FORUM-RAKYAT
Pilih Pemerintahan Jokowi atau Keselamatan NKRI?
Oleh: Yusuf Blegur - Mantan Presidium GMNI Kebohongan awal sudah hadir pada saat kampanye pilpres dengan laku pencitraan. Maka kebohongan akan terus berlanjut hingga menjelang akhir kekuasaan. Kebohongan yang terus-menerus hanya membuat rakyat hidup tertekan dan dalam penindasan. Maka kebohongan telah menjadi kebiasaan dan terus dipaksakan, telanjang dan tanpa malu ingin memperpanjang masa jabatan. Rezim sepertinya semakin lupa diri dan berpotensi membuat tragedi. Apapun yang dilakukan telah menyebabkan kerusakan dan kehancuran negeri. Selain korupsi dan kolusi, kebijakannya selalu tanpa nurani dan tak manusiawi. Boneka dan para antek oligarki itu kian hari kian identik dengan kebohongan, cuek berekspresi bohong di sana dan bohong di sini. Dimata penguasa hidup tak lebih dari sekedar harta dan jabatan. Kebijakan dan aturan sudah terlalu memaksakan dan kebablasan. Kehidupan rakyat tak ubahnya menjadi korban perkosaan. Negara bangsa tak lagi memiliki budaya keberadaban, sistem politiknya hanya menghasilkan kebiadaban. Kini kesengsaraan rakyat mencapai puncak tertinggi. Bukan hanya sekedar hobi melanggar janji, penyelenggara negara telah mewujud rezim tirani. Sumber daya alam, demokrasi, konstitusi, dan bahkan kehidupan agama hanya menyisakan ironi. Saatnya rakyat menentukan pilihan dan mengambil keputusan, pilih mempertahankan pemerintahan Jokowi atau mengutamakan keselamatan NKRI?.
Jokowi dan Luhut, Dua Sejoli Maut
Oleh: Yusuf Blegur - Mantan Presidium GMNI Wakil presidennya jarang muncul, sekalinya tampil ngomong yang kaga karuan. Harusnya presiden dan wakil presiden bisa berbagi tugas dalam menangani banyak pekerjaan. Untuk itu menteri-menteri diangkat agar bisa membantu dan meringankan tuntutan pengabdian. Bukan mengambil alih tanggungjawab, baik soal peraturan maupun semua urusan kebijakan. Jangankan simpati, empati dan kepekaan terhadap krisis, sebagian besar pejabat tak punya kreasi, inovasi serta terobosan karena enggan dan rasa takut. Meskipun ada Jokowi selaku pucuk pimpinan, namun kendali kekuasan negara dan pemerintahan tetap di pegang Luhut. Penghuni istana dan sekelilingnya hanya cari aman menjadi penurut sembari nyambi penjilat, juga berpikir bagaimana harta termasuk jabatan bisa dipertahankan dan direbut. Tak peduli negara terpapar penyakit akut dan rakyat semakin semaput, aparatur negara baik sipil dan militer sibuk saling sikut. Saking banyaknya omongan, gaya dan tanpa kinerja, semua proyek strategis nasional jadi berantakan. Seorang menteri arogan terlalu jauh ke depan dan kelebihan beban. Peran dan fungsi presiden jadi ikut tersingkirkan, mengelola negara tanpa kemanusiaan dan keberadaban. Konsep dan kegiatan pembangunan pun jadi ugal-ugalan kalau tidak mau disebut mengalami kegagalan atau kehancuran. Sebagai pasangan presiden, bukan wapres yang sering terlihat dan mendampingi, namun Menkomarives yang selalu muncul dan paling sering disebut. Dalam pergaulan dan tugas, menteri luar biasa dan segala urusan itu cenderung lebih mengatur dan memerintah presiden, sehingga publik melihat itu sesuatu yang tak layak dan tak patut. Selain dinilai rakyat menjadi boneka oligarki, bagi rakyat Indonesia Jokowi dan Luhut bagaikan dua sejoli maut, dua sejoli yang bikin negara bangkrut.
JKW dan LBP Segera Tumbang
Mendung semakin gelap, di atas awan masih ada bersinar terang, badai pasti berlalu.. Prediksi saya, tak lama lagi JKW LBP akan tergulung badai yang diciptakan olehnya sendiri. Oleh Sugeng Waras - Purnawirawan TNI AD TAHUN tahun belakangan, banyak permainan JKW LBP semakin berani dan vulgar melanggar Pancasila dan UUD\' 45, yang berpotensi merugikan negara, membahayakan persatuan bangsa dan keutuhan kedaulatan NKRI. Kemenangan demi kemenangan rezim ini hanya kemenangan yang bersifat taktis yang dipaksakan dan dibemperi oleh TNI POLRI yang diketiaki dan dijerumuskan, disisi lain secara strategis terkikis habis diambang kehancuran NKRI. Kepemimpinan TNI POLRI begitu lemah tak berdaya, dimanfaatkan dan dijerumuskan oleh JKW LBP yang hanya mampu membebek dan menuruti nafsu serakah penguasa yang mengangkatnya, buta melihat rakyat yang tertindas dan terdzolimi oleh penguasanya sendiri. Diam diam para jendral aktif TNI POLRI mulai peka dan peduli atas suara dan pergerakan rakyat yang tertindas dan terdzolimi. Kini kesolidan dan kevalidan struktural TNI POLRI mulai diragukan, terutama pada tataran jendral jendral karbitan dengan para kolonel kebawah yang diterlantarkan. KKN di TNI POLRI semakin vulgar ini yang membuat kecemburuan internal, yang dekat dengan penguasa semakin melejit karirnya yang tidak dekat semakin tersisih dan teraniaya batinnya. Pembinaan karir bak pembinasaan masa depan manusia, hanya karena secuil martabak dan seonggok harta benda mampu membuat butanya hati para pemimpin bangsa. Membara panasnya situasi ini diperparah dengan ambrudalnya penegakan hukum , terpuruknya keuangan negara, semakin menggunduknya hutang negara dan bunganya. Kebijakan Men Keu Srimulyani hanya memberikan suntikan vaksin, hutang lagi, hutang lagi, sebagai upaya kekebalan bertahanya rupiah terhadap dolar dan agar lancarnya gaji pegawai serta tetap berjalanya roda pemerintahan. Kini vaksin hutang itu semakin tidak mempan mempertahankan kekebalan tubuh ekonomi rakyat yang ditandai semakin naiknya segala macam perpajakan dan naiknya segala macam kebutuhan pokok rakyat, baik disektor pengelolaan sumber daya manusia, sumberdaya alam, perburuhan, pendidikan, kesehatan, jasa dan perusahaan perusahaan. Banyak orang tidak mengerti, semakin dekat habisnya masa jabatan JKW LBP semakin membuat napas sesak dan kembang kempisnya JKW LBP dan antek anteknya, karena dosa dosanya selama ini akan menimbun dan menggulung keangkuhan dan keserakahanya selama ini. Keberanian melanggar hukum dan membuat kebijakan kontroversial bak membuka tabir kebuntuan dan kekosongan harapan untuk terlepas dari jeratan dosa dosanya. Kecurigaan rakyat atas perselingkuhan pemenangan suara pemilu 2019, gentayanganya 700 nyawa petugas pemilu dan 6 orang laskar FPI di KM 50, bau busuknya RUU / UU BPIP/ HIP, Omnibus Law /Cipta kerja, kebijakan mendatangkan TKA Cina dan UU IKN baru, akan menyeret penderitaan rakyat, terancamnya kerugian dan tercabik cabiknya kedaulatan negara serta keutuhan persatuan bangsa. Kebohongan mengelak dari dugaan harapan memperpanjang masa jabatan dengan menunda pemilu 2024 dan kebodohan mengumpulkan kepala desa se Indonesia abal abal semakin menunjukkan kepanikan dan kenekadanya dalam menyongsong kehancuran masa jayanya. Endingnya, bersiap siaplah JKW LBP dan antek anteknya untuk tergulung oleh keserakahan dan kesalahan vatalnya sendiri. Manusia hanya berencana, Tuhanlah yang berkuasa menghabisi kejayaanmu melalui kepeka pedulian dan kepanjangan tangan para mahasiswa dan rakyat yang berakal sehat, habislah riwayat para pengkianat bangsa, para pecundang, para buzzer buzzer bangsat keparat, dengan datangnya masa kejujuran, kebenaran dan keadilan. Selamat jalan, selamat tinggal para pembawa nestapa negeri ini, selamat menempati jeruji besi dan hotel prodeo didunia serta api neraka diakhirat kelak, penyesalan tak pernah terjadi di depan. Terimakasih kepada para pejuang penegak kejujuran, kebenaran dan keadilan, yakinlah tiada perjuangan dan pengorbaban yang sia-sia. Merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatku. Berdebar jantungku, bergetar nyaliku, untuk menegakkan kejujuran, kebenaran dan keadilan, tanpa mengabaikan nyawa sendiri, hingga tetes darah terakhir, untuk menyatukan niat, membulatkan tekad, yang hanya bersandar kepada kebesaran dan kemulyaan Allah swt, TYME guna menumbangkan segala keangkara murkaan dan keserakahan penguasa demi kesejahteraan, keadilan sosial dan kemajuan NKRI. Bagaimana Ma\'ruf Amin? Maaf, kurang diperhitungkan, adanya tidak menggenapkan, tiadanya tidak mengganjilkan, karena situasi. Bagaimana dengan TAIPAN? Mereka semakin ngakak dan ongkang ongkang kaki, namun para TKA semakin ketar ketir dan ciut nyalinya. Hanya ada yang perlu diantisipasi dan diperhitungkan, Cina mempunyai doktrin untuk membela dan melindungi semua warganya yang dipengasingan, dimananapun didunia ini berada. Namun tidak perlu was was, karena bangsa Indonesia sudah merasakan dan berpengalaman dijajah dan menderita, yang membuat cinta damai tapi lebih cinta merdeka, dengan terus memupuk dan membina kemanunggalan, persatuan dan kesatuan TNI POLRI dengan rakyat, baik dalam masa damai maupun masa perang. Wait and see... (Bandung, 5 April 2022, Sugeng Waras, Kol Purn TNI AD, Ketua Presidium FPPI ( Forum Purnawirawan TNI POLRI Pejuang Indonesia ) , Ketua DPD APIB ( Aliansi Profesional Indonesia Bangkit ) Jabar, Panglima TRITURA, Pemerhati HANKAM RI)
Rakyat Berdaulat Pecat Pejabat Laknat
Oleh: Yusuf Blegur - Mantan Presidium GMNI Kelangkaan dan mahalnya harga bahan komoditas menggambarkan negara sedang tidak sehat. Utang menjulang dan tingginya pajak membuktikan ketidakmampuan pejabat. Listrik naik, gas naik, BBM naik, sembako naik, pulsa naik dll. membuat rakyat makin sekarat. KKN di mana-mana, tak ada lagi rasa malu dan harga diri mencerminkan pejabat yang menghianati rakyat dan tuna martabat. Negara tak berdaya di bawah kendali oligarki, sementara politisi dan birokrat asyik dalam persekongkolan jahat. Semua pejabat berlomba-lomba memuaskan syahwat, menganjing-buta mengejar kepentingan sesaat. Aturan konstitusi dan agama tak lagi ketat dan dipaksa berlaku moderat. Praktek-praktek penyelengggaraan negara dipenuhi siasat dan banyak mudharat. Semakin tak sedikit kehadiran pemimpin tak memberi manfaat. Banyak bicara namun sedikit kerja, para petinggi asal jeplak membuat rakyat tak berhenti menghujat. Pemangku kepentingan publik miskin prestasi namun giat memperkaya diri, kolega dan kerabat. Kelakuan aparat penyelengggara negara tak ubahnya seperti kalangan keparat. Indonesia kini berada dalam krisis moral yang teramat sangat. Rakyat diambang degradasi dan disintegrasi, dibibir kehancuran setidaknya dibayangi tragedi yang dahsyat. Mendesak semua komponen rakyat melakukan gerakan kebangsaan yang kuat, agar negeri NKRI bisa selamat. Rakyat harus berdaulat menghadapi penguasa bejat, termasuk bertindak cepat pecat pejabat laknat. (*)
Usulan 3 Periode, Sisa-sisa Mental Tempe
Oleh: Yusuf Blegur - Mantan Presidium GMNI Seperti menu gado-gado kompleksitas permasalah negara. Krisis multidimensi telah menyelimuti seluruh aspek kehidupan berbangsa. Para pejabat berlomba-lomba mengejar harta dan tahta. Penguasa membuat rakyat sengsara tanpa beban memikirkan dosa. Utang menjulang membuat negara dalam bahaya. Praktek-praktek KKN membuat rakyat menderita. Aparat pemerintah acapkali membuat aniaya kemudian berdusta. Memaksa jiwa merana tanpa bisa bicara logika. Usulan 3 periode meluncur gegap gempita. Menghembuskannya dengan pelbagai cara. Membuat paduan suara dengan sukrela ataupun dipaksa. Seakan ingin mengalihkan kemarahan rakyat yang ingin mulai kudeta. Semakin sempurna rezim mewujud angkara murka. Hanya berhasil membuat rakyat tak berdaya. Janji palsu, merampok uang negara dan menyiksa anak bangsa seperti sudah terbiasa. Teriak gencar revolusi mental, ternyata hanya sisa-sisa mental tempe yang dirasa.
Puasa Pembebasan
Oleh: Yusuf Blegur - Mantan Presidium GMNI Saat Indonesia masih terasa dalam penjajahan, padahal sudah sejak lama mengumandangkan proklamasi kemerdekaan. Saat kehidupan rakyat masih dibekap kemiskinan, padahal seluruh penjuru negera berlimpah kekayaan. Saat dipelosok desa masih ada yang kelaparan, padahal konstitusi menjamin kemakmuran dan keadilan. Saat keadaan negara semakin berantakan menuju kehancuran, padahal otoritas juga semua fasilitas dikuasai dan dikendalikan rezim kekuasaan. Maka harus ada kesadaran evaluasi dan refleksi diri dalam kemuliaan bulan Ramadhan. Saling berbagi dan menebar kasih sayang dan menghindari kecenderungan individualustik dan keegoisan. Menghambakan diri dan hanya tunduk di hadapan kekuasaan Tuhan. Meninggalkan setiap sifat kesombongan, sikap arogan dan semua niat buruk serta modus kejahatan. Saat Indonesia tak berdaya karena yang hak terus diperkosa kebatilan. Saat kebenaran masih takut ditegakkan dan dibungkam oleh kemungkaran. Saat oligarki mencengkeram negara dan kesejahteraan tak kunjung lahir karena dominannya penindasan. Saat Panca Sila, UUD 1945 dan NKRI hanya sekedar kesepakatan, tanpa praktek-praktek nyata dalam kehidupan kebangsaan. Maka tak ada pilihan lain, selain menjadikan ibadah puasa sebagai momentum membangun keberadaban. Melawan KKN, kejahatan konstitusi, kedzoliman pada rakyat dan segala bentuk kebiadaban yang bersumber dari nafsu dan belenggu setan. Maka seluruh umat Islam dan anak bangsa wajib memanfaatkan puasa sebagai kawah candradimuka membentuk manusia taqwa dan selamat dari jalan kesesatan. Menjadikan ibadah puasa ramadhan sebagai satu- satunya ibadah untuk Allah azza wa jalla dan hakekat puasa sebagai sarana menahan diri sekaligus alat pembebasan. (*)
Mendukung Presiden Sampai Mati, Melebihi 3 Periode
Oleh: Yusuf Blegur Demokrasi tidak melulu menghasilkan semuanya jadi harmoni dan serasi. Aspirasi bisa saja dihormati dan dihargai, tapi bukan berarti tak bisa direpresi dan dikebiri. Presiden sah-sah saja larut dalam ilusi dan halusinasi, meski banyak masalah tanpa solusi dan prestasi. Tak penting mengurus harga diri, yang utama bagaimana bisa mengeksploitasi NKRI. Serasa cuek dan tanpa malu memaksa 3 periode, sementara tak mampu mengadakan kelayakan harga BBM, minyak goreng dan kedele. Pemerintah sering bangga dan pede, padahal semua isi kantongnya boke. Tipu sana tipu sini sembari telanjang praktek KKN, pada akhirnya membuat rakyat terus kecele. Birokrasi berupaya menunda pemilu 2024 dengan cara konspirasi, padahal hanya untuk menutupi ambisi. Tanpa beban melupakan janji-janji, bersama politisi ingin mengakali konstitusi. Menjadi pemerintahan yang tirani, mengendalikan aparat berbuat keji. Tak peduli berbuat dzolim pada rakyatnya sendiri, rezim boneka asyik menjadi kacung dari cukong oligarki. Tiga, empat atau lima periode, jika keinginan presiden itu hal yang sepele. Menunda pemilu atau amandemen UUD 1945, tidak perlu terlalu bertele-tele. Kalau ingin memperpanjang kekuasaan, jangan penuh basa-basi membuat publik menjadi bete. Yakinlah seluruh rakyat Indonesia mendukung masa jabatan presiden sampai mati, melebihi dari sekedar 3 periode. (*)
Anies Baswedan dan Keberadaban
Oleh: Yusuf Blegur - Mantan Presidium GMNI Negeri ini sedang menampilkan maraknya karnaval kedzoliman hampir di semua sendi kehidupan. Dari rakyat jelata, kelas menengah dan kalangan pejabat hingga pada pucuk kekuasaan. Semua secara langsung maupun tidak langsung terlibat persekongkolan sebagai pelaku ataupun menjadi korban kejahatan. Setidaknya melakukan pembiaran dan serba permisif saat disekitarnya ada kemungkaran, termasuk yang mengalami penindasan dan ketidakadilan. Mana yang lebih dulu harus dibenahi, orangnya atau sistemnya tak pernah tuntas meski telah lama menjadi perdebatan. Pada kenyataannya dalam kehidupan kebangsaan, kedua faktor itu saling terkait membuat kerusakan. Sistem digunakan dengan pelbagai kelonggaran demi kepentingan, sementara manusianya kerasukan setan menikmati penyimpangan. Bagai benang kusut dan basah pula, siapapun pemimpin Indonesia akan mengalami tantangan, kesulitan dan tekanan. Tak sekedar ilmu, pengetahuan dan keahlian, Indonesia membutuhkan figur yang mempunyai kecerdasan sekaligus keberanian. Memiliki jejak rekam yang baik, bebas dari praktek-praktek KKN dan oligarki serta memiliki prestasi yang membanggakan. Mau belajar dari sejarah, juga ulet dan gigih menyiapkan kehidupan yang lebih baik saat ini dan terlebih di masa depan. Apakah semua faktor-faktor kepemimpinan ideal itu, ada pada seorang Anies Baswedan?. Satu hal yang prinsip dan mendasar, karakter pendidik seorang Anies Baswedan telah membentuk kepemimpinannya yang berwawasan dan berakhlakul kharimah sehingga bisa menjadi teladan. Biar rakyat yang yang merasakan dan menilai sendiri, sampai pada waktunya akan memberikan keputusan. Betapapun negeri ini dalam krisis menyeluruh dan berpotensi mengalami pergolakan, kehidupan rakyat yang kelam diliputi kebiadaban, sepertinya tak ada pilihan selain melabuhkan hatinya pada Anies Baswedan dan Keberadaban. (*)
Hukum Mati Habitat Oligarki dan Pengkhianat Konstitusi
Oleh: Yusuf Blegur - Mantan Presidium GMNI Saat negara sudah porak-poranda seperti sekarang ini. Ketika bahan pangan sulit ditemui dan harga sembako semakin tak terbeli. Kebanyakan pejabat hanya bisa basa-basi dan mengobral janji yang selalu diingkari. Birokrat dan politisi terus kehilangan nurani sembari tak tahu malu menjual diri. Sedulur dan lingkaran istana sibuk menikmati mabuk pesta KKN serta merusak NKRI. Mereduksi agama berselimut agenda liberalisasi dan sekulerisasi. Utang menjulang tinggi dan gagal membangun IKN, lunglai terseok-seok mencari solusi. Gencar menuding Islam dengan intoleransi dan radikalisasi, ujung-ujungnya umat juga yang diminta donasi. Ternak-ternak oligarki bersiasat menunda pemilu 2024 dan amandemen UUD 1945, mengandalkan kompensasi atau represi membungkam demokrasi. Mengakali konstitusi demi memenuhi syahwat kelompok dan pribadi. Pemerintahan dipenuhi ilusi dan miskin prestasi. Menjelma sebagai pemimpin haus kekuasan dan penuh ambisi. Rakyat terasa sesak dada dan napas tersengal-sengal menahan sakit, karena berulang-kali diperkosa rezim tirani. Kondisi rakyat terus mengalami keterpurukan di sana-sini, seperti sekarat di antara hidup dan mati. Sampai kapan rakyat diam dan tertindas?, atau menunggu momentum menyiapkan sangsi hukum mati habitat oligarki dan penghianat konstitusi. (*)
Antara Anies, Partai Politik dan Oligarki
Oleh: Yusuf Blegur - Mantan Presidium GMNI Populeritas dan dukungan terhadap Anies semakin meluas. Selain santun dan humanis, Anies juga dinilai pemimpin yang cerdas. Anies Bukanlah gubernur yang suka menyakiti warganya, seperti yang terjadi pada skandal Wadas. Bermental korup dan khianat, gemar membuat kebijakan yang menindas serta sering mengambil hak-hak rakyat lainnya dengan cara merampas. Banyak prestasi dan penghargaan membuat Anies semakin disukai dan diminati. Rakyat begitu mengelu-elukannya karena simpati dan empati. Harapan rakyat kepada Anies begitu tinggi untuk memimpin negeri. Tekad seantero Indonesia sudah bulat memilih Anies dengan suara hati dan dilandasi konstitusi. Meski didukung sebagian besar rakyat, jangan sampai permainan elit politik membuat Anies terhempas. Pemimpin yang bernas tak akan disukai konspirasi jahat yang buas dan tak pernah puas. Para cukong bergelar taipan lebih senang pejabat boneka ketimbang pemimpin yang tegas. Meski Anies identik dengan figur yang amanah dan berbudi pekerti. Jangan berharap rezim berkuasa memberi apresiasi. Anies kini bisa menggeluti dukungan partai politik yang pasti. Sembari membangun diri dan berkompetisi dengan capres-capres ternak oligarki. (*)