OPINI
Vaksin Janin Ditolak Tiga Uskup Australia
by Mohammd Toha Surabaya FNN – Kamis (29/10). Dalam tulisannya disebutkan bahwa Gereja saja menolak Vaksin Corona. Sebab salah satu bahan pengembang biaknya menggunakan janin manusia yang diaborsi. Bagaimana ini dengan Rakyat Indonesia yang 85% penduduknya Muslim? Bagaimana Mejelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah? Penjelasannya adalah, janin manusia itu diaborsi secara sukarela oleh Ibunya. Yang menjadi masalah di sini bukan soal Ibunya sukarela atau dipaksa waktu mengakhiri kehamilannya dan menyerahkan bakal bayinya untuk digunting-gunting. “Memikirkan prosesnya saja bikin perut saya mulas dan hati serasa pecah berkeping,” ujar Dokter Tifauzia. Bukannya yang punya kehidupan adalah janin itu sendiri? Ditanya apa tidak dia, waktu mau dikeluarkan dari dalam rahim ibunya? Ikhlas apa tidak dia diaborsi demi kepentingan (bisnis) vaksin? Dalam beberapa penelitian, bagian janin yang digunakan adalah sel ginjal dan sel parenkim paru. “Kalau sudah terjadi organogenesis berarti usia janin itu lebih dari 120 hari dong,” tegasnya. Bagaimana Sumpah Dokter? Apakah seorang janin yang sudah ditiupkan ruh, yang jantung kecilnya sudah berdetak, atas nama kemanusiaan atau apapun itu, berhak untuk dihentikan kesempatan hidupnya? Sedangkan dia sama sekali tidak memiliki hak untuk jawab? Sekarang dari sisi manusia penerima vaksin. Ketika terjadi penerimaan vaksin, yang artinya juga menerima bagian dari sel janin yang diaborsi tadi, apakah tidak terjadi breeding antar sel? Apalagi itu akan menghasilkan konsekuensi yang sangat besar. Tak hanya sekedar bahwa manusia lain, dengan adanya vaksin ini, mendapatkan kesempatan hidup yang lebih besar. Tetapi juga ada tambahan sel baru. Sel yang berasal dari sel manusia lain, dengan segala kemungkinannya. Siapa yang bisa menjamin, segala pengorbanan ini akan memberikan hasil sesuai dengan yang dimaui manusia? Bahwa dengan vaksin yang isinya entah itu bayi, entah itu babi, kita menjamin bahwa coronavirus akan enyah selama-lamanya dari muka bumi? Bukankah, ketika bermain-main di area yang bukan wilayah kita, pada saat kita sedang playing God? Kok serasa pada menjadi Tuhan saja semua orang ini. “Saya, terus terang, cuma takut Azab saja. Masalah adalah kalau Azab-Nya datang, kita-kita yang ngga punya salah apa-apa, ikut kena akibatnya juga,” ujar Dokter Tifauzia mengakhiri tulisannya. Pendekatan Moral Sebelmnya diberitakan, tiga Uskup senior Australia mengkritik keras vaksin COVID-19 buatan Universitas Oxford, Inggris dan perusahaan farmasi AstraZeneca. Sebab vaksin yang diprokduksi memiliki masalah etis, karena terbuat dari sel-sel janin yang sengaja digugurkan. WowKeren 26 Agustus 2020 menulis, Universitas Oxford, bersama perusahaan farmasi AstraZeneca tengah mengembangkan vaksin untuk virus corona (Covid-19). Vaksin tersebut telah dipesan oleh Pemerintah Australia. Sayangnya, vaksin tersebut justru menuai kritikan keras dari tiga Uskup senior Australia, lantaran memiliki masalah etis karena terbuat dari sel-sel janin yang sengaja digugurkan. Pemerintah Australia Senin (24/8/2020) mengatakan, komunitas keagamaan tak perlu risau, karena tak ada masalah etis terkait vaksin yang sudah dipesan 25 juta dosis itu. Vaksin Covid-19 milik AstraZeneca saat ini menjadi kandidat paling siap untuk diproduksi dan jadi rebutan banyak negara. Dalam proses pengembangannya itu, mereka menggunakan sel-sel ginjal janin yang sengaja digugurkan. Konon, praktik seperti itu sudah biasa dilakukan dalam dunia medis. Tetapi, pada Kamis (20/8/2020), Uskup Agung Gereja Anglikan, Glenn Davies, Uskup Agung Sidney (Katolik), Anthony Fisher, dan pemimpin Gereja Ortodoks Yunani Australia, Uskup Makarios Griniezakis menyatakan keberatannya terkait vaksin Covid-19 AstraZeneca. Ketiga Uskup tersebut mengirim surat kepada Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison. Para uskup itu mengatakan, mereka mendukung adanya vaksin Covid-19, tetapi penggunaan “sel-sel janin sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat tidak bermoral.” Meski tidak mengajak umat mereka masing-masing untuk memboikot vaksin AstraZeneca tersebut. Para uskup itu mengatakan bahwa umat berhak untuk menolak menggunakan vaksin tersebut. Bahkan jika mereka tak punya pilihan lain. Uskup Fisher bahkan menulis di akun Facebooknya soal masalah ini. Fisher menyatakan, vaksin Covid-19 dari Oxford itu menimbulkan apa yang disebutnya sebagai dilema etis. Menurut Deputi Kepala Kantor Kesehatan Australia Nick Coatsworth, kekhawatiran gereja itu tak bisa diabaikan. Tetapi disaat yang sama, dia menegaskan bahwa pengembangan vaksin memang membutuhkan kultur sel. “Sel-sel manusia sangat penting dalam pengembangan vaksin. Regulasi etis di sekitar penggunaan sel-sel manusia sangat ketat, terutama terkait sel janin manusia. Yang mengembangkan vaksin ini adalah unit penelitian di Universitas Oxford yang sangat terkemuka. Jadi menurut saya, kita bisa percaya pada cara mereka mengembangkan vaksin tersebut,” ungkap Nick. Menurut Robert Booy, pakar vaksin dari University of Sidney, penggunaan sel-sel janin yang digugurkan sudah biasa dalam pengembangan vaksin selama 50 tahun terakhir. Gereja tak pernah permasalahkan ini karena jarak yang sangat jauh antara penggunaan sel-sel janin dengan vaksin yang sudah rampung. Praktik ini sudah diterapkan sejak mengembangkan vaksin untuk Rubella, Hepatitis A, dan Cacar Air. “Sel-sel janin bisa melakukan 50 replikasi. Sementara sel-sel yang lebih tua lebih sedikit replikasinya. Jadi, untuk memproduksi vaksin, virus harus dibiakkan di dalam sel janin berkali-kali dan kemudian dipanen,” jelasnya. Kelak, elemen-elemen manusianya akan dibersihkan, dan yang digunakan hanya elemen virusnya saja. Artinya tidak ada DNA manusia lagi dalam vaksin yang sudah jadi. Diberitkan, PM Australia secara resmi telah memesan 25 juta dosis vaksin Covid-19 ke AstraZeneca. Rencananya vaksin-vaksin itu akan diberikan secara gratis kepada rakyatnya. Sementara Presiden Donal Trump yang sempat terpapar corona dengan pengobatan “sangat ampuh dan manjur”, yang disebutnya sebagai “berkah dari Tuhan”. Hanya beberapa hari kemudian Trump sudah kembali ke Gedung Putih. Seperti dikutip 24berita.com, Selasa (Oktober 13, 2020 610), obat eksperimental antibodi itu, dengan atau tanpa berkat tuhan, sejatinya adalah obat yang diberi nama REGN-COV2. Obat ini buatan perusahaan bioteknologi Regeneron di AS. Perusahaan itu sebelumnya mengajukan ijin penggunaan darurat kepada jawatan pengawasan obat dan makanan AS-FDA. Ternyata yang dipakai itu adalah obat berbasis jaringan sel janin manusia. Preparat eksperimental tersebut adalah kombinasi dan antibodi monoklonal REGN10933 dan REGN10987. Obat yang diberi nama REGN-COV2 itu berfungi sebagai imunisasi pasif, dengan unsur aktif yang dibuat secara sintetis dari antibodi yang dinetralkan. Dalam prosesnya, langsung maupun tidak langsung, digunakan jaringan sel yang berasal dari embrio alias janin manusia. Obat REGN-COV2 memang tidak langsung dibuat dari jaringan sel janin manusia. Mula-mula preparatnya dibuat dari sel yang berasal dari saluran indung telur hamster. Tetapi, untuk menguji keampuhan antibodi tersebut, dalam tes laboratorium digunakan jaringan sel yang berasal dari janin manusia yang digugurkan. Sel yang diberi nama ilmiah HEK 293T itu, berasal dari jaringan sel ginjal janin manusia yang digugurkan di Belanda pada 1970-an. Regeneron manfaatkan HEK 293T untuk produksi apa yang disebut pseudopartikel virus, yakni struktur seperti virus yang memiliki protein duri seperti pada virus corona. Hanya dengan cara dan prosedur semacam itu, bisa diketahui tingkat efektivitas antibodi dalam menyerang masing-masing virus. Apakah vaksin yang bakal dipakai di Indonesia itu juga berasal dari janin manusia? Wajar jika Dokter Tifauzia Tyassuma mengingatkan kita semua! Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id
Abu Janda Ngoceh Lagi, Bela Marcon
by M. Rizal Fadillah Jakarta FNN – Kamis (29/10). Lama Abu Janda tidak muncul di media. Tokoh "super" pegiat medsos ini hilang di tengah iklim politik panas yang semestinya bisa jadi ladang ocehannya. Ada penolakan masih terhadap Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja (Cilaka) yang didemo intens. Ada petinggi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang ditangkap. Nah sekarang, pada saat ada kasus penghinaan terhadap Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam di Perancis Abu Janda muncul lagi. Sambil demonstratif makan di restauran makanan Perancis, Permadi Arya berpetuah agar umat Islam memaafkan penghina Nabi. Apakah mau membela Emmanuel Macron Presiden Prancis atau sang guru penghina yang dipenggal? Tentu saja Macron. Sebab yang terakhir sudah mati. Urusannya hanya dengan Allah saja di alam yang dipastikan mengejutkan dirinya. Ada dua kesalahan dari ocehan sang asbun, yang pro pembela penghina Nabi ini. Pertama, bahwa Presiden Perancis Emmanuel Macron tidak meminta maaf kepada umat Islam. Lalu apa yang mau dimaafkan ? Kedua, penghinaan bukan dilakukan kepada diri Nabi pribadi yang sudah tiada. Tetapi kepada ajaran Nabi. Kepada agama Islam. Umat Islam tentu tersakiti karena Nabinya dihina dengan sengaja, dan agama-Nya dinistakan. Dalam sejarah, hal ini bisa berujung pada hukuman mati atau perang terhadap pelaku penghinaan. Abu Janda seperti yang tidak merasa sakit, bahkan dengan akting sinis ngoceh agar umat Islam memaafkan. Umat Islam model apakah Abu Janda? Umat Islam sudah lama tidak jengkel atas ulah Abu Janda. Selama ini orang dengan nama asli Permadi Arya ini hilang tidak muncul lagi. Su'udhonnya Abu Janda kena corona atau dimakan buaya. Eh, tiba-tiba muncul berada di blok Perancis sang penghina Nabi. Dia rupanya sangat bahagia bisa memukul lebih sakit perasaan umat Islam. Arya seperti bela Macron. Momen untuk mengejek umat Islam yang dianggap tidak menghormati kebebasan pendapat. Perancis adalah perintis "Liberte, Egalite, Fraternite". Abu Janda menantang umat Islam dengan berada di ruang Perancis, layaknya bersaudara dengan Macron. Masuk dalam kelompok yang sama-sama sefaham yang bebas moral. Abu Janda tentu tidak khawatir ngoceh apapun yang menyinggung umat Islam dan Nabinya. Karena mungkin menganggap ada yang menjadi pelindung. Mumpung negeri ini sedang berpihak pada para penyembah berhala, yang tidak suka pada nafas Tauhid. Bendera merah tengkorak lebih ditoleransi daripada bendera Tauhid. Negeri yang lebih nyaman bagi fikiran, sikap, ideologi, maupun kultur kebebasan berpendapat. Kaumnya Abu Janda ketimbang para pembela agama. Negerinya para tikus. Les rats dangeroux pour l'homme. Muncul abu Janda bagaikan "whack a mole game". Jika si tikus nongol maka palu pemukul siap memukulnya. "Whack a mole game" adalah permainan mendera tikus tanah. Muncul si tikus dan memukulnya membuat tambahan nilai. Pahala dalam bahasa agamanya. Penulis adalah Pemerhati Politik dan Tikus.
Tiga Tahun Dipimpin Anies, Jakarta Telah Berubah
by Tony Rosyid Jakarta FNN – Kamis (29/10). Gubernur Indonesia, begitu rakyat negeri ini menjuluki Gubernur DKI Anies Baswedan. Lahirnya julukan ini menunjukkan bahwa Anies diterima tidak saja oleh warga Jakarta. Tetapi juga diterima oleh rakyat Indonesia. Lima tahun, itu jatah untuk Anies memimpin Jakarta. Artinya, ada tersisa dua tahun lagi. Jabatan Anies akan berakhir pada Oktober 2022. Dan bisa diperpanjang jika ada pilkada pada 2022 nanti. Untuk mengukur kinerja Anies, mesti berangkat dari tiga hal. Pertama, visi Anies. Kedua, janji-janji Anies ketika kampanye Pilgub dulu . Ketiga, tingkat kepuasan warga atas pelayanan dan perubahan yang dilakukan Anies untuk Jakarta. Visi Jakarta di bawah kepemimpinan Anies adalah "Maju Kotanya Bahagia Warganya". Visi ini juga sekaligus menjadi tageline. Visi yang mencakup tidak saja infrastruktur kota. Tetapi juga menggarap aspek psikologi warga. Untuk membuat maju kotanya, pembangunan infrastruktur menjadi keniscayaan. Pelebaran jalan, memperbaiki trotoar, memperbanyak taman. Ini pekerjaan yang lumrah saja. Toh, hampir semua kepala daerah melakukan pembangunan infrastruktur. Yang membedakan adalah seberapa besar fungsinya. Trotoar misalnya, kita bisa lihat setiap kota ada. Dibongkar lalu dibangun kembali, atau setidaknya ditambah dan dicat ulang. Kalau hanya ini yang dilakukan, berarti itu proyek menghabiskan anggaran. Terhadap trotoar di Jakarta, Anies melakukan pelebaran. Dalam kondisi lebar, trotoar benar-benar akan berfungsi dan membuat nyaman bagi para pengguna jalan. Tidak asal ada sebagai asesoris kota. Di kota-kota maju seperti di Amerika, Eropa, bahkan Jepang, Korea, Hongkong dan Sungapora, setiap hari banyak orang jalan kaki ke stasiun MRT, terminal dan public service yang jaraknya bisa 500 meter hingga 1 kilometer. Kok bisa? Karena tempat untuk jalan kaki lebar dan nyaman. Anies juga membangun jalur bersepeda. Untuk keperluan transportasi ke depan, diharapkan warga DKI lebih banyak yang naik sepeda. Baik ke kantor maupun urusan bisnis. Dengan begitu, polusi udara dan kemacetan bisa diminimalisir. Untuk itu, Pemprov DKI harus terus menerus dan lebih masif lagi kampanyekan sepeda. Untuk urusan transportasi, DKI menerapkan program Jaklingko. Satu tiket bisa digunakan untuk naik sejumlah kendaraan. Cuma dengan 5.000 rupiah anda setiap hari bisa keliling Jakarta menggunakan MRT, busway dan angkot. Tanpa kena biaya tambahan. Selain ganjil genap, program Jaklingko terbukti telah berhasil mengurangi tingkat kemacetan Jakarta. Pengguna public transportation yang semula hanya 360.000-an orang, kini naik menjadi lebih dari satu juta penumpang. Peningkatan yang hampir mencapai 200%. Pada tahun 2017, Jakarta masuk peringkat ke-4 kota termacet dunia. Tahun 2018 menjadi peringkat ke-7. Dan tahun 2019 menjadi peringkat ke-10 dunia. Kapan Jakarta keluar dari peringkat 10 besar kota termacet dunia? Ini yang menjadi PR bagi Anies. Kalau cuma naik angkot gratis saja, gampang bangat. Asal ada tulisan Jaklingko. Anda cuma butuh modal kartu e-toll atau kartu sejenis. Kasih kartu itu ke sopir, tempel di mesin Jaklingko, nol rupiah. Alias gratis. Saya sudah pernah merasakan ini. Selain ankot gratis, DKI juga telah berhasil menyulap Jalan Soedirman-MH. Thamrin manjadi semacam destinasi. Di ruas jalan itu, ada nuansa yang agak berbeda. Disitu, anda seperti tidak sedang berada di Indonesia. Tertata rapi, indah dan artistik. Selain infrastruktur jalan, beberapa waktu lagi, Jakarta akan punya stadion bertaraf internasional. Sekelas Real Madrid dan Barcelona. Proses pembangunannya sedang dikerjakan. Rencananya akan selesai tahun depan. Jika stadion ini jadi sebelum berakhirnya masa jabatan Anies, ini jadi poin. Ada juga masjid terapung dan museum Rasulullah di Ancol. Teringat masjid terapung di Jeddah dan museum Rasulullah di Turki. Alhamdulillah, di kedua tempat itu saya pernah berkunjung. Dari sejumlah infrastruktur yang dibangun di DKI, nampak perencanaan kota yang sengaja dibangun dengan orientasi kerakyatan. Artinya, punya dampak perilaku, mental dan psikologis bagi warga Jakarta. Mungkin ini sengaja dibuat agar visi Jakarta "Maju Kotanya Bahagia Warganya" bisa dicapai. Terkait soal pandemi covid-19, publik tahu bahwa Jakarta yang paling awal siaga. Sebanyak 48% rakyat yang mendapatkan tes PCR nasional adalah warga DKI. Sisanya 52% lagi dibagi di 33 provinsi. Tingkat kematian (mortality) sangat rendah. Hanya 2,8%. Lebih rendah dari mortality global, yaitu 3,3%. Ini bentuk nyata kesiagaan Gubernur dalam menghadapi pandemi. Di tengah pelajar dan mahasiswa yang kuliah dengan sistem wibiner, dimana kebutuhan Internet sangat tinggi, DKI membuat program JakWifi. DKI melakukan lemasangan Wifi di 9.413 titik. Program ini untuk membantu masyarakat, terutama mahasiswa dan pelajar, juga UMKM dan untuk kebutuhan produktif masyarakat yang lainnya. Di tengah pandemi, Wifi gratis di DKI ini bisa jadi malaikat penolong, khususnya untuk mahasiswa dan pelajar yang miskin. Di luar program-program itu, Anies masih berhutang 23 janji kampanye. Janji tetap janji. Tak ada alasan untuk diingkari. Anies memastikan 23 janji akan selesai di 2022. Rakyat harus terus mengingatkan, mengawasi, mengevaluasi dan ikut memastikan bahwa 23 janji Anies itu seluruhnya bisa tertunaikan. Tak satupun yang boleh dilewatkan. Bagaimana dengan janji-janji kampenye presiden dan para kepala daerah yang lain? Bagaimana dengan janji anggota DPR dan DPRD? Itu tugas anda menagihnya. Tiga tahun memimpin Ibu Kota, Jakarta mendapat WTP berturut-turut dari BPK. Ini bukti adanya clean governon dan good goverment. Tiga piala dari KPK terhadap DKI semakin menegaskan bahwa DKI adalah kota bebas korupsi. Ini soal integritas seorang pemimpin. Tersisa dua tahun lagi. Rakyat berharap Anies istiqamah. Konsisten dengan program-program yang berorientasi pada warga DKI. Melihat semua kebijakan Anies, terlihat ada kepastian soal komitmennya kepada rakyat. Jika Anies konsisten atas komitmen ini, pilpres 2024 bisa menguntungkan baginya. Lima tahun akan jadi catatan sepanjang sejarah Indonesia bagaimana Anies memimpin ibukota. Kelak, 100 tahun lagi, atau bahkan ribuan tahun lagi, rakyat akan membaca catatan itu. Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.
Cara Abu Janda Mendapatkan Jalan-jalan Gratis ke Prancis
by Asyari Usman Jakarta FNN - Kamis (29/10). Teman saya, M Rizal Fadillah, menulis tentang kemunculan tiba-tiba Permadi Arya alias Abu Janda setelah lama tak kedengaran berceloteh. Padahal, kata Bung Rizal, akhir-akhir ini suasana politik cukup panas gara-gara Omnibus Law (OBL) dan kehadiran Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Eh, sekali muncul, Abu membuat video di restoran Prancis di Indonesia. Di dalam video itu, Abu memesan makanan Prancis. Abu mengatakan, dia tidak memboikot produk Prancis. Tak lupa, dia mengajak umat Islam Indonesia agar memaafkan orang-orang yang menghina Nabi Muhammad SAW. Nah, kok sekali muncul lagi langsung Abu Janda memihak ke Presiden Emmanuel Macron yang belum lama ini mengatakan agama Islam sedang dalam krisis? Saya coba bantu Bung Rizal mendapatkan jawaban mengapa Abu itu tiba-tiba muncul di resto Prancis. Saya menduga, Abu Janda menghilang selama kisruh OBL karena ada yang tak lancar. Mungkin tersendat. Karena macet, dia malas tampil membela OBL. Atau, bisa jadi juga dia takut dikejar-kejar kaum buruh dan mahasiswa. Pas ada penghinaan Islam oleh Macron, si Abu melihat peluang bagus. Ada celah untuk diundang jalan-jalan gratis ke Prancis. Sebab, Prancis saat ini sedang mencari sebanyak mungkin teman orang Islam. Karana umat Islam di seluruh dunia sedang memboikot Prancis. Abu Janda membaca gelagat itu. Kebetulan Abu Janda itu “orang Islam juga”. Orang Islam yang cocok dengan Charlie Hebdo --majalah mingguan yang rutin menerbitkan karikatur penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Kemarin ‘kan cuma di resto Prancis yang ada di Indonesia. Entah kapan-kapan nanti, Abu bisa masuk resto Prancis asli di Paris. Disponsori oleh pemerintah Prancis. Lumayan ‘kan? Tentulah mantap. Apalagi nanti bisa selfie dengan Macron bersama isterinya. Bisa menandingi selfie Jokowi dengan Macron tempo hari. Apakah Abu Janda tidak merasa tersakiti oleh penghinaan Macron dan Charlie Hebdo terhadap Islam dan Nabi SAW? Kelihatannya tidak. Dia tidak seperti umat Islam pada umumnya. Dia tidak lagi punya sensitivitas penghinaan terhadap Islam, Nabi, Quran, dan simbol-simbol lainnya. Tapi, mengapa Abu menjadi tak sensitif? Pertama, mungkin karena Abu Janda itu “orang Islam juga”. Kedua, mungkin Abu Janda mengikuti akidah Islam Nusantara. Boleh jadi dia punya nabi sendiri, Nabi Nusantara. Sehingga, penghinaan terhadap Nabi Muhammad tidak masalah bagi dia. Bisa jadi pula Abu sudah sempat ikut program imunisasi penistaan agama semasa kasus Ahok dulu. Yang membuat dia tak terganggu lagi oleh penistaan agama Islam. Bahkan, waktu itu, dia membela Ahok habis-habisan. Imunisasi penistaan agama itu membuat Abu Janda menjadi sangat kebal ketika ada penghinaan terhadap Islam. Saking kuatnya vaksin yang disuntikkan ke otak Abu Janda, dia malah berbalik mengatakan penistaan bukan penistaan, penghinaan bukan penghinaan. Jadi, begitu Bung Rizal. Tak heran kalau Abu Janda tiba-tiba muncul di resto Prancis di Indonesia sambil membela Prancis, Macron dan Charlie Hebdo.[] Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id
Jokowi Jadi Wapresnya Airlangga Hartarto 2024?
by M. Rizal Fadillah Bandung FNN – Kamis (29/10). Ini usulan nyeleneh kader dan petinggi Golkar Leo Nababan untuk Pilpres 2024, yaitu Airlangga sebagi Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapre) adalah Jokowi. Usulan yang "out the box" ini memang menggelikan. Bahkan bisa membuat tertawa terbahak-bahak sampai mati. Bisa dibilang mati ketawa ala Indonesia. Leo Nababan berharap kemudiannya Jokowi maju kembali sebagai Capres. Tujuanya untuk mengawal pembangunan agar bisa terlaksana hingga tahun 2045. Keberadaan sebagai Cawapres ini hanya untuk menerobos dan mengakali aturan yang tidak lagi membolehkan untuk menjabat sebagai Presiden lebih dari dua kali berturut turut. Karena Jokowi untuk menjadi Capres lagi setelah 2024 memang tidak dibolehkan. Namun untuk menjadi Cawapres masih dibolehkan. Maka celah inilah yang dilihat oleh Leo Nababan untuk mendorong kembali Jokowi setelah tahun 2024 nanti. Semua boleh, kecuali ada larangan. Sama seperti anak dan mantu Jokiwi yang maju sebagai calon Walikota Solo dan Medan. Meskipun kapasitas dan kapabiltas dari anak Gobran Rakabuming, dan mantu Bobby Nasution diragukan dan dipertanyakan. Namun karena tidak ada aturan yang dilanggar, jadinya boleh-boleh saja. Apalagi ada sejumlah Partai Politik yang berebutan untuk mendukung Gibran dan Bobby. Aneh cara berfikir politisi Golkar ini. Kalkulasi politik yang pragmatik, amatiran dan picisan hanya untuk menjilat Jokowi. Kadang juga salah baca, seolah-olah Jokowi itu tokoh karismatik. Bacaan rakyat banyak, Jokowi justru gagal dalam memimpin bangsa ini sekarang. Terlebih dan nyata itu pada periode kedua dari kepemimpinan Jokiwi. Sehingga siapapun yang menggandeng Jokowi dipastikan bakal rontok. Kalau nggak percaya, lihat saja hasil survei Litbang Kompas, media pendukung utama Jokowi. Begitu juga dengan hasil survei indikator politik, milik Burhanudin Muhtadi, salah satu lembaga survei pendukung utama Jokowi. Rontoh tingkat kepuasan publik kepada Jokowi sekarang. Buang dulu fikiran mekanisme keterpilihan dengan cara curang. Karena cara ini hanya bisa mendustai untuk jangksa waktu sesaat. Tetapi tidak bisa mendustai untuk selamanya. Sebab cara curang itu akan tercatat sepanjang hayat kehidupan bangsa ini sebagai sejarah hitam dan kelam. Leo Nababan dan politisi lain pendukung Jokowi, apa bisa menghapus jejak keterpilihan Jokowi pada Pilpres 2919 lalu? Dengan dugaan kemenangan yang berbingkai rekayasa dan manipulasi angka? Semua itu akan dicatat oleh sejarah anak milenial sekarang. Pastinya akan dibuka nanti saat Jokowi tidak lagi punya kekuasaan. Sementara kekuasaan itu dipastikan berakhir. Untuk mampu bertahan hingga 2024 saja, itu sudah sangat hebat. Kisah kepemimpinan Jokowi diduga akan bertambah gawat. Hari ke hari berjalan tertatih-tatih akibat kebijakan yang tidak merakyat. Selalu saja membuat gelisah dan kecewa berat rakyat. Urusan Omnibus Law saja terus diganggu-gugat. Yang diharapkan oleh Jokowi agar datang, seperti masuknya invetasi dari asing, malah tidak bakal datang-datang. Sementara yang tidak diharapkan oleh Jokowi, seperti demo masih di seluruh penjuru tanag air oleh buruh, mahasiswa dan pelajar, justru datang membuat Jokowi pusing tidak karuan. Membuat kebijakan yang menyulitkan sendiri kekuasaan Jokowi. Mebuat Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja (Cilaka). Ngakunya betujuan untuk meningkatkan dan mempermudah masuknya investasi asing. Mana ada investasi yang masuk di era pandemi virus corona sekarang. Akibatnya, yang datang berhadap-hadapan dengan Jokowi adalah demo masif dari para buruh, mahasiswa dan pelajar STM di seluruh penjuru tanah air. Jika Presiden bergeser menjadi Wapres, maka nasib "dilupakan" akan sama dengan Ma'ruf Amin. Hilang otoritas kepemimpinan dalam mengelola negara. Seperti burung yang dikurung di dalam sangkar emas. Belum lagi jika ada bongkar bongkaran dosa politik saat menjabat Presiden. Sebagai Wapres, tentu saja proteksi kekuasaan menjadi lemah. Apalagi jika "dilepas" oleh Presiden. Jadi terbayang model "mati ketawa cara Rusia". Seorang warga berteriak "Nikolay goblog" lalu ia ditangkap oleh KGB. Ia berkelit bahwa yang dimaksud adalah Nikolay yang lain. Tetapi petugas KGB itu tetap bersikukuh "Kalau kau teriak Nikolay goblog, maka pasti itu adalah Kaisar". Jika nantinya pak Jokowi siap posisinya hanya sebagai Wapres, sudah barang tentu akan membuatnya imut imut. Rakyat pun tertawa tanpa jeda. Dan inilah "mati ketawa ala Indonesia". Penulis adalah Pemerhati Politik dan Kebangsaan.
Pemuda & Mahasiswa Hadapi Penguasa Otoriter
by Tony Rosyid Jakarta FNN – Kamis (29/10). Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertumpah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Itulah bunyi sumpah pemuda 28 Oktober 1928 Para pemuda Indonesia bersumpah. Sumpah pemuda ini lahir dari Konggres Pemuda II. Dimana seluruh organisasi pemuda berkumpul dan sepakat untuk mengangkat sumpah, yaitu sumpah pemuda. Sebelumnya, 30 April-2 Mei 1926, para pemuda dari berbagai organisasi baik Jong Java, Jong Batavia, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Selebes, dan lain-lain berkumpul. Mereka menyatukan satu cita-cita, yaitu kemerdekaan Indonesia. Diperlukan wadah organisasi persatuan bagi para pemuda untuk memperjuangkan cita-cita kemerdekaan itu. Dan Konggres Pemuda II menguatkan semangat memperjuangkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para pemuda saat itu mampu melampaui batas-batas kepentingan. Baik itu kepentingan pribadi maupun kelompok. Melepaskan ego etnis, agama dan kelompok. Melebur jadi satu wadah perjuangan. Berjuang bersama, hidup atau mati untuk Indonesia merdeka. Saat itu, mereka menghadapi musuh bersama yaitu penjajahan Belanda. Penderitaan rakyat akibat penjajahan menggugah para pemuda untuk bersatu dan melakukan perlawanan. Hasilnya, 17 Agustus 1945, Indonesia pun merdeka. Pada era Soekarno, para pemuda pun bangkit kembali. Tepatnya tahun 1966. Otoritarianisme kekuasaan yang digemgang Soekarno menjadi isu bersama. Triggernya adalah pemberontakan PKI dan krisis ekonomi. Dan pada tahun 1967, Soekarno yang 22 tahun berkuasa pun tumbang secara tragis. Sedangkan era Soeharto, isunya pun sama. Yaitu otoritarianisme kekuaaan Soeharto. Dwi Fungsi ABRI dan Golkar menjadi pengawal utama Soeharto berkuasa selama 32 tahun. Pada 1998, krisis ekononi menjadi trigger para pemuda, khususnya mahasiswa. Hasilnya, Soeharto pun terguling. Setelah itu, era reformasi lahir. Sudah 22 tahun. Muncul Jokowi. Banyak pengamat menilai jika di era Soeharto tentara menjadi pengawal utama, maka di era Jokowi posisi itu digantikan oleh polisi. Menurut mereka, hal ini setidaknya dilihat dari sejumlah posisi strategis bagi perwira polisi. Besarnya anggaran kepolisian, maupun keberpihakan polisi terhadap kepentingan politik istana. Lepas dari semua itu, kekuasaan Jokowi seringkali dianggap tak sejalan dengan kemauan rakyat. Berkolaborasi dengan DPR. Lahirlah banyak peraturan yang dianggap tak berpihak kepada rakyat. Gelombang protes yang begitu masif, dan terus-menerus menjadi bukti nyata adanya penolakan dan perlawanan rakyat terhadap pemerintah maupun DPR. UU KPK, UU Corona, UU Minerba, RUU HIP, dan terakhir UU Omnibus Law Cipta Kerja. Semuanya mendapatkan penolakan masif dari rakyat. Namun meski ditolak rakyat, semua aturan itu diketuk palu di DPR, dan ditanda tangani presiden. Sah barang itu! Tersisa RUU HIP yang masih mencari celah. Protes rakyat tak berhenti. Diantaranya dari mahasiswa dan pelajar. Beberapa mahasiswa dan pelajar ditangkap dan menjadi tersangka. Kantor GPI-PII diobrak abrik. Bahkan, ada yang mati saat berhadapan dengan aparat. Belum lagi nasib sejumlah pengkritik pemerintah. Di dalam setiap demo, selalu saja ada provokator. Entah siapa mereka, dan diutus oleh siapa. Pelaku dan otaknya terlalu canggih hingga nggak terendus. Mahasiswa dan pelajar terjebak dan menjadi korban. Pasal tindak anarkis berhasil menjerat mereka. Di luar demo, kita hanya bisa kasih nasehat, jangan terprovokasi. Jangan melakukan tindakan anarkis. Jangan terjebak tindak pelanggaran hukum. Namun nampaknya, ada pihak yang melakukan cipta kondisi agar demo anarkis dan mahasiswa bisa ditangkap. Apakah ketika sejumlah mahasiswa ditangkap akan menyurutkan mental mereka dan mengendorkan demo? Bergantung! Sebab, ada mahasiswa yang dilobi, lalu dikasih uang, kemudian berhenti demo. Ada juga mahasiswa yang ketika temannya ditangkap lalu ciut nyalinya. Ada mahasiswa yang malah nyalahin teman-temannya yang ditangkap. Mereka itu fokus urus IP, karena takut kalau lulus gak dapat kerjaan. Inilah tipologi mahasiswa pecundang, begitu kata para senior mereka. Bagi mahasiswa yang terus berteriak tak berhenti menyuarakan kepentingan rakyat untuk buruh, untuk pendidikan, untuk pribumi, untuk keselamatan bangsa, merekalah yang kelak paling siap memimpin bangsa ini kedepan. Mereka adalah para mahasiswa tangguh yang terus menjaga idealisme, patriotisme, dan nasionalismenya. Mereka terus mematangkan diri sebelum kelak estafet kepemimpinan bangsa diserahkan kepada mereka. Saat ini, isu yang dihadapi mahasiswa dan pemuda adalah kekuasaan yang otoriter. Mirip dengan yang dihadapi oleh mahasiswa era tahun 1928, 1966 dan 1998. Apakah mahasiswa sekarang akan sekuat dan sehebat para penguasa pendahulunya? Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.
Merindukan Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam
by Imam Shamsi Ali New York City FNN - Hari-hari ini Umat Islam di berbagai belahan dunia diingatkan oleh salah satu peristiwa penting dunia. Sebuah peristiwa yang membawa goncangan dan perubahan dahsyat secara global. Itulah kelahiran manusia terbaik (khaerul anaam), sekaligus penutup (khaatam) dan penghulu (sayyid) para nabi dan rasul. Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam terlahir di bulan Rabi’ul awwal. Bulan yang tentu mengingatkan akan kehadiran sosok pembaharu (reformer) dan agen perubahan ke arah yang lebih baik (al-muslih). Tetapi yang terpenting beliau hadir sebagai penyampai (muballig) risalah khatimah (the final message) Allah ke seluruh manusia sekaligus tauladan (uswah) bagi semua manusia. Tentu menuliskan mengenai Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam serasa melempar segenggam garam ke lautan samudra. Selain sedemikian banyak yang telah menulis tentang beliau, dan dalam segala aspek hidupnya, baik dari kalangan “believer” (yang mengimaninya) maupun yang “unbeliever” (tidak mengimaninya). Juga karena menuliskan tentang beliau, tidak akan pernah menemukan akhir dari keindahan cerita perjalanan hidupnya. Sebab Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam adalah memang manusia. Tetapi beliau tidak seperti manusia lainnya. Beliau adalah mutiara di tengah bebatuan. Kesempurnaannya mencapai puncak ketinggian. Keindahannya dirinya menyingkap gulita. Segala lini hidupnya begitu indah nan menawan. Ungkapan di atas adalah puji-pujian yang populer dan sering dibacakan oleh kalangan Muslim IPB (India Pakistan Bangladesh). Sebuah pujian yang memang menggambarkan realita kesempurnaan sosok Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam. Pujian yang terpenting tentunya bukan pujian manusia. Tetapi yang terpenting adalah pujian dan pemuliaan penciptanya, Allah Subhanahu Wata’ala sendiri. Berkali-kali beliau dipuji dalam Al-Quran. Salah satunya, “sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang sangat agung”. Keimanan dan kecintaan kita kepada Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam menjadi bagian integral dari keimanan kita kepada Rabb itu sendiri. Bahwa “laa ilaaha illa Allah” itu tidak akan terpisahkan dari “Muhammad Rasululullah”. Hanya melalui (ajaran) Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam, kita akan mencapai keimanan yang benar dan hakiki kepada Allah Suhanahu Wata’ala. Suasana iman seperti di atas harus menjadi bagian dari detak nadi para Mukmin. Tetapi di momen Rabi’ul Awwal inilah kita kembali membangun komitmen dalam iman dan cinta kepada beliau. Kita “recharge” atau mengisi lagi dada kita dengan gelora iman dan cinta. Sehingga komitmen ketaatan kepadanya semakin membara. Hadir Kembali Risalah Dalam dunia yang penuh goncangan, cobaan dan fitnah saat ini, sosok Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam sangat dirindukan oleh manusia untuk hadir kembali. Sebuah sosok yang tidak akan tenang dengan berbagai penyelewengan kehidupan manusia. Kita diingatkan kembali tentang keadaan Kota Mekah sebelum lahirnya sosok Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam. Kejahiliyaan, kezholiman, rasisme, dikriminasi jender dan ras. Kekerasan (peperangan) antar suku menjadi pandangan lumrah. Dan tentunya penyelewengan akidah (kesyirikan) menjadi ideologi masyarakat Amerika saat itu. Hal di atas itulah yang menjadikan Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam resah, bahkan sedih. Beliau tidak merasakan ketenangan batin dengan suasana kehidupan yang bobrok secara sosial (public). Dan karenanya, beliau kerap mengadakan “takhannuts” di atas “Gunung Cahaya” (Jabal Nur). Keresahan batin akibat berbagai penyelewengan sosial sesungguhnya itulah yang mengantar kepada diangkatnya Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam sebagai Rasul dan nabi terakhir (khaatam an-nabiyyin wal mursaliin). Dengan tujuan itu pula, beliau melakukan perjuangan (jihad) hingga terjadi perubahan mendasar di semenanjung Arabia dalam masa kurang dari 23 tahun. Maka, di tengah ketidakpastian dunia saat ini, dimana kerap kebenaran dianggap salah dan kesalahan dianggap benar. Orang baik dianggap berbahaya dan orang jahat justeru dipromosikan sebagai orang-orang baik. Disaat seperti inilah kerinduan akan kehadiran Muhammad (SAW) itu sangat terasa. Ditengah dunia yang penuh keanehan saat ini, dimana agama justeru kerap dipandang ancaman. Sebaliknya, idiologi dan prilaku “anti agama” dipandang sebagai nilai positif. Disaat orang-orang yang beragama dipersekusi, sementara mereka yang anti dan kerap merendahkan agama seolah mendapat perlakuan istimewa. Berbagai prilaku imoralitas seolah dilindungi sehingga semakin merejalelah dan berani. Akibatnya ancaman kepada integritas (akhlak) kehidupan manusia semakin terancam. Agama dan moralitas dianggap ancaman. Sebaliknya, pelanggaran dan dosa-dosa dianggap modernitas dan kemajuan. Dunia Barat juga, seperti yang terjadi di Prancis saat ini, nilai-nilai kebaikan universal kebebasan misalnya, gunakan seenak udel manusia. Pelecehan kepada nilai-nilai keagamaan, Kitab Suci dan mereka yang dihormati dan dimuliakan (para rasul dan nabi) menjadi biasa atas nama kebebasan. Saya khawatirnya Macron dan konconya, ketika isteri dan anaknya yang dicintai dilecehkan hanya akan menyikapinya secara biasa. Akankah dia sekedar bersikapi sebagai sekedar ekspresi kebebasan? Atau ketika Prancis yang dia cintai dengan semangat nasionalisme itu dihinakan atau direndahkan. Akankah dia anggap hal itu sebagai sekedar ekspresi kebebasan? Di tengah dunia yang merasa berperadaban (civilized) dan maju dalam pemikiran intelektualitas, manusia semakin menampakkan kebodohannya (jahiliyah) yang nyata. Prilaku paradoks semakin nyata. Bahkan kemunafikan dipertontonkan dengan tidak malu-malu lagi. Di tengah dunia yang bobrok (jahil) dan gelap inilah Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam dirindukan kehadirannya. Sosok yang kembali hadir sebagai “nur” (cahaya), “rahmah” (kasih sayang), dan sekaligus “uswah” (tauladan) bagi seluruh alam. Tentu harapan kehadiran beliau tidak mungkin lagi secara fisik. Beliau adalah “basyar” (manusia biasa) yang masa dunianya telah berakhir. Tapi nilai-nilai (values), ajaran, ketauladanan beliau hidup hingga akhir zaman. Dan semua itu telah diamanahkan di atas pundak umatnya. Maka kerinduan akan hadirnya Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallam di dunia ini merupakan tantangan lansung kepada umatnya. Mampukah Umat ini menjadi representasi Muhammad kepada dunia? Mampukah Umat ini menghadirkan kembali cahaya, nilai-nilai (values) dan ketauladanan baginda Rasulullah Salallaahu Alaihi Wasallam? Disini pulalah makna peringatan Maulid. Bahwa Maulid bukan pada bentuk acaranya. Tetapi lebih kepada memahami, menghayati, mengamalkan dan menyampaikan apa yang menjadi amanah kepada kita dari baginda Nabiyullah Salallaahu Alaihi Wasallam. Yaitu membawa agen-agen perubahan di dunia. Menghadirkan kembali cahaya itu di tengah kegelapan yang melanda dunia saat ini. Kita cinta Rasulullah Salallaahu Alaihi Wasallam, kita rindu Rasulullah Salallaahu Alaihi Wasallam. Semoga kita disatukan bersama Rasulullah Salallaahu Alaihi Wasallam di dalam Syurga-Nya Allah Subhanahu Wata’ala. Amin! Penulis adalah Imam/Direktur Jamaica Muslim Center USA & Presiden Nusantara Foundation.
Indonesia Bangkrut Akibat Menjual Martabat Bangsa
by Teuku Gandawan Xasir Jakarta FNN - Rabu (29/10). Sejak zaman penjajahan Belanda kita sudah punya para raja dan para bangsawan yang lebih memilih hidup tetap mewah walau jadi kaki tangan penjajah. Sesungguhnya mereka tidak punya kehormatan, tidak punya keberanian, tidak pula punya simpati dan empati kepada rakyatnya. Mereka lebih memilih hidup yang demikian daripada harus mati karena berperang membela wilayah dan rakyatnya. Kita juga punya rakyat biasa yang sejatinya adalah para petarung, tapi memutuskan tidak bertarung melawan penjajah. Mereka malah bergabung jadi tentara kelas dua Belanda untuk berperang, membunuh dan menangkap bangsanya sendiri. Mereka punya keberanian, tapi sayangnya keberanian itu malah digunakan untuk menghancurkan bangsa sendiri. Mereka bangga mendapat kompensasi uang receh Belanda atas kebusukan itu. Selain itu, kita juga punya rakyat biasa yang memutuskan perang bukan urusan hidupnya. Urusan hidupnya adalah bertahan hidup walau harus jadi pekerja harian di lahan pertanian, perkebunan dan perdagangan yang dimiliki penjajah Belanda. Mereka tak perduli nasib sesamanya yang terus bermatian akibat kekuasaan dan kebiadaban penjajah Belanda yang mereka dukung. Yang penting bagi mereka bisa hidup makmur alakadarnya. Tak cukup dengan itu, ada pula sebagian dari rakyat ini yang kerjanya mencari makan dari melaporkan segala tindak tanduk sesama rakyat lainnya yang menolak keberlangsungan Belanda sebagai penjajah. Mereka ini tidak perduli dengan laporannya cuma dihargai dengan uang sekepeng. Tidak perduli juga jika itu bisa menyebabkan kematian begitu banyak sesama anak bangsa. Tabiat-tabiat buruk ini juga ada ketika Indonesia diduduki oleh Jepang. Sesuatu yang tentu saja sangat dinikmati oleh Belanda dan Jepang. Tabiat busuk tak bermartabat inilah yang bisa membuat Belanda negara kecil di belahan Eropa bisa berkuasa begitu lama di Indonesia. Artinya kita terus dijajah dalam waktu yang lama karena pengkhianatan sesama kita. Sesama kita yang rela dengan penuh tawa mengorbankan nyawa sesama anak bangsa asal dirinya hidup dalam kemewahan versi dirinya. Setelah Indonesia Merdeka apa yang terjadi? Kaum Penjual Martabat ini tetap ada dan tetap jadi benalu. Jika dulu kita berperang melawan penjajah yang mereka dukung, kini kita mengisi pembangunan di era kemerdekaan sambil bertarung dengan mereka. Kerja mereka apa? Selalu menempel kepada kekuasaan atau pemerintah. Mengambil peran sebagaimana biasanya yakni menjadi benalu bagi pembangunan. Menghasut setiap penguasa untuk lebih perduli kekuasaan dan kekayaan. Mereka masa bodoh dengan tujuan pembangunan, masa bodoh dengan martabat bangsa dan negara. Mereka sibuk mengejar fulus, masa bodoh dengan dinar dan dirhamnya melayang ke pihak asing atau konglomerasi. Mereka yang berjabatan sibuk memberikan kemudahan kepada konglomerat dan asing untuk menguasai sumber daya alam. Barternya dia mendapatkan puluhan hingga ratusan miliar kekayaan pribadi atau kelompok, sementara pihak yang didukungnya mengeruk kekayaan hingga triliunan. Pada hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020, sudah waktunya kita sebagai anak bangsa kembali bersumpah ulang. Kita harus kembali kepada kesejatian tujuan keberadaan bangsa ini. Kita wajib bersumpah ulang tentang tumpah darah kita adalah satu, yaitu Indonesia. Jangan ada lagi yang siap menumpahkan darahnya bukan untuk kemajuan Indonesia. Kita wajib berbangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia. Yang saat ini masih merasa dirinya juga bangsa lain, silahkan angkat kaki atau silahkan berganti kewarganegaraan. Dan kalau untuk bahasa saja kita bisa bersepakat hanya ada satu bahasa yaitu bahasa Indonesia, maka tujuan kita juga harusnya hanya satu yaitu mewujudkan kejayaan Indonesia. Jangan lagi ada yang mengambil peran sebagai kaki tangan kepentingan asing. Jangan juga menjadi benalu di negara sendiri, yang tak perduli konsekuensi perilaku diri yang bisa merugikan nasib sesama anak bangsa. Jangan lagi menginjak-injak kepentingan dan tujuan berbangsa dan bernegara di atas kepentingan diri atau kelompok. Berhentilah berkedok dan bertopeng tentang ideologi lain selain Ideologi Pancasila. Berhentilah membuat kemudahan investasi di bidang apapun yang tidak untuk memakmurkan rakyat keseluruhan. Berhentilah jadi agen pembuat kebangkrutan bangsa dan negara. Penulis adalah Direktur Eksekutif Strategi Indonesia.
Politisi Sempit Pentingkan Fasum, Gubernur Anies Pikirkan Martabat Bangsa
by Asyari Usman Jakarta FNN - Selasa (27/10). Ada satu berita menarik yang tercecer. Tak sempat dibahas saking banyaknya rangkaian perstiwa penting di seputar Omnibus Law UU Cilaka (singkatkan saja menjadi OBL). Kejadian itu sepele sebenarnya. Tapi, peristiwa ini menunjukkan betapa lebarnya jurang intelektualitas antara Gubernur DKI Anies Baswedan dan ketua Fraksi Golkar di DPRD DKI, Basri Baco. Di manakah jurang visioner (visionary gap) yang menganga itu? Ini kita bahas. Seperti diberitakan media, banyak fasilitas umum (fasum) yang dirusak oleh entah siapa ketika berlangsung unjuk rasa (unras) rakyat yang menentang OBL. Nah, Basri Baco berpendapat Anies seharusnya marah-marah. Karena, menurut dia, Gubernur berharap marah. Basri tampaknya geram sekali melihat reaksi Anies yang tidak gebrak-gebrak. Barangkali, dia ingin Anies seperti Ahok. Memaki-maki di depan kamera. Karena tidak marah, Basri malah menduga para perusuh anarkis yang merusak fasum itu adalah pendukung Anies. Yang menyebabkan Gubernur tidak bisa marah. Beginilah kualitas anggota DPRD DKI. Ketua fraksi Golkar pula. Orang ini kemungkinan nanti bisa masuk ke DPRRI. Bayangkan kalau orang “narrow minded” (berpikiran sempit) seperti ini duduk di lembaga legislatif nasional. Ada dua “error” cara berpikir Basri Baco. Error pertama, apakah dia bisa memastikan bahwa para perusuh adalah mahasiswa, buruh, atau elemen-elemen peserta unras lainnya? Error kedua, kalau pun para perusuh itu adalah pendemo, apakah reaksi marah kepada rakyat yang melancarkan protes terhadap sesuatu yang mereka yakini akan menghancurkan kehidupan anak-cucu mereka, merupakan cara terbaik untuk membangun masyarakat yang bermartabat? Di tengah berbagai bukti yang mengungkap cara kotor para penguasa untuk mengacaukan unras damai menjadi rusuh, apakah isi kepala Pak Basri langsung menelan mentah-mentah pernyataan bahwa pelaku kerusuhan adalah para pengunjuk rasa? Tidakkah beliau mempunyai nalar analitik dalam melihat situasi secara menyeluruh? Seharusnya Basri menunjukkan kaliber sebagai politisi Golkar. Apalagi ketum beliau, Airlangga Hartarto, bangga Golkar sebagai partai senior di Indonesia. Kok malah berkomentar seperti orang-orang yang terbiasa nongkrong di warung kopi di jalan kelas III-C? Barangkali, Basri melihat demo OBL sebagai sesuatu yang tak perlu dilakukan. Aksi yang sia-sia. Buang-buang tenaga dan waktu. Bisa juga dimaklumi jika dia berpendapat demikian. Tapi, sebagai wakil rakyat di wilayah ibukota, sungguh komentar Basri masuk kategori di bawah garis kemiskinan intelektualitas. Haram hukumnya seorang politisi ibukota negara berada di golongan minus kecendekiaan. Memang berbeda jauh. Jomplang sekali. Dia dan Anies berlainan kelas. Basir melihat demo dari sudut pandang teknis-materialistis. Tentang berapa miliar kerusakan fasum. Itu pun kalau benar pendemo yang melakukan pengrusakan. Sebaliknya, Anies melihat demo secara filosofis-psikologis. Dia menatap puing-puing demo dengan renungan tentang nasib rakyat yang selalu menjadi korban kerakusan. Tentang pemegang kekuasaan yang berubah menjadi monster buas dan sadis. Anies menyimak demo dengan visi seorang negarawan. Yang merisaukan ketidakberdayaan rakyat di depan para cukong yang telah menguasai semua lini Indonesia. Basri lebih senang memegang kalkulator untuk menghitung kerugian material. Sedangkan Anies lebih banyak memikirkan cara untuk melepaskan rakyat dari cengkeraman oligarki cukong. Dia tak perlu kalkulator, tapi setiap saat Anies membuat kalkulasi tentang kedaualatan rakyat di masa depan. Basri lebih banyak tersita oleh konstruksi fasilitas umum yang rusak. Tentu ini bukan dosa. Tapi, Anies menumpahkan pikirannya tentang konstruksi martabat manusia Indonesia di tengah kebijakan penguasa yang tidak memihak rakyat. Semoga saja Basri Baco bisa melihat demo OBL dengan nalar yang lebih tajam.[] Penulis adalah Wartawan Senior FNN.co.id
Jokowi Akan Dikudeta Siapa?
by M. Rizal Fadillah Bandung FNN – Selasa (27/10). Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDIP Darmadi Durianto mewanti-wanti agar Presiden Jokowi waspada. Sebab kemungkinan Jokowi akan dikudeta oleh Menteri yang sedang bermanuver untuk kepentingan politik. Menteri-menteri ini akan kudeta di tengah jalan. Karena itu menurutnya ,Jokowi harus segera melakukan reshuffle kabinet. Tentu saja penyataan Darmadi Durianto ini tak jelas sasarannya. Kepada siapa yang dimaksudkan dengan para menteri tersebut. Pastinya Darmadi Durianto tidak berani juga menyebut nama. Hanya menurutnya mereka merangkak keistana mengganggu kinerja Pemerintah. Pertengahan jalan nanti akan mulai terlihat misi kepentingan politik mereka untuk kepentingan 2024. Demikian menurut Darmadi Durianto. Sebenarnya pandangan tersebut sangat kontradiksi. Sebab tidak jelas waktunya. Bibilang antara kudeta dan Pilpres 2024. Hanya isu tentang kudeta ini mengejutkan, karena disamping tidak ada dalam budaya ketatanegaraan kita, juga kudeta sipil itu mustahil bisa terjadi. Kalau toh ada yang punya keinginan, maka itu hanya hayalan semata. Dipastikan tidak akan terjadi. Ataukah yang dimaksud oleh Darmadi Durianto adalah kudeta Menteri yang berasal dari kalangan pensiunan atau mantan militer? Luhut, Prabowo, Rozi, Moeldoko atau Terawan. Luhut dalam pandangan awam sudah lama meng"kudeta" karena menjadi penentu Pemerintahan. Prabowo setelah masuk kabinet sudah berubaha menjadi "anak manis" pemuja, pemuji dan…. Jokowi. Mungkin karena kemarin jumpa Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat, sehingga patut untuk dicurigai. Fachrul Rozi, Menteri Agama yang lebih bikin susah umat beragama, terutama umat Islam. Sementara Terawan Menteri Kesehatan yang justru babak belur dihajar Corona. Terawan pasti tidak masuk dalam kualifikasi sebagai pemberontak. Apalagi Terawan nyata-nyata telah menjadi obyek yang ditunjuk-tunjuk oleh Presiden dalam beberapa rapat kebinet. Mengapa PDIP begitu khawatir akan terjadinya kudeta? Jangan-jangan seperti ini meniru pola yang dipakai jaman Pertai Komunis Inbdonesia (PKI) dulu. Dibangunlah isu politik tentang keberadaan Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terdahap Presiden Soekarno. Ternyata PKI sendiri yang mencoba untuk mengambil alih kekuasaan itu dari Presiden Soekarno. Hasilnya sejumlah jendaral dari TNI Angkatan Darat, termasuk Menteri Panglima Angkatan Darat Jendral TNI Ahmad Yani dibunuh. Politik lempar batu sembunyi tangan. Reshuffle kabinet, yang bukan untuk pembenahan kinerja, tetapi mencegah kudeta adalah sangat berbahaya. Bisa masuk semburan fitnah "firehose of falsehood". Apalagi dalam kondisi dimana tingkat kepercayaan dan kepuasan masyarakat yang rendah kepada pemerintah Jokowi saat ini. Reshuffle kabinet untuk saat ini bukan solusi yang pas. Karena dipastikan tidak akan mampu untuk menjadi dewa yang menyelamatkan pemerintahan Jokowi dari keambrukan. Kuncinya bukan pada para Menteri. Tetapi pada Presiden yang lemah soal leadership. Jika kudeta menjadi isu yang diperbesar, maka nanti akan ada omongan orang "maling teriak maling". Seperti satpam yang diikat perampok, padahal itu adalah kerjasama antara pelakukan perampokan dengan satpam yang mengingat. Tujuannya adalah merampok bersama dengan upaya mengecoh orang lain yang dianggap bodoh. Sebuah rekayasa "playing victim". Penulis adalah Pemerhati Politik dan Kebangsaan.