Kuliah S3 di Jepang, Tak Takut Mati, Akhirnya Lumpuh di Atas Parcel

Ilustrasi Rismon

NAMA Rismon Sianipar pernah melesat ke ruang publik seperti meteor: tiba-tiba muncul, terang benderang, lalu membuat banyak orang menengadah dengan rasa heran. Ia bukan pejabat, bukan tokoh besar, hanya seorang yang datang dengan keberanian retorika yang meluap-luap. Dengan modal suara lantang dan keyakinan yang tampak tak tergoyahkan, ia menantang siapa saja—dari Kapolri hingga Presiden Joko Widodo.

Publik pun terbelah antara takjub dan geli. Ada yang melihatnya sebagai simbol keberanian, ada pula yang menilainya sekadar fenomena “mulut lebih cepat daripada akal”. Namun satu hal yang tak terbantahkan: keberanian verbal itu sempat menciptakan sensasi. Ia tampak seperti sosok yang, meminjam istilah orang kampung, sudah kehilangan rasa takut. Urat takutnya sudah putus.

Sayangnya, panggung keberanian itu rupanya tidak bertahan lama. Belum genap satu tahun, arah cerita berubah drastis. Sosok yang dahulu memuntahkan sumpah serapah kepada kekuasaan mendadak melunak. Ludah yang pernah disemprotkan dengan penuh emosi kini seperti diseruput kembali—perlahan, hati-hati, bahkan tampak dinikmati.

Di sinilah drama klasik manusia kembali dipentaskan. Dalam teori perjuangan, penderitaan sering disebut sebagai bahan bakar perlawanan. Namun dalam praktik kehidupan nyata, penderitaan sering berubah menjadi alat seleksi: siapa yang benar-benar teguh, dan siapa yang sekadar singgah di panggung keberanian.

Negara selalu menjadi arena paradoks. Ia membutuhkan pahlawan untuk menjaga idealisme, tetapi juga menyediakan karpet merah bagi pragmatisme. Banyak orang memulai perjalanan dengan teriakan moral, tetapi mengakhiri langkahnya dengan kompromi yang sangat rasional.

Sejarah menunjukkan bahwa kepahlawanan bukan soal seberapa keras seseorang berteriak di awal perlombaan, melainkan seberapa lama ia mampu bertahan di lintasan. Sebab dalam maraton moralitas, godaan terbesar bukanlah kekalahan, melainkan tawaran untuk berhenti dengan imbalan kenyamanan.

Maka kisah ini sebenarnya bukan hanya tentang satu orang. Ia adalah cermin kecil dari penyakit besar dalam kehidupan publik: keberanian yang mudah diproduksi, tetapi sulit dipertahankan. Banyak orang bersedia menantang dunia ketika risiko masih terasa jauh. Namun ketika konsekuensi mulai mendekat—entah kehilangan uang, kebebasan, atau kenyamanan—keberanian sering mendadak lumpuh.

Dan di tengah semua itu, publik hanya bisa menyaksikan satu pertanyaan lama yang terus berulang dalam sejarah manusia: ketika kebenaran menuntut harga yang mahal, apakah seseorang tetap berdiri tegak—atau justru duduk tenang di atas parcel kenyamanan? (*)

23

Related Post