KESEHATAN

Perlombaan Vaksin Covid-19 Belum Usai, Imun Tubuh Harus Kuat! (1)

by Mochamad Toha Surabaya, FNN - Fakta ini terjadi di Eropa. Media Prancis pada Senin, 25 Januari 2021 menulis, sebenarnya Jerman melaporkan dua kematian baru-baru ini. Pada akhir Desember lalu, seorang nenek Swiss berusia 91 tahun meninggal setelah disuntik dengan vaksin BioNTech/Pfizer. Tapi, menurut investigasi departemen resmi Swiss, kematian itu tidak terkait dengan vaksin. Dalam kasus lain, pada pertengahan Januari 2021 lalu, seorang nenek berusia 90 tahun dari Lower Saxony, Jerman, meninggal beberapa jam setelah disuntik dengan vaksin BioNTech/Pfizer. Menurut investigasi Jerman, kematian tersebut tidak terkait dengan vaksin. Sejauh ini, belum ditemukan kasus kematian akibat vaksin BioNTech Jerman. Dua kematian di Jerman itu langsung “ditangkap” Liu Xin, reporter Tiongkok International Television. Pada 16 Januari 2021, Liu Xin menulis di Twitter: “Saya tidak dapat memastikannya secara independen, tetapi beritanya mengganggu: ‘Sepuluh orang meninggal beberapa hari setelah vaksin BioNTech/Pfizer di Jerman’.” Berita ini berasal dari 2 laporan di Jerman tersebut. Media resmi Komunis Tiongkok Global Times sebelumnya telah melaporkan, vaksin BioNTech/Pfizer tidak efisien dan dikembangkan di bawah batasan waktu yang ketat. Di Jerman, efektivitas dan keamanan dari vaksin Tiongkok dipertanyakan oleh publik. Baru-baru ini, Mingguan Der Spiegel Jerman, Focus, dan banyak media seperti Weekly dan Frankfurt Review juga mengklaim bahwa banyak masalah vaksin Tiongkok. Pemberitaan media di Jerman yang mempertanyakan efektivitas vaksin produk Tiongkok itu menunjukkan bahwa dalam persaingan vaksin, Tiongkok gagal. Di sisi lain Tiongkok menyebarkan berita palsu tentang vaksin yang dikembangkan bersama oleh BioNTech Jerman dan Pfizer AS untuk merusak kepercayaan publik terhadap vaksin ini, sehingga mengalihkan perhatian orang dari vaksin Komunis Tiongkok yang bermasalah. Der Spiegel melaporkan bahwa Tiongkok berharap menjadi yang terdepan dalam perlombaan vaksin Tiongkok, tetapi gagal mencapai keinginannya. Sekarang agen propaganda Tiongkok menyebarkan informasi palsu yang ditargetkan untuk mendistorsi persaingan. Baik Der Spiegel dan Focus percaya, Tiongkok dengan sengaja memutarbalikkan fakta dan menyebarkan berita palsu. Tiongkok terkenal akan hal ini. Tiongkok ingin menunjukkan, vaksin yang dikembangkannya itu cemerlang, tapi vaksin yang dikembangkan Barat tidak. Focus, Munich Mercury, dan banyak media lainnya mengkritik, Tiongkok mendiskreditkan vaksin lain untuk mendukung vaksin Tiongkok. Menurut sebuah laporan Prancis, banyak media Jerman percaya bahwa penyebaran informasi palsu oleh media resmi Tiongkok adalah karena vaksin yang dikembangkan oleh Tiongkok berada dalam posisi terbelakang dalam kompetisi internasional. Vaksin Tiongkok sendiri masih memiliki banyak masalah. Sementara itu Vaksin BionTech/Pfizer melampaui vaksin Tiongkok. Pada 5 Januari 2021, pakar vaksin Tiongkok Tao Lina memposting di Weibo mengatakan, ada sebanyak 73 efek samping setelah vaksinasi Sinopharm. Menurutnya itu adalah vaksin yang paling tidak aman di dunia. Tetapi postingan itu segera dihapus, dan Tao Lina kemudian meminta maaf dan mengatakan bahwa dia akan divaksinasi di Tiongkok. Selain itu, pada November tahun lalu, sebuah survei di Shanghai menunjukkan bahwa staf medis Shanghai enggan menerima vaksin Tiongkok. Diantara mereka, lebih dari 90% staf medis di RS Pengobatan Tradisional Tiongkok Distrik Yangpu menolak vaksin. Pemberitahuan survei dari Kota Zhenjiang, Provinsi Jiangsu juga menunjukkan, tidak ada pejabat pemerintah daerah yang mendaftar untuk vaksin Tiongkok. Laporan Free Asia pada 15 Desember 2020 menyebutkan, setidaknya 17 karyawan Tiongkok di Angola terinfeksi virus Tiongkok, dan sekitar 300 pekerja Tiongkok di Serbia terdiagnosis virus Tiongkok. Bagaimana dengan Vaksin Pfizer di AS sendiri? Sudah 181 kematian akibat suntikan pertama vaksin Covid-19 di AS. Demikian tulis Dr. Tenpenny, Warrior for the preservation of human DNA (https://t.me/DrTenpenny). Korban Vaksin? Kematian Dr. Gregory Michael, 56 tahun, seorang dokter Obstetri dan Ginekologi di Florida, Miami tengah diselidiki oleh otoritas kesehatan setempat, bersama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan FDA. Michael divaksinasi Covid-19 produksi Pfizer, 18 Desember 2021, di Mount Sinai Medical Center, tempat dia bekerja selama 15 tahun. Tiga hari setelah vaksinasi muncul titik-titik merah di kaki dan tangan, sehingga segera dibawa ke UGD Mount Sinai Medical Center. Hasil laboratorium menunjukkan bahwa angka platelet (trombosit) dia jauh di bawah normal sehingga Michael langsung dirawat di ICU. Selama 2 minggu di ICU, dengan bantuan para ahli di seluruh negeri, dokter berusaha meningkatkan angka platelet Michael. Namun apapun yang mereka lakukan, angkanya tak bertambah. Selama proses itu Michael dikabarkan tetap sadar dan energik. Namun, beberapa hari sebelum ikhtiar operasi terakhir dilakukan Michael mengalami (hemorrhagic) stroke dan akhirnya meninggal. Pfizer mengatakan, Michael meninggal 16 hari setelah mendapat suntikan pertama vaksin Covid-19 produksi mereka. Namun, Pfizer mengatakan kasus ini “sangat tidak biasa” dan diperlukan kondisi yang parah yang bisa menyebabkan darah tidak membeku, sehingga menyebabkan pendarahan internal. “Hemorrhagic stroke adalah stroke karena pendarahan di otak, umumnya disebabkan oleh pecahnya aneurysm, bukan rendahnya angka platelet,” ujar Arie Karimah, Pharma-Excellent alumni ITB. Menurut Pfizer, hingga hari ini sudah ada lebih dari 5 juta warga AS yang divaksinasi dengan vaksinnya, dan Pfizer memantau dengan ketat seluruh reaksi yang tidak diharapkan (adverse effects) pada setiap individu yang menerima vaksin tersebut. Pfizer masih beranggapan bahwa kematian itu Tidak berkaitan langsung dengan vaksinnya. CDC berjanji akan mengevaluasi kasus tersebut dan akan memberikan update secara berkala tentang apa yang sudah diketahui dan tindakan apa yang akan dilakukan. Pada saat yang bersamaan CDC dan FDA juga tengah melacak daftar efek samping potensial melalui database elektronik nasional, yang datanya berasal dari tenaga kesehatan (nakes) dan produsen vaksin. FDA juga mengakui, umumnya Tidak Mungkin untuk menentukan apakah problem ini benar-benar dipicu vaksin hanya berdasarkan database itu. Karena, efek samping yang dilaporkan kepada FDA bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan, obat resep yang sedang dikonsumsi, dan faktor-faktor kesehatan lainnya. Mengutip akun Facebook Arie Karimah (11 Januari 2021), sebuah laporan dikeluarkan oleh CDC Rabu lalu tentang reaksi terhadap suntikan pertama vaksin Pfizer. Hampir 2 juta dosis yang sudah diberikan hingga 23 Desember 2020: Dari hampir 2 juta dosis itu, “hanya” ada 4.393 reaksi yang tidak diharapkan (adverse reactions) yang sudah dilaporkan. Ada 175 kasus yang sedang dipelajari tentang kemungkinan reaksi alergi yang parah, yang bisa mengancam nyawa (reaksi anafilaktik), sangat jarang terjadi setelah dilakukan vaksinasi. Ditemukan 21 kasus alergi, termasuk di dalamnya 17 orang yang Memang punya riwayat alergi. Dari sini disimpulkan, reaksi alergi terhadap vaksin Pfizer termasuk “langka/jarang”, namun kesimpulan ini dibuat berdasarkan data yang masih terbatas. Juru bicara otoritas kesehatan setempat mengatakan: memang terlalu dini untuk mengatakan bahwa vaksin mempunyai efek terhadap kematian Michael. Namun satu hal yang sudah pasti: Michael berada dalam kondisi kesehatan yang baik sebelum divaksinasi. (Bersambung) Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id.

IDI Bingung, Statemen Presiden Beda dengan Realitanya

by Mochamad Toha Surabaya, FNN - Presiden Joko Widodo menyatakan pandemi telah terkendali. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bilang, bingung. Jumlah kasus di Indonesia sudah 1 juta, kalau dibuat rasio dengan jumlah penduduk, kita ranking 4 di ASEAN. Yakni: Singapura 1/100, Malaysia 1/165, Filipina 1/200, dan Indonesia 1/270. Sebanyak 65% kasus kita ada di Pulau Jawa. Kematian 2,8% (bukti ilmiah 2 - 3%). Harus diakui, penularan belum akan usai karena angka Ro masih > 1. “Jika Ro sdh < 1 maka berangsur-angsur kasus baru akan menuju angka 0. Usaha mengobati dengan terapi antivirus, terapi steroid, terapi antibodi monoklonal, dan terapi plasma,” tulis Prof. Yuwono, pakar mikrobiologi Universitas Sriwijaya, Palembang. Seperti dilansir Kompas.com, Rabu (27/1/2021), sebelumnya, Presiden Jokowi menyebut, sepanjang 2020 dan memasuki 2021 Indonesia menghadapi berbagai cobaan yang sangat berat. Salah satu ujian itu berupa pandemi Covid-19 yang mengakibatkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Namun, Jokowi mengklaim, Indonesia bisa mengendalikan dua krisis itu dengan baik. “Kami bersyukur Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik,” kata Jokowi dalam acara Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persekutuan Gereja-gereja (PGI) di Indonesia melalui tayangan YouTube Yakoma PGI. Ucapan “bersyukur” tersebut langsung direspon Ketua IDI DKI Jakarta Slamet Budiarto yang mempertanyakan pernyataan Presiden Jokowi tersebut yang menyebut pemerintah berhasil mengendalikan pandemi virus corona Covid-19. Slamet bingung parameter yang digunakan Jokowi saat menyebut pandemi terkendali. “Saya tidak paham Pak Jokowi menyatakan begitu. Mungkin dari sisi ekonomi, saya juga tidak tahu ekonomi seperti apa. Yang saya tahu dari sisi kesehatan,” katanya kepada Kompas.com. Slamet juga menegaskan, dari sisi kesehatan, pandemi jelas tak terkendali. Parameter pertama bisa dilihat dari angka kematian yang tinggi. Sampai Selasa lalu, masih ada penambahan 336 pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Penambahan itu membuat total pasien Covid-19 meninggal jadi 28.468. “Angka kematian di kita tertinggi nomor 1 di negara Asean, baik presentase maupun jumlah. Saya perkirakan ini sampai akhir tahun ada kematian 100.000 orang sampai Desember 2021,” kata Slamet. Sementara itu, parameter kedua yang digunakan IDI adalah angka penularan kasus Covid-19. Sampai kemarin, ada penambahan 13.094 kasus baru. Penambahan tersebut membuat akumulasi kasus Covid-19 di Indonesia menembus satu juta kasus. Wakil Ketua Umum IDI ini pun mengaku tidak paham parameter yang digunakan Presiden sehingga menyebut kasus Covid-19 terkendali. “Ya mungkin Presiden punya parameter lain. Kalau parameter kami di IDI angka kematian dan infeksi,” ujar Slamet. Terlepas dari parameter yang digunakan, Slamet meminta pemerintah untuk fokus menangani pandemi dari sisi kesehatan agar korban bisa ditekan. Slamet mengaku sudah mengusulkan pada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin agar pasien Covid-19 gejala ringan bisa dirawat di rumah masing-masing dengan pengawasan dokter umum. “Satu dokter kan bisa memantau 10 orang. Nanti bisa diberi insentif,” katanya. Dengan cara ini, maka rumah sakit tidak penuh. Ruang perawatan di rumah sakit bisa fokus digunakan untuk pasien gejala sedang dan berat. “Sekarang kan kematian meningkat karena RS overload,” ujar Slamet. Seorang dokter mencatat, Indonesia kembali melaporkan penambahan kasus Covid-19 itu yang tertinggi sejak terjadinya pandemi Covid-19 di tanah air, yaitu 14.518 jiwa. Penambahan 14.518 kasus tersebut menjadikan total kasus Corona di Indonesia menjadi 1.066.313. Berdasarkan data dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19, jumlah spesimen yang diperiksa sepanjang 24 jam terakhir mencapai 70.026. Dengan 74.985 orang dinyatakan suspek Covid-19. Terjadi juga penambahan yang cukup banyak pada kasus harian sembuh dari Covid-19 yang mencapai 10.242. Sehingga totalnya menjadi 862.502 kasus. Penambahan pada kasus harian sebanyak itu membuat kasus aktif Covid-19 di Indonesia menjadi 174.083 atau 16,3 persen dari terkonfirmasi Virus Corona. Virusnya juga mungkin sudah bermutasi seperti yang terjadi di Inggris dan Afrika Selatan. Jadi, lebih mudah menular dan menyebar sehingga terjadi lonjakan pada jumlah orang yang terinfeksi. Disamping adanya pengaruh perubahan iklim. Pada musim penghujan suhu temperatur udara cenderung rendah/dingin sehingga virus bisa lebih survive! Pada musim hujan orang juga lebih sering berkumpul di ruangan tertutup jika dibanding di daerah terbuka untuk menghindari kehujanan. Atau efek kekurangan vitamin D karena matahari kurang bersinar dengan terik akibat lebih sering mendung pada musim hujan. Atau karena daya tahan tubuh lebih rendah pada musim hujan di banding musim kemarau akibatnya orang lebih rentan mengalami sakit. Varian Virus Corona baru penyebab Covid-19 dilaporkan telah muncul di berbagai penjuru dunia. Varian tersebut diklaim bersifat lebih mudah menular, sehingga sebagian pakar mengatakan kemungkinan butuh upaya ekstra untuk menekan laju penyebarannya. Mantan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS), Tom Frieden, menyarankan agar orang-orang memperbaiki kualitas masker yang biasa dipakai. Kehadiran virus yang lebih mudah menular menekankan pentingnya kita segera memperbaiki strategi. “Bukan lebih banyak melakukan protokol kesehatan yang sama, tetapi melakukan protokol yang sama dengan lebih baik,” ujarnya, seperti dikutip dari Washington Post, Jumat (29/1/2021). Ahli penyakit infeksius Anthony Fauci menyebut memakai dua lapis masker bisa jadi hal yang masuk akal untuk menambah efektivitasnya. Hanya saja diingatkan agar orang-orang memilih masker yang nyaman digunakan di tempat umum. “Ini seperti tragedi-tragedi Covid kita yang sebelumnya. Kita belum memiliki jawaban yang pasti, secara konstan harus berupaya memadamkan masalah, dan berharap agar masyarakat bisa bertindak mandiri,” ujar Abraar Karan, dokter dari Brigham and Women's Hospital. “Anda memang akan selalu membutuhkan masker yang lebih baik. Sejak dari awal kita butuh masker berkualitas yang baik,” pungkasnya, seperti dilansir Detik.com, Jumat (29 Jan 2021 10:25 WIB). Kabar terbaru, kasus Covid-19 yang terus meningkat membuat Indonesia kini menjadi negara dengan kasus aktif tertinggi di Asia melampaui jumlah kasus aktif di India yang sebelumnya tertinggi. Kasus aktif adalah jumlah orang yang masih dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. Dari data Worldometer pada Minggu (31/1/2021), kasus aktif di Indonesia berjumlah 175.095 setelah bertambah 12.001 kasus baru pada hari ini. Seperti dilansir CNNIndonesia.com, Minggu (31/01/2021 18:08 WIB), jumlah ini menjadi yang terbanyak di Asia dan ke-15 di dunia. Sedangkan total kasus Covid-19 keseluruhan di Indonesia mencapai 1.078.314. Kasus aktif di Indonesia lebih tinggi dibandingkan India yang saat ini memiliki 169.654 kasus. Total kasus 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan Indonesia yakni tepatnya 10.747.091 kasus. Negara dengan kasus aktif tertinggi lainnya di Asia adalah Iran dengan 150.949 kasus dari 1.411.731 kasus keseluruhan. Selanjutnya, Libanon memiliki 117.410 kasus aktif dengan total kasus 298.913. Negara kelima di Asia dengan kasus aktif terbanyak adalah Turki yang saat ini memiliki 89.627 kasus aktif. Kasus positif Covid-19 di Indonesia terus meningkat sejak Januari 2021. Angka peningkatan kasus baru dalam setiap hari kerap menembus angka 10 ribu, bahkan mencapai lebih dari 14 ribu kasus. Jika memang demikian kenyataannya, dalam artian sebenarnya pandemi Covid-19 belum terkendali, sebaiknya Presiden Jokowi meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Di samping itu, sudah selayaknya pula Pemerintah mendengarkan para pakar kesehatan. Hal itu dimaksudkan untuk lebih mengintensifkan protokol kesehatan dan mengedepankan penanganan pandemi yang manusiawi dan berkualitas, bukan hanya sekadar berwacana ini-itu untuk mengalihkan “kepanikan” dan kekurangmampuan. Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id.

Ada Apa Dengan Presiden Jokowi?

By Hersubeno Arief PRESIDEN Jokowi Senin (25/1) menyampaikan perasaan syukurnya. Pemerintah bisa mengendalikan pandemi dan ekonomi. "Kita bersyukur Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik," kata Jokowi dalam acara Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persekutuan Gereja-gereja (PGI) di Indonesia. Pernyataan itu sesungguhnya agak janggal, sekaligus mengejutkan. Sebab pada saat Presiden menyampaikan pidato, angka positif Covid-19 999.256. Beberapa ratus kasus lagi, bakal menyentuh angka 1 juta. Sembuh 809.488, dan meninggal dunia 28.132 jiwa. Sebuah media media mencatat, dalam 1 bulan terakhir Presiden bahkan menyampaikan rasa syukurnya itu sebanyak tiga kali. Artinya pernyataan itu tidak salah. Presiden sangat puas dengan kinerja pemerintahannya mengendalikan krisis. Tiba-tiba selang sehari kemudian, Selasa (26/1) Presiden menyampaikan duka citanya karena positif Covid-19 melampaui angka 1 juta. Persisnya positif Covid-19 1.012.350 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 820.356 orang dinyatakan telah pulih, 163.526 orang menjalani perawatan di RS atau isolasi mandiri. Sementara 28.468 orang lainnya meninggal dunia. Sebagaimana diungkapkan oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin, Presiden Jokowi mengundang sejumlah menteri untuk Rapat Terbatas. Kepada media, Menkes Budi Gunadi mengaku mendapat titipan pesan dari Presiden Jokowi. Budi mengatakan pemerintah sangat berduka karena banyak masyarakat yang meninggal akibat Covid-19. Selain itu, sambungnya, ada lebih dari 600 tenaga kesehatan yang sudah gugur dalam menghadapi pandemic Covid-19. “Mungkin sebagian dari keluarga dekat dan teman dekat kita juga sudah meninggalkan kita. Itu momen pertama yang harus kita lalui, bahwa ada rasa duka yang mendalam dari pemerintah dari seluruh rakyat Indonesia atas angka ini,” ujar Menkes. Bila kita cermati dari redaksinya, Presiden sesungguhnya tidak secara langsung menyatakan duka citanya. Menkes menggunakan kosa kata “pemerintah,” juga seluruh “rakyat Indonesia. ”Hanya saja media kemudian menggunakan judul “Presiden Jokowi berduka cita, kasus Covid-19 Tembus 1 juta.” Dua pernyataan berbeda itu menunjukkan situasi paradok dalam pemerintahan, khususnya Presiden Jokowi. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu 24 muncul dua pernyataan yang sangat jauh berbeda. Sebuah media menggambarkan situasi ini dengan sindirin kocak, sekaligus memprihatinkan. Harian Rakyat Merdeka membuat headline dengan judul “Syukur Alhamdulillah, Berubah Menjadi Innalillah.” Ucapan syukur Presiden ketika angka Covid-19 hampir menyentuh 1 juta, sesungguhnya membuat banyak kening berkerenyit. Angka tersebut, tidak layak disyukuri. Apalagi berdasarkan perhitungan para ahli pandemi, angka sesungguhnya bisa berkali lipat. Ada yang menyebutnya tiga kali lipat. 10 kali lipat. Bahkan sampai 27-28 kali lipat. Intinya jauh lebih besar dibandingkan data yang setiap hari dipublis pemerintah. Soal kacaunya data milik pemerintah itu sudah diakui oleh Menkes Budi Sadikin. Dia mengakui strategi testing pemerintah salah. Dampaknya bisa dipastikan, tracing (penelusuran) dan treatmentnya juga salah. Kacau balau lah semuanya. Bahkan untuk pelaksanaan vaksin, Menkes sampai mengaku kapok menggunakan data Depkes. Mengapa bisa begitu? Mengapa Presiden Jokowi mengeluarkan berbagai pernyataan yang ajaib untuk masalah seserius Covid-19. Pernyataan yang membuatnya, jadi bulan-bulanan media dan media sosial? Mereka kemudian membanding-bandingkan pernyataan Jokowi dengan berbagai kepala negara lain. Akun Instagram Pandemitalks membuat perbadingan pernyataan Presiden Filipina Duterte dengan Jokowi. Dengan populasi 110 juta jiwa, Presiden Filipina langsung mengakui kesalahannya. Padahal saat itu angka positif Covid “baru” tembus 100 ribu. “Kami gagal total. Tidak ada yang mengantisipasi ini,” tegasnya. Di Indonesia, dengan populasi 270 juta, dan angka Covid nyaris tembus 1 juta, Presiden Jokowi menyatakan “bersyukur. ”Situs Pandemitalks biasanya hanya memaparkan data-data saja, tak mampu menahan diri untuk tidak bersikap nyinyir. Ketika akhirnya angka positif Covid tembus 1 juta, Presiden menyatakan duka cita secara tidak langsung. Sehari kemudian Rabu (27/1) PM Inggris Boris Jhonson mendapat pemberitaan besar-besaran di media. Angka kematian di Inggris tembus 100 ribu. Jhonson secara gentlemen menyampaikan permintaan maaf. Dia bertanggung jawab atas semuanya. "Saya sangat menyesal untuk setiap nyawa yang hilang. Tentu saja sebagai perdana menteri ini menjadi tanggung jawab penuh saya terhadap apa-apa saja yang pemerintah telah lakukan," kata Boris dalam konferensi pers dan dikutip dari BBC. Silakan Bandingkan Pada hari yang sama angka kematian di Indonesia yang dilaporkan sebanyak 28.855 orang. Mengingat kacaunya data yang dimiliki pemerintah, kemungkinan angkanya jauh lebih besar. Tidak menutup kemungkinan sudah mendekati, atau bahkan lebih dari 100 ribu. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi Pak Jokowi? End Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id.

Kasus Covid-19 Dunia Tembus 100 Juta, Saatnya "Bersahabat" dengan Sang Virus

By Mochamad Toha INFEKSI Virus Corona alias COVID-19 di seluruh dunia hingga kini telah menembus lebih dari 100 juta kasus. Amerika Serikat masih menjadi negara dengan kasus dan kematian tertinggi, sebanyak 0,25% dari total kasus dunia (25.861.597 kasus) dengan 431.392 kematian. Mengutip CNNIndonesia.com, Selasa (26/01/2021 16:02 WIB), data statistik Worldometers mencatat total kasus Covid-19 di seluruh dunia telah mencapai 100.318.305 dengan angka kematian mencapai 2.150.606 korban jiwa dan 72.367.490 dinyatakan sembuh. Selain AS, India, dan Brazil masing-masing menempati urutan kedua dan juga kedua negara dengan kasus corona tertinggi di dunia. India sejauh ini memiliki 10.677.710 kasus Covid-19 dengan 153.624 kematian. Sedangkan Brazil yang berada di urutan ketiga dunia memiliki 8.872.964 kasus dan 217.712 korban jiwa. Brazil menjadi negara kedua setelah AS dengan angka kematian tertinggi akibat Covid-19. Di Eropa, Rusia menjadi negara dengan kasus corona tertinggi dengan 3.756.931 dan 70.482 kematian. Inggris membuntut sebagai negara dengan kasus corona tertinggi kedua di Benua Biru dengan 3.669.658 dan 98.531 kematian. Indonesia ada di urutan ke-19 sebagai negara dengan kasus corona tertinggi di dunia. Hingga Selasa (26/1/2021) kasus corona di Indonesia tembus 1.012.350 (tambah 13.094 kasus baru). Indonesia satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki 1 juta kasus Covid-19. Sementara itu, data John Hopkins University mencatat, kasus corona global saat ini sebanyak 99.734.558 dengan 2.140.446 kematian. Seperti halnya data yang dirilis Worldometers, JHU juga mencatat AS sebagai negara dengan kasus dan angka kematian tertinggi di dunia. Menyusul di bawah AS, kasus tertinggi Covid-19 berturut-turut berada di India, Brasil, Rusia, dan Inggris. Sementara kematian tertinggi di dunia setelah AS tercatat berada di Brazil, India, Meksiko, dan Inggris. Sejak pertama kali dilaporkan di Wuhan, China pada akhir 2019, virus corona hingga saat ini telah menyebar ke lebih dari 100 negara di dunia. Baru-baru ini virus corona bahkan telah dinyatakan bermutasi di Inggris, Brazil, dan Afrika Selatan. Perdana Inggris Boris Johnson pekan lalu bahkan memperingatkan jika jenis baru jika jenis baru virus corona yang ditemukan di sana 30 persen lebih mematikan dan diyakini 40 hingga 70 persen lebih cepat menular. “Kami telah diberi tahu bahwa selain menyebar lebih cepat, sekarang juga tampaknya ada beberapa bukti bahwa varian baru mungkin lebih terkait dengan tingkat kematian yang lebih tinggi,” kata Johnson dalam konferensi pers, Jumat (22/1/2021). Di Indonesia sendiri, meski Pemerintah mengumumkan angka positif Covid-19 sudah tembus 1 juta kasus, dalam Hersubeno Point FNN, tapi menurut epidemiolog dari FKM Universitas Indonesia, dr. Pandu Riono, MPH, PhD, angka realnya bisa 8-15 kali lipat. Nilai tengahnya sekitar 10 juta orang, setidaknya yang sudah terinveksi. Begitu kata Dokter Pandu Riono. Pahami Bakteri Perlu dicatat, dengan mutasi yang begitu cepat dan semakin kuat, Covid-19 sekarang ini tidak hanya menyerang saluran pernafasan hingga masuk ke paru-paru, tapi juga mulai menyerang saluran pencernaan, sistem saraf, dan mata. Mengapa corona bisa bermutasi sampai ratusan variasi genetika yang berbeda? Salah satunya karena masifnya penyemprotan desinfektan berbasis alkohol dan bahan kimia lainnya. Itu yang tidak pernah dipikirkan oleh para peneliti. Perlu diingat, virus corona itu basic-nya seperti virus influenza. Habitatnya juga ada di kulit sekitar hidung manusia. Mereka ini bertugas membersihkan zat-zat patogen yang menempel di kulit sekitar hidung dan bibir atas. Mereka juga bertugas membantu menjaga kelembaban kulit manusia. Jadi, sebenarnya virus corona tersebut berada di tubuh manusia. Sifat dasar virus/bakteri itu serupa dengan antibodi, manusia, hewan, atau tanaman. Yakni, kalau mereka tersakiti, mereka akan memperkuat dirinya, dan menggandakan dirinya beratus-ratus kali lipat, dibandingkan pada kondisi normal. Hewan, akan beranak sebanyak mungkin. Tanaman, akan berbuah dan bertunas sebanyak mungkin. Si corona itu, begitu masuk ke dalam tubuh kelelawar, mereka meriplikasi dirinya sebanyak mungkin. Hal itu dilakukan, karena itu tempat asing bagi mereka, itu membuat mereka ketakutan, maka mereka menggandakan dirinya sebanyak mungkin. Begitu si kelelawar itu dimakan manusia, maka corona ini beralih ke manusia, dan langsung menggandakan diri lebih hebat lagi. Pertanyaannya, mengapa kelelawar-kelelawar itu tidak sakit seperti manusia? Karena kelelawarnya ndablek, cuek, masa bodoh, dan “tidak berpikir”, sehingga antibodinya kuat, dan tidak tersakiti. Maka kalau manusia ingin sehat, walaupun sudah terpapar Covid-19, bersikaplah seperti kelelawar, minimal ndablek, cuek, dan masa bodoh. Covid-19 yang tertuduh sebagai pembunuh massal sadis itu, berusaha dibunuh secara massal pula, dengan disemproti desinfektan secara massal. Akibatnya, ada sebagian yang mati, ada sebagian yang masih hidup. Barangkali yang masih hidup lebih banyak dibanding dengan yang telah mati. Karena sudah menjadi sifatnya virus/bakteri itu, maka yang hidup ini menggandakan dirinya beratus-ratus atau beribu-ribu kali lebih banyak dan lebih kuat dibanding sebelumnya. Kalau sebelumnya kemampuan terbangnya hanya sekitar 1,8-2 m, menjadi akan lebih jauh lagi dibanding dengan itu. Kemampuan terbang lebih jauh inilah yang menyebabkan mereka menjadi bersifat “airborne infection”. Lalu karena jumlah mereka sangat banyak, mereka juga menemukan bakteri-bakteri lain yang mempunyai daya terbang lebih jauh. Corona menumpang pada bakteri lainnya. Hal ini serupa dengan pesawat ulang alik yang numpang pada pesawat yang berbadan lebih besar. Akibat dari penyemprotan desinfektan secara massal, menyebabkan mereka menjadi: Lebih banyak; Lebih kuat; Mampu terbang lebih jauh; Daya rusaknya lebih hebat. Makanya tidak heran kalau sekarang ini banyak ditemukan varian baru corona di dunia. Jadi, kita tidak mungkin bisa lari dari corona, lha wong sejatinya corona itu memang ada di kulit sekitar hidung dan bibir atas manusia. Yang terbang itu corona “liar” yang sedang mencari pasangannya. Karena pasangannya ada di bibir atas, makanya kita disuruh pakai masker agar corona yang liar tadi tidak hinggap di sekitar hidung kita. Dengan mutasi yang begitu cepat dan kuat, Covid-19 sekarang ini tidak hanya menyerang saluran pernafasan hingga masuk ke paru-paru, tapi juga menyerang saluran pencernaan, sistem saraf, dan mata. Inilah yang saya duga kemarin itu yang menyebabkan kematian Dokter JF di Palembang. Karena jika dilihat tanda-tandanya seperti terkena serangan Covid-19. Duodenum Di duodenum (usus 12 jari) tubuh kita itu berkumpul sekitar 19 juta strain bakteri. Bakteri-bakteri itulah yang membantu memproses semua nutrisi yang kita makan, dipecah-dipecah sampai menjadi asam amino. Dalam bentuk asam amino-lah, nutrisi itu terdistribusi ke seluruh sel, dan bisa diserap oleh sel-sel tubuh kita. Yang berperan sebagai expeditor-nya adalah sel-sel darah merah. Makin bagus proses pengolahannya oleh bakteri itu, maka yang terserap lebih maksimal. Begitu pula sebaliknya, makin kurang bagus proses pengolahannya, makin minimal pula yang bisa diserap oleh sel-sel tubuh kita. Jadi, sel-sel tubuh kita itu user/konsumen, bukan produsen. Nah, kalau kita sengaja berpuasa, sengaja mengosongkan perut, maka bakterik-bakteri itu akan keluar dari persembunyiannya, berebut makanan, lalu memprosesnya secara maksimal, menjadi asam amino. Semua potensi nutrisi yang ada, diolah menjadi asam amino-asam amino yang bisa diserap oleh sel tubuh kita, sehingga yang tersisa menjadi residu makanan, menjadi sangat minimal. Kalau usus terlalu banyak menimbun sisa makanan, bisa menghasilkan gas metane, yang bisa meracuni tubuh kita sendiri. Sementara kalau makanan yang di lambung selalu ada, mereka merasa nyaman, karena persediaan makanan cukup banyak. Seperti orang menengok sebentar, lalu mereka kembali lagi. Sehingga, dia tidak keluar, dan memproses nutrisi secara maksimal. Maka, akan banyak tertimbun sisa-sisa makanan di usus kita. Dari proses yang dilakukan oleh bakteri-bakteri itulah, yang menghasilkan keadaan yang ini disebut dengan autophagisom itu. Bakteri yang mengubah nutrisi menjadi asam amino dan menghasilkan berbagai jenis enzim. Asam amino/enzim-enzim hasil olahan bakteri-bakteri itulah yang salah satu berupa protein yang disebut dengan autophagi. Autophagi itu output dari suatu proses yang dilakukan para bakteri-bakteri itu. Ini sebenarnya kebenaran substansi dari sebuah kalimat bijak: “berpuasalah kamu, niscaya kamu sehat”. Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id.

Satu Dokter Wafat Pasca-Vaksin, Sinovac Tidak Aman?

by Mochamad Toha Surabaya, FNN - Ada yang menarik dari akun Facebook Prof. Yuwono, terkait dengan meninggalnya Dokter JF di Kota Palembang usai divaksin Covid-19 pada Kamis (14/1/2021). Ia menyebut, dokter asal Palembang yang meninggal itu adalah sahabatnya. Usianya 49 tahun. Prof. Yuwono menyebut, korban meninggal di dalam mobil. Korban tidak punya comorbid dan tidak memiliki riwayat dirawat di rumah sakit. Berikut postingan lengkap Prof Yuwono di media sosial Facebook (23 Januari pukul 09.52): ALLAHUMMAGHFIRLAHU Semalam sahabatku (dokter, 49 thn) ditemukan wafat di mobilnya. Kamis kemarin ia divaksin. Ia tidak punya comorbid & tak ada riwayat dirawat di rumah sakit. Apakah ini ada hubungannya dgn vaksin? Perlu penjelasan dari dinkes kota sebagai penanggungjawab vaksin sekaligus lembaga di mana sahabatku mengabdi. Sebagai dokter saya sdh bilang bhw pemberian vaksin atau obat apapun harus benar2 ilmiah dg jaminan safety & efficacy yg baik. Tidak ada yg kebetulan di dunia ini dan tidak ada mushibah termasuk kematian kecuali sudah digariskan oleh Allah. Manusia diberi kebebasan bersikap & bertindak sesuai dgn kapasitas keilmuannya. Karena itu saya tak jemu mengingatkan utk selalu memutuskan, bersikap & berbuat berdasarkan ilmu bukan berdasar kepentingan. Moga para pemimpin bijak dalam hal apapun krn mereka akan diminta pertanggungjawabannya. “Selamat jalan sahabatku, Allah menyayangimu” Dokter forensik RS M Hasan Bhayangkara Palembang Indra Nasution mengatakan, Dokter JF meninggal pada Jumat (22/1/2021) pagi. Hal tersebut diketahui dari otot jenazah yang belum kaku. Tim forensik menemukan bintik pendarahan yang disebabkan kekurangan oksigen di daerah mata, wajah, tangan, dan dada. Temuan itu menyimpulkan dugaan penyebab kematiannya. “Diduga meninggal karena sakit jantung,” ungkap Indra. “Benar berdasarkan laporan yang bersangkutan baru saja divaksin, namun vaksin tidak ada hubungan dengan penyebab kematian. Jika akibat vaksin, pasti reaksinya lebih cepat dan matinya juga (akan) lebih cepat karena disuntikkan,” lanjutnya. Kasi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Kota Palembang, Yudhi Setiawan mengatakan, penyebab Dokter JF meninggal dunia bukan karena vaksin Covid-19, melainkan kekurangan oksigen. “Berdasarkan pemeriksaan dokter forensik, yang bersangkutan meninggal karena kekurangan oksigen. Tidak ada hubungannya dengan vaksin yang diberikan,” kata Yudhi, seperti dikutip Liputan6.com, Minggu (23/1/2021). Jasad dokter JF itu ditemukan di dalam mobil yang terparkir di salah satu minimarket di Jalan Sultan Mansyur Palembang, Jumat (22/1/2021) malam. Dokter JF memang sempat disuntik vaksin pada Kamis (21/1/2021). Setelah divaksin itu, kondisi dokter JF cukup baik dan tidak ada indikasi gangguan kesehatan. “Yang bersangkutan sehat-sehat saja (setelah divaksin). Kalau memang ada kaitannya dengan vaksin, biasa akan timbul gejala segera setelah pemberian vaksin,” terang Yudhi. Menurut akademisi dan peneliti dari Lembaga Ahlina Institute dr. Tifauzia Tyassuma, kasus serupa bakal mewarnai 2021. “Kejadian seperti ini akan mewarnai hari-hari di tahun 2021. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) akan dicatat dan dilaporkan,” katanya. “Penerima vaksin yang menjadi korban ini akan dicatat dan dilaporkan, dan yang meninggal akan dikubur,” lanjutnya. Dokter Tifa menyebut pemerintah akan sibuk mengklarifikasi demi meyakinkan masyarakat bahwa penyebab kematian itu bukan karena vaksin Covid-19. “Dan klarifikasi dari Pemerintah dan Para ProVaks hardcore akan bilang bahwa korban (itu) meninggal bukan karena Vaksinasi, tetapi karena jantung berhenti berdetak, paru tak mampu mengambil nafas, dan batang otak berhenti bekerja,” ungkap Dokter Tifa. “Pasti bukan karena Vaksin. Apalagi Vaksin China yang jelas-jelas sangat aman,” sindirnya. Yang membuat Dokter Tifa gusar sejak awal, mengapa para nakes itu diberi jatah Sinovac? “Padahal apa susahnya memesan 3 juta botol dari merk lain dengan kualitas lebih bagus?” ungkapnya. Bukan Covid? Tim forensik menemukan bintik pendarahan yang disebabkan kekurangan oksigen di daerah mata, wajah, tangan, dan dada. Jadi, Dokter JF meninggal karena kekurangan oksigen. Tidak ada hubungannya dengan vaksin yang diberikan. Begitu kesimpulan Tim Forensik RS Bhayangkara dan Dinkes Kota Palembang. Benarkah memang bukan karena akibat vaksin Sinovac yang disuntikkan pada Dokter JF? Tentunya masih perlu investigasi lebih dalam lagi. “Kita memang tidak boleh mengabaikan kasus kematian dokter yang meninggal setelah dia divaksin 1 hari sebelumnya, tetap harus diinvestigasi, untuk pelajaran di masa mendatang,” ujar seorang dokter. Tapi, coba pikirkan, dari ribuan orang nakes orang yang divaksin hanya 1 yang dilaporkan meninggal dan itupun juga belum tentu terkait langsung dengan vaksin. Tapi, kalau ribuan orang itu terinfeksi covid, berapa puluh orang yang meninggal? "Taruh misalnya, fatality rate sekitar 2,8 persen berarti 28 orang tiap seribu. Indonesia sekarang hampir 1 juta dengan kematian hampir 28 ribu orang meninggal, berarti kita sudah selamatkan banyak orang,” lanjutnya. Jadi, sekali lagi kasus kematian pasca vaksin itu harus tetap diinvestigasi, tapi tidak boleh meng-genalisir vaksin itu berbahaya. “Harus diinvestigasi pada keadaan apa vaksin itu membahayakan, sehingga ke depannya bisa dimasukkan dalam perhatian! Atau, kontra-indikasi vaksin,” tegas dokter tadi. Menurut Dokter Tifa, jalur yang dipakai virus setelah menginfeksi adalah dinding pembuluh darah bagian dalam yang disebut endothel. “Innactivated vaccine masih memiliki kemampuan menularkan,” tegasnya. Jika menyimak hasil pemeriksaan Tim Forensik atas jasad Dokter JF itu, tidak tertutup kemungkinan ia terpapar Covid-19 pasca divaksin. Logikanya, jika terpapar sebelum divaksin, pasti ia tak diizinkan ikut vaksinasi. Perlu dicatat, dengan mutasi yang begitu cepat dan semakin kuat, Covid-19 sekarang ini tidak hanya menyerang saluran pernafasan hingga masuk ke paru-paru, tapi juga mulai menyerang saluran pencernaan, sistem saraf, dan mata. Bisa jadi, seperti yang sering saya tulis, virus corona yang ditanam di vaksin itu meski sudah “dimatikan” (inaktif), suatu saat dalam suhu tertentu bisa “membangunkan” dia. Karena, ada diantara virus yang dimatikan itu masih ada yang “tidur” (dorman). Kekurangan oksigen bisa juga karena serangan Covid-19 itu lewat aliran darah, sehingga ini menyebabkan paru-paru tidak bisa menyerap oksigen secara normal. Akibatnya, darah juga kekurangan oksigen. Jadi, bisa saja bintik pendarahan yang disebabkan kekurangan oksigen di daerah mata, wajah, tangan, dan dada itu indikasi adanya Covid-19 di tubuh Dokter JF. Apalagi, seperti kata Prof Yuwono, “Ia tidak punya comorbid dan tak ada riwayat dirawat di rumah sakit!” Untuk mengetahui penyebab sebenarnya, tidak ada salahnya jika dilakukan otopsi pada jasad Dokter JF. Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id.

Faktanya, Vaksin Sinovac Terbukti "Bahaya"!

By Mochamad Toha Surabaya, FNN - Fakta: Vaksin Sinovac ternyata masih belum aman juga! Bahkan, beberapa pejabat ada yang terinfeksi Virus Corona (Covid-19) usai disuntik vaksin produk China tersebut. Setidaknya 2 pejabat di daerah sudah dinyatakan positif Covid-19. Apahabar.com, Kamis (22/1/2021) menulis, sepekan setelah disuntik vaksin Sinovac, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Banjarmasin Machli Riyadi dikabarkan positif Covid-19. Machli menerima suntikan pertama vaksin Corona pada Kamis, 14 Januari 2021. Seperti diberitakan, Machli Riyadi mengikuti vaksin Covid-19 berbarengan dengan Walikota Banjarmasin Ibnu Sina di kantor Dinkes Kota Banjarmasin. “asanya lumayan,” ujar Ibnu usai divaksin kala itu, Kamis (14/1/2021). Fakta lainnya. KOMPAS.com, Jum’at (22/01/2021, 11:00 WIB), Bupati Sleman Sri Purnomo terkonfirmasi positif Covid-19 setelah pekan lalu menerima vaksin Sinovac. Saat ini, Sri Purnomo tengah menjalani isolasi mandiri di rumah dinas. “Hasil antigen kemarin dan hasil PCR tadi pagi itu (Bupati Sleman Sri Purnomo) positif (Covid-19),” ujar Sekda Kabupaten Sleman Harda Kiswaya, Kamis (21/1/2021). Harda menyampaikan, Bupati Sleman Sri Purnomo saat ini dalam kondisi baik. “Kami bersyukur setelah dilakukan foto scan paru-paru dan sebagainya alhamdulilah semuanya kondisinya sangat baik, jadi OTG. Beliau melakukan isolasi mandiri di rumah dinas,” ungkapnya. Berkaitan dengan Bupati Sleman yang terinfeksi Covid-19 usai divaksin, banyak rumor yang mengatakan bahwa ini disebabkan oleh bahan vaksin berupa virus yang dilemahkan, bahkan “dimatikan” alias inaktif. Benarkah demikian? Bolah jadi benar! Fakta lainnya lagi. Keluhan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) tidak banyak dialami oleh tenaga kesehatan (nakes) di Surabaya usai disuntik vaksin COVID-19. Dari catatan Dinas Kesehatan (Dinkes), KIPI hanya ada 22 kejadian. Melansir Gelora.co, Sabtu (23/1/2021), dari 22 kejadian tersebut, rinciannya yaitu: 7 orang mengalami merah atau ruam di lengan tempat divaksin, 5 orang mengalami gatal-gatal, 1 orang demam, dan 1 orang lagi muntah-mutah. “Tidak ada keluhan gejala berat, semuanya kategori KIPI ringan,” kata Plt Walikota Surabaya Whisnu Sakti Buana, Jum’at (22/1/2021). Dari laporan terakhir sudah ada 3.307 nakes yang telah menerima vaksinasi. Fakta KIPI Dokter JF yang divaksin, Kamis (21/1/2021), esoknya ditemukan tewas di dalam mobil yang diparkir di sebuah market yang berada di Jalan Sultan Mansyur, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (22/1/2021). Seperti dilansir Kompas.com, Sabtu (23/01/2021, 21:14 WIB), Juru Bicara Satgas Covid-19 Palembang Yudhi Setiawan menegaskan, JF (49), dokter yang meninggal di dalam mobilnya bukan karena divaksin, tapi sakit jantung. Yudhi membenarkan jika JF disuntik vaksin Covid-19 pada Kamis (21/1/2021). Namun, pada saat divaksin tidak menunjukkan reaksi apapun. “Setelah disuntik itu ditunggu 30 menit. Selama itu, korban ini tidak menunjukkan gejala apapun, sehingga ini dipastikan bukan karena divaksin, tapi sakit jantung sesuai hasil pemeriksaan forensik,” kata Yudhi. Yudhi pun mengimbau kepada tenaga kesehatan untuk tidak takut divaksin. “Kematiannya (JF) tidak ada hubungannya sama sekali dengan vaksin,” tegasnya. Hal senada dikatakan dokter forensik RS M Hasan Bhayangkara Palembang Indra Nasution yang mengatakan bahwa JF meninggal buka karena vaksin. “Diduga sakit jantung, bukan karena vaksin. Memang sehari sebelumnya korban ini sempat disuntik vaksin,” katanya. Tapi, ia menegaskan kematian korban tidak ada hubungannya dengan itu. “Korban divaksin Kamis, meninggal diperkirakan Jumat. Kalau disuntik, pasti reaksinya lebih cepat. Kalau menurut saya, ini bukan karena vaksin, tapi jantung,” ujar Indra. Sebelumnya diberitakan, seorang dokter berinisial JF, ditemukan tewas di dalam mobilnya sendiri di sebuah market yang berada di Jalan Sultan Mansyur, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (22/1/2021). Warga yang mengetahui itu kemudian menghubungi polisi. Polisi yang mendapat laporan langsung mendatangi lokasi kejadian dan mengevakuasi jasad korban ke RS Bhayangkara Palembang untuk dilakukan visum. Dari hasil pemeriksaan luar, dokter forensik menemukan bintik merah pendarahan yang disebabkan kekurangan oksigen di sekitar mata, wajah, tangan dan dada. Fakta-fakta yang dialami Bupati Sleman, Kadinkes Samarinda, 22 nakes Surabaya, maupun Dokter JF di atas sudah cukup membuktikan bahwa Vaksin Sinovac tidaklah “cukup aman” untuk program Vaksinasi Nasional untuk atasi Pandemi Covid-19. Apalagi, sebelumnya saat Uji Klinis yang dilakukan Tim Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung juga terdapat 7 orang yang terinfeksi Covid-19. Terlepas dari masalah hitungan waktu masa inkubasi Covid-19, namun faktanya vaksin asal China itu ternyata tidak cukup efektif untuk herd immunity pada tubuh manusia. Mengapa kita masih memakai Vaksin Sinovac, meski “tidak aman”? Jejak digital menyebut, vaksin Sinovac itu terbuat dari virus corona yang telah “dilemahkan” atau “dimatikan”. Jika memang vaksin Sinovac yang dikirim untuk Indonesia itu dari virus Corona yang sudah "dimatikan”, itu sama saja dengan China sedang menginfeksi rakyat Indonesia dengan Covid-19 secara massal. Karena, seperti yang sering saya tulis, di antara virus yang “dimatikan” itu, dipastikan ada yang dorman atau tidur. Nah, yang dorman dan dikira mati itu pada saat atau dengan suhu tertentu akan hidup lagi! Catat! Virus atau bakteri corona itu mahluk hidup yang cerdas! Misalnya, bila virus corona dihantam desinfektan chemikal (kimia), maka asumsi umumnya mereka mati. Tapi, ternyata saat ini mutasi corona sudah lebih dari 500 karakter atau varian. Ternyata, karena gennya bermutasi, mutannya ada yang “bersifat” tidak hanya ke reseptor ACE-2 saja, tapi langsung menginfeksi sel-sel saraf. Ada juga yang langsung berikatan atau nempel di sel-sel darah merah. Sehingga manifestasi klinisnya seperti DB, tapi saat dites PCR: positif. Kasus seperti ini banyak ditemukan di pasien-pasien anak di rumah sakit. Izin WHO WHO sendiri berencana untuk memberikan izin penggunaan beberapa vaksin Covid-19 dari sejumlah produsen di negara Barat dan China dalam beberapa pekan hingga beberapa bulan mendatang. Melansir dari TribunSumsel.com, Jum’at (22 Januari 2021 13:54), ini bertujuan agar negara-negara miskin segera mendapatkan vaksin virus corona COVAX, skema penyediaan vaksin Covid-19 global yang dipimpin oleh WHO. WHO ingin menyediakan sedikitnya 2 miliar dosis vaksin corona di seluruh dunia tahun ini. Di mana 1,3 miliar dosis ditujukan untuk negara-negara miskin. Namun, hal ini menemui kendala seperti kurangnya dana yang mencukupi. Karena negara-negara kaya telah memesan vaksin dalam jumlah besar untuk mereka sendiri. Dalam perlombaan penyediaan vaksin, persetujuan regulator adalah kunci mengonfirmasikan efektivitas dan keamanan vaksin, dan untuk meningkatkan produksi. Tetapi beberapa negara miskin sangat bergantung pada persetujuan WHO karena memiliki kapasitas regulator yang terbatas. Sejauh ini WHO baru memberikan izin penggunaan kepada vaksin buatan BioNtech-Pfizer pada akhir Desember tahun lalu. Oleh karena itu, WHO “mempercepat” persetujuan penggunan darurat, menurut dokumen internal COVAX yang dilihat oleh kantor berita Reuters. Vaksin apa yang akan disetujui? Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan diproduksi Serum Institute of India (SII) akan disetujui pada Januari ini atau Februari. Kepala Eksekutif SII Adar Poonawalla mengatakan bahwa pihaknya mengharapkan persetujuan WHO “dalam satu atau dua minggu ke depan”. Vaksin yang dikembangkan bersama Universitas Oxford ini telah diberikan izin penggunaan darurat di Inggris, sementara itu pemberian izin untuk di Uni Eropa dan AS dikabarkan sudah semakin dekat. Dokumen tersebut juga menyebutkan vaksin corona produksi Moderna yang didasarkan pada teknologi mRNA akan disetujui akhir Februari. Vaksin yang dikembangkan oleh Johnson & Johnson (J&J) - yang memiliki perjanjian tidak mengikat dengan Covax – juga direncanakan mendapat persetujuan WHO paling cepat pada Mei atau Juni. Selain itu, vaksin yang diproduksi di Korea Selatan oleh SK Bioscience dapat disetujui oleh WHO paling awal di pertengahan bulan Februari, dan vaksin asal 2 produsen China, Sinovac dan Sinopharm, akan disetujui paling cepat pada Maret. Oxford kembangkan vaksin untuk varian baru virus corona. Ilmuwan di Oxford bersiap untuk segera memproduksi versi baru dari vaksin mereka untuk memerangi kemunculan varian baru virus corona lebih menular yang ditemukan di Inggris, Afrika Selatan, dan Brazil. The Telegrapgh, Rabu (20/01/2021) menyebut, tim dari Universitas Oxford dan AstraZeneca sedang melakukan studi kelayakan untuk mengkonfigurasi ulang platform vaksin mereka yang bernama ChAdOx. Mengapa Sinovac belum disebut akan mendapat izin dan rekomendasi dari WHO? Menurut Al Jazeera, Sinovac disebut sebagai vaksin paling lemah jika dibandingkan dengan vaksin lainnya. Kabar itu disebutkan oleh Al Jazeera pada November tahun lalu, yang dimuat dalam tabel berdasarkan hasil uji klinis dari berbagai vaksin. Diantara 10 vaksin, Sinovac disebut-sebut vaksin paling bawah dalam menimbulkan respon imun. Sementara vaksin dengan respon imun tertinggi adalah Pfizer dengan angka mencapai 95 persen, sedangkan Sinovac tidak disebutkan dengan angka dan hanya disebutkan low. *** Penulis wartawan senior fnn.co.id

Meragukan Vaksin Sinovac

by Suhardi Suryadi Jakarta, FNN - Harian Global Times yang terbit tanggal 13 Januari 2021 mengatakan bahwa vaksin yang dibuat Sinovac membuktikan tingkat keamanannya dan effektif di beberapa negara. Menurutnya vaksin ini 100 persen efektif dalam mencegah infeksi parah dan sedang, 77,96 persen efektif mencegah kasus ringan. Namun memiliki kemanjuran sekitar 50,4 persen dalam uji coba tahap akhir di Brasil. Demikian pula dengan peluncuran vaksinasi massal untuk penggunaan darurat di Indonesia dan Turki yang menunjukkan bahwa dengan tingkat kemanjuran sebesar 50,4 persen tidak akan merusak kepercayaan pada suntikan dan tidak akan mengurangi komitmen pengguna potensial untuk membelinya. Bahkan vaksin sinovac ini telah resmi digunakan di Indonesia pada tanggal 13 Januari 2021. Menolak Sinovac Pada sisi lain, terdapat pula perusahaan yang memproduksi vaksin juga direncanakan akan dipakai di Indonesia. Di antaranya adalah Pfizer dan Moderna yang telah menunjukkan kemanjuran sekitar 95 persen. Pfizer telah melakukan 150 uji klinis Fase III pada vaksin mRNA-nya, BNT162b2, di AS, Jerman, Turki, Afrika Selatan, Brasil, dan Argentina, yang melibatkan lebih dari 44.000 peserta berusia 16 tahun keatas Vaksin produksi sinovac ini nampaknya kurang sepenuhnya mendapat respon positif dari masyarakat Indonesia. Sekalipun telah resmi digunakan sebagai vaksin dalam mencegah penyebaran covid-19. Penolakan yang cukup mencuat dan salah satunya dilakukan oleh anggota DPR – RI dari Fraksi PDIP yaitu Ribka Tjiptaning. Beliau dalam forum resmi legislatif menyatakan menolak menerima vaksin corona buatan perusahaan farmasi asal China, Menurut hasil survei yang dilakukan oleh kelompok penasehat teknis imunisasi (ITAGI), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan UNICEF dengan melibatkan 115 ribu orang di seluruh provinsi, menunjukkan bahwa sebagian kelompok yang menyatakan menolak vaksin sinovac karena faktor efek samping bagi kesehatan dan perihal kehalalannya. Aceh dan Sumatera Barat menunjukkan bahwa jumlah warga yang bersedia menerima vaksin Covid-19 di Aceh hanya 46% dan Sumatera Barat sebesar 47%. Kecenderungan warga menolak vaksin pada dasarnya lebih karena faktor keraguan atas kualitas produk sinovac. Penolakan ini pada hakekatnya bukan pada vaksinnya, melainkan pada negara pembuatnya. Sikap menolak produk Tiongkok sesungguhnya sudah berlangsung lama, baik karena alasan politik maupun kualitas yang rendah. Boikot produk Tiongkok telah menjadi sebuah slogan populer di berbagai media yang dibuat untuk kampanye sampai pemboikotan produk-produk Tiongkok di berbagai negara. Umumnya alasan yang dikutip untuk pemboikotan tersebut adalah kualitas yang dianggap rendah dari produk tersebut dan Tiongkok dipandang sebagai wilayah yang berpotensi memperluas pengaruhnya. Sementara pada sisi lain, warga masyarakat yang bersedia divaksin pun tetap menuntut adanya jaminan dari pemerintah. Jaminan terkait dengan keamanan dan kualitas atas vaksin sinovac ini. Beberapa faktor yang dituntut oleh warga masyarakat terhadap penggunaan vaksin Covid-19 ini adalah adanya surat rekomendasi dari health care providers. Keamanan vaksin terjamin. Vaksin tidak membahayakan kesehatan. Misalnya, terbukti tidak ada efek sampin, baik jangka pendek apalagi jangka panjang. Efektivitas vaksin telah teruji berdasarkan bukti klinis. Kecenderungan politik mendukung. Begitu kehalalan vaksin terjamin. Skses untuk memperoleh vaksin dengan biaya terjangkau tersedia," menurut Dr. Endang Mariani, M.Psi. Dengan demikian, keraguan warga dalam penerapan vaksin ini disebabkan oleh asal negara atau perusahaan bukan pada produk vaksin itu sendiri. Warga nyaris tidak berkomentar menolak atas vaksin yang dibuat Pfizer dan Moderna, Oxford-AstraZeneca dan Johnson & Johnson, yang dipandang jauh lebih efektif daripada vaksin Tiongkok,. Bahkan menurut Juru Bicara Ikatan Dokter Indonesia, Dr. Erlina Burhan, kekebalan masyarakat terhadap Covid-19 atau herd community akan tercapai jika 70% penduduk Indonesia divaksin. Persentase itu setara dengan sekitar 189 juta orang. Efektivitas atau kemanjuran yang lebih rendah dari vaksin dikuatirkan membutuhkan waktu lebih lama. Terutama untuk negara-negara yang menggunakan sinovac untuk mencapai kekebalan kelompok. Suatu titik di mana cukup banyak orang yang kebal terhadap virus (di atas 70 persen). Hal ini berbeda dengan vaksin yang dibuat oleh Moderna dan Pfizer-BioNTech yang telah di klaim memiliki tingkat kemanjuran sekitar 95 persen. Kondisi inilah yang menjadi alasan bagi warga Amerika dan Eropa lebih memilih produk Pfizer-BioNTech sebagai vaksin ketimbang produk buatan sinovac. John Moore, pakar vaksin di Cornell University mengatakan “Ford Model T yang terawat baik mungkin akan membawa Anda dari Wuhan ke Beijing, tapi secara pribadi saya lebih memilih Tesla” (Sui-Lee Wee dan Ernesto London, New York Times, 13 Januari 2021). Penulis adalah Peneliti LP3ES

Rabi Daniel Asor: Vaksin Covid Berpotensi Bikin Orang Jadi Gay!

by Mochamad Toha Surabaya, FNN - Seorang Ketua Agama Yahudi (Rabi) berpengaruh di Israel, Rabi Daniel Asor, yang paham juga ilmu kedokteran menyeru para penganut ajaran ultra-Orthodox untuk tidak menerima suntikan vaksin Corona alias Covid-19 apapun itu. Menurutnya, vaksin yang disuntik akan menyebabkan seseorang bisa menjadi homoseksual. Media Israel, Jerusalem Post dan Israel Hayom melaporkan tuduhan Daniel Asor, fenomena Covid-19 itu adalah didalangi oleh pihak tertentu. Pandemik tersebut sengaja direka oleh ‘kumpulan rahasia’ antara bangsa seperti Freemason, Illuminati, dan penggasas Microsoft, Bill Gates. “Penyakit dan vaksin dihasilkan adalah bagi membentuk order dunia baru (New World Order),” kata Daniel Asor. “Ini pengakuan jujur dan terbuka dari seorang Rabi Yahudi anti Zionis dan premansory yang membuat pihak Israel sendiri gerah. Rabi Daniel sendiri adalah Yahudi Ortodok yang gethol membela Palestine,” ujar Von Edison Alouisci, relawan di Palestina. Tuduhan Rabi Daniel terkait vaksin ini berbeda dengan 3 Rabi Ultra-Orthodox yang menyeru pengikut mereka untuk menerima suntikan vaksin. Video ucapan Daniel Asor yang banyak tersebar di media Timur Tengah menuai kontroversi di pihak zionis Israel sendiri. Pernyataan kontras dengan para rabi orthodox terkemuka yang menyerukan kepada pengikut mereka untuk mengambil suntik vaksin virus corona. Menurut Israel Hayom, Daniel Asor memberikan khotbahnya yang mengklaim informasi yang salah. “Setiap vaksin dibuat dari subsrat embrio, dan kita memiliki bukti tentang itu, menyebabkan orientasi berlawanan,” ujarnya yang tampak mengarah pada homoseksualitas, seperti dilansir Kompas.com, Selasa (19/01/2021, 05:39 WIB). Kelompok hak asasi LGBT+, Havruta, menanggapi pernyataan Rabi Asor dengan guyonan bahwa mereka “saat ini bersiap menyambut anggota baru kami yang akan datang”. Israel saat ini menargetkan untuk memvaksinasi 5 juta dari 9 juta penduduk dan membuka kembali aktivitas ekonomi pada pertengahan Maret mendatang. Israel menunjukkan upaya vaksinasi Covid-19 tercepat di dunia. Lebih dari 2 juta penduduk Israel telah mendapatkan satu dosis suntikan vaksin Covid-19, ketika sekitar 225.000 warga telah mendapatkan suntikan kedua. Seorang pejabat senior kesehatan mengatakan pada Jumat (15/1/2021) bahwa negaranya berada dalam “tahap akhir” pandemi Covid-19. Penduduk yang berusia 45 tahun dan lebih mendapatkan tawaran vaksin Covid-19 mulai Minggu (17/1/2021), yang disebutnya sebagai tanda dari program vaksinasi Israel yang cepat. Satu dari 5 populasinya telah mendapatkan vaksin Covid-19. “Israel, dengan skala upaya vaksinnya, menunjukkan kepada dunia bahwa ada strategi keluar dari masalah,” ungkap Ronni Gamzu, penasihat Pemerintah tentang Covid-19 dan Direktur sebuah rumah sakit di Tel Aviv, kepada Channel 12. *Ditolak Gereja* Sebelumnya, tiga orang uskup senior Australia, pada pekan lalu menyatakan bahwa vaksin Covid-19 buatan Universitas Oxford, Inggris dan perusahaan farmasi AstraZeneca yang telah dipesan oleh pemerintah Australia karena terbuat dari sel-sel janin yang sengaja digugurkan. Melansir Suara.com, Rabu (26 Agustus 2020 | 07:15 WIB), Pemerintah Australia sendiri pada Senin (24/8/2020) mengatakan, komunitas keagamaan tak perlu risau, karena tak ada masalah etis terkait vaksin yang sudah dipesan sebanyak 25 juta dosis itu. Memang vaksin Covid-19 AstraZeneca itu, yang saat ini merupakan kandidat paling siap untuk diproduksi dan jadi rebutan banyak negara, dikembangkan dengan menggunakan sel-sel ginjal janin yang sengaja digugurkan. Praktik ini sudah biasa dalam dunia medis. Perdana Menteri Scott Morrison, pada Selasa (18/8/2020), telah secara resmi memesan 25 juta dosis vaksin Covid-19 ke AstraZeneca. Rencananya vaksin-vaksin itu akan diberikan secara gratis kepada rakyat Australia. Uskup Agung Gereja Anglikan, Glenn Davies; Uskup Agung Sidney (Katolik), Anthony Fisher; dan pemimpin Gereja Ortodoks Yunani Australia, Uskup Makarios Griniezakis menyatakan keberatan mereka terkait vaksin Covid-19 dalam sebuah surat kepada Morrison. Dalam surat yang dikirim pada Kamis (20/8/2020) itu, para uskup ini mengatakan, mereka mendukung adanya vaksin Covid-19, tetapi penggunaan “sel-sel janin sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat tidak bermoral”. Meski tidak mengajak umat mereka masing-masing untuk memboikot vaksin AstraZeneca tersebut, para uskup itu mengatakan bahwa umat berhak untuk menolak menggunakan vaksin tersebut, bahkan jika mereka tak punya pilihan lain. Uskup Fisher bahkan menulis di akun Facebook-nya soal masalah tersebut dan menyatakan bahwa vaksin Covid-19 dari Oxford itu menimbulkan apa yang disebutnya sebagai dilema etis. Menanggapi protes tersebut, Deputi Kepala Kantor Kesehatan Australia, Nick Coatsworth, mengatakan bahwa kekhawatiran gereja itu tak bisa diabaikan. Tetapi di saat yang sama, ia menegaskan bahwa pengembangan vaksin memang membutuhkan kultur sel. “Sel-sel manusia sangat penting dalam pengembangan vaksin,” tegas Coatsworth. “Regulasi etis di sekitar penggunaan sel-sel manusia sangat ketat, terutama terkait sel janin manusia,” lanjutnya. “Yang mengembangkan vaksin ini adalah unit penelitian di Universitas Oxford yang sangat terkemuka. Jadi menurut saya, kita bisa percaya pada cara mereka mengembangkan vaksin tersebut,” ungkap Coatsworth. Tetapi, menurut Robert Booy, pakar vaksin dari University of Sidney, penggunaan sel-sel janin yang digugurkan sudah biasa dalam pengembangan vaksin selama 50 tahun terakhir. Sebelumnya, kata Booy, gereja tak pernah mempermasalahkan ini karena ada jarak yang sangat jauh antara penggunaan sel-sel janin dengan vaksin yang sudah rampung. Booy juga mengatakan bahwa vaksin rubella, hepatitis A, dan cacar air juga menggunakan metode yang sama dalam pengembangannya. “Sel-sel janin bisa melakukan 50 replikasi, sementara sel-sel yang lebih tua lebih sedikit replikasinya. Jadi, untuk memproduksi vaksin, virus harus dibiakkan di dalam sel janin berkali-kali dan kemudian dipanen,” jelas dia. Kelak, imbuh Booy, elemen-elemen manusianya akan dibersihkan dan yang digunakan hanya elemen virusnya saja. Artinya tidak ada DNA manusia lagi dalam vaksin yang sudah jadi. Peraih Nobel dan imunolog Peter Doherty bahkan mengeluarkan komentar lebih pedas. Menurutnya proses pengembangan vaksin Covid-19 di Oxford sudah sesuai standar etis dan sudah lazim digunakan. “Jika Uskup Fisher menolak vaksin ini, maka itu adalah haknya dan juga adalah hak kita untuk tidak ambil pusing dengan dia,” tegas Doherty. Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id.

Hadapi Covid Melalui Terapi Woukouf dari Papua

by Tjahya Gunawan BEKASI, FNN - Masa pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda kapan berakhir mendorong masyarakat berupaya meningkatkan imunitas. Salah satu cara yang diyakini dapat meningkatkan imunitas adalah dengan terapi woukouf. Terapi ini diperkenalkan oleh Uztaz Fadlan Rabbani Garamatan, pendakwah asal Papua. Menurut pria yang dijuluki “Ustaz Sabun Mandi” ini, terapi woukouf sudah dikenal di tanah Papua sejak abad 12. “Terapi ini, terapi raja-raja Papua abad 12. Sampai sekarang masih dilakukan,” kata Fadlan, di Pesantren Nuu Waar Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (19/1/2021). Secara makna, jelas Fadlan, woukouf berarti memanaskan tubuh dengan uap panas yang diramu dengan rebusan 75 macam rempah yang didatangkan dari Papua. Penguapan dilakukan di bilik-bilik bambu yang sudah disiapkan beberapa kursi. Praktik terapi woukouf dilakukan di Pesantren Nuu Waar AFKN setiap Sabtu dan Ahad pagi. Jika peserta membludak, akan ditambah dengan hari Selasa dan Rabu. Fadlan mengaku, masyarakat sangat antusias untuk mengikuti terapi woukouf. Seperti yang terjadi pada Selasa (19/1/2021) pagi. Meski awan mendung melingkupi wilayah Bekasi, namun tak menyurutkan langkah masyarakat untuk terapi woukouf. Sekitar 30 orang terlihat duduk dan antri di sebuah aula Pesantren Nuu Waar AFKN. Mereka berasal dari berbagai profesi, antara lain pekerja media, purnawirawan TNI, ustaz, dan tokoh masyarakat. Salah satu yang ikut acara terapi ini adalah Letjen (Purn) TNI Agus Sutomo, mantan Inspektur Jenderal ((Irjen) Kementerian Pertahanan dan Komandan Sesko TNI. Dia datang bersama putranya. Pada tahapan pertama, peserta secara bergilir diterapi pukul tubuh dengan kayu. Bagian tubuh yang dipukul adalah punggung, paha, dan betis. Tahapan terapi ini untuk merangsang lancarnya peredaran darah. Selesai tahapan ini, peserta diberi minum ramuan kayu ular asli Fakfak dan qusthul hindi. Ramuan ini pahit di lidah. Kemudian, peserta menuju bilik-bilik bambu. Sebelum masuk ke bilik yang berkapasitas sekira 15 orang, Fadlan memberikan pengarahan kepada peserta. Pengarahan selesai, peserta masuk ke bilik. Peserta duduk mengelilingi panci besar yang berisi rebusan 75 rempah asal Papua. Bacaan Alquran, takbir, serta shalawat mengiringi proses penguapan. Para peserta diminta membuka mata dan menghirup dalam-dalam kepulan asap ramuan. Proses penguapan di dalam bilik berlangsung selama 33 menit. “Lama nya terapi 33 menit, dari sebelumnya 17 menit. Diperpanjang agar ramuan masuk ke tubuh secara maksimal,” jelas Fadlan. Ades Satria Sugestian, warga Depok, Jawa Barat merasakan manfaat dari terapi woukouf. Meski baru pertama kali, Ades berencana akan mengikuti terapi ini secara rutin. “Insya Allah mau rutin. Otot dan saraf yang tegang, Alhamdulillah jadi rileks. Keringat juga deras banget bercucuran. Bisa membakar lemak dan kolesterol juga,” kata Ades seusai menjalani terapi. Fadlan mengatakan, selain meningkatkan imunitas, terapi woukouf berkhasiat untuk mengobati darah tinggi, kolesterol, stroke. “Bahkan ada beberapa peserta yang positif Covid ikuti terapi ini. Alhamdulillah dengan izin Allah sembuh dari Covid,” terang pendakwah yang dikenal sebagai ustaz yang mensosialisasikan kepada masyarakat Papua mandi menggunakan sabun. Adapun soal tarif terapi, Fadlan tak mematok. Namun, jika masyarakat membayar, dialihkan untuk pembangunan masjid dan sarana Pesantren Nuu Waar AFKN. “Kalau kita memasang tarif, kasihan saudara-saudara kita. Bayar hanya dengan shalawat kita terima, dengan syahadat kita terima. Ini bagian bakti pesantren AFKN untuk masyarakat,” ujar Fadlan. Sampai berita ini ditulis, tercatat sudah 7000 orang yang mengikuti terapi woukouf. Bagi masyarakat yang ingin terapi, maka harus mendaftar dua pekan sebelumnya. “Siapa pun boleh datang. Mau Islam, mau bukan Islam, silahkan. Kita melayani semua orang. Daftar dua pekan sebelumnya, karena kita siapkan rempah-rempah,” jelas Fadlan. ** Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id.

Uji Klinis Sinovac Bandung, 25 Positif Covid-19, Masih Yakin Sinovac Aman?

by Mochamad Toha Surabaya FNN - Faktanya China belum berhasil atasi Virus Corona alias Covid-19 hingga kini! Fakta: sekarang ini China kembali mengumumkan “kondisi darurat” untuk lebih dari 37 juta penduduknya guna memadamkan infeksi kasus Covid-19 pada Rabu (13/1/2021). “Negeri Panda” kembali bergerak tegas untuk menahan infeksi di negaranya. Sebagian besar wilayah China telah mengendalikan virus corona sejak kemunculannya di Wuhan pada akhir 2019. Namun, sekarang ini China kembali dilanda infeksi Covid-19. Tapi, dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah kasus infeksi kembali muncul. Kondisi itu mendorong penguncian lokal diberlakukan, pembatasan perjalanan langsung, dan pengujian luas terhadap puluhan juta orang. Melansir Kompas.com, Rabu (13/01/2021, 16:17 WIB), lebih dari 20 juta sekarang berada di bawah semacam isolasi di wilayah utara negara itu. Pemerintah timur laut Kota Heilongjiang memberlakukan “keadaan darurat” di kota berpenduduk 37,5 juta orang itu. Penduduk diminta tak meninggalkan provinsi itu, kecuali benar-benar diperlukan, dan untuk membatalkan konferensi dan pertemuan. Itu sebagai tanggapan atas temuan 28 kasus Covid-19 pada Rabu (12/1/2021), termasuk 12 kasus yang tidak menunjukkan gejala. Tiga infeksi ditemukan di ibu kota Provinsi Harbin, yang menjadi tuan rumah festival patung es terkenal yang biasanya menarik banyak wisatawan. Selama beberapa hari ke depan, suhu di salah satu kota terdingin China itu bisa turun hingga minus 30 derajat Celcius. Sementara itu, Kota Suihua ditutup pada Senin (11/1/2021), setelah melaporkan satu kasus yang dikonfirmasi dan 45 kasus tanpa gejala. Kota yang bisa ditempuh dengan perjalanan singkat mobil ke utara China itu adalah rumah bagi lebih dari 5,2 juta orang. Beberapa kota kecil lain di dekat Suihua ditutup atau menerapkan pembatasan perjalanan, kata pihak berwenang Rabu (13/1/2021). Ratusan juta orang diperkirakan akan berpindah ke seluruh negeri pada masa itu. Ada kekhawatiran bahwa perjalanan tahunan yang sangat dinanti-nantikan, akan terhambat jika kluster baru terus berlanjut. Padahal, periode tersebut seringkali merupakan satu-satunya kesempatan bagi pekerja migran untuk melihat keluarga mereka. Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan 115 kasus Covid-19 baru pada Rabu (13/1/2021). Sebanyak 90 kasus lainnya ada di sebuah klaster di Provinsi Hebei, yang mengelilingi ibu kota Beijing. Pihak berwenang pekan lalu meluncurkan uji coba massal dan menutup jalur transportasi, sekolah, dan toko di Kota Shijiazhuang, Hebei. Kota ini diyakini menjadi pusat wabah terbaru. Wilayah tetangganya, Kota Xingtai, rumah bagi tujuh juta orang, juga telah dikunci sejak Jumat lalu. Apa yang terjadi di China sekarang ini menunjukkan, hingga kini China belum juga berhasil menghentikan pandemi Covid-19. China hanya bisa mengendalikannya dengan “mengunci” wilayah dan secara medis dengan obat-obatan yang ada. Nyaris tak terdengar sama sekali “sukses” Vaksin Sinovac berhasil mengatasi Covid-19 di China. Apa mungkin karena terlanjur diekspor ke Indonesia dan negara lainnya? Wallahu Akbar. Lha, China saja tidak pake Sinovac, mengapa kita pake? Lebih ironis lagi, untuk Uji Coba fase-3 Sinovac dilakukan di negara lain seperti Indonesia, Turki, dan Brazil. Mengapa bukan di China? Padahal, bibit yang ditanam di vaksin Sinovac itu virus Covid-19 “asli” China inaktif karena telah “dimatikan”. Sinovac China melaporkan temuan beragam dalam uji coba vaksin Covid-19. Sebagaimana diberitakan media lokal, Rabu (18 November 2020 pukul 16.09 GMT + 7), Sinovac Biotech, salah satu pelopor vaksin Covid-19 China. Sinovac menerbitkan temuan beragam dari 2 uji klinis pertamanya pada Selasa (17/11/2020). Perusahaan menyebut, vaksin itu menghasilkan tingkat antibodi pelindung yang lebih rendah dalam aliran darah dibandingkan dengan yang muncul pada pasien Corona yang sudah pulih. Sebagai perbandingannya, Moderna dan Pfizer, yang memiliki vaksin eksperimental terpisah, telah melaporkan tingkat antibodi yang setara atau lebih tinggi daripada yang diproduksi pada pasien virus Corona yang pulih. Hasil awal ini menempatkan Sinovac tertinggal untuk membuktikan vaksinnya efektif dalam uji coba Fase 3 yang sedang berlangsung. “Itu adalah kekhawatiran,” kata Thomas Campbell, dekan penelitian klinis di University of Colorado, tentang rendahnya tingkat antibodi dalam uji coba Fase 2 Sinovac. “Ini adalah poin penting di sini, dalam hal membandingkan vaksin ini dengan, vaksin Moderna dan Pfizer.” Saat dunia menunggu vaksin Covid-19, beberapa di China mendapatkan dosis dini. Indonesia baru-baru ini membuat spekulasi pada vaksin Sinovac ketika para pejabatnya bergulat dengan wabah virus Covid-19 yang parah. Dalam wawancara dengan Reuters pada Jumat (13/11/2020) saat itu, Presiden Joko Widodo mengatakan, pemerintah telah meminta izin darurat dari BPOM untuk meluncurkan vaksin pada akhir 2020. Dalam studinya yang diterbitkan Selasa, di jurnal Peer-review the Lancet, Sinovac menulis, meskipun tingkat antibodi lebih rendah, ia yakin vaksinnya akan terbukti efektif. Untuk jenis Covid-19 lainnya, tingkat antibodi yang lebih rendah masih memberikan kekebalan, katanya. Apakah ini masalahnya, padahal kala itu sedang diuji dalam uji coba Fase 3 Sinovac yang sedang berlangsung di Indonesia, Brasil, dan Turki. Setelah melaporkan tingkat antibodi yang kuat dalam uji coba Fase 2, Moderna dan Pfizer dalam beberapa hari terakhir mengumumkan tingkat kemanjuran Fase 3 pendahuluan di atas 90 persen, sebuah hasil yang disambut dengan antusiasme dari dunia medis. (Untuk vaksin virus Corona eksperimental mereka, Moderna yang bermitra dengan National Institutes of Health dan Pfizer bermitra dengan perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech.) Seorang juru bicara Sinovac mengatakan bahwa perusahaan tidak dapat segera merilis tingkat kemanjuran Tahap 3 pendahuluannya sendiri, karena tidak cukup kasus virus korona yang muncul dalam populasi penelitiannya. “Untuk hasil analisis awal Tahap 3, kami perlu mengakumulasi sejumlah kasus untuk analis data melakukan analisis mereka," kata juru bicara Sinovac dalam sebuah pernyataan kepada The Washington Post. “Kami belum memiliki data ini, jadi kami belum bisa membalas.” Campbell mengatakan Moderna dan Pfizer dapat memberikan hasil Tahap 3 awal, sebagian, karena meningkatnya wabah virus Corona di Amerika Serikat, yang mengakibatkan cukup banyak kasus di antara mereka yang terdaftar dalam studi mereka untuk analisis statistik. Sementara Sinovac telah mengumumkan beberapa hasil dari uji coba Fase 1 dan Fase 2 selama musim panas, menyebut mereka sukses, studi peer-review minggu ini adalah yang pertama kali memberikan data dan detail. Uji coba Fase 1 Sinovac dimulai pada April dengan 144 peserta, dan uji coba Fase 2 dimulai pada Mei dengan 600 orang. Peserta berusia antara 18 sampai 59 tahun dan direkrut dari satu kabupaten di provinsi Jiangsu selatan China. Dalam uji coba Fase 1 Sinovac, 23 dari 96 orang penerima vaksin melaporkan efek samping, yang menurut Sinovac sebagian besar ringan, seperti nyeri di tempat suntikan. Satu orang mengalami reaksi gatal-gatal yang parah dan sembuh dalam tiga hari dengan pengobatan. Dalam uji coba Fase 2, peserta dengan cepat memproduksi antibodi sebagai respon terhadap injeksi vaksin, tetapi tingkat antibodi tetap di bawah pengukuran pada pasien yang pulih. Bagaimana dengan uji klinis di Indonesia? Meski uji klinis Fase 3 belum selesai, ironinya BPOM sudah mengizinkan penggunaan darurat, Emergency Use of Authorization (EUA). Sebanyak 25 relawan uji klinis kandidat vaksin dari Sinovac terkonfirmasi positif Covid-19, terdiri dari 18 orang penerima obat kosong (plasebo) dan 7 orang lainnya telah mendapatkan dua kali vaksinasi Covid-19. Sebelumnya, ada 1.620 relawan yang mengikuti uji klinis Fase 3 di Kota Bandung. Berbeda dengan negara lainnya yang mengambil relawan dari kalangan tertentu, relawan uji klinis Fase 3 di Bandung itu berasal dari kalangan terbuka. BPOM pun telah mengumumkan pekan lalu tingkat efikasi atau kemanjuran dari vaksin ini membentuk antibodi di kisaran 65%. Angka tersebut masih berada di atas batas aman yang ditetapkan WHO yakni 50%. Ternyata yang terinfeksi Covid-19 versi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran sangat berbeda dengan versi IDI dan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menyebut adanya 101 orang yang terinfeksi Covid-19. Menurut Arie Karimah, Pharma-Excellent alumni ITB, membuat perbandingan uji klinis vaksin, Pfizer, dan Moderna: Volunteer yang masih terinfeksi meskipun telah mendapat vaksinasi: Sinovac: 26 dari 800 orang (3,25%); Pfizer: 8 dari 21.500 orang (0,04%); Moderna: 11 dari 15.000 orang (0,07%). Volunteer dari kelompok plasebo yang terinfeksi: Sinovac: 75 dari 800 orang (9,4%); Pfizer: 162 dari 21.500 orang (0,75%); Moderna: 185 dari 15.000 orang (1,08%). Prediksi Jumlah Terinfeksi: Jika ada 1.000.000 orang divaksinasi, maka kemungkinan yang Masih Bisa terinfeksi ringan: Sinovac: 32.500 orang (Bukan 325.000 orang); Pfizer: 372 orang; Moderna: 733 orang. Apakah dengan fakta masih adanya relawan yang terinfeksi Covid-19 itu bisa disebut gagal? Apalagi, China sendiri ternyata mengimpor vaksin produk luar! Masih percaya Sinovac? Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id