangan terhadap kelompok RRT semakin besar, tetapi mereka justru semakin berani. Keberanian tersebut diwujudkan dengan terbitnya sebuah buku berjudul Jokowi’s White Paper. Buku ini merupakan kajian yang dibuat oleh trio Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma. Isinya memuat kajian digital forensik, telematika, dan neuropolitika terkait keabsahan dokumen serta perilaku kekuasaan, termasuk membahas isu dugaan ijazah palsu Presiden Jokowi. Perlahan tetapi pasti, kepercayaan publik terhadap pernyataan mereka—yang didasarkan pada hasil penelitian—mulai mendapat dukungan yang semakin luas. Rismon semakin bersemangat. Tidak mau setengah-setengah, ia kembali menggebrak dengan mendahului sejawatnya. Kali ini ia menulis buku berjudul Gibran End Game: Wapres Tak Lulus SMA, sebuah buku yang ditulis oleh Rismon Hasiholan Sianipar. Sementara itu, Roy dan Tifa baru menyampaikan rencana akan meluncurkan buku mereka pula. Inilah sebuah pertempuran—pertempuran antara kekuatan kecil yang mungkin hanya bermodalkan keberanian dan ide melawan kekuatan besar yang berusaha tetap eksis mempertahankan hegemoni kekuasaannya. Inilah asymmetric warfare (perang asimetris) dalam bentuk lain, yakni peperangan yang ditandai oleh ketidakseimbangan kekuatan atau ketahanan logistik yang signifikan antara pihak-pihak yang bertikai. Konfrontasi kedua belah pihak pun berlangsung. Mereka belum sampai ke pengadilan; mereka baru beradu opini, meskipun sudah saling menjatuhkan. Kekuatan RRT mulai berjatuhan. Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis memilih berdamai; mereka pun sowan ke Istana Jokowi. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi keduanya akhirnya berdamai. Damai dan Egi pun lepas dari status tersangka dan memperoleh RJ (restorative justice). Giliran RRT diserang di jantungnya. Orang yang paling vokal dengan klaim “11.000 persen” menjadi sasaran. Andi Azwan, yang dikenal sebagai Ketua Umum Jokowi Mania (Joman), mengeluarkan jurus barunya—jurus yang dianggap jitu dan membuat Rismon Hasiholan Sianipar terkapar. Tuduhan ijazah palsu dibalas dengan tuduhan serupa: Rismon dilaporkan bahwa ijazah S-2 dan S-3-nya palsu, bahkan disebut-sebut membuat surat kematian palsu pula. Langkah Andi Azwan ini benar-benar membuat Rismon Hasiholan Sianipar goyah. Pijakannya terasa runtuh sehingga ia mengajukan RJ ke Polda dan sowan, menyampaikan tabik, serta memohon maaf kepada Jokowi di Solo. Konon kabarnya, tabik Rismon yang sudah terkapar itu tidak diterima. Jika informasi bahwa permintaan maafnya ditolak benar adanya, maka pepatah lama tampaknya tepat: untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak—mengharapkan burung punai yang terbang, pungguk di tangan dilepaskan; sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sesungguhnya, bila Rismon merasa 11.000 persen bahwa ijazah Jokowi palsu dan meyakini bahwa ijazah SMA Gibran Rakabuming Raka atau yang setara tidak ada, mengapa harus takut ketika ijazah S-2 dan S-3-nya digugat? Rocky Gerung kerap disebut profesor. Namun ketika sebutan itu diserang, ia mengakui bahwa dirinya hanya memiliki gelar S-1. Publik hingga saat ini masih mengakui kepakarannya. Ia pun masih menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi ternama, meskipun sebutan profesor baginya berhasil dirontokkan oleh para lawannya. Ada satu hal yang harus diingat oleh para penulis Jokowi’s White Paper, terutama Rismon: tulisan kalian telah tersebar luas, dan ahli digital forensik bukan hanya Anda. Masih banyak peneliti lain yang dapat menilai apakah tulisan tersebut akurat atau justru penuh rekayasa. Sebagai peneliti, setidaknya kalian harus memasukkan data-data standar sehingga, ketika penelitian terus berkembang (ongoing), informasi atau data baru tidak serta-merta menegasikan temuan sebelumnya. Biasanya, data baru justru memperkuat temuan lama atau melahirkan variabel baru. Kepada Roy dan Tifa, kalian harus benar-benar sadar siapa lawan kalian. Siapa saja yang telah masuk penjara karena mempersoalkan ijazah tersebut? Ingatlah sejarah perang ketika Raden Wijaya melawan bala tentara Mongol yang datang pada tahun 1293. Kekuatan besar itu berhasil dihancurkan dan diusir dari bumi pertiwi. Atau jauh sebelumnya, pada zaman Muhammad, ketika beliau menghadapi kekuatan besar suku Quraisy. Keyakinan akan kebenaran perjuangan itulah yang pada akhirnya memenangkan mereka, karena kebenaran diyakini berada di pihak Tuhan, Allah Swt. Sesungguhnya kebenaran itulah kekuatan terbesar. Jokowi pernah mengatakan ada kekuatan besar di belakang RRT. Pernyataan Jokowi itu bisa saja benar apabila penelitian yang dilakukan RRT dilandasi keinginan menegakkan kebenaran, kejujuran, dan keadilan di negeri ini. Teruslah berjuang jika kalian merasa berada di jalan yang benar, karena Tuhan menyertai kalian. (*)
Pengaruh Penutupan Selat Hormuz terhadap Keamanan Energi Global
Oleh: Meidia Pratama | Pengamat Politik dan Keamanan Internasional PERANG antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat telah berlangsung lebih dari satu minggu. Kedua belah pihak masih saling melancarkan serangan. Iran memiliki posisi geografis yang relatif menguntungkan dalam konflik ini, bukan hanya karena menyulitkan lawan melakukan invasi darat, tetapi juga karena kemampuannya memengaruhi kondisi suplai energi global. Selat Hormuz merupakan celah sempit (chokepoint) di Teluk Persia yang menjadi jalur utama transportasi minyak dan gas bagi pasokan energi global. Diperkirakan sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia melewati selat tersebut. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran tentu akan sangat memengaruhi pasokan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak dunia saat ini melonjak hingga mencapai sekitar US$100 per barel, dari sebelumnya yang berkisar US$60 per barel. Peningkatan harga minyak ini direspons oleh sejumlah negara dengan tingkat kekhawatiran yang tinggi serta menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian global. Diperkirakan Selat Hormuz dilintasi sekitar 100–144 kapal setiap hari. Dengan demikian, dalam satu tahun terdapat sekitar 30.000–33.000 kapal yang melintasi celah sempit ini. Kapal-kapal tersebut terdiri atas kapal tanker minyak yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak per hari, kapal kontainer, serta kapal kargo curah (bulk carrier). Perang yang saat ini dihadapi Iran melawan Israel dengan dukungan Amerika Serikat memosisikan Selat Hormuz dalam kerangka geostrategi. Penguasaan Iran atas wilayah tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengganggu lalu lintas minyak dunia. Ancaman Iran untuk menutup selat itu telah memicu gejolak harga minyak dunia sekaligus menimbulkan ancaman terhadap keamanan energi global. Keamanan global dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai kondisi stabil dan damai dari berbagai ancaman yang berpotensi mengganggu stabilitas politik, ekonomi, serta kelangsungan hidup masyarakat internasional. Ketidakstabilan pasar energi, potensi krisis energi, dan gangguan jalur perdagangan akibat penutupan Selat Hormuz memicu respons dari hampir seluruh negara di dunia, terutama di Amerika Utara, Asia, dan Eropa.Tiongkok merupakan negara terbesar yang mengandalkan impor minyak dari Iran, disusul oleh India, Jepang, dan Korea Selatan. Selain itu, Rusia juga meningkatkan harga gas sebagai dampak dari ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah. Sejumlah fasilitas energi di kawasan tersebut turut terdampak konflik. Kilang-kilang minyak di Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain tidak luput dari serangan Iran. Perusahaan minyak Saudi Aramco sempat menghentikan sementara produksi setelah serangan drone Iran yang merusak kilang Tanura. Demikian pula QatarEnergy yang menghentikan produksi liquefied natural gas (LNG) setelah serangan drone terhadap fasilitas energi di Ras Laffan dan Mesaieed. Bahkan ExxonMobil, perusahaan energi besar asal Amerika Serikat, memutuskan mengurangi operasinya serta mengevakuasi pegawai di Timur Tengah dengan alasan keamanan dan gangguan di Selat Hormuz. Chevron juga menghentikan produksi di ladang gas Leviathan di Israel. Perusahaan lain yang turut menghentikan produksi sebagai langkah pencegahan antara lain DNO, Gulf Keystone Petroleum, dan Dana Gas. Sejumlah fasilitas energi strategis juga ditutup akibat gangguan serangan rudal dan drone selama konflik berlangsung. Terminal LNG Ras Laffan di Qatar, terminal ekspor minyak Al-Basra di Irak, terminal minyak Fujairah di Uni Emirat Arab, serta kilang Sitra di Bahrain dilaporkan telah menghentikan operasinya. Dalam menghadapi kondisi yang tidak menentu seperti ini, salah satu faktor utama yang memicu gangguan stabilitas energi global adalah serangan Israel yang didukung Amerika Serikat terhadap Iran. Serangan tersebut memicu tindakan balasan Iran terhadap pangkalan militer dan aset-aset Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk fasilitas energi dan kilang minyak di berbagai wilayah. Oleh karena itu, konflik yang berlangsung antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga memicu reaksi internasional yang luas. Banyak negara menilai eskalasi konflik tersebut sebagai salah satu sumber utama ketegangan yang berpotensi menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Saat ini Amerika Serikat dan Israel tidak hanya mendapatkan perhatian dari masyarakat internasional, tetapi juga menghadapi tekanan dari berbagai pihak, termasuk para pemimpin negara di dunia serta dinamika politik domestik di kedua negara tersebut. (*)
EDITORIAL
Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, arah negara tampak seperti kompas rusak: berputar ke mana angin kekuasaan bertiup. Bukan soal perbandingan dengan rezim sebelumnya—itu debat usang. Masalahnya kini lebih mendasar: konsistensi, martabat, dan arah kebijakan yang terlihat makin kabur. Janji-janji kerakyatan yang dulu menggelegar di panggung kampanye, hari ini terdengar seperti gema kosong yang memantul tanpa makna. Kabinet gemuk yang digadang-gadang sebagai “tim kuat” justru lebih menyerupai panggung penuh improvisasi tanpa arah. Banyak bicara, minim mutu. Ancaman politik dilontarkan ke sana-sini, tetapi implementasi kebijakan justru terlihat gamang, bahkan kontradiktif. Retorika keras, eksekusi lunak—sebuah kombinasi yang berbahaya bagi stabilitas negara. Dalam politik luar negeri, inkonsistensi itu tampak telanjang. Di satu sisi, Indonesia seolah merapat ke Xi Jinping; di sisi lain, mencoba mencari simpati Donald Trump dengan bayang-bayang kepentingan Benjamin Netanyahu. Hasilnya? Bukan posisi strategis, melainkan posisi serba tanggung. Tidak cukup tegas untuk dihormati, tidak cukup netral untuk dipercaya. Ketika konflik global memanas, Indonesia mencoba menawarkan diri sebagai juru damai. Namun respons dunia dingin. Iran lebih memilih Pakistan dan Turki. Sinyal ini jelas: diplomasi Indonesia tidak lagi dianggap relevan. “Diplomacy without dignity”—diplomasi tanpa harga diri—bukan sekadar kritik, melainkan realitas yang mulai terasa. Lebih ironis lagi, dampak dari kebijakan luar negeri yang limbung itu merembet ke dalam negeri. Ketegangan di kawasan berdampak langsung pada kepentingan nasional, dari jalur energi hingga keselamatan prajurit di misi internasional. Ketika dua kepentingan besar dunia saling tarik-menarik, Indonesia justru terlihat seperti objek, bukan subjek. Di dalam negeri, program unggulan seperti MBG digadang-gadang sebagai solusi kerakyatan. Namun realitasnya menimbulkan tanda tanya besar. Manfaatnya belum terasa merata, sementara potensi penyimpangan mulai tercium. Program prioritas tidak boleh menjadi tameng untuk mengabaikan akuntabilitas. Jika tidak diawasi ketat, ia hanya akan menjadi proyek baru yang mengulang pola lama: besar di anggaran, kecil di manfaat. Lebih mengkhawatirkan lagi, persoalan warisan lama—korupsi, nepotisme, utang—tidak ditangani secara serius. Alih-alih pembenahan, yang terlihat justru pembiaran. Seolah-olah kekuasaan lebih sibuk merawat citra ketimbang menyelesaikan masalah mendasar. Kehadiran Gibran Rakabuming Raka sebagai pendamping tidak banyak membantu meredam keraguan publik. Justru menambah persepsi bahwa kekuasaan hari ini lebih dekat dengan lingkaran dinasti daripada meritokrasi. Ini bukan sekadar soal individu, melainkan soal pesan politik yang disampaikan kepada publik. Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pertunjukan retorika atau manuver geopolitik yang membingungkan. Rakyat membutuhkan kepastian, keberanian, dan keberpihakan yang nyata. Jika arah ini terus dipertahankan, maka wajar jika publik mulai mempertanyakan: apakah pemerintahan ini benar-benar bekerja untuk rakyat, atau sekadar bertahan di tengah tarik-menarik kepentingan global? Sebab dalam politik, yang paling berbahaya bukanlah kesalahan—melainkan ketidakjelasan arah yang dibiarkan berlarut-larut. (*)
READ MOREPOPULER
BERITA TERKINI