ALL CATEGORY

Polisi Gagalkan Peredaran Sabu-sabu Jelang Malam Pergantian ahun

Samarinda, FNN - Satresnarkoba Polresta Samarinda, Kalimantan Timur, berhasil menggagalkan peredaran gelap narkotika i wilayah Kota Tepian dengan menyita barang bukti mencapai 715,35 gram sabu-sabu yang bakal diedarkan menjelang malam pergantian tahun.\"Semua barang bukti ini kami temukan di kamar AR, di dalam lemarinya,\" ungkap Kasat Resnarkoba Polresta Samarinda AKP Rido Doly Kristian di Samarinda, Jumat.Dikatakannya, saat merillis kasus tersebut, pengungkapan bermula saat anggota mendapatkan informasi bahwa di Jalan M Said Gang Sekar RT 013 Kelurahan Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang, kerap terjadi transaksi narkoba.Atas informasi tersebut, anggota pun melakukan penggerebekan di tempat kejadian perkara (TKP) dan didapati dua orang laki-laki berinisial AR (30) dan UP (44).Setelah mengamankan kedua pelaku, petugas langsung melakukan penggeledahan di setiap sudut rumah tersebut dan ditemukan barang bukti berupa dua lembar kantong kresek berwarna merah di kamar AR.Dalam kantong kresek tersebut terdapat sembilan lembar amplop warna putih yang berisi 896 paket kecil sabu-sabu dengan berat 421,3 gram serta enam poket sedang seberat 294,05 graam dengan total barang bukti sabu-sabu yang diamankan sebanyak 715,35 gram bruto.Berdasarkan introgasi awal, kedua pelaku mengaku jika barang haram tersebut milik seseorang berinisial EEN. Dari pengakuan tersebut dilakukan pengembangan ke kediaman EEN di Jalan Padat Karya. Petugas langsung mengamankan EEN setibanya di TKP pada pukul 05.30 WITA, Jumat pagi.\"Dari hasil penyelidikan mereka adalah bandar dan pengedar. Untuk bandar si EEN ini, dia yang pesan barang, sedangkan dua pelaku lainnya sebagai pengedar,\" bebernya.\"Memang EEN ini adalah residivis dengan AR untuk kasus yang sama dan pernah di vonis 7 tahun penjara,\" tambahnya.Saat disinggung apakah sabu-sabu tersebut akan diedarkan saat tahun baru nanti, Rido membenarkan hal tersebut.\"Benar, barangnya ini sudah dikemas dalam poketan kecil dan akan diedarkan saat tahun baru nanti. Kalau sasarannya ya masih kami dalami lagi sama asal barangnya. Artinya kami kembangkan terus kemungkinan ada tersangka lainnya,\" tandasnya.Sementara EEN mengaku jika barang haram tersebut ia pesan dari Tarakan, Kalimantam Utara (Kaltara) dan pengiriman barang tersebut telah lebih dari 10 kali.\"Barang ini sudah datang kesekian kalinya. Lebih dari 10 kali selama setahun belakangan terakhir,\" ungkapnya.Pelaku mengaku akan menjual barang tersebut hanya kepada pelanggan yang ia kenal. Sementara untuk sepoketnya, ia mengaku menjual dengan harga Rp150 ribu.\"Kalau mereka pesan ya, nggak tentu. Kadang ketemu langsung kadang juga lewat pesan singkat, janjian dimana. Uangnya untuk keperluan sehari-hari,\" terangnya.Untuk kasus tersebut, tersangka dikenakan pasal penyalahgunaan Narkotika Golongan 1 jenis sabu-sabu sebagai mana dimaksud dalam pasal 114 ayat (2) Subs 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika.(mth)

PGI: Natal 2021 Masih Bertumpu pada Ibadah Virtual

Jakarta, FNN - Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom mengatakan pelaksanaan perayaan Natal 2021 secara nasional masih bertumpu pada ibadah virtual.\"Sampai saat ini panitia gereja belum memutuskan mekanisme lain. Masih tetap bertumpu pada ibadah virtual,\" kata Gomar Gultom dalam konferensi pers yang digelar di Gereja Immanuel, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat.Gomar mengatakan mayoritas panitia ibadah Natal 2021 mengonfirmasi aktivitas jemaat masih dilakukan secara hybrid demi menjaga protokol kesehatan. \"Prokes harus dipatuhi, kita minta seluruh warga tetap waspada, cuci tangan dan pakai masker sebab sudah menjadi ketentuan,\" katanya.PGI juga mendorong seluruh panitia penyelenggara ibadah dan perayaan Natal 2021 di setiap gereja untuk menyelenggarakan kegiatan secara hybrid dengan pembatasan sosial yang ketat.\"Penyelenggaraan virtual bagus karena orang bisa rayakan Natal bersama keluarga. Pasti sangat indah,\" ujarnya. Pada acara yang sama, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Kardinal Ignatius Suharyo mengatakan seluruh gereja telah membentuk Tim Gugus Kendali Paroki (TGKP) sebagai panitia Natal sekaligus merangkap tanggung jawab acara.\"Ada TGKP, masing-masing tim mendampingi satu kali ibadah. Mereka mengatur pelaksanaan ibadah,\" katanya.Ia menjelaskan, satgas COVID-19 dibentuk dari kepolisian dan TNI sekaligus bertanggung jawab pada sektor keamanan beribadah jemaat.\"Pemerintah membolehkan jemaat hadir di gereja 50 persen dari kapasitas. Kita ambil lebih sedikit, biasanya 40 persen,\" katanya.Ignatius menambahkan masyarakat lintas agama pun mengambil bagian dalam keamanan membantu tim polisi. \"Tahun lalu banyak inisiatif lokal bahu membahu. Itu semua di bawah koordinasi kepolisian tidak ada organisasi bertindak sendiri,\" katanya.Pihaknya juga meminta panitia gereja bekerja sama penuh dengan tim keamanan untuk mengedukasi jemaat agar tidak membawa tas, bungkusan, berpakaian biasanya dan sederhana saat ibadah demi menghindari situasi yang tidak diinginkan. (mth)

Sandiaga Harap Mesin Zerocov Beri Manfaat Besar di Industri Perhotelan

Jakarta, FNN - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengharapkan alat sanitasi udara produk Indonesia yang bernama mesin Zerocov (Zero Covid) bisa memberikan manfaat besar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terutama di industri perhotelan serta MICE. \"Nanti mesin Zerocov ini kita akan persyaratkan bagi event G20, Word Tourism Day yang akan di sini juga, dan kegiatan lain yang akan kita lakukan,” ujar Sandiaga saat menerima mesin Zerocov dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagaimana dalam keterangan pers, Jakarta, Jumat. Zerocov merupakan kombinasi tiga teknologi yaitu disinfektan, sinar ultraviolet, dan ion negatif. Alat tersebut digunakan untuk melindungi dan menyerang mikroorganisme seperti virus dan bakteri secara aktif sehingga terbukti efektif membasmi mikroorganisme. Pengembangan alat itu dilakukan oleh Wirawan Darmana selaku inventor sekaligus pemilik peternakan ayam di Ciawi, Jawa Barat, yang mengembangkan inovasi pada 2004 dengan menerapkan sistem disinfektan dan sinar ultraviolet demi melindungi ayam saat krisis flu burung melanda.Pada 2020, Wirawan mengembangkan alat tersebut bekerja sama dengan periset sekaligus peneliti dari Pusat Riset Elektronika dan Telekomunikasi serta Loka Penelitian Teknologi Bersih, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik BRIN untuk manusia demi memitigasi penyebaran virus COVID-19. Dalam pengujian, disebutkan bahwa Zerocov dapat digunakan sebagai alat sanitasi ruangan yang dapat membunuh mikroorganisme. \"Pak Wirawan cerita beliau uji coba di tempat ibadah beliau di gereja yang beliau aktif, ternyata dalam periode selama COVID-19 ini berhasil paling tidak belum ada kasus sampai hari ini, tidak ada transisi lokal didapatkan dari tempat ibadahnya. Saya kira ini bisa menyasar di tempat ibadah lainnya,\" ungkap Sandiaga. Selain itu, Zerocov dikatakan telah mendapatkan Surat Keterangan produk sebagai Evaporative Air Cooler dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 62 Tahun 2017 tentang Izin Edar Alat Kesehatan, Alat Kesehatan Diagnostik In Vitro, dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga. Menparekraf mengajak para pemangku kepentingan untuk terus berinovasi, beradaptasi, serta berkolaborasi agar dapat lebih siap dalam menyambut tahun 2022 dengan semangat kebangkitan pariwisata dan ekonomi kreatif. \"Jangan lupa untuk bangga dengan buatan Indonesia. Oleh karena itu saya mewakili pemerintah pusat mengajak seluruh stakeholder untuk berinovasi, berkolaborasi, beradaptasi bersama Zerocov sehingga kita dapat menggeliatkan perekonomian dan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya,\" kata dia. (mth)

Realisasi Klaim BPJamsostek Pekalongan Tembus Rp238,5 Miliar

Pekalongan, FNN - Realisasi klaim jaminan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Cabang Pekalongan, Jawa Tengah, hingga akhir November 2021 menembus Rp238,5 miliar atau naik dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya sekitar Rp161,05 miliar.Kepala BP Jamsostek Cabang Pekalongan Budi Jatmiko mengatakan, selama 2020, pihaknya telah menyelesaikan 21.924 kasus terdiri atas jaminan hari tua (JHT) sebanyak 17.213 kasus dengan total klaim Rp208,1 miliar, jaminan kecelakaan kerja (JKK) 623 kasus (Rp5,1 miliar), jaminan kematian 534 kasus (Rp22 miliar, dan jaminan pensiun 3.554 kasus (Rp3,15 miliar).\"Memang ada kenaikan klaim, khususnya pada jaminan hari tua karena adanya pandemi sehingga banyak perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja dan faktor lainnya,\" katanya pada acara \"Meet Up Media dan Sosialisasi  Jaminan Kehilangan Pekerjaan di Pekalongan, Jumat sore.Ia mengatakan BP Jamsostek berkomitmen dalam memberikan pelayanan publik sebagai wujud negara hadir untuk memberikan kepastian perlindungan bagi tenaga kerja perusahaan yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja.\"Jadi, bagi tenaga kerja yang mengalami risiko pemutusan hubungan kerja akan diberikan pelatihan pada pemerintah, diberi akses informasi pasar, dan bantuan uang tunai selama enam bulan,\" katanya.Menurut Jatmiko, sebagian besar, pekerja di Indonesia adalah berada di sektor informal sehingga masih banyak mereka yang tidak tersentuh dalam kepesertaan BP Jamsostek.\"Sekitar 70 persen, pekerja berada di sektor informal dan 30 persen di sektor formal.Oleh karena itu, kami melakukan koordinasi dengan pemerintah terkait manfaat ikut kepesertaan jaminan sosial bagi pekerja informal,\" katanya.Jatmiko mengatakan pada 2022 pihaknya telah memiliki program untuk merambah sektor informal yaitu pekerja bukan penerima upah yang selama ini rentan tidak tersentuh dalam kepesertaan BP Jamsostek.\"Perusahaan itu pasti memiliki program CSR. Oleh karena itu, kami akan memberikan edukasi pada perusahaan untuk memberikan kontribusi kepedulian pada pekerja-pekerja rentan yang tidak tersentuh dalam kepesertaan,\" katanya. (mth)

Giring Meracau

Meracau bisa dimaknai luas, dan itu serupa seorang yang bicara penuh kebohongan, bahkan sampai pada aromah fitnah. Meracau tak menentu dan penuh kebohongan, pastilah fitnah, itu yang ditampilkan Giring Ganesha, Ketua Umum PSI. Oleh Ady Amar, Kolumnis BUKAN cuma orang mabuk yang jika bicara meracau. Pastilah tidak jelas apa yang diomongkan. Terus pede meracau, meski orang lain ngelus dada tanda ibah melihatnya. Dan yang meracau tak merasakan kehadirannya tak disuka, bahkan mengganggu. Meracau bisa dimaknai luas, dan itu serupa seorang yang bicara penuh kebohongan, bahkan sampai pada aromah fitnah. Meracau tak menentu dan penuh kebohongan, pastilah fitnah, itu yang ditampilkan Giring Ganesha, Ketua Umum PSI. PSI diinisialkan dengan olok-olok, dan itu melatarbelakangi aktivitas partai yang hadir cuma menyoroti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan tidak semestinya. Maka, muncul inisial PSI yang dipelesetkan dengan Partai Seputaran Ibu kota. Inisial yang meski tampak olok-olok, sepertinya memang pantas disematkan pada partai yang tidak mampu membangun langkah visioner, sebagaimana karakter khas anak muda. Yang dilakukan sebaliknya, cuma nyinyir pada prestasi yang dihadirkan Anies Baswedan. PSI seperti tidak mampu beranjak dari isu itu ke itu saja. Seperti tidak ada isu strategis lain bisa dimuncul-kembangkan. Membutakan hati dalam melihat pembangunan kota Jakarta dengan penilaian sebaliknya. Menyerang dengan narasi meracau bak sedang mabuk. Narasi yang dibangun diseputaran Anies itu pembohong, intoleran, pengusung politik identitas, jual ayat saat kampanye... dan seterusnya. Sepertinya tidak beranjak dari itu. Tidak mampu mengungkap pada kasus apa Anies berbohong, intoleran dan seterusnya. Yang penting meracau, berharap siapa tahu ada yang percaya fitnah yang ditebarkan. Bernyanyi di Hadapan Jokowi Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkekeh, meski tak tampak giginya karena tertutup masker, mendengar \"nyanyian\" Giring Ganesha, dalam Pembukaan HUT PSI ke-7. Nyanyian meracau Giring tampaknya disukai Jokowi, ia terhibur melihat dialektika Giring yang jauh dari kesantunan. Giring memang tidak menyebut nama seseorang yang disasar dalam pidatonya. Meski tidak muncul nama disebut, tapi pastilah yang disasar itu Anies Baswedan. Apa yang disampaikan Giring, itu sama dengan pernyataan sensasional sebelumnya yang menyebut Anies pembohong. Giring dan partainya tampil bak buzzer, yang tidak mampu melihat kekurangan yang dianggap lawan politiknya. Dan karenanya, terpaksa memakai penilaian terbalik. Maka, saat menilai prestasi dan kemajuan yang telah ditorehkan Anies Baswedan, ia menyatakan dengan penilaian sebaliknya. Saat menyatakan Anies pembohong dan intoleran, itu sebenarnya tanpa disadari ia tengah memberi sebuah panduan bahwa apa yang disampaikannya bisa dimaknai sebaliknya. Giring sedang meracau, dan pasti yang keluar dari mulutnya itu hal-hal tidak sebenarnya. Dan adab kesantunan tidak menjadi penting dikedepankan. Terpenting nekat dalam meracau. Giring tidak suka pemimpin yang suka berbohong dan intoleran, dan itu pastilah Anies yang disasarnya. Jika ditanya, memangnya Anies berbohong dan intoleran pada hal apa, pastilah ia tergagap tanpa bisa memberi bukti khas para buzzer yang cuma pintar ngoceh di dunia maya. Sikap Giring yang meracau, itu tentu seperti biasanya setidaknya belum ditanggapi Anies, tapi beberapa elit partai politik menyesalkan sikapnya yang jauh dari budaya kesantunan. Tidak demikian dengan Jokowi, yang justru tampak menikmati ocehan meracau Giring itu. Memang duduk, berdiri dan melangkah jadi asyik, jika sama-sama dalam satu barisan, satu frekuensi. (*)

Sunda Sembawa

Oleh Ridwan Saidi, Budayawan Sunda Sembawa adalah corner of Sunda. lstilah ini terdapat pada prasasti Kebantenan yang terdiri dari empat lempemg tembaga. Prasasti ini ditemukan oleh pelukis Raden Saleh di kampung  Kebantenan, Tanjung Priyuk. Lengkapnya kalimat terkait Sunda Sembawa adalah larangan bagi umum melintas Sunda Sembawa. Sunda sendiri artinya SEGAR. Itu bahasa Armen. Ini fragment litho yang diperkirakan dibuat sekitar 1512-1516 saat Tom Pires berkunjung ke Istana Pabaton menghadap Prabu Siliwangi. Istana Pabaton di depannya  dipasang prasasti yang tampak di kiri. Di belakang prasasti tampak istana  bertembok.  Serambi depan istana tidak terbuka. Ada wings. Karena Sunda Sembawa, dimana istana berlokasi, adalah bukit. Wings untuk menahan angin. Tak diketahui kapan kompleks Sunda Sembawa dibangun. Kemungkinan setelah zaman Prabu Jayabhupati XIII M yang temukan sumber emas di kali Citatih. Andalan kerajaan Sunda bukan emas saja tapi juga perdagangan lada dan kopi yang dikapalkan via labuhan Sunda Kalapa. Dari Bogor mereka tidak tempuh jalan air Cisadane yang berliku-liku, tapi jalan darat bablas sampai Ancol lalu belok kiri ke labuhan Kalapa. Kerajaan Sunda kaya. Peninggalannya pelbagai model mahkota mas yang kini ada di museum Sumedang. Tapi kenapa pada tahun 1579 Baranang Siang alias bubar? Kalau benar apa yang dilaporkan Tom Pires bahwa kerajaan Sunda memelihara, saya tak percaya, 4000 ekor kuda, tentu ini memukul ekonomi kerajaan Sunda. Biaya perawatan tidak murah, lagi pula pasar kuda dikuasai kesultanan Bima. Saya tak percaya jumlahnya, tapi saya yakin kerajaan Sunda melakukan diversifikasi bisnis yang keliru.  Akhirnya saya paham mengapa Prabu Siliwangi sangat popular. Ia berkuasa 1482-1518. Atau 36 tahun. Unggul empat tahun dari Pak Harto yang 32 tahun. Yang saya telusuri peninggalan karya Siliwangi: 1. Membangun pasar Bogor. Bogor artinya angsa. 2. Membangun jembatan di Jembatan Merah, Bogor. 3. Membangun kampung resi di Pagar Resi, Cibinong 4. Mempekerjakan rakyat pada pemeliharaan kuda. Andai kuda ada 200 ekor, maka 50 orang dapat job. 5. Membangun Kebon Raja yang  kemudian diaku-aku sebagai kerja Raffles. 6. Menyelamatkan prasasti abad VII M tentang kedatangan Islam. 7. Menggagas ide undang investasi Portugis untuk pembangunan labuhan Kalapa baru pada tahun 1518. Sesaat sebelum beliau wafat. Siliwangi seorang monoteis. Sunda Sembawa itu bukit. Semestinya di situ makam Siliwangi. Penghadapan al Aqsha.  (*)

Menggiring Pembohong

Ketua Umum PSI Giring Ganesha mulai pandai bersilat lidah. Di depan Presiden Jokowi ia menyebut Indonesia akan suram apabila dipimpin oleh seorang pembohong. Padahal ia sedang mngadu pada sosok bergelar  \"The King of Lip Service\". Oleh M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan TIGA rasa muncul setelah membaca berita sambutan Giring Ganesha Ketum PSI di depan Jokowi. Tiga rasa itu adalah kaget, sedih, dan lucu. Kaget karena beraninya Giring menyebut \"pembohong\" untuk seseorang di depan figur bergelar \"The King of Lip Service\". Sedih karena sebuah partai \"milenial\" terhimpit dalam sesak nafas puja puji dewa. Lucu karena bermindset terbalik. Sepatu jadi topi dan topi sebagai sepatu.  Terbalik melihat seolah-olah Jokowi adalah Presiden terbaik padahal rakyat memandang sebagai sosok Presiden terburuk. Sulit melihat prestasi signifikan dari kepemimpinannya.Yang mudah untuk diinventarisasi adalah berbagai kegagalan dan sikap inkonsistennya.  Tampaknya nama Giring Ganesha berkaitan dengan peristiwa dulu saat menggiring gajah besar-besaran di Lampung. Kini dalam acara Ultah PSI di hadapan Jokowi Giring ingin menggiring sebutan pembohong ke arah Anies Gubernur DKI dengan nada kekhawatiran bahwa Anies akan menjadi pengganti Jokowi. Bagai mengajukan proposal siap menghantam figur intoleran, pembohong, sentimen agama, ayat-ayat dan sebutan lainnya itu.  Sayang giringan pembohong untuk Anies tidak rasional dan tidak berbasis fakta, sebaliknya justru yang ramai di media diberi predikat pembohong adalah yang ada di depan Giring sendiri yaitu Jokowi \"The King of Lip Service\" julukan yang diberikan oleh BEM UI.  Giring menggiring kebohongan soal Jokowi terbaik atau Anies pembohong. PSI yang dipimpinnya menjadi partai genit sok kritis yang memandang Anies Gubernur yang harus terus disalahkan dan dipojokkan. Ada nuansa pesanan dan kendali. Kekhawatiran dan gemetarnya Giring oleh Anies bukan hal mustahil menjadi pertanda kebenaran akan terjadi apa yang ditakutinya. Dulu Fir\'aun takut ada anak lelaki yang akan menjatuhkannya. Maka ia berusaha keras menutup peluang itu dengan membunuh setiap bayi laki-laki yang dilahirkan. Ternyata ramalannya terbukti. Laki-laki yang meruntuhkan kekuasaannya itu berada tidak jauh dari Istananya sendiri. Musa \"the messenger\" menenggelamkan Fir\'aun \"si pembohong sombong\" bersama seluruh kroninya.  Pidato Giring yang menyodok Anies Baswedan habis-habisan hanya memberi cap diri bahwa PSI adalah partai islamophobia yang menafikan bahkan melecehkan ayat-ayat. Partai penggiring kebohongan baru di kancah perpolitikan bangsa Indonesia. (*)

Seniman Senen

Oleh Ridwan Saidi, Budayawan SENIMAN Senen seniman angkatan 1950.  Disebut begitu karena mereka suka duduk-duduk, atau istilahnya nongkrong, di Resto Padang Ismail Merapi di Kramat Bunder, Senen.  Setahu saya orang Lekra/PKI tidak nongkrong di Senen. Memang di luar orang Lekra juga banyak seniman yang tidak nongkrong di Senen. Pada Pemilu 1955 setahu saya seniman yang terlibat, penyanyi Melayu S. Effendi. Ia buat piringan hitam untuk kampanye Masyumi. Ex seniman Senen yang kemudian hari terlibat politik penyair Asrul Sani. Tahun 1977 ia ikut PPP. Seniman musik Melayu Angkatan 1950 yang sering nongkrong di Sawah Besar A  Chalik. Ia pendiam, bicara sekali-sekali. Ia mendengar saja obrolan teman-teman termasuk soal politik, tapi tak konentar. Aku tahu Idris Sardi ketika ia mengajar menyanyi di SMA I Budi Utomo di kelas aku saja. Mungkin itu tahun 1960. Ia bersikap formal, usai mengajar langsung pulang. Tak kusangka di tahun 2016 aku bertemu Idris Sardi (photo atas, di kiri) di tempat Fadli Zon. Ada diskusi politik dan aku pembicara. Idris serius mengikuti diskusi. Sejak itu aku sering jumpa Idris di forum-forum diskusi politik yang digelar Fadli. Penyanyi Melayu dan Jazz Munif Bahaswan juga senang mendengar orang bicara politik, tapi dia tak urun pendapat. Idris dan Munif dapat dikatakan sample partisipasi seniman sejati terhadap politik. Ada hal-hal atau perilaku politik yang menyentuh perasaan  kesenimanan mereka. Sebenarnya unsur seni dalam politik juga mesti ada. Itu yang disebut the art of politics. Tapi ke mana mau dicari barang \'tu sekarang? Mendengar cakap politik di zaman now tak ada halusnya. Terkadang dengan mimik yang tak ada lembutnya. Berpolitik yang berlaku sejak masa reformasi merupakan hal baru dalam sejarah politik di Indonesia. Desperate, perasaan tertekan, itu menjadi awan tebal yang menggantung di atas lembayung pekerja-pekerja politik.  Sebuah komunitas men-declare Waketum Gerindra Sandi sebagai capres,  Sekjen partai langsung ingatkan Sandi bahwa capres Gerindra Pak Ketum. Berita-berita tuduhan selingkuh tertuju pada seorang Ketum partai juga berpotensi desperate pada yang bersangkutan. Kalau menyukai politik dengan niat mengubah nasib bangsa menjadi lebih baik, yakinlah tak ada desperate hinggap ke diri Anda. (*)

Demi Marwah NU, KPK Harus Usut Dugaan Politik Uang di Muktamar

Patut diduga, dugaan praktik politik uang dalam Muktamar ke-34 NU karena elit politik ikut bermain, dan ingin menang. Oleh: Jajang Nurjaman, Koordinator CBA CENTER for Budget Analysis (CBA) meminta KPK turun tangan mengusut dugaan praktik politik uang dalam ajang Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU). KPK harus menyelidiki aktor utama serta sumber dananya dari mana saja.Muktamar ke-34 NU terancam rusak marwahnya karena dugaan praktik politik uang. Diduga beberapa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) ditawari Rp 50 juta. Angka ini jika dikali dengan total suara sah sekitar 219 totalnya mencapai Rp25.950.000.000 perkiraan uang yang siap dibagi-bagikan oknum tim sukses  di ajang muktamar itu.Jika dugaan politik uang benar-benar terjadi, muktamar NU tidak ada bedanya dengan pemilihan ketua umum partai politik, dimana jual beli suara lazim terjadi. Praktik politik uang sangat berbahaya karena bisa melahirkan pemimpin yang tidak berintegritas dan bahkan bisa merugikan keuangan negara.Patut diduga, dugaan praktik politik uang dalam Muktamar ke-34 NU karena elit politik ikut bermain, dan ingin menang. Mentang-mentang sudah banyak duit, dan jadi pejabat, mereka mempengaruhi pengurus NU daerah dengan memberikan duit, dan lalu melakukan karantina seperti warga kena Covid 19.Pengurus dan tokoh NU harus sadar bahaya praktik politik uang dan jangan sampai tergoda dengan bujuk rayuan oknum tim sukses, atau politisi busuk. Jangan sampai Muktamar ke-34 NU melahirkan pemimpin yang tidak berintegritas karena tidak siap kalah dan akhirnya menghalalkan segala cara.Akan menjadi aib bagi warga Nahdlatul Ulama jika pengurusnya tergoda uang haram dalam acara sakral. Jangan sampai pengurus NU selesai muktamar dari Lampung dan pulang ke kampung masing-masing malah membawa aib dan aroma busuk karena menerima uang haram seperti korupsi uang kardus durian, yang sampai sekarang, bau kardus durian, tidak hilang-hilang lantaran penciuman umat sangat tajam tidak bisa diakalin. (*)

Pidato Revolusioner, Kelakuan Kontra-Revolusioner

Kebohongan bercampuraduk dengan kejahatan. Mengandalkan rekayasa dan konspirasi, memanfaatkan kepolosan rakyat. Jadilah ia boneka oligarki. Ngomongnya ke sana, kelakuannya ke sini. Oleh: Yusuf Blegur,  Pegiat Sosial dan Aktivis Yayasan Human Luhur Berdijari MEMANG mahal harga sebuah integritas. Tidak semua orang bisa membeli atau memilikinya. Satunya kata dan perbuatan itu,  tak dapat dirasakan dalam sebatas pidato dan hanya beraneka model pencitraan. Media massa dan pelbagai upaya  pembentukan opini tak akan mengubah watak seseorang yang sebenarnya. Betapapun topeng digunakan, tetap tak dapat menyembunyikan wajah aslinya.  Apalagi cuma mengandalkan kekuatan kapital dan akses politik yang memaksa seorang figur tampil dengan kepalsuan. Kebohongan bersama kejahatan semakin bercampur, mengandalkan rekayasa dan konspirasi, memanfaatkan kepolosan rakyat. Jadilah ia boneka oligarki. Ngomongnya ke sana, kelakuannya ke sini. Segudang janji mulai dari kampanye hingga menjabat presiden. Semua hanya berupa pepesan kosong. Mirisnya lagi, saat mengemban amanat sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Dengan  situasi dan kondisi negara yang begitu amburadul. Pemimpin yang cenderung lebih sering cengengesan dan planga plongo itu,  terkesan sibuk panjat sosial. Masih gemar pencitraan, terasa masih menjalani kampanye pilpres. Sementara sikapnya selalu diam atau pergi lari menghindar saat menghadapi masalah negara, persoalan di lingkungan pemerintahannya dan atau problem yang terkait dengan dirinya.  Entah dalam keadaan  tidak sadar atau memang sebatas itu kemampuannya, hanya publik yang bisa menilai. Rakyat Indonesia belum mengalami amnesia, sehingga mampu merekam jejak   rezim selama lebih dari 7 tahun ini. Menjanjikan ekonomi meroket. Membatasi utang negara.  Menolak impor pangan dan kebutuhan industri lainnya. Mengadakan mobil nasional ESEMKA berseliweran di tanah air. Rakyat juga menyimak, dengan bangganya presiden mengatakan kangen di demo dan menyimpan uang di kantongnya sebesar 11ribu triliun. Masih banyak lagi bualan presiden  yang sampai terbawa dalam mimpi rakyat. Namun kenyataannya tak pernah mewujud. Malah saat rakyat sekarat karena pandemi, rezim semakin bejat memanfaatkanya untuk bisnis menumpuk cuan dan mepanggengkan kekuasaan.  Rasanya, rakyat sudah terlalu kenyang menikmati makanan instan ideologi dan politik. Rakyat butuh makanan pokok dengan nutrisi yang tinggi untuk kemakmuran dan keadilan. Bukan jampi-jampi dan sihir massal kekuasaan. Rakyat memang rapuh dan lemah. Begitu mudahnya terombang-ambing dan dipermainkan rezim. Namun, cepat atau lambat akan ada perubahan. Karena tidak ada yang abadi, selain perubahan itu sendiri. Seperti boneka dan sekumpulan mainan anak-anak dikeranjang besar yang tersimpan di gudang. Seperti itulah pejabat presiden dan konco-konco-konconya terlihat lucu dan menghibur. Pantas saja rakyat tak bisa berharap banyak. Hanya bisa menikmati hiburan sesaat. Setelah itu usang, rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Boleh disimpan dimasukan dalam kotak kardus atau bisa juga dibuang. Rakyat semakin jumud dan mendesak untuk menentukan dan memilih pemimpinnya sendiri. Dengan penampilan apa adanya namun jujur dan lebih nyata. Cerdas dan berwibawa, namun lebih utama mampu mengemban amanat penderitaan rakyat. Pemimpin berani dan tegas yang dicintai rakyatnya. Bukan yang  pidatonya revolusioner, namun kontra revolusiober tindakannya. (*)